
Mendengar suara pecahan kaca yang begitu keras, Adam sangat khawatir. "Zein! Zein! Apa yang terjadi?!"
Namun tidak ada jawaban di ujung telepon sana.
Sedang di minimarket itu, Zein tetap membawa Emily keluar dari sana dan bersembunyi di balik mobilnya.
"Apa itu?"
Dor! Dor!
Suara tembakan seakan membuat gendang telinga Emily pecah. Emily menutup kedua telinganya menggunakan telapak tangannya.
"Emily tenang!" pinta Zein.
Suara tembakan perlahan berkurang. Emily menatap Zein dengan tatapan yang penuh pertanyaan.
"Dalam hitungan ketiga, kita sama-sama lari kedalam mobil!" pinta Zein.
Emily berusaha mengumpulkan sisa kekuatannya.
"Tiga!" ucap Zein.
Emily langsung berlari kedalam mobil. Sepersekian detik kemudian peluru kembali menghujani mereka. Pandangan Zein kabur, karena kaca mobilnya saat ini terdapat banyak retakan. Zein berusaha mengabaikan keadaan itu, dia fokus membawa Emily oergi dari sana. Beruntung para penembak itu tidak mengejar mereka.
"Zein! Zein!"
Samar panggilan itu terdengar.
"Astaga, aku lupa aku masih terhubung dengan Tuan Adam." Zein memberikan handphonenya pada Emily. "Kamu bicara dulu sama Tuan Adam, dan ceritakan semuanya."
"Paman."
Zein heran mendengar Emily memanggil Adam dengan sebutan Paman, namun dia terus melajukan mobilnya walau tanpa tujuan.
__ADS_1
"Emily? Kamu bersama Zein?"
"Kemaren dia menolongku Paman, entah mengapa sekarang ada yang menembaki kami."
"Emily, nyalakan loudspeaker kamu, biar Zein juga mendengar."
Emily langsung menyalakan loudspeaker handphone Zein.
"Zein, saat ini seseorang yang mencari anak tunggal pewaris perusahaan yang aku jalankan ini, sudah tahu sosok yang mereka cari, dan saat ini pewaris sah Perusahaan yang aku jalankan dalam bahaya, mereka ingin membunuhnya, dan dia adalah Emily."
"Zein, aku mohon padamu, bawa Emily meninggalkan kota ini, aku tidak bisa berharap pada Garry, kemaren dia malah datang untuk mengundurkan diri, padahal aku tadinya ingin dia membawa Emily jauh dari kota ini."
"Sudah tahu Emily dalam bahaya, kenapa tidak lapor ke kepolisian?"
"Hukum di negara kita lemah, jika si penjahat kuat, aparat berwenang tidak punya daya cengkram kuat untuk menahannya, apalagi yang ingin membunuh Emily masih mistery. Lihat saja nanti, peristiwa penembakan yang kalian alami, tidak akan ada yang menyelidiki, paling mereka alihkan dengan issue lain. Jadi ... sekarang juga kalian pergi, ke kantor polisi kalian tidak akan dapat apa-apa."
"Masalahnya, mobil saya kacau Tuan, bagaimana saya bisa meninggalkan kota ini dengan aman?"
"Di mana kalian? Aku akan mengirimkan mobil untuk kalian, sedang mobil kalian nanti aku kirim kalau sudah di perbaiki.
Zein menyebutkan sebuah lokasi yang menurutnya aman, setelah selesai berbicara dengan Pak Adam, Zein menambah kecepatan mobilnya menuju lokasi itu.
Mereka berhenti di tempat sepi, di sisi jalan itu terlihat danau yang sangat indah.
"Apa Nona bersedia ikut denganku ke desaku?" tanya Zein.
"Tidak ada pilihan lain kan? Tinggal di sini selain tidak baik untuk kesehatanku, juga membahayakan nyawaku."
"Akhirnya, aku punya kesempatan untuk membalas jasa-jasa Nona," ucap Zein.
Emily meraih handphonenya, dia mengetik salam perpisahan untuk Janet, juga mengirim pesan untuk yang bertanggung jawab untuk usahanya, Emily kembali menyerahkan sepenuhnya usaha itu pada yang dia percaya.
Terakhir, Emily mengirimkan pesan pada pembantu rumahnya, dan mentransfer sejumlah uang, untuk gajih pembantu beberapa bulan kedepan.
__ADS_1
1 jam kemudian, utusan Pak Adam mengantarkan mobil untuk Emily dan Zein, dan mobil Zein yang mengalami kerusakan fisik yang cukup parah, di bawa oleh utusan Pak Adam.
"Emily, kamu aku antar ke pusat perbelanjaan sebenta, membeli semua kebutuhan kamu. Terus kita ke Bandara untuk beli tiket," usul Zein.
"Ke desamu harus naik pesawat?"
"Tidak, hanya sebagai pengalihan, andai musuhmu sehebat kata Pak Adam, tentunya dia akan bisa melacak posisi kamu dengan titik signal handphone kamu, atau jejak pembayaran kamu."
Dengan mobil baru, Zein dan Emily ke pusat perbelanjaan, dan benar saja di sana Zein melihat beberapa orang mengikuti mereka. Zein dan Emily pura-pura tidak tahu. Setelah membeli semua kebutuhan Emily, Zein dan Emily segera menuju bandara, dan membeli tiket ke luar Negri.
Zein melihat keadaan, orang-orang yang mengikuti mereka sudah menghilang. Zein yakin mereka mengatur rencana untuk menyergao Emily di negara yang mereka tuju nanti. Zein menarik Emily ketempat sepi. "Kamu percaya padaku?"
Emily mengangguk pelan.
"Aku membeli tiket peswat untukmu ke Provinsi sebelah, aku akan menjemputmu di sana."
Emily mencoba memahami rencana Zein.
"Berbahaya jika kita pergi dengan satu mobil, mereka akan bisa melacak pelarian kamu. Jadi sebelum naik pesawat, kamu buang handphone kamu, tapi sebelum itu reset dulu semua data-datamu."
Emily memahami kekhawatiran Zein. "Handphone ku aku percayakan padamu, kamu apakan terserah. Aku masih punya 1 handphone yang biasa aku pakai hanya menghubungi orang-orang tertentu."
"Baiklah, sampai jumpa lagi nanti."
Emily berjalan cepat menuju pintu keberangkatan menuju kota yang Zein maksud, sedang Zein berniat meninggalkan Bandara dengan sebuah taksi.
Mobil Tuan Adam, dia tinggalkan di bandara. Saat Zein ingin keluar dari bandara, dia berpapasan dengan sekelompok orang yang terlihat sangat unik. Zein mereset handphone Emily, dan mengeluarkan kartu simnya.
Zein mendekati orang-orang itu. "Mau kemana nih, rame sekali rombongannya," sapa Zein.
"Mau keliling dunia sih niatnya, tapi belun tau nanti kami bisa sampai di Negara mana saja."
Sambil berbincang dengan mereka, Zein menyelipkan handphone Emily ke salah satu tas ransel orang-orang itu.
__ADS_1