POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
73


__ADS_3

Flash Back


Di kota.


Pak Adam sibuk dengan berkas-berkas pekerjaannya, dia leluasa bekerja, pikirannya tidak terbagi lagi akan keselamatan Emily, karena biang rusuh sudah dia hantarkan ke alam barzah.


Bukan hanya Adam yang merasa tenang dengan kematian Arsyila dan Kakaknya, namun beberapa pengusaha lain juga merasakan hal yang sama, kematian dua orang itu seakan melepas belenggu pada pengusaha-pengusaha lain, banyak pengusaha yang tidak bisa berpendapat dengan bebas, karena kebebasan mereka dikendalikan oleh Arsyila dan Kakaknya. Kematian dua orang itu bagaian suatu berkah bagi segelintir pengusaha.


"Zein ... kemana kamu membawa Emily? Kabar kematian Arsyila apakah sampai pada kalian?"


Tok! Tok! Tok!


Suara ketuan pintu menyadarkan Pak Adam, dia menegakan wajahnya dan mempersilakan pengetuk pintu itu untuk masuk. Perlahan pintu terbuka, terlihat sosok Sekretaris pribadinya.


"Ada apa?" tanya Pak Adam.


"Ada laporan, kalau Nona Emily menggunakan kartunya untuk berbelanja di toko perlengkapan bayi." Asisten Pak Adam menyebutkan alamat toko tersebut.


"Bukankah itu dekat dengan desa Zein?" Adam ingat jelas di mana Zein tinggal.


"Benar sekali Tuan, apakah Tuan ingin menjemput Nona Emily?"


"Tentu saja, siapkan mobil lengkap dengan keamanan, kita jemput penerus tahta Salawa Grup sesungguhnya."


"Baik Tuan, akan saya siapkan sekarang."


"Oh iya, pesan hotel yang terdekat dengan desa Zein, aku ingin bertamu pagi-pagi ke rumah Zein untuk mengejutkan mereka," pinta Tuan Adam.


"Baik Tuan."


Siang itu Pak Adam berangkat menuju kota terdekat dengan sebuah desa di mana Zein tinggal.


Flash Back Off


Desa Zein.


Zein menatap begitu dalam kearah Emily dan Pak Adam yang saat ini berpelukan.


Apakah saatnya dia pergi? Entah kenapa aku belum siap.


Emily belum pergi, namun rasa takut itu menyelimuti hati Zein. Takut jauh dari Emily, takut kehilangan Emily.


"Anda siapanya Emily?" tanya Pak RT pada Pak Adam.


"Saya orang yang mengutus Zein untuk menjaga keponakan saya," sahut Pak Adam.


"Bisa minta tanda pengenal Emily?" Pak RT masih kekeh dengan tujuan utamanya.


"Pas banget, tanda pengenal Emily saya yang pegang." Pak Adam mengambil dompetnya, dan menarik sesuatu dari sana. "Ini."Pak Adam menyerahkan pengenal Emily.


"Puas Nona Afrida? Emily bukan orang jahat, dia punya kartu pengenal, urusan saya sudah beres, saya pamit dulu." Pak RT merasa malu, dia segera pergi dari rumah Zein.

__ADS_1


"Owh ... Ternyata kalian bos dan majikan? Kalian menipuku dengan mengatakan suami istri!" Pandangan mata Afrida tertuju pada perut buncit Emily. "Jangan-jangan itu anak haram hasil hubungan gelap kalian?"


Plak!!


Tamparan dari bibi Geya mendarat telak di pipi Afrida. "Jaga ucapanmu! Anak yang Emily kandung hadir dalam ikatan pernikahan!"


"Berani-beraninya kamu menamparku nenek tua!" maki Afrida.


"Kamu memang pantas mendapatkannya dari dulu, tapi aku menahan diri karena kau yang melahirkan Friska, anak angkatku kau hina, aku tidak bisa diam lagi!"


Pak Adam terkejut dengan adanya Geya di sana. Banyak pertanyaan yang seketika bermunculan, namun sosok menyebalkan yang terus mengoceh itu harus dia singkirkan lebih dulu.


"Sejak kapan kami mengakui kalau kami suami istri? Kan itu tebakanmu, kami hanya berperan menurut apa yang kamu pikirkan," sahut Emily.


"Kau!" Afrida ingin sekali menjambak Emily, namun beberapa laki-laki berbadan tegap yang berdiri di belakang Pak Adam, membuatnya takut.


"Pengantin baru, pagi-pagi kok malah kelayapan, bukannya puk-puk suami gitu di tempat tidur, ow ... Apa ...." Emily mulai meledek Afrida.


