
Emily memasuki rumah dengan gaya minimalis itu, terdapat ruang tamu, ruang TV dan 3 kamar tidur untuk di bagian luar. Sepasang mata Emily masih menyisir seluruh ruangan itu.
"Kamar ujung itu, akan jadi kamar kamu Em ...." ucap Zein.
"Bibi Geya?" Emily merasa dirinya telah mengambil tempat bibi Geya.
"Aku lebih nyaman menempati kamar di bagian belakang, dan aku tidak akan bisa pindah," sahut bibi Geya.
"Ya sudah, kamu langsung ke kamar kamu dulu, Em. Setelah menaruh barang-barangmu, aku mau menemui petugas desa, untuk mengurus izin tinggal kamu di sini." Zein langsung membawa semua barang Emily ke kamar ujung yang akan ditempati Emily.
Setelah pekerjaannya selesai, Zein pamit pergi. Langah Zein terhenti, saat dia mengingat kalau tidak memiliki tanda pengenal Emily.
"Ada apa pa?" tanya Friska.
"Surat-surat tante Emily. Papa belum bawa."
"Untuk KTP aku lupa bawa, tapi aku punya ini." Emily memberikan ID Card nya saat bekerja di Salawa Grup. "Untuk alasan, kamu bikin sendiri ya ...."
"Sepertinya sulit, tapi akan aku usahakan."
*
Hari pertama berada di kediaman Zein, Emily berusaha akrab dengan bibi Geya dan Friska, dua orang itu juga sangat menerimanya, tidak sulit bagi Emily menyesuaikan diri dengan mereka.
"Tante, kalau mau apa-apa, panggil aku ya," ucap Friska.
"Tante bisa sendiri, cantik. Walau tante duduk di kursi roda, tante bisa melakukan beberapa hal sendiri. Hanya saja tante tidak dianjurkan banyak gerak, tapi untuk menggerakan roda kursi roda ini untuk mencapai tujuan tante, tante mampu kok."
"Iya tante, tapi jika butuh bantuan, jangan sungkan panggil aku atau Nenek."
"Iya Friska cantik." Emily merasa beruntung bisa berada di tengah keluarga Zein, karena mereka begitu baik padanya.
Sore hari Zein kembali ke rumahnya.
"Bagaimana izin tinggal Emily?" tanya bibi Geya.
"Lancar bi. Sudah dapat izin juga."
Tidak ada pembicaraan khusus, Zein menyapa Emily, dan hanya menanyakan apakah Emily nyaman di sana.
"Bi, kebunku siapa yang mengurus selama aku pergi?" tanya Zein pada bibi Geya.
"Di urus Wanto, pembagian hasil panen pertama ada sama bibi."
"Papa mau ke kebun ya?" tanya Friska. "Padahal kita baru sampai." Wajah gadis kecil itu terlihat murung.
__ADS_1
"Tidak ada yang bisa papa kerjakan di sini, lebih baik papa ke kebun."
"Owh ...." Friska melengos begitu saja menuju kamarnya.
"Maaf aku menyela, kalian kan baru berkumpul lagi, walaupun hanya duduk bersama di depan Televisi, itu sangat berarti bagi putrimu, Zein." ucap Emily.
Zein berusaha mencerna perkataan Emily, dia menatap lembut kearah kamar putrinya.
"Nikmati waktu emas ini Zein, saat ini di mata Friska kamu adalah laki-laki paling tampan, yang selalu dia rindukan setiap detik, dan selalu dia sebut dalam do'a. Tapi perasaan ini perlahan memudar seiring waktu."
"Maksudmu?"
"Perputaran waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa Friska akan tumbuh dewasa, kamu akan terkejut kala saat itu tiba, suatu saat ada orang lain yang tidak kalah berharga bagi putrimu."
"Maksudmu teman lawan jenis?" tanya Zein.
"Waktu terus berjalan Zein, dan jika saat itu tiba kamu tidak bisa menahan waktu."
"Saat ini, Friska sangat bangga menggandeng lenganmu kemana saja dia melangkah dia bahagia jika bersamamu. Isi waktu emas ini Zein, beri kesan bahagia pada putrimu, hingga saat dia semakin dewasa nanti dia selalu mengingat kebersamaan kalian."
