
Emily baru keluar dari kamarnya, dia heran melihat Garry menatap Nala dengan pandangan kemarahan, seolah ingin menelan adiknya itu hidup-hidup.
Ada apa ini? Kenapa pandangan Garry begitu berbeda pada Nala? Biasanya Garry selalu memandang Nala dengan pandangan penuh kasih.
Emily mencoba mendekati Kakak beradik itu. "Sayang, sudah pulang ...." Emily memberikan senyuman terbaiknya pada Garry.
Garry menatap sinis pada Emily. "Aku tunggu di kamar! Aku mau bicara!" Garry berlalu begitu saja menuju kamarnya.
Brakkk!
Garry membanting pintu kamarnya begitu keras, membuat dua wanita cantik itu terperanjat. Nala dan Emily saling pandang melihat perubahan drastis Garry, biasanya Garry selalu pulang dengan raut bahagia, menyapa semua orang dengan lembut, bicara basa-basi sekedar menanyakan bagaimana hari yang mereka lalui.
"Kak Emy, Kak Garry PMS ya?"
"Ha?" Mendengar kata PMS seketika Emily terdiam. Sudah 2 bulan dia tidak mengalami hal itu.
"Kak Emy ...."
Panggilan Nala membuat Emily kembali tersadar.
"Apa Kak Emy lagi isi? Jadi yang badmood malah Kak Garry.
"Ngaco kamu, jangan berharap terlalu gede La, aku ini janda, bertahun-tahun nikah nggak dapat kepercayaan, Kakakmu juga tahu hal ini, dia sudah tahu reseko menikahiku."
"Maaf Kak," sesal Nala.
"Nggak apa-apa, aku susul Kakakmu dulu ya."
"Iya Kak."
*
Emily segera ke kamar menyusul Garry. Setelah memasuki kamar mereka, terlihat Garry dengan wajah gusarnya, lengan kemeja yang menggulung sampai siku, juga dasi yang dia longgarkan. Jas yang Garry kenakan juga teronggok di tempat tidur mereka.
Emily tetap tersenyum mendekati Garry, dia berdiri di depan Garry, tangan indahnya mulai melepas perlahan dasi Garry. Dasi terlepas, Emily menarun kedua telapak tangannya di bahu Garry. "Ada apa sayang ...." ucapnya lembut.
"Aku mau berhenti bekerja di Perusahaan Pak Adam!" ucap Garry tegas.
"Iya, nggak apa-apa kalau kamu mau berhenti, karena pekerjaan itu yang penting buat kamu nyaman." Perhatian Emily tertuju pada kancing kemeja Garry, dia membuka kancing itu satu per satu.
"Aku boleh tanya, kenapa kamu mau keluar dari Perusahaan Pak Adam?" tanya Emily lembut.
"Aku bukan hanya ingin keluar dari Perusahaan Pak Adam, tapi aku juga mau keluar dari rumah ini, dan melepas semua fasilitas yang kamu beri!" ucap Garry kasar.
Semua kancing baju terbuka, Emily mengusap lembut permukaan dada Garry yang bidang. "Alasanmu, apa sayang? Apakah yang aku beri terlalu murah hingga kamu ingin mengembalikan?"
Garry menepis tangan Emily yang menari di depan dadanya. "Bukan pemberianmu yang murah! Tapi harga diriku yang terlalu murah! Bahkan aku tidak punya harga diri! Bersamamu atau bersama Lesty, tetap saja aku jadi hinaan orang-orang di luar sana! aku laki-laki benalu yang tidak punya harga diri! Bayangkan betapa hancurnya aku!"
__ADS_1
Rahang Garry terlihat bergetar, sepasang matanya memerah menumpahkan kemarahan dan kekecewaannya. Emily berusaha tenang, walau batinnya juga terasa terjepit melihat hancurnya laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu.
Berulang kali Emily mengatur napasnya, dia sangat memahami rasa sakit Garry. "Maafkan aku, keinginanku membantumu malah membuatmu merasa terinjak, maaf ...." Suara Emily seakan tertelan oleh isak tangis yang berusaha dia tahan.
