
Emily sangat bahagia melihat sosok Zein ada di layar handphonenya. Kebahagiaan yang dia rasa seakan membekukan waktu. Kelopak bunga seakan menghujani dirinya, khayalannya dia berjalan kearah Zein di suatu taman yang indah, yang hanya ada dirinya dan Zein.
Emily hanya fokus pada Zein, dia melupakan keberadaan Janet, Friska, dan bibi Geya. Perubahan Emily saat melihat Zein bisa dirasakan oleh Janet.
"Hai kamu Friska ya? Aku Janet sahabatnya tante Emily ...." sapa Janet.
"Kok tante tau aku Friska?"
"Ya taulah cantik, Emily selalu menceritakan dan menyebut kamu, katanya kamu anak yang cantik dan pintar." Janet langsung memeluk Emily. Hal itu membuat Emily tersadar dari khayalan indahnya bersama Zein.
"Tante Emily ternyata seperti aku, selalu merindukannya."
Emily berusaha tersenyum. "Iya, tante selalu merindukan kamu dan bibi Geya."
"Tidak rindu papa?"
Di sana kedua bola mata Zein membulat sempurna mendengar pertanyaan Friska. Sedang Emily tidak tahu harus menjawab apa.
"Tuh ditanya Friska, nggak rindu sama papanya?" goda Janet.
"Hai Zein ...." Emily sengaja menyapa Zein dan melambaikan tangannya kearah kamera. Berusaha mngalihkan pembicaraan sebelumnya.
Melihat Emily seperti itu, Janet yakin Emily benar-benar menyimpan rasa untuk sosok laki-laki yang ada di layar handphone itu.
"Papa, ini di sapa tante Emily ...." ucap Friska.
"Kalau kangen sama Emily, ayo duduk sama kami Zein, kita ngobrol bareng sama Emily ...." ucap bibi Geya.
"Am ... aku hanya kepo tadi, aku kira Emily sama Garry," jawab Zein.
"Kalau Emily sama Garry kenapa? Kamu cemburu ya? Tie tieee," goda Janet.
Mengira Zein cemburu, entah kenapa hal itu membuat Emily bahagia.
"Bukan begitu, aku belum mengucapkan terima kasih pada Garry, yang membantuku memperjuangkan kesehatan Friska adalah Emily dan Garry, aku sudah berterima kasih pada Emily, tapi belum berterima kasih pada Garry."
Bug!
Rasanya ada sesuatu yang terhempas begitu keras mendengar jawaban Zein.
"Ha! Ha! Ha!" Emily tertawa kaku. Wajahnya selalu tersenyum, tapi hatinya sangat nyeri mendengar hal itu.
"Aku permisi dulu ya, mau rehat dulu, seharian aku berpetualang di kebunku."
"Selamat istirahat Zein," ucap Emily.
Kursi pijat super rasanya kalah dengan penyemangat dari Emily. Saraf-saraf yang kaku seakan rilex kembali mendengar hal itu. Zein mengangguk dan berjalan menuju kamarnya.
Di kamarnya Zein tersenyum, dia sangat bahagia bisa melihat Emily walau dari layar handphone. Dia segera menuju tempat tidur dan memejamkan kedua matanya. Sedang di bagian luar, Friska dan bibi Geya terus berbicara dengan Emily.
__ADS_1
**
Seminggu kemudian, Emily pindah ke rumah orang tuanya, di sana dia ditemani pelayan-pelayan kepercayaan Pak Adam. Janet sendiri sering mengunjungi Emily setelah dia selesai bekerja.
"Em, tadi pagi jadi cek up?" tanya Janet.
"Jadi, ditemani bibi Mano."
"Bagaimana keadaan keponakanku?" Janet mengusap lembut perut Emily.
"Semuanya baik, hanya saja dia sangat pemalu. Sampai sekarang dia tidak mau memperlihatkan ***********."
"Hal yang buat malu itu di tutup, bukan di pamerin!" oceh Janet.
**
Di tempat lain ....
Suara kodok dan jangkrik menjadi musik rutin yang menemani malam-malam Garry. Di bawah penerangan cahaya lampu, Garry membaca undangan dari sebuah Perusahaan yang memintanya bekerja di sana.
"Pak, Bu ... apa aku harus kembali ke kota?"
"Kalau ada kesempatan, balik saja. Bapak sama ibumu menyekolahkanmu tinggi-tinggi berharap kamu tidak perlu payah seperti kami, bekerja di bawah terik matahari dan bermandikan keringat juga lumpur."
"Kami berharap kamu jadi orang sukses, Garry."
"Kalau begitu, aku akan ke kota besok, untuk memenuhi panggilan pekerjaan."
"Bapak Ibu nggak ikut?"
"Kami tinggal sampai panen selesai, jika sudah kami akan menyusul, setidaknya di kota ada orang tua yang menjadi pengingat kalian untuk pulang ke rumah, walau hanya rumah kontrakan."
