
Pagi menyapa. Emily buru-buru menuju kamar mandi, dia segera bersiap mengganti penahan anti bocornya. Namun saat Emily ingin melepasnya, dia terkejut melihat benda itu masih bersuh. Emily mengabaikan hal itu, dia segera mengguyur tubuhnya dengan air. Setelah membersihkan badannya, Emily segera menuju dapur, mempersiapkan sarapan untuknya sekeluarga.
"Kak Emy, masaknya pagi banget, aku jadi nggak sempat bantuin ...." rengek Nala.
"Nggak apa-apa, kamu bantu siapin saja," ucap Emily.
"Ibu bantu apa nih?" Athaya juga datang ke dapur.
"Ibu bantu lanjutin ini ya, aku mau siapin kopi buat Garry sama Bapak."
Suasana pagi yang selalu hangat, kerjasama setiap anggota keluarga untuk menyiapkan sarapan. Makanan di meja siap, minuman hangat juga siap. Tidak berselang lama Garry dan Ayahnya muncul, mereka segera sarapan bersama.
Kegiatan akan berlanjut dengan kesibukan masing-masing. Ayah Garry dengan kebunnya, ibu Garry membantu Emily membersihkan rumah, sedang Garry ke kantor, dan Nala ke kampus.
Hari semakin siang, Emily segera bersiap untuk pergi.
"Mau kemana Em?" tanya Athaya.
"Mau keluar sebentar bu."
"Hati-hati ya ...."
"Iya bu, Emy pergi dulu ya."
Setelah meninggalkan rumah, Emily melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit, dia masih khawatir dengan keadaannya, yang haidnya berhenti begitu saja.
Setelah mengantri lama, kini tiba saatnya giliran Emily. Emily menceritakan keadaannya pada dokter, setelah mendengar semua keluhan Emily, dokter melakukan pemeriksaan pada Emily.
"Untuk memastikan keadaan bu Emy, kita lakukan USG bu."
Beberapa menit kemudian, Emily melakukan pemeriksaan itu, terlihat senyuman di wajah dokter. "Yang ibu lihat kemaren hanya bercak, bukan haid, selamat bu. di rahim ibu saat ini ada yang sedang bertumbuh."
"Maksudnya?" tanya Emily.
"Selamat, ibu hamil."
__ADS_1
"Jangan bercanda dok, saya sangat menginginkan itu, tapi belum terwujud."
"Saat ini kesabaran ibu berbuah manis." Dokter menceritakan keadaan rahim Emily yang kini memiliki kehidupan di dalam sana.
Emily sangat bahagia, rasanya ini mimpi, Tuhan menghadirkan karunia di dalam sana, saat dia benar-benar menanamkan perasaan pada Garry, bukan sebatas target untuk dendamnya.
Emily hanya mengiyakan segala nasihat dokter, rasanya dia ingin buru-buru pulang untuk mempersiapkan kejutan pada Garry, dan mulai jujur untuk semuanya.
Selesai dengan pemeriksaan, Emily segera meninggalkan Rumah Sakit, dia terus mengelilingi kota, mempersiapkan kejutan untuk Garry.
Melihat penjual balon di pinggir jalan, Emily seketika mendapatkan ide. Dia menepikan mobilnya dan membeli beberapa balon. Merasa keperluannya lengkap, Emily segera pulang.
Sesampai rumah, keadaan sangat sepi, seperti biasa Athaya membantu suaminya mengurus kebun yang ada di samping rumah Emily. Emily membawa cepat balon yang dia beli ke kamarnya, dan segera menatanya.
Emily melakukan semua pekerjaannya dengan rasa bahagia, rasanya ingin berteriak pada orang-orang rumah, namun dia ingin orang pertama yang tahu kabar ini selain dia dan dokter, adalah Garry.
Deringan handphone membuat Emily harus menyudahi kegiatannya. Dia langsung menerima panggilan itu.
"30 menit lagi aku istirahat, kamu ke kantor Pak Adam, apa ketemuan di rumah Tuan Jiman?" tanya Garry.
"Oke sayang."
Panggilan telepon berakhir, Emily segera bersiap kembali, dan segera menunggu taksi di luar. Beberapa menit menunggu, taksi onlinenya datang. Taksi itu mengantarkan Emily ke kediaman Tuan Ajiman.
Saat taksi yang Emily tumpangi tiba, saat yang sama mobil Garry juga memasuki kediaman Tuan Ajiman. Garry sangat bahagia melihat sosok Emily, dia memberikan tangannya untuk Emily gandeng.
Keduanya berjalan bersama memasuki kediaman ruma Tuan Ajiman.
"Kenapa kamu datang bersama pelakor ini!" ucap Andita sinis. "Kamu ingin membunuh darah dagingmu sendiri dengan membuat ibunya tertekan?" maki Andita.
"Kalau Emily tidak boleh bersamaku, aku juga pergi," ucap Garry.
Andita mengalah. "Masuklah, Lesty dari tadi malam tidak mau makan, katanya ingin bertemu kamu."
Garry tersenyum, dia tetap menggandeng tangan Emily memasuki rumah Besar itu.
__ADS_1
"Terima kasih mau datang, Garry." sapa Tuan Ajiman.
"Langsung keatas saja, Lesty ada di kamarnya."
Emily dan Garry menaiki tangga dan langsung menuju kamar Lesty. Saat pintu kamar terbuka, terlihat Lesty dengan wajah lemasnya terbaring diatas tempat tidur.
"Kenapa dia ikut? Bagaimana kalau dia ingin membunuh anakku, karena iri?" ringis Lesty kala melihat Emily.
"Emily tidak sebodoh itu, Lesty. Sekarang aku sudah datang. Kamu mau apa?" tanya Garry.
"Aku ingin bubur, tapi kamu yang siapin ...." ringis Lesty.
Garry menoleh pada Emily. "Boleh sayang?"
"Boleh, dia minta suapin juga boleh, karena itu keinginan anak kamu sayang, kamu juga melakukan semuanya demi kebahagiaan anakmu." Emily menyemangati Garry.
"Ya sudah, aku ke bawah dulu."
Di kamar Lesty kini tinggal Andita, Emily, dan Lesty.
"Kamu benar-benar pelakor handal, sampai Garry rela keluar dari mercy dan naik avanza hanya demi kamu!" oceh Lesty.
"Terima kasih pujiannya," sahut Emily.
"Dendam kamu pada kami sudah terbalas, Emily. Sekarang bisa kembalikan Garry pada kami?" ucap Andita.
"Andai aku tidak hamil, aku merelakan Garry untukmu, toh niatmu juga tidak bagus. Niatmu mendekati Garry hanya menjadikan dia untuk membalas semua dendamu padaku dan mamaku yang melemparmu dari rumah ini, sekarang, tolong kembalikan Ayah dari anakku yang kamu rampas dari sisiku." pinta Lesty.
"Target untuk balas dendam?"
Emily memutar tubuhnya, di sana terlihat Garry dengan raut wajah kehancurannya.
"Kamu pikir apa? Pelakor ini mendekati kamu hanya untuk membalas dendam pada kami!" ucap Lesty.
Rasanya oksigen yang ada di kamar Lesty tidak cukup untuk kebutuhan paru-paru Garry, saat ini dada Garry terasa begitu sesak.
__ADS_1
Garry menatap Emily dengan tatapan yang begitu tajam. "Bersumpah demi apapun, kalau yang Lesty katakan barusan tidak benar!" pinta Garry pada Emily.