
Mendengar ucapan Lesty seperti itu, Nenek Maiwa sangat geram. Namun gerak beliau ditahan oleh Thaya dengan bahasa isyaratnya, agar Nenek Maiwa melupakan hal itu. Seolah tidak terjadi apa-apa, kedua orang tua Garry meninggalkan kediaman mewah itu.
Hening ....
Sepanjang jalan tidak ada yang membuka pembicaraan. Garry tahu kedua orang tuanya terluka, sebab itu dia bingung harus membuka obrolan dengan bahasan apa.
"Langsung ke Apartemen kan bu?" Garry mencoba basa-basi.
"Bagaimana pernikahanmu selama ini?" Thaya tidak bertanya, dia langsung melempar pertanyaan yang terus berputar di kepalanya pada Garry.
"Baik bu," sahut Garry singkat.
"Baik? Baik apanya? Ibu melihat dengan kedua mata kepala ibu sendiri, kalau Lesty tidak memandangmu sebagai suami! Perkataannya juga sangat pedas! Ibu membesarkanmu dengan penuh cinta menyekolahkanmu hingga jadi sarjana, harapan ibu, orang-orang tidak merendahkanmu seperti mereka memandang rendah kedua orang tuamu, tidak harus mendapat hormat seluruh isi bumi ini, tapi ibu sakit! Saat putra ibu direndahkan! Dilecehkan seperti itu! Mana harga dirimu sebagai laki-laki!"
Garry memegang kuat kendali mobilnya, ucapan ibunya benar adanya, selama ini harga dirinya selalu diinjak-injak oleh Lesty.
"Ibu dan Bapak memang pelayan di rumah itu, tapi kamu ... kamu adalah suami dari cucu keluarga itu, kamu tidak harus dilayani seperti putra mahkota, setidaknya jangan direndahkan. Hati ibu sakit ...."
Ayah Garry hanya bungkam, dia tidak tahu harus bicara apa, dirinya tidak meminta Lesty untuk menyanjung mereka, hanya saja sangat sakit mendengar Lesty menyebut mereka pelayan.
__ADS_1
"Harga diri, di sini kamu masih punya harga diri? Kalau tidak punya lebih baik kamu pakai gaun saja Gar, ibu tidak tahu, harus marah pada istrimu, marah padamu, atau marah pada ibu sendiri! Andai ibu tidak menerima lamaran Tuan Jaiman, semua ini tidak akan terjadi."
Setelah menumpahkan kemarahannya, semua kembali membisu.
***
Rumah Sakit.
Di kamar perawatan Emily, hanya ada dia Janet di sana. Keduanya berbaring di tempat tidur yang sama. Walau ranjang Rumah Sakit kecil, masih muat menampung dua tubuh kecil itu.
"Em ... padahal kamu tidak apa-apa, kenapa kamu malah menginap di sini?"
"Hanya menguji Garry, apakah dia langsung pergi setelah tau aku cacat, atau dia tetap mempertahankan aku."
"Garry memang setia, bagaimana pun Lesty merendahkannya dia tetap diam, karena dia menghormati Ayah Aji, dia merasa hutang jasa. Mendekatinya mudah, tinggal katakan omong kosong kalau aku mencintainya."
"Huhhh ...." Membayangkan bagaimana Lesty, Janet hanya bisa membuang napasnya kasar, setiap bertemu Lesty, dia selalu mendengar keluhan Lesty tentang suaminya yang tidak berguna.
"Kamu masih single kan Jan, jika kamu punya pasangan nanti, jangan sebut kekurangan suami kamu pada orang lain, walau dia penuh kekurangan, cukup kamu dan Tuhan yang tahu, muliakan suamimu, dan sanjung dia sebagai suami terbaik di depan orang-orang, kamu tidak pernah tau dengan siapa kamu bicara, bisa jadi ada pelakor sepertiku yang bersiap mentargetkan suamimu."
__ADS_1
Janet memiringkan tubuhnya kearah Emily, dia memeluk erat wanita itu. "Walau usiaku sudah 27 tahun, tapi menikah masih belum ada dalam kepalaku. Entah kenapa melihat rumah tanggamu dengan Aji membuatku takut untuk menikah. Kamu berbuat banyak hal untuk Aji dan keluarganya, ujung-ujungnya kamu dihinakan dan dilempar begitu saja."
Janet mengatur napasnya kembali, rasanya dadanya bagai diikat kuat oleh tali tambang, saat membayangkan bagaimana manjanya Aji sebagai suami, dan sabarnya Emily sebagai seorang Istri. Bahkan Emily rela menyembunyikan hasil pemeriksaan kesuburan yang asli, agar Aji tidak merasa tertekan oleh kenyataan.
"Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana reaksi Aji saat Aji tahu yang madul dia bukan kamu."
"Hus! Jangan bahas itu, ayo tidur."
Kedua sahabat itu perlahan memejamkan kedua mata mereka.
***
Di tempat lain ....
Malam ini David kembali ke rumah besarnya. Dengan wajah yang penuh kemarahan David langsung masuk ke kamar Betris, David membanting pintu kamar dengan sangat keras, membuat wanita yang tertidur di sana terbangun.
"David ...." Betris sangat heran dengan kedatangan David.
David langsung mencengkram kuat rahang Betris, kedua bola matanya menyala seakan memancarkan lahar panas. "Berani-beraninya kamu ingin membunuh Emily!"
__ADS_1
"Aku tidak melakukan apa-apa!" Betris membela diri.
"Aku sudah memiliki bukti lengkap, kalau penabrak dan supir taksi itu adalah orang sewaanmu! Kini keputusan ada di tanganmu, ajukan gugatan cerai kita dengan imbalan aku akan melindungimu dari kasus ini, atau kau akan membusuk dipenjara dengan tuduhan pembunuhan berencana!"