POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
69


__ADS_3

Malam semakin larut, Friska sudah tertidur di kamarnya. Bibi Geya juga sudah tidak terdengar lagi aktivitasnya. Tapi Zein masih mondar-mandir di ruang tamu, ada hal yang ingin dia berikan, namun dia ragu untuk menyerahkannya.


Saat yang sama, Emily keluar kamar, dia heran melihat Zein mondar-mandir. "Ada masalah Zein?" tanya Emily.


"Am ... aku ingin bicara denganmu."


"Tunggu, aku mau penuhi panggilan alamku." Emily meninggalkan Zein karena dia tidak kuat menahan keinginan buang air kecil.


Beberapa menit berlalu, Emily menghampiri Zein dengan wajah yang terlihat sangat lega. "Ingin bicara apa?"


"Tapi janji jangan marah ya ...." pinta Zein.


"Kenapa harus marah?"


"Ya aku hanya takut kamu marah."


"Cepat katakan," pinta Emily.


"Tunggu sebentar." Zein berlari menuju kamarnya, beberpa saat kemudian dia kembali menghampiri Emily dengan membawa bingkisan di tangannya.


"Aku membelikan dress untuk ibu hamil, kalau kau suka kau boleh kenakan ini untuk menghadiri pesta pernikahan ibu Friska." Zein memberikan bungkusan itu.


"Oke, nanti aku pakai. Terima kasih." Emily mengeluarkan isi bungkusan yang Zein berikan, seketika kedua alisnya tertaut melihat sebuah gaun bermerk. "Ini mahal loh Zein ...."


"Kata mahal itu untuk mereka yang tidak punya uang, aku kan punya." Zein berjalan dengan gaya angkuh menuju kamarnya.


Emily tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat Zein, dia juga segera ke kamarnya. sesampai di kamarnya, Emily mencoba gaun yang Zein belikan.


"Pilihan Zein bagus juga, sayang mengenakan ini aku harus meminta bantuan orang lain."


Gaun putih yang sangat indah, dan sangat pas di tubuhhya. Emily menyimpan kembali gaunnya, dan segera kembali ketempat tidurnya.


Keesokan harinya.


Setelah melewati pagi yang penuh kesabaran, karena kamar mandi yang cuma 1, akhirnya semua tugas selesai. Saat ini mereka berempat menikmati sarapan bersama.


"Papa, jadi ke resepsi mama?" tanya Friska.


"Jadi, nanti siangan saja. Itu mobil papa lagi dicucikan Joyo. Kamu mau nitip sesuatu di kota nanti?"


"Nggak ada pa."


Emily fokus pada makanan yang dia nikmati, obrolan Ayah dan Anak itu terasa sangat hangat untuk disimak.


"Em, kursi roda kamu mana? Sudah 2 bulan aku tidak melihatnya," tanya Zein.

__ADS_1


"Ada di kamar."


"Keluarkan, biar aku bersihkan. Kita bawa kursi rodamu ke resepsi untuk jaga-jaga."


"Kok papa nyuruh ibu hamil sih, papa dong yang ambil sendiri, kursi roda tante Emily tersimpan di sisi lemari, Nenek yang menyimpannya di sana," ucap Friska.


Zein menoleh kearah Emily. "Izin masuk kamarmu, untuk mengambil kursi roda."


Emily menganggukan kepalanya. Dia berusaha terlihat santai. Entah kenapa semakin ke sini tatapan mata Zein seperti matahari pagi yang memberi ke hangatan sampai ke hatinya. Perasaan Emily tidak karuan, padahal Zein hanya izin masuk ke kamarnya saja.


"Tante, kenapa wajah tante memerah?" tanya Friska.


"Tante kegerahan," sahut Emily. Melihat Zein sudah keluar kamarnya, Emily perlahan bangkit. "Tante mau ke kamar dulu ya. Mau deketan sama kipas angin."


"Tante, masih pagi loh," ucap Friska.


"Iya masih pagi, tapi ada matahari di rumah ini yang membuat Tante Emily kegerahan walau kita semua kedinginan," ucap bibi Geya.


"Mana ada matahari, adanya rembulan yang selalu bersinar, dan itu bibi." Emily mencium pipi bibi Geya. Dia segera menuju kamarnya.


