
Mendengar laporan anak buahnya, kalau targetnya membeli tiket keluar Negri, Arsyila sangat kesal.
"Kalian ini diperintah membunuh 1 orang saja tidak becus, sebelumnya penembak itu meleset, sekarang target melarikan diri keluar Negri!"
"Menurut pelacakan kami, Emily menuju Paris."
"Sialll! Di Negara itu aku tidak mempunyai koneksi!"
"Apa kami harus mengejar sampai keluar Negri?"
"Tidak perlu, saat ini kalian bereskan kekacauan di minimarket itu, manipulasi seolah itu hanya peristiwa perampokan biasa."
"Baik Nyonya."
"Jangan lupa, lacak terus posisi Emily!"
"Siap Nyonya."
Arsyila menutup sambungan teleponnya.
"Sebegitu sulitkah menghabisi keturunan Sutagra?"
"Maaf kak, aku terlambat menyadari kalau Emily keponakan Adam. Mereka terlalu pandai menyembunyikan ikatan."
"Kamu menikahi Adam karena ingin tahu anak Suta yang selamat, dan Adam menikahimu ku yakin marena dia ingin mengungkap sejauh mana keterlibatan kekuarga kita dalam pembantaian saudaranya."
"Ku rasa juga begitu. Bodohnya aku, aku baru sadar kalau Adam sudah tahu siapa aku." Arsyila terlihat sangat kesal, karena baru menyadari Adam sudah tahu kalau dirinya hanya anak angkat di sebuah keluarga yang menempel pada namanya.
***
Kontrakan Garry.
Hari yang dilewati terasa sangat sepi, Athaya dan Nala memandangi Garry dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Garry serius akan rujuk dengan Lesty?" tanya Athaya.
"Tidak bu, sudah cukup hinaan yang dia berikan padaku."
"Terus kenapa Kak Garry memberikan kabar kalau kalian akan rujuk? Bagaimana perasaan Kak Emy mendengar hal itu?" protes Nala.
"Itu tujuanku, mengemukakan kabar kalau aku dan Lesty rujuk kembali untuk menikam perasaannya."
__ADS_1
"Misalkan Kak Emy menyaksikan berita itu dan dia sangat sakit, tujuan kak Garry berhasil, terus apa yang Kakak dapat?"
Garry bungkam, tidak mampu menjawab pertanyaan Nala.
"Pikir dengan otak Kak, Kak Emy sudah hampir 30 tahun, kak Garry lewat kepala 3, apa harus syarat sebuah hubungan atas dasar cinta seperti muda-mudi?"
Nala menggelengkan kepalanya. "Enggak kak, apalagi kalian pernah membina hubungan yang lain sebelum bersama."
"Komitmen orang dewasa memikirkan bagaimana mereka menjalankan rumah tangga mereka nanti, apakah pasangan bisa menerima kekurangan dan searah itu, bukan cinta-cintaan lagi kak, karena tanggung jawab sangat dibutuhkan saat kita sudah melangkah kedepan."
"Oke, kak Emy tidak tulus akan cintanya, tapi semua kebahagiaan yang dia beri? Semua ini nyata kak."
"Cinta tulus yang kak Emy beri, bukan dengan ucapan kak, tapi sebuah pengabdian dan kasih sayang, aku yakin suatu saat cinta akan datang mengiringinya."
"Aku sangat bahagia hidup bersama Kak Emy bukan karena materi yang dia berikan, tapi kasih sayang yang sangat tulus. Dia memandang Bapak dan ibu seperti orang tuanya sendiri, sedang Lesty?"
"Lesty hanya bisa mencintai dirinya sendiri. Kakak lebih suka perempuan yang jujur seperti Lesty? Lesty tidak pernah bilang dia mencintai Kakak, karena dia hanya bisa mencintai dirinya sendiri. Kak Emy, dia bilang mencintai kakak walau bohong, tapi segala kasih sayang yang dia beri bukan kebohongan kak ...."
"Sudahlah, percuma juga bicara sama Kakak, ku rasa otak Kakak sudah tidak bisa bekerja lagi karena terlalu lama menahan tekanan." Nala segera pergi ke kamarnya.