Garry segera menyiapkan keperluannya untuk kembali ke kota.
**
Di kota.
Banyak berkas yang harus Emily tandatangani, bukan hanya Perusahaan Salawa Grup, ternyata banyak saham yang ditanam kedua orang tuanya dulu untuknya.
Pagi ini, Emily mengunjungi sebuah perusahaan AKA Grup. Setiap keluar dari mobil mewah, Emily selalu menggunakan masker, dia tidak mau orang-orang mengenalinya. Emily berjalan memasuki kantor itu. Walau memiliki perut besar, hal itu malah semakin menambah kecantikannya.
"Tuan Putri Salawa Grup guys ...." bisik salah satu karyawati kala Emily melintas di depan mereka.
"Wah, hamil aja dia terlihat cantik, apalagi saat nggak hamil ...."
Setiap orang yang dilewati menatap penuh kagum pada Emily. Emily masa bodoh dengan bisik-bisik itu dia fokus pada tujuannya. Dia melihat orang di depannya masuk lift, dan akan menutup lift itu.
"Tahan pintunya," pinta Emily.
__ADS_1
Keamanan yang berjaga di depan pintu lift langsung menahan pintu, saat pintu lift kembali terbuka, langkah Emily langsung terhenti melihat sosok yang ada di dalam lift. Laki-laki itu juga mematung, walau wanita cantik itu menggunakan masker, dia tahu itu adalah Emily.
"Nona, jadi masuk?" Pertanyaan Satpam membuat Emily sadar.
Emily mengangguk dan tetap masuk kedalam lift. Saat pintu lift tertutup Emily membuka maskernya.
"Apa kabar?" tanya Emily.
"Ba-ba-baik." Garry menoleh pada Emily, kedua matanya berkaca-kaca melihat kearah Emily. "Bagaimana kabarmu dan anak kita?"
"Aku baik, dan dia sehat."
"Boleh aku menyentuhnya?" Garry memandangi perut bulat Emily.
"Nanti saat dia lahir, saat ini tolong jaga jarak, kita bukan suami istri lagi."
Sakit, hancur, melihat hal yang dia cintai tidak dapat dia sentuh. "Saat dia lahir aku boleh menemuinya?" tanya Garry.
"Kamu Ayahnya, apa hakku melarangmu? Yang berakhir hanya hubungan kita berdua, bukan hubungan darah. Kita memang gagal menjadi pasangan suami istri, tapi kita bisa memperbaiki hubungan yang lain, hubungan orang tua dan anak, semoga kita tidak gagal menjadi orang tua, walau kita tidak tinggal diatap yang sama."
Izin dari Emily untuk menemui anaknya sudah lebih dari cukup. Garry berusaha menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.
"Kenapa kamu tidak jadi rujuk sama Lesty? Ku dengar kamu malah pulang kampung."
"Saat seorang malaikat mengangkatku dari kubangan penderitaan, rasanya aku sangat bodoh jika terjun lagi ke lubang yang sama, aku sudah tau bagaimana penderitaan di sana, masa aku masuk lagi?"
"Lalu, untuk apa memberitahu publik kalau kalian akan bersama?"
"Untuk membalas dendam padamu." Garry menunduk, tidak sanggup lagi memandang pada Emily jika teringat kebodohannya.
"Selamat, dan kamu waktu itu berhasil."
"Aku tidak punya semangat saat aku tahu membuang permataku, saat aku mengetahui kamu hamil, aku semakin putus asa, Bapak dan ibu mengajakku pulang, aku setuju. Karena untuk mencarimu juga mustahil, walau aku menemukanmu kamu tidak akan mungkin menerimaku kembali."
Emily tersenyum dan menepuk pundak Garry. "Terima kasih karena memahamiku, ya itulah aku. Sekali aku dibuang, sekeras apapun usahamu untuk mendapatkanku, aku tidak akan kembali."
Saat yang sama pintu lift terbuka, Emily keluar dari lift lebih dulu.
"Emily ...."
Panggilan Garry membuat langkah Emily terhenti.
"Apakah kamu yang memberiku pekerjaan ini?"
"Bukan Emily, tapi aku. Aku berharap Ayah dari cucuku punya kehidupan yang baik. Selain itu, aku ingin mewujudkan mimpi seorang ibu. Bukankah ibumu berharap kamu memiliki kehidupan yang mapan?"
"Pak Adam?" Garry terkejut dengan kemunculan Pak Adam.
"Hai Om." Emily langsung menggandeng Pak Adam. "Perkenalkan, dia adalah om aku, sedang yang menikahkan kita kemaren adalah adik om Adam."
__ADS_1
"Bekerja dengan benar Garry, bahagiakan keluargamu." Pak Adam dan Emily berjalan bersama meninggalkan Garry.