
Perlahan keduanya melepaskan pelukan mereka. Emily mengusap air mata bibi Geya. Bibi Geya juga mengusap air mata Emily.
"El ku sudah tumbuh dewasa, dan saat ini hamil ...." Bibi Geya menciumi wajah Emily berulang kali.
"Bibi G ku yang selalu cantik ...." puji Emily.
Sejenak keduanya menghela napas, berusaha menenangkan perasaan.
"Bagaimana kamu bisa mengenal Zein?" tanya bibi Geya.
"Zein adalah Bodyguard yang disewa suamiku, maaf maksudku mantan suamiku untuk menjagaku."
"Apakah para pemburu dulu masih berusaha untuk membunuhmu?"
"Beberapa bulan lalu, Zein hanya menjagaku dari amukan para istri yang takut suami mereka ku curi. Tapi untuk penyerangan kemaren, sepertinya mereka memang sudah menemukanku, sampai Om Adam meminta Zein membawaku jauh dari kota."
"Ternyata aku tidak salah menaruh kepercayaan, Tuan Adam masih menjagamu hingga saat ini."
Bibi Geya menatap lurus kedepan, dia sangat lega mempercayai orang yang tepat. Pagi saat dia melarikan diri, Adam orang yang dia percaya, dia mengatakan posisi Emily kala itu. Setelahnya dia tidak tahu lagi bagaimana nasib Emily, dia bersembunyi dan mengganti identitasnya. Karena dia menjadi tersangka atas pembunuhan kedua orang tua Emily kala itu.
"Sebenarnya aku tinggal tidak tinggal sekota dengan Om Adam, om Adam memberiku sebuah keluarga baru, aku bisa Sekolah hingga menuntut ilmu di Universitas, lalu aku bekerja, panjang ceritanya, aku menemukan cintaku dan cinta pertamaku membuatku kembali ke kota itu." Emily menceritakan pernikahannya dengan Aji.
"Pernikahan itu hanya bertahan beberapa tahun bi. Istri om Adam selalu mengusik kebahagiaanku, dia menemukan fotoku di dalam brangkas om Adam, dia mengira aku selingkuhan om Adam, dia selalu berusaha mengobarkan kemarahan keluarga Aji, dan yang termakan adalah keponakan Aji."
Emily melanjutkan ceritanya, mula perceraiannya dengan Aji, hingga dendamnya pada Lesty dan Andita.
"Hidupmu sudah banyak ujian, untuk apa kamu mengotori hatimu dengan dendam?" Bibi Geya mengusap lembut sisi wajah Emily.
"Aku bodoh bi, egoku tinggi, dalam tujuanku hanya ada dendam, saat aku berhasil. Aku baru sadar aku tidak mendapatkan apa-apa saat dendamku terbalas."
"Itu sudah berlalu, ingat itu sebagai pengingat untuk perjalananmu di depan nanti."
__ADS_1
"Bibi G dan Zein, punya ikatan apa?"
"Am ...." Bibi Geya merasa kesulitan menjawab pertanyaan Emily.
"Nanti bibi cerita, tapi tidak sekarang ya ...."
Emily mengangguk, dan dia kembali memeluk bibi Geya.
Siang itu Emily beristirahat di kamarnya, sedang bibi Geya mengerjakan kegiatan rutinnya, dia tidak mengizinkan Emily membantunya, apalagi Emily punya masalah pada kesehatannya saat ini.
Kegiatan di rumah Zein berjalan seperti biasanya. Yang berbeda hanya bertambahnya anggota di rumah itu.
Waktu terus berjalan, tidak terasa desa itu diselimuti kegelapan, sang surya sudah tenggelam di ufuk barat. Emily, dan Friska sudah masuk ke kamar mereka, sedang Zein terlihat sibuk di samping rumahnya, mempersiapkan tempat untuk bibit-bibit yang akan dia tanam di kebun nanti.
Perhatian Zein pada tempat-tempat untuk menyemai bibit, buyar. Kala melihat bibi Geya duduk di dekatnya.
"Ada apa bi?" tanya Zein.
"Maksud bibi, dia adalah pewaris sah Salawa Grup yang dijalankan oleh Tuan Adam?"
Bibi Geya mengangguk pelan. Dia menceritakan perbincangannya dengan Emily pada Zein.
