POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
Bab 40


__ADS_3

Suasana pagi di kediaman Ajiman terlihat berbeda, pagi ini di meja makan hanya ada Ajiman, istrinya, dan Andita. Lesty dan Aji tidak terlihat keberadaan mereka di rumah itu, sedang Garry, dia menginap di Apartemen Emily.


"Lesty tadi malam tidak pulang Dit?" tanya Tuan Ajiman.


"Sepertinya dia menginap di hotel bersama teman-temannya."


"Kalau Lesty pulang, pinta dia menghadapku, nanti malam aku ingin kita semua berkumpul."


"Iya Ayah, akan ku sampaikan pada Lesty."


Setelah selesai sarapan, Andita juga meninggalkan rumah itu, Ajiman dan istrinya bersantai di ruang tamu bagian depan, sambil melihat para pelayan yang mengerjakan tugas mereka.


"Ada hal apa, kenapa memanggil anak-anak?"


Ajiman mengatur napasnya. "Aku telah menghancurkan hidup Garry karena memintanya menikahi Lesty, dia merasa hutang jasa padaku, dan dia tidak akan berani menolak permintaanku."


Saat yang sama Lesty mendengar semua ucapan Kakeknya, dia sengaja menahan langkahnya agar bisa menguping semua pembicaraan mereka.


"Lalu, apa pilihanmu?"


"Aku melihat Garry bahagia dengan wanita pilihannya, sebab itu aku meminta dia jujur dengan segala perbuatannya di depan kita, kalau dia tidak kuat dengan Lesty, biarkan dia mengembalikan Lesty pada kita dengan cara baik-baik."


"Siapa wanita simpanan Garry?"


"Nanti ibu juga akan tahu."


"Garry tahu reseko yang akan dia terima jika menceraikan Lesty?"


"Dia sangat tahu, dan siap menerima semuanya," sahut Ajiman.

__ADS_1


Lesty sangat geram karena Kakeknya tidak menyebut nama perempuan itu, dia segera menuju mobilnya, berusaha mencari keberadaan Garry.


"Akan ku buat kamu sulit untuk menceraikanku, Garry!"


Lesty melupakan pekerjaannya, dia berusaha mencari keberadaan Garry, namun di kantornya Garry juga tidak ada. Lesty terus menggunakan kekuasaannya mencari keberadaan Garry. Hingga dia menemukan sebuah kabar, kalaj Garry berada di sebuah teater.


"Teater, di siang hari?" Sulit percaya, tapi Lesty melanjutkan pencariannya ke tempat itu.


Sesampai di sana, terlihat sebuah papan pengumuman kalau pertunjukan umum siang ini untuk umum dan gratis. Lesty membaur dengan pengunjung lain, setelah memasuki tempat acara, semua penonton sangat fokus kearah panggung, sedang Lesty terus menoleh kesana kemari mencari sosok Garry.


Di tempat umum, Lesty tidak menemukan Garry, hingga dia memilih menuju tempat lain, agar bisa melihat siapa saja yang ada di tempat VIP yang ada di lantai atas. Hingga pandangan mata Lesty terhenti pada dua sosok yang terlihat sangat bahagia.


"Garry? Emily?" Ingin menganggap semua ini mimpi, namun rasa sesak yang mendera hatinya membuatnya kesulitan bernapas. Lesty terus berjalan mundur, hingga punggungnya membentur sebuah tiang beton. Terasa nyeri, hal itu membuat Lestu percaya ini nyata.


"Jadi ... yang dikatakan Nyonya Arsyila benar, Garry dan Emily." Lesty kembali menoleh ke lantai atas, di sana Garry dan Emily tertawa bahagia, bahkan Garry dengan nyamannya mendaratkan ciumannya di pipi Emily.


Sedang dua orang itu, tidak menyadari keberadaan Lesty. Mereka sangat menukmati pertunjukan drama yang mereka tonton.


Lesty segera mencari nomor telepon Arsyila, dan menceritakan semua yang dia lihat saat ini.


"Nyonya, bisakah kita kerjasama menghabisi wanita itu? Aku tidak mau rumah tanggaku kandas karena Garry yang meninggalkanku, aku siap cerai, tapi aku yang menggugat.


"Untuk saat ini, aku tidak punya rencana, pembunuh bayaran yang aku sewa kata rekannya dia tertangkap pengawal Emily, dan saat ini orang suruhanku digandang ke kantor polisi."


"Kalau ada tindakan selanjutnya, ajak aku."


"Siap Lesty."


Saat Lesty ingin meninggalkan gedung itu, tiba-tiba Emily melihat keberadaan Lesty, Emily sengaja menyatukan bibirnya dan Garry di depan mata Lesty.

__ADS_1


Di atas sana Garry sangat bahagia, dia mengira Emily berterima kasih karena menggratiskan acara pentas drama pagi ini. Dia tanpa malu membalas ciuman Emily, saat posisi mereka berubah, Garry tak sengaja melihat sosok Lesty di bawah sana.


Lesty?


Garry langsung melepas ciuaman mereka.


"Sayang, kamu pulang lewat tempat lain," pinta Garry.


"Kenapa sayang?" Emily sengaja pura-pura tidak tahu.


"Tidak apa-apa, sana pulang duluan, aku ada urusan dengan panitia di sini."


"Ya sudah, aku pergi duluan, sampai jumpa sayang." Emily sengaja mencium pipi kanan dan pipi kiri Garry.


Seperti permintaan Garry, Emily pergi lewat pintu yang lain, sedang Garry langsung mendekati Lesty.


Di bawah sana, Lesty sengaja menunggu Garry, dia ingin mendengar alasan Garry. Saat Garry hampir sampai, Lesty memasang wajah angkuhnya dan melipat kedua lengan di depan dadanya.


"Mau membela diri?" tantang Lesty.


"Aku tidak akan membela diri, apa yang terlihat itulah adanya. Kakek juga mengizinkanku untuk menceraikanmu."


Tidak! Aku tidak mau cerai!


Kata itu hanya bisa Lesty pendam dalam hati, dia tidak akan menghancurkan harga dirinya jika mengemis agar Garry mempertahankan ikatan mereka.


"Kamu lebih memilih hidup miskin dengan wanita mandul itu? Om ku saja membuang dia karena dia tidak berguna, kamu malah memungut sampah itu!"


"Walau dia sampah di matamu, tapi dia sangat berharga untukku. Aku kan juga sampah di matamu, dia juga sampah, nah laki-laki jelek dan perempuan jelek, pas bukan?"

__ADS_1


Lesty tidak punya jawaban lagi, dia hanya diam menahan segala ledakan perasaan yang terus berkobar di dalam dirinya.


"Aku akan mengurus perceraian kita, terima kasih atas semua hal yang pernah kamu beri dalam hidupku." Garry menepuk pundak Lesty dengan lembut, dan segera pergi dari sana.


__ADS_2