
Saat dia bercanda dengan David, Emily melihat sosok Zein mendekat kearahnya dengan membawa nampan yang berisi minuman. Melihat hal itu Emily tersenyum.
"Minumannya, Tuan, Nona ...."
Saat sosok itu berkata, suara yang berbeda membuat Emily tersadar itu bukan Zein.
"Kamu mau minum apa Em?" tawar David.
"Tidak terima kasih, acara begini aku malas minum, yang ada aku sering pipis," tolak Emily.
Kemana Emily memandang, di merasa di sana terus ada sosok Zein.
Ya Tuhan ... jika seperti ini terus aku bisa gila ....
Melihat Emily gelisah, Janet khawatir. "Em, kamu baik-baik saja?"
"Aku butuh udara segar, aku izin keluar ya ...."
"Aku temani ya ...." ucap Janet.
"Aku ingin sendiri dulu ...." Emily keluar dari Balroom, dia berjalan menuju ruang terbuka, area kolam renang menjadi tujuannya.
Langkah Emily terhenti saat melihat sosok Zein lagi. "Dia lagi dia lagi." Kali ini Emily mengabaikan sosok itu, dan duduk di sebuah bangku panjang.
Namun sosok itu bukan menghilang seperti sebelumnya, sosok itu malah berjalan mendekatinya.
"Aduh ... makin parah ini!" keluh Emily.
Sosok itu berdiri tepat di depannya. "Parah apanya?"
"Ampun, aku makin gila, kini bayangan Zein berbicara padaku," keluh Emily.
Sosok yang Emily kira halusinasinya adalah Zein yang asli. Zein tersenyum mendengar ucapan Emily, mengira dia adalah sebuah khayalan.
Berarti dia merindukanku? batin Zein.
"Kamu merindukanku?" tanya Zein.
"Aku bukan merindukanmu! Tapi aku sangat merindukanmu! Kamu tahu aku tidak bisa merasa baik-baik saja saat aku jauh darimu! Dalam kepalaku hanya ada kamu! Aku tidak tahu kenapa perasaan ini hadir!"
Emily berusaha berdiri, namun dia kesulitan. Saat itu Zein memberikan tangannya untuk membantu Emily bangkit. Emily meraih tangan itu, saat merasakan tangan itu benar-benar dia pegang, Emily terkejut, sosok yang ada di depannya bukan bayangan.
Zein membantu Emily berdiri, perlahan Emily menegakan wajahnya. "Ini nyata?"
"Ya aku datang, aku sangat merindukanmu, dan aku datang ke kota ini untuk mengatakan, aku mencintai kamu Emily, aku ingin kita selalu bersama."
"Kau tau, betapa bahagianya aku saat aku tahu kamu merasakan perasaan yang sama padaku? Padahal aku berjuang keras untuk memberanikan diri mengakui perasaan ini."
Emily tidak tahu harus berkata apalagi, dia langsung memeluk Zein. "Makanya, tahan aku. Aku berharap kamu tahan ...."
"Aku tidak bisa menahanmu, karena aku yang mengikutimu."
__ADS_1
Emily menangis dalam pelukan Zein.
"Bersediakah menjadikanku Ayah dari anak yang kamu kandung? Bersediakah kamu menjadi ibu sambung Friska?"
"Jangan melamarku sekarang, nanti setelah anak ini lahir," isak Emily.
"Selama itu? 2 bulan lagi ... Padahal aku ingin mendengar dessahan kamu yang kemaren itu."
"Nakal!"
"Aw!" Zein menjerit karena cubitan Emily pada pinggangnya.
"Tante sama papa pelukan?"
Ucapan itu membuat Zein dan Emily melepaskan pelukan mereka
"Friska?"
Namun bukan hanya Friska, tapi ada Janet dan juga bibi Geya. Membuat Zein dan Emily merasa malu.
"Friska, sepertinya Friska akan punya mama," goda Janet.
"Kalau yang jadi mama aku tante Emily aku mau."
"Dan tante Emily juga bilang, mau jadi mama Friska," ucap Zein.
"Beneran pa?" Friska tidak percaya.
"Zein Awladein?"
Panggilan itu membuat perhatian Zein tersita, dia melihat kedua orang tuanya berjalan bersama Pak Adam.
"Pak Rafif kenal Zein?" tanya Pak Adam.
