
Emily dan lainnya cemas menunggu di ruangan mereka, sedang kepolisian tengah bekerja mencari tahu asal tumpahan minyak itu. Mereka tidak tahu apa-apa, hanya mengetahui tangga itu sudah menelan 2 korban, ibu hamil dan seorang wanita paruh baya. Sedang di sisi lain, Lesty dan ibunya yang tidak sadarkan diri tengah di bawa menuju Rumah Sakit.
Belahan lain ...
Mengetahui bagaimana besarnya cinta Emily padanya membuat Aji semakin terpuruk dalam kubangan penyesalan. Rasanya Aji ingin terjun bebas dari lantai teratas gedung hotel ini untuk mengakhiri hidupnya.
Namun bunuh diri, sama halnya dia membunuh kedua orang tuanya yang sudah sepuh. Selama ini dia hanyalah beban bagi keluarga. Pikiran sehat Aji kembali, dia tidak ingin menyakiti kedua orang tuanya dengan kematiannya.
Deringan handphone yang berulang membuat Aji terpaksa menerima panggilan itu. Terlihat salah satu temannya meneleponnya.
"Ada apa?"
"Ji, keponakanmu sama Kakakmu jatuh dari tangga, saat ini mereka dievakuasi menuju Rumah Sakit." Orang itu mengatakan Rumah Sakit kemana mereka membawa Lesty dan Andita.
Aji sangat panik, apalagi saat ini Lesty tengah hamil. Aji segera menuju mobilnya, dan melaju menuju Rumah Sakit. Sepanjang perjalanan Aji berusaha menghubungi Garry.
"Ada apa Ji?" sapa Garry.
"Kamu di mana?"
"Aku di rumah Kakek, mengunjungi kakek."
"Sekalian ajak Kakek ke Rumah Sakit, saat ini Lesty dan Kak Andita dibawa ke Rumah Sakit."
"Apa yang terjadi pada mereka?"
"Aku belum tahu, sekarang juga aku tunggu kalian di Rumah Sakit." Aji menyebutkan nama Rumah Sakit tempat Lesty dan Andita dirawat.
Niat Garry bersilaturahmi mengunjungi Kakek Jiman berubah, kini dia harus membawa dua orang tua itu menuju Rumah Sakit. Sesampai di Rumah Sakit Aji terlihat sangat cemas.
"Ada apa Ji?" tanya Kakek Jiman.
"Ayah, Lesty jatuh dan Kak Andita jatuh dari tangga."
Wajah Kakek Ajiman seketika pucat mendengar hal itu, mengingat saat ini cucunya tengah hamil.
"Bagaimana keadaan Lesty dan bayinya?" tanya Nenek Maiwa.
"Kemungkinan bayinya tidak tertolong, Lesty mengalami pendarahan hebat."
Wanita tua itu juga seketika lemas, Garry membawa Nenek Maiwa ketempat duduk, dan membantunya untuk duduk.
"Keluarga Nona Lesty," panggil salah satu perawat.
Aji dan Kakek Jiman langsung menghampiri perawat.
"Saya Kakeknya."
"Saya Pamannya."
"Pendarahan hebat yang Nona Lesty alami, membuat tim dokter harus melakukan tindakan medis yang memerlukan tanda tangan kalian." Perawat memberikan surat persetujuan pada Aji.
Membaca itu, Aji dan Ayahnya saling pandang.
"Apakah tidak bisa melakukan prusedur lain selain pengangkatan rahim?" tanya Aji.
__ADS_1
Perawat menggelengkan kepalanya. "Jalan ini kami tempuh untuk menyelamatkan ibunya, bayinya sudah meninggal "
"Bisa kami bicara pada dokter yang menangani keponakan saya?"
Aji dan Tuan Jiman diantar menemui dokter, di sana mereka mendengarkan penjelasan dokter kenapa mereka harus melakukan jalan itu. Demi keselamatan Lesty, Aji menandatangani surat persetujuan itu.
Selesai urusan Lesty, Aji juga menandatangani persetujuan lain untuk operasi Andita, yang mengalami cedera parah di bagian kepalanya.
Kini ibu dan anak itu sama-sama menjalani operasi di ruangan yang berbeda.
***
Di tempat lain, kepolisian sudah selesai melakukan penyelidikan, tempat kejadian pun dibersikan, kini para tamu VIP bisa meninggalkan Restoran itu.
Zein ikut kedua orang tuanya membawa putrinya, sedang bibi Geya kembali ke rumah Emily.
Siang itu, jagat maya tidak hanya memberitakan kembalinya pewaris Salawa Grup, tapi juga memberitakan kembalinya Tuan Muda Dien Furqan. Wajah Zein, Friska, dan kedua orang tua Zein menghiasi jagat maya.