"Perjalanan hidup kalian hampir sama, bedanya Emily terpaksa bersembunyi, dan dia kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, sedang kamu disembunyikan Ayahmu demi kebebasanmu menentukan pendamping hidup, bersembunyi demi menghindari ikatan perjodohan yang dilakukan turun temurun."
Zein melamun, dia teringat kembali dengan perjuangannya selama ini untuk menyembunyikan identitasnya.
Zein Awladien, dia pewaris utama kekayaan keluarga Dien Furqan. Zein terpaksa bersembunyi, karena menghindari perjodohan yang menjadi tradisi keluarga itu.
Zein tenggelam dengan kenangan bersama Ayah dan ibunya sebelum meninggalkan kota kelahirannya.
"Zein, kalau kamu tidak ingin menyakiti hati Eyangmu, kamu pergilah dari rumah ini, hiduplah sebagai orang biasa di luar sana. Jika kamu sudah berkeluarga, pulanglah."
__ADS_1
Zein yang keras hati tidak mau dijodohkan, menyetujui usulan Ayahnya, dia rela meninggalkan rumahnya saat berumur 23 tahun. Perjalanan panjangnya di mulai, hingga dia sampai di desa ini, dan bekerja di pabrik Afrida, dan wanita itu terus mengejarnya hingga Zein luluh dan menikahi wanita itu.
Pernikahan Zein sangat bahagai, mendapatan istri yang rendah hati dan mencintainya apa adanya. Saat itu Friska berumur 3 bulan. Zein berpikir ini saat yang tepat memboyong keluarganya untuk pulang menemui keluarga besar Zein.
Zein menceritakan siapa dirinya pada bibi Geya yang selama ini menjadi orang tua angkatnya. Mereka berdua berniat memberi kejutan pada Afrida. Mereka berdua segera mengunjungi Afrida yang kala itu masih berada di rumah orang tuanya. Hingga Zein tidak sengaja menguping pengakuan Afrida pada kedua orang tuanya.
"Sampai kapan kamu menjadi tulang punggung untuk pria kampung itu!" maki Ayah Frida.
"Mama sangat jijik padamu, kami menyekolahkan kamu tinggi-tinggi agar kamu cerdas, tidak mudah dibodohi! Tapi kamu wanita terbodoh yang pernah mama lihat! Merekalan hartamu untuk membiayai laki-laki miskin itu! Dan memberikan dirimu untuknya!"
"Justru aku cerdas mama, aku curiga Zein bukan laki-laki sembarangan, menurut penyelidikanku, dia adalah anak keluara Dien Furqan yang melarikan diri."
Zein yang mendengar semua itu seketika merasa hancur.
"Halumu terlalu tinggi Frida!" maki Ayahnya.
"Aku sudah berusaha mencari tahu siapa Zein, bahkan sebelum aku mengajaknya untuk menikah!" bela Afrida.
Pertengkaran Afrida dan keluargany terus berlanjut, sedang Zein mengajak bibi Geya untuk pergi, dan meminta bibi Geya menyembunyikan siapa dirinya.
Saat Zein mengetahui niat terselubung Afrida menikah dengannya, Zein berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan mengambil apapun dari keluarganya, sekali pun dia butuh.
Sakit, pedih, kecewa. Tapi melepaskan ikatan pernikahan mereka juga sudah terlambat, Friska sudah hadir dalam kehidupan mereka, sejak saat itu Zein berusaha keras menutup rapat jati dirinya.
Namun ujian tetap datang, kala Friska berusia 2 tahun divonis memiliki kelainan jantung, dan harus melakukan transpalanstasi jantung.
Sebagai ibu, bukannya rela melakukan apa saja, Afrida terlihat mulai menyerah menanti Zein membuka jati dirinya. Keyakinan perlahan hadir di hati Afrida, kalau Zein hanyalah pemuda desa biasa.
Dia terhasut oleh bujukan kedua orang tuanya untuk meninggalkan Zein, karena ada laki-laki yang lebih mapan siap menikah dengannya. Afrida menjanjikan akan memberi Zein uang sebanyak apa yang Zein mau, terlebih Zein sangat butuh uang untuk biaya pengobatan Friska, dengan syarat, Zein menceraikannya dan pura-pura jatuh cinta pada wanita lain.
Tapi Zein tetap menolak, sehingga Afrida lelah menunggu, dia mengajukan perceraian, dan pasrah akan penilaian masyarakat.
__ADS_1