Melihat wajah Afrida semakin kesal Emily sangat bersemangat.


"Perkiraanku benar ya? Tongkat keadilan suamimu tidak mampu berdiri lama? Kan sudah aku kasih mantra itu, tinggal tempel ...."


"Kau!"


"Kenapa kamu sangat marah? Semua perkataan dan tebakanku benar ya?"


"Mama kenapa sih, setiap kali datang selalu marah-marah."


"Aku sama papa bisa bahagia kok tanpa mama, kalau mama datang hanya untuk marah-marah terus nggak usah datang lagi."


Sakit, malu, kecewa, segala rasa yang membuat batinnya sesak melebur jadi satu di hati Afrida. Tanpa berkata lagi dia pergi begitu saja meninggalkan rumah Zein.


"Kenapa anak Zein memanggil dia mama?" tanya Pak Adam.


"Dia mantan istri Zein, Pak." sahut Geya.


Setelah Afrida pergi, mereka semua menarik napas begitu lega.


"Arsyila versi muda," ucap Pak Adam.


"Pantas saja, kadar kebenciannya padaku sama," sahut Emily.


Pak Adam dan bibi Geya tertawa, sedang Zein bungkam tanpa expresi.


"Di sini kenapa bisa ada Geya?" tanya Pak Adam.


"Tuan Adam masih mengenali saya? Saya kira Tuan sudah lupa."


"Mana aku bisa lupa sosok yang setia sepertimu, terima kasih atas kecerdasanmu dulu, Emily bisa selamat."


"Masuk dulu Tuan Adam," ucap Zein.

__ADS_1


"Aku kemari untuk menjemput Emily, itu pun jika dia ingin ikut pulang bersamaku," ucap Pak Adam.


"Jangan bawa tante Emily pergi ...." rengek Friska.


"Tante izin pergi ya, kalau Friska rindu kita bisa teleponan atau Friska main ke rumah tante nanti, nginep juga boleh," ucap Emily.


"Aku maunya tante di sini saja ...."


"Itu tidak bisa cantik, di kota ada sahabat tante dan pekerjaan tante yang menunggu tante."


Friksa menangis dan memeluk kaki Zein. "Tahan tante pa ... minta tante tetap di sini ...."


Zein bingung harus melakukan apa.


"Anak cantik sayang sama tante Emily ya?" tanya Pak Adam.


Friska tidak merespon dia terus menangis sambil menggoyangkan kaki Zein, berharap Ayahnya melakukan sesuatu.


"Papa Zein tahu kok di mana rumah tante Emily, nanti Friska minta papa anterin Friska ke rumah tante Emily," bujuk Pak Adam.


"Iya, gantian ya ... dulu kan tante yang menginap, nanti Friska, bibi Geya dan papa yang gantian menginap di rumah tante ya ...." bujuk Emily.


Perlahan Friska mau mengerti. Saat Friska mulai tenang. Zein mengajak semua orang untuk masuk. Mereka semua duduk di ruang tamu Zein.


"Emily ... Bagaimana bisa kamu hamil? Bukankah katamu?"


"Maaf om, aku menyembunyikan sesuatu, yang mandul Aji, bukan aku. Saat Garry menceraikanku, saat itu aku hamil."


Pak Adam menyebutkan tanggal pengunduran diri Garry dari kantornya.


"Itu sehari setelah perceraian kami, Om."


"Garry tahu kamu hamil?"


"Kalau dia masuk ke kamar kami, dia pasti tahu, tapi dari cerita pelayanku, Garry pergi begitu saja meninggalkan rumah, kemungkinan dia tidak tahu.


"Om akan memberi perhitungan pada Garry dan mantan istri Zein tadi.


Emily segera ke kamarnya bersiap membereskan barang-barangnya.


"Em ... Barang yang kamu beli kemaren sudah bibi masukan dalam tasnya," ucap bibi Geya.


"Iya bi, aku bereskan baju-bajuku dulu."


"Sini bibi bantu."


Selesai Emily memasukan pakaianya kedalam tas, anak buah Pak Adam segera membawa tas-tas itu kedalam mobil.


Pak Adam mendekati Zein dan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya. "Terima kasih Zein ...."


Zein menurunkan tangan Pak Adam yang menangkup. "Jangan begini Pak ... Saya menjaga dan melindungi Nona Emily karena itu tugas saya, dan sebagai rasa terima kasih saya, berkat bantuannya, saya bisa mengantar Friska ke meja operasi."

__ADS_1


__ADS_2