
Flash Back.
Zein berada di Rumah Sakit, berkat bonus besar yang Emily berikan, 2 bulan lalu akhirnya dia bisa mengantarkan anaknya menjalani operasi.
Putrinya Zein bernama Friska, usia Friska saat ini 7 tahun. Dia tidak bisa menjalani kehidupan normal sebelumnya, karena jantungnya yang lemah.
Setelah menjalani operasi, Friska terlihat lebih sehat, saat ini dia dan Ayahnya mengantri bersama pasien lain untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Saat Zein mengantri, tidak sengaja dia menemukan Emily duduk bersama ibu-ibu hamil.
Zein menoleh pada wanita paruh baya yang selalu menemani putrinya. "Bi Geya, titip Friska dulu ya, ada bos saya yang berjasa besar atas kesembuhan Friska."
"Bibi tidak faham prusedur pengobatan Friska, bibi harus apa lagi?"
"Setelah kita masuk ke ruang pemeriksaan, bibi sama Friska di sana sana, saya hanya sebentar."
Zein menyelesaikan semua proses pendaftarannya, agar Anaknya bisa mendapatkan pelayanan medis. Setelah selesai, dia langsung mencari Emily.
Zein menyusul ke antrian dokter kandungan, Emily sudah pergi. Zein berusaha mencari wanita itu untuk mengucapkan rasa terima kasihnya. Saat Zein sampai di area depan Rumah Sakit, saat itu dia melihat Emily sudah masuk ke mobilnya. Namun Zein melihat ada yang mencurigakan, dia melihat ada sebuah mobil taksi yang membuntuti mobil yang Emily kendarai.
Zein mengambil handphonenya, dia meminta seseorang untuk menjemput anaknya di Rumah Sakit. Zein semakin gelisah, waktu terus berjalan, namun seseorang yang dia tunggu belum juga datang.
2 jam berlalu, Zein lega, yang dia percaya untuk menjaga putrinya sudah datang. Zein segera menyetop sebuah taksi untuk menyusul Emily. Tapi Zein kehilangan jejak Emily. Zein mengingat armada nama taksi yang mengikuti Emily, dan menelepon kantor Armada tersebut.
"Permisi Mbak, saya boleh tau saat ini Armada taksi yang bernomor polisi--" Zein menyebutkan nomor polisi taksi itu. "Saat ini ada di wilayah mana ya? Kemaren tas saya ketinggalan di taksi itu."
"Saat ini supir kami yang mengemudikan mobil itu sedang di Rumah Sakit, tidak menarik penumpang, tapi dari laporan GPS setelah dari Rumah Sakit, dia ada di sekitar komplek perumahan." Staf armada taksi menyebutkan sebuah nama perumahan.
"Oh kebetulan saya tinggal di sana, kemungkinan mau mengembalikan tas saya, terima kasih mbak."
Zein langsung melajukan mobilnya menuju perumahan itu, namun saat dia hampir memasuki komplek perumahan itu, terlihat mobil taksi yang dia ikuti mengikuti mobil lain.
"Di mobil itu pasti ada Nona Emily." Zein segera putar balik mengejar taksi tersebut.
Di depan sana mobil taksi berhenti sebelum rumah besar yang berpagar tinggi, sedang Zein sengaja melewatinya. Saat sudah merasa jauh, Zein kembali, dan memarkirkan dintepi jalan, Zein berjalan kaki mendekati area rumah besar itu.
__ADS_1
Lama menunggu, terlihat mobil Garry meninggalkan rumah besar itu, Zein lega, dia mengira Emily bersama Garry. Zein ingin pergi, namun melihat mobil taksi yang membuntuti Emily melaju kearahnya, Zein tetap bersembunyi.
Beberapa menit kemudian, Zein melihat Emily keluar dari rumah besar itu, dia berdiri di samping pintu pagar.
"Berarti, tadi Tuan Garry hanya pergi sendirian?"
Saat Zein menegakan kepalanya, mobil taksi yang sebelumnya mengikuti, sudah berhenti di depan Emily, Emily juga langsung masuk kedalam mobil tersebut.
"Nona dalam bahaya!" Zein berlari menuju mobilnya.
Zein terus berusaha mengikuti mobil itu, sebelah tangannya berusaha mencari nomor telepon Garry. Berulang kali Zein menghubungi nomor tersebut, namun tidak diangkat Garry.
"Ada apa Zein?"
Mendengar ada jawaban, Zein sedikit lega.
"Tuan, Nona Emily dalam bahaya!" ucap Zein panik.
"Aku tidak punya urusan dengan Emily, saat ini dia juga bukan istriku lagi, aku sudah menceraikannya, dan apapun yang terjadi padanya, aku tidak peduli!"
Sambungan telepon sudah di putus oleh Garry.
Flash Back Off
"Ya Tuhan ... kenapa ujianmu begitu berat Nona ...." Zein terus berusaha mengejar mobil itu dalam jarak aman.
Mobil taksi itu keluar dari jalanan utama, terlihat perlahan memasuki sebuah jalanan kecil, Zein terpaksa mengikuti mobil itu.
Jalanan yang mereka masuki kiri kanannya hanya ada pepohonan, dan sangat sepi. Di depan sana mobil taksi itu berhenti. Terlihat supir itu berdiri di samping mobil dengan sebuah balok kayu di tangannya.
Zein segera memarkirkan mobilnya, dia keluar dari mobil dan berjalan kearah supir taksi itu.
"Apa urusanmu? Sejak di Rumah Sakit kamu selalu mengikutiku!"
Urusanku, ya wanita yang ada di dalam mobil itu!" sahut Zein.
__ADS_1
"Ingin dia? Langkahi dulu mayatku."
"Siapa takut!" Zein pasang kuda-kuda bersiap melawan supir taksi itu.
Shappp!
Supir taksi mengayunkan balok kayu kearah Zein. Sangat mudah Zein menghindari ayunan balok kayu itu.
Bagggghhh!
Tendangan kaki Zein, mendarat telak di perut supir taksi itu.
Bough! Bough! Boughh!
Zein memukuli supir taksi itu tanpa ampun, membuat supir taksi itu bernasib sama dengan samsak tinju.
Zein merebut balok kayu itu, dan ...
Bougttt!
Balok itu menghantam kuat bagian punggung supir taksi yang menculik Emily. Sang supir saat itu juga kehilangan kesadaran.
Zein mendekati supir taksi itu, dan menggeledah tubuhnya, dia menemukan dua handphone, Zein segera mengambil dua benda itu, dan bergegas menuju mobil.
Saat dia membuka pintu mobil, terlihat Emily yang tidak sadarkan diri. Zein mengangkat Emily dengan hati-hati, dan membawanya ke mobilnya.
"Nona Emily ... bangun ...." Zein berusaha menyadarkan Emily, namun tidak ada respon.
"Sebaiknya aku bawa dia ke Rumah Sakit saja."
Zein kembali melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit.
***
Bersambung.
__ADS_1
Sekali lagi maaf ya, karya ini up saat aku free, kalau tidak ada up, artinya aku sibuk banget. Mohon pengertiannya🙏