Melihat Emily menangis, Garry merasa bersalah. Dia menarik Emily kedalam pelukannya. "Kamu tidak salah ... aku yang salah, benar kata Lesty, aku laki-laki sampah yang tidak berguna!"
Emily menarik diri dari pelukan Garry. "Kau bukan sampah, kau adalah bagian dari masa depanku."
"Kau sayang padaku?" tanya Garry lembut.
Emily menganggukan kepalanya pelan.
"Kalau kamu sayang padaku, tolong ambil kembali apa yang kamu beri untukku dan keluargaku," pinta Garry lembut.
"Aku sayang pada kalian, sebab itu aku ingin hari-hari kalian tidak sulit, aku ingin membantu kalian sebisaku, apa itu salah?" tanya Emily.
Garry menangkup wajah Emily dengan kedua tepalak tangannya. "Tidak ada yang salah, tapi aku malu, aku dipandang jelek, karena menjadi benalu dalam hidup wanita yang ku nikahi."
"Dalam pandangan orang lain, apapun yang kita lakukan selalu salah, jangan dengar pandangan orang, jadilah diri kita dan nikmati hidup kita selama hal itu tidak merugikan orang lain." Emily menarik Garry menuju tempat tidur.
Garry berdiri di samping tempat tidur, sedang Emily duduk di sisi tempat tidur, tangannya begitu gesit membuka kain bawah yang menutupi bagian bawah tubuh Garry. Setelah melepas semuanya, Emily berdiri, dan mendorong Garry keatas tempat tidur.
Bulu kuduk Garry meremang melihat kegiatan Emily, tangan wanita itu mulai melepas kain yang menempel menutupi tubuhnya.
"Kamu tahu cerita tentang anak kecil, saudagar kaya dan seekor keledai?" Emily melempar kasar bajunya ke sembarang arah.
Emily naik keatas tubuh Garry, dan mulai meliyuk manja diatas sana. Membuat sesuatu ikut terbangun dari tidurnya.
Emily meraih kedua tangan Garry, dan membimgbing tangan itu untuk memijat miliknya yang biasa dia kurung dalam kain berenda yang berbusa, dan memili dua cup.
Itu adalah kegiatan yang paling Garry sukai, Garry meninggikan posisi kepalanya pada tumpukan bantal, agar lebih puas mendalami kegiatannya. Sedang Emily tepat berada diatas miliknya, sambil memberi gesekan lembut di sana. Garry tak mau kalah kedua tanganya terus bergerak aktif memberi pijatan di sana. Sesekali dia menyapukan lidahnya pada pucuk mungil yang berwarna pink itu. Emily mendesah, membuat Garry semakin ingin menelan habis gumpalan yang begitu empuk itu.
"Saat anak dan saudagar itu berjalan bersama sambil membawa seekor keledai bersama mereka, kumpulan orang-orang pertama yang melihat mereka, mengatakan mereka bodoh, ada keledai malah dibawa saja tidak dinaiki."
"Terus ...." Garry menemukan rasa lain, saat yang sama Emily menenggelankan miliknya ke danau tengah lembah itu.
Emily meremas lembut rambut Garry, pergerakannya membuat wajah Garry semakin tenggelam di dua bantalan empuknya. "Mereka meneruskan perjalanan mereka, saat di tempat sepi, saudagar dan anak kecil itu menaiki keledai bersama, dan melanjutkan perjalanan."
Emily meneruskan perjuangannya yang lain. Perlahan dia menyatukan puzzle itu, hingga kedua tubuh itu menyatu. Sesaat suasana hening, hanya terdengar suara ceplakan dua permukaan kulit yang bertemu. 10 menit berlalu, Emily merubah gayanya.
