POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
Bab 39


__ADS_3

Arsyila mematung melihat foto yang tayang. Sejenak dia berusaha mengingat kembali momen sebelumnya, saat meninggalkan area belakang, dia tidak sengaja bertubrukan dengan seorang pelayan.


"Anda menuduh orang lain selingkuh, tapi yang melakukan perbuatan tidak bermoral adalah Anda sendiri!" maki Lesty.


"Ya ampun Nyonya, laki-laki yang bersama Anda itu seperti cucu Anda saja."


Arsyila kehilangan wajah dan keberaniannya, entah mengapa foto Garry dan Emily malah berubah menjadi fotonya sendiri dengan berondong sewaannya.


Arsyila tidak punya kata-kata untuk membela diri, foto itu sudah cukup merobek harga dirinya, dia segera meninggalkan tempat itu. Arsyila berjalan ketempat para pelayan, menyisir pandangannya, mencoba mencari sosok pelayan itu, namun dia tidak menemukan sosok yang dia cari.


Sedang di tempat acara, keadaan kembali tenang.


"Maafkan atas kekacauan barusan," sesal Lesty.


Acara kembali berlanjut, di atas panggung sana, Garry dan Lesty berdiri bersama, Lesty memotong kue ulang tahunnya dan memberikannya pada Garry.


Di sisi lain.


"Lihat kebahagiaan, itu. Apakah kamu perempuan Emily, kamu tega menghancurkan kebahagiaan perempuan lain?"


"Itu bukan kebahagiaa bi, itu hanya drama, agar semua mengira mereka pasangan bahagia, apa bibi tidak mau membuka mata bibi, kalau anak bibi tersiksa dalam sangkar emas itu?"


Dari atas panggung sana, Garry menoleh kearah Emily, dan melempar senyumannya.


"Dalam senyuman itu ada kebahagiaan, bibi bisa rasakan kemana kebahagiaan laki-laki itu tertuju."


Athaya kembali bungkam, ingin marah dan menjambak wanita yang duduk bersamanya, namun wanita menyebalkan ini sangat sering menolongnya, bahkan menyelamatkan wajahnya dari beberapa menit yang lalu.


"Sayang ... lepas dulu handphonemu, ayo jawab pertanyaan teman aku," ucap Lesty diatas panggung sana.


Sedang di tempat Emily, handphone Emily bergetar, terlihat nama Garry sebagai pengirim pesan.


*Terima kasih banyak, karenamu keluargaku bisa bertahan di acara ini.

__ADS_1


Emily hanya membalas dengan emoticon di depan mulutnya ada tanda hati.


***


Beberapa tamu dari keluarga, mulai meninggalkan tempat acara, hanya tersisa beberapa teman dekat Lesty. Perlahan Garry mendekati istrinya itu.


"Butuh aku di sini?" tanya Garry lembut.


"Sudah pulang saja sana, ini waktuku bersama teman-temanku."


"Oke, nikmati waktumu, aku pulang duluan." Garry segera meninggalkan Lesty.


"Beruntung banget kamu Les punya laki penurut begitu."


"Iya, Garry pendiam juga, Lesty mau apain dia diam aja "


"Yang beruntung itu dia, bukan aku. Kalau tidak menikah dengan aku, ya dia paling jadi gembel di luar sana, dia bisa hidup enak ya karena aku."


Garry mendengar jelas apa ocehan Lesty, dia mengabaikan semua itu dan berjalan menuju meja Emily.


"Kamu pulang saja duluan, kasian Bapak sama Ibu kamu nggak kuat dingin, di sini hawanya lumayan dingin."


"Aku pulang duluan ya," pamit Garry.


Athaya menatap Garry dan Emily bergantian, dia menemukan raut kebahagiaan di wajah putranya saat menatap wajah wanita yang dianggap pelakor itu.


Garry dan keluarganya pergi, sedang Emily menyelesaikan beberapa tugas yang belum dia selesaikan, setelah menyelesaikan semua itu, Emily segera meninggalkan tempat acara.


Emily berjalan santai di area basement, dia menuju mobilnya, keadaan yang sepi membuat Emily sangat terburu-buru. Saat dia ingin membuka pintu mobilnya, dia melihat siluet orang berpakaian serba tertutup di belakangnya, melihat benda mengkilap di tangannya, Emily segera lari kearah samping, dia tidak menoleh ke sosok itu, dia terus berlari mencari tempat aman.


Saat yang sama, benda mengkilap yang dibawa sosok bertopeng itu menancap di kaca mobil Emily, membuat kaca mobil Emily pecah. Terlambat satu detik saja, benda mengkilap dengan ujung tajam itu bisa mendarat di tubuh Emily.


"Dasar jallang sialan!" Sosok bertopeng itu marah dan mengejar Emily.

__ADS_1


Emily tidak peduli, setelah melepaskan sepasang sepatu hak tingginya, dia berlari secepat yang dia mampu.


"Kemana kau jallang! Kau tidak akan bisa lari!"


Saat sosok bertopeng itu hampir mencapai Emily, tiba-tiba ada tendangan yang membuatnya tersungkur. Mendengar hal itu, Emily berhenti dan berbalik melihat keadaan, terlihat di sana Zein berdiri menghadang sosok bertopeng itu.


"Sialan kau! Jangan campuri urusanku!" maki sosok bertopeng itu.


"Ini urusanku, kau menganggu majikanku!" maki Zein.


Tidak dapat dihindari, perkelahian pun terjadi. Zein tampak santai menghajar lawannya, tidak seperti sosok bertopeng itu, dia mulai kewalahan dan kehilangan keseimbangannya.


Bougghhh!


Pukulan terakhir Zein, sukses membuat sosok bertopeng itu tumbang dan kehilangan kesadaran.


"A-ada apa ini? Kenapa tiba-tiba ada orang yang menyerangku?" keluh Emily.


"Itu sudah pasti, sebab itu aku dibayar untuk menjaga Anda." Zein mengotak atik handphonenya, dia memesan taksi online untuk Emily.


"Nona pulang dengan taksi dulu, mobil Nona biar aku yang tangani, sekalian menangani badebahh itu." Zein menunjuk sosok bertopeng yang saat ini tidak sadarkan diri.


***


Perjalanan Garry dan keluarganya.


"Ibu kini memahami bagaimana perasaanmu, dan ibu tidak akan menghalangi hubunganmu dengan Emily, namun Ibu juga tidak membenarkan hubungan kalian."


"Aku dan Emily sadar kami salah, sebab itu kami juga sadar diri dengan tidak meminta restu pada siapa-siapa," sahut Garry.


"Aku mendukung Kak Garry dan Kak Emily, semoga rasa sakit kita karena mulut kasar Lesty, terbayar oleh rasa sakit saat Lesty mengetahui hubungan Kak Garry dan Kak Emi," ucap Nala.


"Tuan Ajiman membebaskan aku untuk meneruskan ikatan dengan Emily atau Lesty, jika aku memilih bersama Emily, aku akan kehilangan semua kemewahan yang selama ini aku nikmati," ucap Garry.

__ADS_1


"Lebih baik sederhana asal kamu bahagia, Nak. Daripada hidup bergelimangan harta tapi hatimu tersiksa," ucap Athaya.


"Bapak tidak bisa berkata bijak atau puitis, jalani apa yang kamu pilih, dan siapkan dirimu untuk mempertanggung jawabkan pilihan kamu."


__ADS_2