Akkkkk!
Afrida menjerit di kamar hotelnya, rasanya dia sangat menyesal meninggalkan Zein, dugaannya kalau Zein adalah pewarisn Dien Furqan benar adanya.
Semua barang-barang yant ada di kamar hotel menjadi amukan kemarahannya. Dalam segala hal suaminya saat ini tidak sebanding dengan Zein.
2 hari berlalu.
Emily terus menjalani kehidupannya seperti biasanya. Yang berbeda, pengasuh lamanya kini bersamanya.
"Entah mengapa aku sangat merindukan Friska," ucap Emily.
"Tante Emily!"
Emily dan bibi Geya tersenyum, mereka mengira suara itu hayalan mereka saja.
"Tante Emily, teriakan ini yang selalu terngiang di telingaku bi."
"Iya bibi juga merasa demikian, bahkan barusan bibi mendengar panggilan itu."
"Kalian berdua sombong, aku panggil-panggil tidak menjawab!"
Emily dan bibi Geya menoleh kesamping, terlihat Friska datang bersama Ayahnya.
"Bi ... itu benar-benar dia, aku kira aku berhalusinasi," ucap Emily.
"Uw ... cucu bibi ...." Bibi Geya langsung memeluk Friska.
"Aku rindu kalian," rengek Friska.
"Kami juga sangat merindukan kamu cantik ...." Emily membuka kedua tangannya, meminta Friska masuk ke pelukannya.
"Aku rindu tante ...." Friska menutup mulutnya, merasa salah berkata.
"Ada apa sayang?" tanya Emily.
"Kata papa manggilnya jangan tante lagi, tapi mama. Boleh?"
__ADS_1
"Boleh ...." Emily dan Friska langsung berpelukan.
"Zein, nggak mau ikut meluk?" goda Janet.
"Belum boleh ...." sahut Zein.
Mereka semua tertawa.
***
Rumah Sakit.
Keadaan Lesty mulai membaik, 2 hari ini Garry dan Aji bergantian menjaga mereka. Wajah Garry terlihat datar, namun wajah Kakek Jiman seperti memendam kemarahan.
"Kakek ... kenapa Kakek memandangiku seperti itu? Biasanya kalau Kakek seperti itu aku melakukan kesalahan," ucap Lesty.
"Kau memang selalu melakukan kesalahan!" maki Kakek Jiman.
"Kek ... Aku berduka Kek, aku kehilangan bayiku ...."
"Kau kehilangan bayimu itu kesalahanmu sendiri!" maki Kakek Jiman.
"Kek ... sudah ...." Garry berharap Kakek Jiman menahan dirinya.
"Sudah 2 hari aku bersabar, saat ini aku tidak bisa bersabar lagi!"
"Kakek bicara apa sih ...." rengek Lesty.
"Kepolisian sudah mengantongi bukti, tumpahan minyak di tangga itu atas perbuatanmu, mereka mendapati CCTV kamu mencuri sebotol minyak dari dapur, dan sidik jari pada botol minyak adalah sidik jarimu! Kamu melakukan itu ingin menjebak Emiky bukan!?" maki Tuan Ajiman.
Lesty Syok menyadari kejahatannya terungkap. Dia tidak punya kata-kata untuk membela diri.
"Kamu selalu menghina Emily wanita mandul, kini kamu sendiri yang mandul!" maki kakek Jiman.
"Mengina orang karena kekayaan mereka, tidak membuat kamu tertular kaya, tapi menghina keburukan orang, tidak menutup kemungkinan keburukan itu berpindah padamu!"
Kakek Ajiman tidak sanggup lagi menahan kemarahannya, dia meninggalkan ruangan Lesty.
"Garry ... apa yang terjadi padaku?" tanya Lesty.
"Keguguran yang kamu alami, membuat tim dokter mengangkat rahim kamu."
Mendengar jawaban Garry, air mata Lesty mengalir deras meratapi keadaannya saat ini.
"Setelah kamu sembuh, kamu harus menjalani proses hukum, Restora itu menuntut perbuatanmu yang membahayakan nyawa orang lain."
Di ruangan Andita.
Di sana hanya ada Aji. Dia memandangi Kakaknya yang masih belum sadarkan diri. Dokter mengatakan, cedera otak yang dialami Andita, membuat Andita tergantung dengan jenis obat tertentu.
***
Bersambung.
***
__ADS_1
Maaf ya, kalau ada kecacatan logika dalam kasus keguguran Lesty yang berakhir dengan pengangkatan rahim. Ini hanya Fiksi, jadi suka-suka penulis ya untuk melengkapi cerita.