"Pada perjalan selanjutnya, orang-orang yang melihat mereka berdua menaiki keledai yang kecil itu, mengatakan mereka bodoh, karena tega dengan binatang, keledai kecil malah dinaiki dua orang, harusnya satu orang." Emily tetap fokus dengan kegiatan dan ceritanya.
"Lanjutkan ceritamu," pinta Garry, rasanya dia malas untuk bicara, karena rasa yang sulit dia ungkapkan dengan kata-kata, membuatnya ingin terus tenggelam dalam lautan kenikmatan itu.
"Mereka kembali meneruskan perjalan, saat itu saudagar kaya turun, dan anak kecil tetap diatas keledai, saat bertemu orang berikutnya, mereka tetap dikatakan salah, penilaian orang-orang, anak kecil itu keterlaluan dan tidak beradab. Harusnya dia yang melayani orang yang lebih tua. Perjalanan berikutnya mereka bertukar posisi." Saat yang sama Emily meminta Garry mengemudi petualangan mereka.
"Bertukar posisi?" goda Garry.
__ADS_1
"Huum ...."
Garry segera memulai perjalanan yang tiada akhirnya itu.
Emily melanjutkan ceritanya. "Setelah bertukar posisi mereka melanjutkan perjalanan."
"Lanjut ...." Garry mempercepat temponya.
"Santai sayang, aku tidak bisa ber-ce-ri-ta ji-ka." Suara leguhan pun terlepas dari mulut Emily.
Garry merasa bangga melihat Emily tidak mampu menguasai dirinya. Cukup puas membuat Emily tidak bisa berkata-kata, perlahan Garry menurunkan temponya, dan melanjutkan dengan gerakan santai.
"Kamu nakal!" rengek Emily.
"Iya, tapi aku bahagia melihatmu seperti tadi, aku merasa menjadi lelaki hebat."
"Kamu memang hebat sayang ...." Emily meraih tengkuk Garry, dan menariknya pelan, agar wajah Garry mendekat padanya.
Keadaan kamar menjadi hening kembali.
Garry menyudahi ciuman mereka. "Lanjutkan cerita kamu sayang."
Emily berusaha mengatur napasnya, hal yang sebelumnya terjadi seakan menguras separu tenaganya, Garry membuatnya tumpah lebih dulu.
"Lanjutkan sayang ...." pinta Garry.
"Setelah bertukar posisi, anak kecil yang berjalan, dan saudagar naik keledai, saat bertemu dengan orang-orang mereka tetap salah, orang tua itu dianggap membodohi anak kecil supaya dirinya tidak lelah."
"Jadi ... kesimpulan dari cerita itu?" tanya Garry.
"Kesimpulannya, apapun yang kita lakukan selalu salah, kita mengikuti kata mereka tetap salah, dan mengikuti kritikan selanjutnya tetap salah. Seperti dirimu, menerima bantuanku salah, kita berjuang di luar sana dengan hidup seadanya juga salah, jadi ... aku mohon padamu, jangan dengarkan komentar orang, kita nikmati hidup kita, kamu tahu aku sangat bahagia melihat orang-orang yang aku sayang dipermudah menjalani hidupnya, aku hanya bisa memberikan itu."
Garry terdiam mendengar kata-kata Emily. Melihat Garry tidak melanjutkan kegiatannya, Emily merubah posisi.
"Kamu memilih dipandang salah dan hina di mata orang, tapi menikmati hidup ini, atau ... bersusah payah dengan mempersulit hidup karena menolak bantuanku tapi tetap salah?
Garry mencoba memikirkan ucapan Emily, andai mereka pulang ke desa dan memulai hidup di sana, cibiran orang-orang tetap pedas pada mereka.
Garry memegang pinggang Emily dan memberi gerakan kejutan tanpa jeda. "Aku rela di posisi mana saja, asal tetap bersamamu."
Cerita pun berakhir seiring berakhirnya perjalanan mereka pada sesi sore itu.
**
Bersambung.
***
__ADS_1
Ya salam, aku harus mempersiapkan batin nulis bab ini𤧠Anuku ternodaš¤§