"Kalau kamu benar-benar kembali pada Lesty, ibu benar-benar kecewa. Tanggung jawabmu sebagai seorang Ayah, tidak harus kembali pada ikatan pernikahan."
"Tapi ... jika kamu belum merasa cukup atas penghinaan dan rasa sakit, silakan kembali pada Lesty."
Athaya juga segera pergi ke kamarnya.
Ayah Garry mendekati Garry dan menepuk punggung laki-laki itu. "Temui Emily, dan bicara baik-baik dengannya. Apapun tujuannya mendekati kamu, ikatan suci sebuah pernikahan sudah mengikat diri kalian berdua."
Garry memikirkan ucapan Ayahnya, dia segera berjalan keluar rumah sambil mengorder ojek online.
*
Sepanjang perjalanan Garry melamun, saat ini otaknya sangat kosong. Satu sisi dia sangat mencintai Emily, wanita yang membuka matanya hingga dia bisa melihat dan merasakan kebahagiaan lain yang tidak pernah dia rasakan.
"Sudah sampai Pak," ucap tukang ojek online.
Garry segera turun dan membayar jasa ojeknya. Garry memandangi keadaan rumah Emily yang seakan menjadi surga baginya sebelum rasa sakit itu menikam hatinya.
Perlahan Garry menekan bel rumah itu, beberapa menit kemudia terdengar suara kunci terbuka. Saat pintu perlahan terbuka, terlihat sosok pelayan setia Emily.
"Nona ada?" tanya Garry.
__ADS_1
"Sepertinya Nona tidak akan kembali, dia membayar gajih saya satu tahun penuh."
Garry menghela napasnya begitu dalam. "Saya masih bisa masuk? Ada beberapa barang yang belum sempat saya bawa."
"Silakan."
Garry memasuki rumah itu, kekacauan yang dia tinggalkan sebelum meninggalkan rumah itu sudah tidak terlihat lagi.
"Bi, barang-barang yang ada di kamar Nala dan kedua orang tua saya, mau bibi apakan terserah, karena kami tidak akan kembali," ucap Garry.
"Salah apa Nona pada Anda Tuan? Saya lumayan dekat dengan Nona, selama kalian di sini, semuanya Nona beri pada kalian, apa lagi yang kurang dari pengabdian Nona?"
Garry tidak mampu menjawab, rasanya tenggorokannya tercekat. Garry memilih berlalu menuju kamar Emily.
"Di kunci bi?" tanya Garry.
"Iya, saya juga tidak bisa masuk, saya tidak memegang kunci kamar itu."
Garry berjalan menuju sebuah pajangan, di mana Emily terbiasa menyimpan kunci kamarnya. "Kuncinya di sini bi."
"Oh, makasih Tuan, nanti setelah Tuan selesai berkemas, saya akan lanjut bersih-bersih di sana."
Garry segera membuka pintu kamar Emily, saat pintu kamar terbuka, Garry segera menyalakan lampu, kala lampu menerangi ruangan itu, dia terkejut melihat banyak balon-balon yang kempes diatas kasur. Garry memungut salah satu yang terikat dengan balon.
Dugggg!
Rasanya jantung Garry bekerja begitu lambat saat melihat sebuah kertas yang bertuliskan 'Sudah siap menjadi Ayah?'
Garry memungut kertas yang lain, dia menemukan sebuah foto abu-abu dengan nama Emily diatasnya.
Perhatian Garry tertuju pada satu amplop yang berada diatas tumpukan bunga kering, dia memungut amplop itu. Seketika air matanya merembes setelah membaca isi amplop yang merupakan laporan kehamilan Emily.
Apa yang telah aku lakukan? Emily hamil? Bukankah dia wanita mandul?
Tubuh Garry bergetar hebat menerima kenyataan yang baru dia ketahui. Perhatian Garry tertuju pada sebuah laptop yang ada di dekat amplop itu. Di layar laptop itu bertuliskan petunjuk, di mana Garry bisa menemukan kejutan itu.
Kejutan apalagi ini?
Rasanya Garry belum siap menerima kejutan yang terlambat dia ketahui. Tangan Garry gemetaran meraih laptop itu dan perlahan dia menyalakan laptop itu.
Dug! Dug! Dug!
__ADS_1
Rasanya waktu berjalan semakin lambat menanti laptop itu menyala.