"Dia adalah penerus keluarga Dien Furqan yang melarikan diri, karena menentang garis perjodohan."
"Papa mama ...." Pelukan Zein dan Emily terlepas.
Pak Adam merasa ada kecanggungan, dia mengajak semua orang untuk berbicara ketempat aman.
*
Lesty melihat Emily dan dua pengusaha Dien Furqan memasuki hotel, terlihat mereka berjalan menuju Restoran, mereka semua menaiki tangga menuju ruangan khusus Restoran di sana.
"Sialan! Makin banyak saja orang-orang penting disekeliling pelakor itu!"
Melihat Emily terus menaiki tangga, seketika pikiran sesatnya bermunculan.
Lesty mencari sesuatu yang berguna untuk rencananya, hingga dia menoleh kearah pintu di mana para koki keluar masuk dari pintu itu. Lesty segera menyusup ke ruangan itu.
Di dalam ruangan itu terasa panas, orang-orang di sana terlihat begitu sibuk. Lesty berusaha menyusup dan mencuri sebotol minyak dari sana. Usahanya berhasil, dia segera naik ke lantai atas, dan berdiri diatas tangga, memastikan keadaan aman.
__ADS_1
"Yes, kamera pengintai tidak ada, ini sangat aman untuk melancarkan rencanaku."
Lesti menumpahkan semua minyak dari anak tangga paling atas, bayangannya Emily akan meluncur bebas dari atas ke bawah Seringai jahat pun menghiasi wajahnya. Lesty bingung kemana dia membuang botol minyak itu.
Belum menemukan cara menyingkirkan botol itu, dia melihat ibunya menaiki tangga sambil berbicara di telepon.
"Mama!" Lesty mengisyarat agar ibunya turun.
Andita tidak mengerti dia terus naik dan bertanya apa mau Lesty.
Panik melihat ibunya terus naik, bahkan Andita sudah sampai di kelokan tangga pertama. Lesty tidak menyadari tetesan minyak dekat kakinya, hal itu membuat jebakan yang dia siapkan untuk Emily malah untuk dirinya sendiri.
"Lesty!" Andita panik melihat Lesty meluncur bebas dari atas tangga.
Teriakan Andita membuat semua tamu yang ada di sana menoleh padanya, mereka semua syok melihat seseorang berguling di tangga.
Andita berusaha menangkap Lesty, agar tidak jatuh kebawah lagi, namun dia tidak kuat dan ikut menggelinding jatuh ke bawah.
Dua orang yang jatuh dari tangga membuat keadaan menegang.
*
Di dalam ruangab VIP.
Pak Rafif menejelaskan hubungannya dengan Zein, dia memberikan bukti kalau Zein adalah anaknya.
"Maafkan bibi Non, selama ini bibi tahu siapa Zein, hanya saja belum punya kesempatan untuk bercerita siapa dia pada Non Emily," ucap bibi Geya.
"Skor sama, Emily juga menyembunyika siapa dirinya, sudah kuduga sepertinya kalian berjodoh saat bertemu di tempat gym dulu," sela Janet.
Rafif menoleh pada Zein. "Kakekmu sudah tiada, aturan perjodohan juga sudah tidak berlaku, kapan kamu kembali?"
"Sekarang aku siap," sahut Zein.
"Papa, mereka siapa?" tanya Friska.
"Friska tidak hanya akan dapat mama, tapi Friska juga akan dapat 2 kakek dan 1 nenek. Mereka Kakek Nenek Friska," sahut Zein.
Mendengar suara kegaduhan dari luar, mereka menghentikan pembicaraan mereka. Zein keluar lebih dulu memeriksa keadaan. Terlihat banyak orang berkerumun di depan tangga.
"Ada apa?" tanya Zein pada tamu lain.
"Ada 2 orang jatuh dari tangga."
Tiba-tiba beberapa petugas Restoran mendekat. "Kalian semua yang ada di sini, jangan ada yang turun, sepertinya ada yang sengaja menumpahkan minyak di tangga." Petugas itu menujuk kearah botol kosong yang ada di sisi tangga.
Emily ... apakah target mereka adalah Emily?
"Kami harus bagaimana?" tanya tamu yang lain.
"Sabar sebentar, kami menunggu kepolisian untuk olah TKP dulu, baru bisa membersihkan sisa minyak yang ada di tangga."
__ADS_1