Sesampai di kamarnya, Emily mencari tas yang berisi peralatan make up, satu per satu dia periksa tanggal kadaluarsanya. "Aman, masih bisa di pakai," gumamnya.


Emily mulai mengayunkan kuas-kuas ajaib yang lama tertidur dalam pouch. Wajah cantik itu semakin cantik dengan riasan natural yang dia poleskan. Selesai dengan make-up, Emily segera mengenakan gaun pembelian Zein.


Zein semakin terpukau melihat Emily yang sangat cantik dengan riasan. "Ehm!" Batuk palsu berusaha meleburkan perasaan aneh yang semakin menguat.


"Ada apa?" tanya Zein.


"Cari Friska atau bibi Geya."


"Mereka keluar, butuh bantuan apa?"


"Nanti saja kalau mereka sudah kembali."


"Aku bisa bantu, sini aku bantu."


"Am ... kurasa tidak perlu."


"Jangan sungkan untuk memerintahku, Em ...."


Emily bingung menerima bantuan Zein atau tidak, berulang kali dia mengatur napasnya, mempersiapkan diri mengatakan bantuan apa yang dia butuhkan. "Pasangkan pengait gaunku." Rasanya sangat aneh meminta hal itu pada Zein.


"Ha?" Antara percaya dan tidak setelah mendengar bantuan apa yang Emily butuhkan.


"Makanya lebih baik aku menunggu Friska atau bibi Geya saja."

__ADS_1


"Jika mereka lama kembali, tanganmu akan pegal menahan gaun itu. Tunggu aku cuci tangan dulu."


Beberapa menit berlalu, Emily mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat, entah kenapa mendengar suara langkah kaki itu dentuman jantungnya seakan ikut melambat.


"Sini aku bantu, setelah ini kita berangkat."


Emily menyingkap gorden yang menghalangi mereka, dia langsung memunggungi Zein. Zein merasa kesulitan menelan salivanya saat melihat punggung putih mulus itu.


"Mengerti cara mengaitkannya?"


Pertanyaan Emily membuat Zein tersadar. "Aku bingung," kilah Zein.


"Kaitkan pengait di atas, terus kacing resletingnya."


Tangan Zein gemetaran menyentuh gaun itu. Saat dia menyatukan pengait itu, permukaan kulitnya bersentuhan dengan kulit Emily. Kala itu rasanya getar kejut yang bertenaga ribuan megavolt langsung menjalar ke seluruh batang tubuhnya.


Di selimuti perasaan aneh yang sangat mendebarkan itu, Zein berusaha melakukan apa yang harus dia kerjakan, hingga gaun itu terpakai sempurna di tubuh Emily.


"Maafkan aku, aku tidak tahu kalau cara pakai gaun ini ribet seperti ini." Zein berusaha mengusir kecanggungan.


"Terima kasih." Emily kembali masuk ke kamarnya.


Di dalam kamar Emily duduk di depan meja rias dan memandangi pantulan dirinya pada cermin.


Ya Tuhan ... apa yang terjadi padaku?


Perasaan aneh yang sangat indah, namun Emily tidak ingin perasaan itu semakin kuat


Keadaan kota sudah aman, secepatnya aku akan kembali ke kota. Lebih baik menghadapi banyak gunjingan dan cacian, daripada menghadapi Zein yang membuatku kehilangan kendali atas hatiku.


"Em ... masih lama?"


Teriakan Zein membuat Emily tersadar dari lamunannya.


"Sebentar, maklum bumil gerak terbatas," kilah Emily.


Emily segera mengambil tasnya, dia berjalan keluar menemui Zein. "Aku sudah siap."


"Ayo berangkat," ajak Zein.


Melihat ada yang aneh dari penampilan Zein, Emily menahan pergerakan Zein dengan memegang lengan laki-laki itu.


"Sebentar ... ada yang kurang rapi." Emily merapikan dasi yang Zein kenakan. Hal itu membuat jarak diantara keduanya sangat tipis.


Perut buncit Emily menempel pada perut Zein. Hembusan napas Emily pun sangat terasa di permukaan kulit Zein.

__ADS_1


__ADS_2