
Emily keluar dari dapur dengan membawa nampan yang berisi cangkir teh dan teko.
"Loh, kok kamu yang bikin minum, bibimu mana?"
"Bibi keluar aku mintain tolong buat beli kudapan."
"Kamu sihir apa bibimu sehingga dia mau?"
"Idih paman ... sama istri sendiri curigaan."
"Bukan curiga, watak bibimu kalau ada uang, pasti di sayang."
"Aku hanya kasih sedikit buat beli makanan, aku datang kan pas ada maunya, jadi ya aku nggak enak kalau hatus nyusahin paman dan bibi."
Obrolan Emily dan Gupal seketika terputus, saat beberapa tamu datang. Mereka adalah orang yang dipercaya warga desa di sana untuk menikahkan secara siri.
Sesaat suasana terasa sangat serius, Emily dan Garry diminta menuliskan nama mereka pada selebaran kertas, yang menjadi bukti kalau mereka berdua menikah.
"Kedua calon pengantin, siap. Saksi, siap. Mahar sudah siap?"
Garry memperlihatkan cincin berlian yang akan dia jadikan mahar untuk menikahi Emily.
__ADS_1
"Oke, semuanya sudah siap. Mau kita mulai sekarang?"
"Minta waktu 20 menit lagi ya Pak, soalnya bibi belum kembali."
Mereka semua menunggu kedatangan Ana, setelah Ana kembali, mereka segera memulai akad. Antara percaya atau tidak, Garry dengan lantang mengucap ijab pernikahannya dengan Emily. Detik ini juga Emily sah menjadi istrinya di mata agama.
Doa pun menjadi penutup acara sakral itu. Di rumah sederhana mereka berdua kini berada dalam ikatan suci. Setelah menikmati hidangan yang tersedia, beberapa orang yang sudah menyelesaikan tugas mereka, izin pamit dari rumah Gupal.
"Paman, bibi ... terima kasih telah mengizinkan kami menikah di sini, besok saya akan memberikan hadiah buat paman dan bibi," ucap Garry.
"Tidak usah mengirim hadiah, bibi lebih suka mentah," goda Emily.
"Oh mentah?" Garry menoleh pada Ana. "Boleh masukan nomor rekening bibi ke sini?" Garry memberikan handphonenya pada Ana.
Garry memastikan kalau itu sudah benar, merasa yakin, dia mentrasfer uang ke rekening Ana.
Tink!
Handphone Ana menerima notif, saat itu juga dia memeriksa pesan, dan sebuah laporan kalau dia menerima transferan 100 juta dari Garry.
"Apa ini?" Ana sangat tidak percaya.
__ADS_1
"Buat bibi beli motor baru, sisanya buat apa saja terserah bibi," sahut Garry.
"Terima kasih banyak Nak Garry," ucap Ana.
"Kami yang harusnya berterima kasih, kebahagiaan saya karena bisa memiliki Emily secara halal lebih besar dari itu."
"Bukan kami kurang ajar atau tidak bisa berterima kasih, tapi apa boleh kami pergi?" sela Emily.
"Tentu boleh sayang, nanti main lagi ke sini ya ...." Senyuman Ana begitu sumringah, seakan garis senyuman itu sampai ke telinganya.
Garry dan Emily segera kembali ke pabrik David, sesampai di sana, mobil pengintai itu masih setia menunggu mereka di depan pabrik.
***
Di kediaman Aji.
Pyar!
Foto pernikahan Lesty dan Garry yang terpajang di kamar Kakek dan Nenek Lesty seketika jatuh. Tuan Jaiman terhenyak memandangi kaca bingkai yang pecah berkeping-keping di lantai, namun dia tidak mau memperkeruh suasana. Dia langsung memerintah pelayan untuk membersihkan semuanya.
"Pak, apakah pernikahan Lesty dan Garry dalam bahaya?" tanya Maiwa.
__ADS_1
"Jika benar demikian, artinya kesabaran Garry sudah berada diluar batas kendalinya. Aku memilih Garry sebagai suami Lesty, karena dia sosok yang sabar dan tabah. Kamu tahu sendiri bagaimana buruknya watak cucu kita itu, Andita mendidiknya dengan cara yang salah, sehingga aku yakin tidak ada laki-laki yang tahan dengan kelakuan Lesty, keciali laki-laki seperti Garry."
"Aku memilih Garry, karena aku berpikir, kesabaran Garry akan meluluhkan kepala batunya Lesty."