POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
59


__ADS_3

Di belahan Wilayah lain.


Emily sudah turun dari pesawat, seperti pesan Zein, dia menunggu laki-laki itu di sebuah hotel, karena perjalanan Zein jalur darat memakan waktu lebih lama dari perjalanan Emily.


Emily berusaha mengisi kekosongan waktunya dengan jalan-jalan di area itu, juga menikmati hidangan-hidangan yang dijual di sana.


"Awwhhh!" Emily merasakan nyeri yang begitu hebat pada bagian perutnya.


"Tolong, ada yang bisa antar saya ke Rumah Sakit?" Emily berusaha meminta pertolongan pada orang yang lewat di depannya.


Beruntung mereka semua peka, mereka segera membawa Emily ke Rumah Sakit terdekat. Emily segera mendapatkan pelayanan medis.


"Kehamilan keberapa bu?" tanya Dokter.


"Kehamilan pertama dok."


"Kondisi ibu sangat rentan, tidak bisa kelelahan, jika kelelahan atau mendapat tekanan, akan berdampak pada janin ibu."


"Apakah anak saya baik-baik aja dok?" Emily terlihat cemas.


"Saat ini baik, hanya saja untuk beberapa waktu, Anda sebaiknya menggunakan kursi roda dulu." Dokter mulai menjelaskan alasan medis kenapa Emily harus menggunakan kursi roda untuk beraktivitas.


"Ada keluarga yang menemani di sini?" tanya dokter.


"Mereka masih diperjalanan, karena saya hamil, saya diminta naik pesawat, dan keluarga lain menempuh perjalanan darat, jadi butuh waktu."


"Kalau begitu, sebaiknya Anda dirawat inap dulu, minimal besok boleh pulang.


Emily menyetujui saran dokter, dia dibawa menuju kamar perawatan.

__ADS_1


***


Setelah sampai di kota tujuannya, Zein segera memeriksa handphonenya, di sana ada pesan terbaru dari nomor Emily yang baru.


*Zein, tidak usah jemput aku ke hotel, saat ini aku di Rumah Sakit.


Zein memperkirakan perjalannya masih 3 jam lagi untuk sampai rumah. Dia menoleh pada bibu Geya dan putrinya.


"Ada masalah?" tebak bibi Geya.


"Seseorang yang membantuku untuk biaya operasi Friska saat ini sakit, dia sendirian, baiknya bagaimana? Apa kalian menginap dulu di hotel, atau aku antar sampai rumah?" tanya Zein.


"Menginap di hotel jika itu tidak memberatkan tidak masalah, pa." sahut Friska.


"Baiklah, kita langsung menuju hotel, setelah ini papa tinggal kamu sama bibi Geya, ya."


Friska mengangguk menyetujui usulan Ayahnya.


**


Tok! Tok! Tok!


Perlahan Zein membuka pintu kamar perawatan itu. Terlihat sosok Emily berbaring sambil memainkan handphonenya.


"Bagaimana keadaan Nona?"


"Aku dan bayiku masih baik-baik saja, hanya saja untuk beberapa waktu aku harus menggunakan kursi roda."


"Jika itu demi kebaikan kalian, tidak masalah. Nanti aku akan belikan kursi roda untuk Anda."

__ADS_1


"Perjalanan kalian bagaimana?" tanya Emily.


"Lancar, saat ini putriku menginap di hotel, katanya lelah."


"Kalau kamu di sini, lalu siapa yang menjaga putrimu?" tanya Emily.


"Aku ke kota bertiga dengan bibi Geya, selama ini dia yang membantuku merawat Friska putriku."


"Bukan berniat lancang, tapi di mana istrimu?"


"Aku dan istriku sudah bercerai sejak Friska masih berusia 9 bulan."


"Selama bersamamu, aku merasa kamu laki-laki baik, entah apalagi yang dicari wanita, laki-laki baik seperti kamu saja dia tinggalkan."


"Kemewahan dan derajat sosial, aku tidak bisa memberi itu, aku hanya seorang petani biasa, mana bisa memberi kehidupan mewah untuk istriku."


"Aku tidak bisa komentar lagi jika yang dipandang sudah tentang harta."


"Jangan bahas dia, lagi pula aku sudah melupakan mantan istriku, dan ku dengar dia akan menikah dengan laki-laki yang seprofesi dengannya."


"Semoga dia mendapatkan seperti apa yang dia inginkan."


"Aamiin."


"Kamu sudah makan Zein?"


"Sudah, Nona?"


"Aku juga sudah, kalau sudah makan dan tidak ada kegiatan lagi, lebih baik istirahat, agar tubuh, otak, dan hati kita siap menghadapi hari esok."

__ADS_1


***


Ini 500 kata, lanjutan dari yang sebelumnya tadinya, maaf dikit.


__ADS_2