
Seminggu pertama setelah perceraian Garry dan Lesty, segala urusan perusahaan Tuan Ajiman sudah selesai, untuk sementara Perusahaan itu dipimpin oleh Aji. Sedang Emily dan keluarga Garry, sudah selesai menyiapkan surga baru mereka.
Hari baru di rumah itu terasa sangat tenang. Athaya berkeliling kediaman Emily. "Em, di belakang itu bangunan apa?"
"Owh, itu tempat pegawai aku produksi kue bu. Selama ini aku punya usaha kue, tapi aku tidak pernah kasih tau pada publik, kalau itu miliku. Soalnya aku orang jahat bu, kalau orang tahu itu usahaku, orang akan berusaha menekan usahaku agar tidak bisa maju."
"Hanya dijalankan oleh para pegawai?"
"Iya bu, mereka orang-orang baik, tanpa aku pantau, usaha kami terus berkembang."
"Siang sayang, siang bu." Garry langsung memeluk kedua wanita itu.
"Kamu mau makan, atau rehat dulu?" tawar Emily.
"Makan boleh, aku juga lapar."
"Kalian tunggu di meja makan, biar ibu yang siapin, Emily sudah capek masak makanan kesukaan kamu dia."
"Eit, ibu nggak usah siapin, aku aja. Ibu panggil bapak aja, itu Bapak terlalu asyik sama kebun mininya."
"Panggil bapak nanti setelah ibu selesai siapin makanan buat kita," tolak Athaya.
"Kalian ini, manggil Bapak biar aku saja. Kalian berdua siapin bareng-bareng, sentuhan dari wanita-wanita hebat ini akan membuat makanan semakin enak," sela Garry.
Emily dan Athaya segera menyiapkan makan siang mereka, sedang Garry langsung memanggil Ayahnya yang asyik memanfaatkan lahan kosong yang ada di sekitar rumah Emily.
Selama makan siang, Garry sangat bahagia, akhirnya dia bisa melihat kedua orang tuanya bahagia dan dekat dengan menantu mereka.
__ADS_1
**
2 bulan berlalu, kehidupan Garry dan Emily selalu bahagia. Garry juga mulai bekerja di Perusahaan Adam. Kehidupan yang terus berjalan seperti kehidupan keluarga bahagia pada umumnya. Hasil penjualan Apartemen dan mobil Emily, Emily gunakan untuk membeli mobil untuk Garry, mobil biasa untuknya dan juga Nala.
"Ya ampun Kak Mel, kenapa beliin aku mobil? Kampus aku dekat Kak."
"Mobil biasa aja La, biar kamu nggak kehujanan, nanti saat libur kamu belajar nyetir sama abangmu, kalau sudah lihay nyetirnya ajak Bapak sama ibu keliling kota." Emily memeluk gemas adik iparnya itu.
"Ah, ibu takut numpang mobil kalah Nala yang nyetir!" celetuk Athaya.
"Jangan takut bu, naik mobil ngga bakal jatuh kayak roda 2, kan mobil rodanya 4," potong Emily.
"Iya juga ya, nggak kayak sepeda, kalau belum mahir bisa roboh." Athaya berusaha memahami.
"Jatuh sih enggak, nyetir kalau belum bisa, paling mobil masuk got bu, atau nabrak pohon yang tidak bersalah," potong Garry.
"Nak Emi, kenapa kamu berkorban banyak untuk keluarga suami kamu?" tanya Ayah Garry.
"Keluarga suami, juga keluarga aku Pak. Apalagi aku dari dulu hidup sendiri, hanya di urus pamanku, paman pun mengurus karena menginginkan persenan dari warisan yang kedua orang tuaku tinggalkan, jadi ... bersama kalian, aku merasa memiliki keluarga."
Athaya mendekati Emily, dan mengusap rambut wanita cantik itu. "Kami memang keluarga kamu Nak." Athaya memeluk Emily, Garry, dan Nala.
Pikiran Emily terbang, dia teringat akan misinya mendekati Garry.
Apakah kehangatan dan kebahagiaan ini tetap ada, jika mereka tahu niatku semula?
"Ibu ... udah ah jurus teletubisnya, aku mau kerjain tugas kuliah," pinta Nala.
__ADS_1
Pelukan itu terlepas, Emily menatap wajah Garry dengan tatapan lembut. "Kamu tidak menyesal dengan keputusan kamu? Dulu kamu selalu menggunakan mobil mewah, saat ini aku hanya mampu memberikan sedan biasa untuk membantumu melakukan pekerjaan."
"Kamu bicara apa? Andai tiap hari harus naik angkot atau ojek online, aku tidak masalah. Aku sangat bahagia hidup bersamamu."
***
Di tempat lain.
Lesty sibuk mengurus beberapa surat, karena perubahan statusnya yang kawin menjadi janda. Akhirnya semua selesai, Lesty segera meninggalkan gedung itu.
"Nyonya Arsyila?" Lesty sangat mengenali wanita yang baru turun dari mobil.
"Lesty? Ngurus surat menyurat ya?" tebak Arsyila.
"Iya, Nyonya sendiri?"
"Sama, sejak kejadian memalukan di pestamu, aku dicerai oleh Adam, bahkan aku tidak mendapat bagian harta, karena jelas aku yang ...." Arsyila tidak mampu menyebut aib yang dia lakukan.
"Malam pedih yang sama, sesudah malam itu, aku juga menjadi janda."
"Derita kita, karena pelakor itu, bahkan sialnya, dia sudah pindah, dan aku tidak tahu dia tinggal di mana!" gerutu Arsyila.
"Pindah?"
"Iya, makanya aku belum punya rencana untuk memberi pelajaran padanya, kamu tahu siapa yang menukar rekamanku waktu itu? Dia adalah bodyguard Emily!"
"Kalau Nyonya punya rencana untuk membalas perbuatan pelakor itu, jangan lupa ajak aku."
__ADS_1