"Jika saat itu tiba, entah apa namanya, satu hal Friska tidak menyukai hal-hal yang dia senangi seperti saat ini, hal yang indah seperti menggandeng tanganmu atau kamu antar kesekolah, hal ini bukan perkara yang menyenangkan lag, dia akan merasakan hal itu terlalu kekanak-kanakan, hingga dia tidak mau digandeng lagi mungkin ingin berangkat sekolah sendiri."
Perlahan Zein sangat memahami apa maksud Emily. Dia segera menyusul Friska ke kamarnya.
"Halo Tuan putri ...." sapa Zein.
"Papa ingin menghabiskan waktu bersama putri papa yang berhasil berjuang menepiskan belenggu yang selama ini membuatnya berada dalam keterbatasan."
"Beneran pa?"
"Apakah papa yang paling baik sedunia ini seorang pembohong?"
Friska menggelengkan kepalanya, senyuman sumringah yang terukir di wajahnya membuat gadis itu semakin cantik.
"Jadi ... princess papa mau jalan kemana?"
"Kalau aku mau jalan-jalan sama papa berdua, tante Emily nggak apa-apa ditinggal?" tanya Friska.
"Tidak apa-apa, tante juga tidak boleh lelah. Mungkin tante Emily memilih istirahat di kamarnya."
"Kalau gitu, ayo kita jalan-jalan!"
Friska keluar kamarnya dengan raut keceriaannya. "Tante, Nenek ... aku mau jalan sama papa, kalian mau nitip sesuatu?"
"Tidak ada cantik," sahut Emily.
__ADS_1
"Nenek juga tidak ada, nikmati kebersamaan kalian, sebelum tangan papamu sibuk memegang cangkul dan peralatan kebun yang lain."
Friska dan Zein pamit pergi, mereka menaiki motor untuk berkeliling desa.
"Mau bibi bantu meletakan barang-barang?" tanya bibi Geya.
"Bibi nggak capek?" Emily balik bertanya.
"Tidak sama sekali."
"Ya sudah, ayo bi kita ke kamar, sepertinya tas aku sudah di bawa masuk Zein."
Sesampai di kamar, Emily perlahan pindah ketempat tidur.
"Mau bibi bantu?" tanya Geya.
"Terimak kasih bi, tapi aku bisa."
Bibi Geya memandangi tas yang berjejer di samping pintu. "Mau buka tas yang mana dulu?"
"Tas yang jinjing itu bi, aku mau ganti baju, gerah rasanya."
"Ganti baju saja apa mandi sekalian?" tawar bibi Geya.
"Mending mandi ya bi, percuma juga ganti baju nggak mandi." Emily memandangi keadaan kamarnya.
"Cari kamar mandi? Kamar mandi ada di bagian belakang, ini rumah di desa, ya kamar mandi 1 untuk semua," ucap bibi Geya.
"Bantu aku menuju kamar mandi ya bi, aku tidak tahu yang mana kamar mandi."
20 menit berlalu, Emily keluar dari kamar mandi dengan setelan santainya. Dia segera menuju kamarnya. Terlihat di dalam kamar, bibi Geya mulai memindahkan baju-bajunya kedalam lemari.
"Bi, boleh aku bertanya?" ucap Emily.
"Silakan Non."
"Kenapa sebelumnya bibi memanggilku Nona El?"
Gerak tangan bibi Geya terhenti mendengar pertanyaan Emily.
"Jika bibi bertemu dengan wanita yang bernama Emily, bibi teringat sosok yang bibi sayangi. Bibi biasa memanggilnya Nona El, atau Nona Elly."
Mendengar jawaban bibi Geya, seketika air mata Emily merembes membasahi pipinya. "Bibi G ...." rintih Emily pelan. Perlahan Emily mengangkat tinggi rambutnya, dan memperlihatkan tanda lahir yang ada di bagia tengkuknya.
"Anakku ...." Bibi Geya langsung bangkit dan memeluk Emily begitu erat. Emily adalah anak majikannya, namun Geya menyayangi anak itu, dan menganggapnya seperti anak sendiri. "Ini benar-benar dirimu?" ringis bibi Geya.
__ADS_1
Emily terus menganggukan kepalanya. "Iya ... aku Elly, yang selalu bibi bantu mengepang rambut setiap pagi ...."
Keduanya tenggelam dalam tangisan, tidak mampu lagi mengucapkan kata yang ingin disampaikan.