POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
74


__ADS_3

Mendengar ucapan Zein, membuat Emily merasakan sakit.


Dengar sendiri Emily, dia memperhatikanmu, melindungimu hanya semata tugas dan balas budi.


Emily berusaha mengembalikan kesadarannya. Dia berjalan mendekati bibi Geya. "Bi ... Kalau Friska nanti libur, minta Zein atar kalian menemuiku, datang saja kapan pun kalian mau."


Bibi Geya memeluk Emily. "Kenapa pergi secepat ini ...."


"Semua sudah aman bi, saatnya aku kembali."


Emily menyudahi pelukannya pada bibi Geya, dia berjalan mendekati Friska. "Jadi anak yang pinter ya, nurut sama papa, papa kamu berjuang keras demi kesehatan dan kebahagiaan kamu."


"Iya tante. Di sana tante jaga diri tante baik-baik, jangan lupa sering-sering telepon aku."


Emily tersenyum dan mengusap rambut Friska. "Kamu yang harus telepon tante duluan, kan tante gak tau kapan papa kamu ada di rumah saat kamu sudah nggak sibuk sama tugas sekolah."


Friska mengangguk dan memeluk Emily. Tangan mungilnya mengusap perut Emily. "Dede ... Jagain mamanya ya, aku udah nggak bisa nemenin mama kamu lagi."


Di depan sana, Pak Adam menepuk pundak Zein dan memeluknya sebagai ungkapan terima kasihnya karena menjaga Emily selama ini. Pak Adam melepaskan pelukannya pada Zein dan menoleh kearah Emily. "Sudah Em?"


"Sudah om."


"Ayo kita pulang." Pak Adam berjalan lebih dulu menuju mobilnya.


Emily berjalan kearah pintu, saat dia melewati Zein, dia menghentikan langkahnya, posisinya tepat berhadapan dengan Zein.


"Terima kasih atas segalanya," ucap Emily.


"Sama-sama."


Saat keduanya beradu tatap, rasanya waktu langsung membisu.


"Emily ...."


Panggilan Pak Adam langsung membuat waktu itu berjalan kembali.


"Aku pergi." Emily langsung membuang pandangannya dan meneruskan langkahnya.


Tahan aku Zein .... batin Emily.


"Emily ...."


Mendengar Zein memanggil namanya rasanya hembusan angin pagi yang begitu sejuk berhebus sampai kedalam relung hatinya. Semangat seketika berkobar, senyuman kebahagiaan langsung menghiasi wajah Emily, harapannya Zein menahannya. Kala Emily berbalik, Zein sudah dekat dengannya.


"Jaga dirimu baik-baik, tugasku menjagamu sudah selesai." Zein mengulurkan tangannya pada Emily.


Kebahagiaan yang sempat menghiasi relung hatinya detik itu juga lenyap.

__ADS_1


Terlalu besar harapanku, aku mengira kamu merasakan sebuah perasaan aneh yang saat ini ku rasa. Rasa yang damai kala dekat denganmu, dan bahagia yang teramat besar saat mendengar suaramu.


Emily mencoba tersenyum, dia langsung menyambut uluran tangan Zein.


"Aku pergi," ucap Emily.


Andai aku punya kekuatan untuk menahanmu Emily .... Batin Zein.


Namun wanita yang terus ada di hatinya itu berlalu pergi setelah melepaskan jabatan tangan mereka.


Emily ... Tinggallah bersamaku, batin Zein.


Saat yang sama Emily menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Zein. "Kau memanggilku?"


Zein menggelengkan kepalanya. Saat itu juga Emily langsung masuk kedalam mobil Pak Adam.


Zein berdiri seperti patung melihat kepergian Emily, sedang Friska terisak didalam pelukan bibi Geya.


"Papa ... Kenapa papa tidak menahan kepergian tante Emily ...." ringis Friska.


Mendengar tangisan Friska, Zein sadar kalau Emily sudah pergi jauh. Zein medekati putrinya dan menggendongnya. "Papa tidak punya hak itu sayang ...."


"Punya, kalau papa menjadikan tante Emily mamaku."


Zein mengusap lembut sisi kepala putrinya. "Tidak semudah itu sayang, ada hal orang dewasa yang tidak bisa papa jelaskan ...." Zein berusaha menghibur Friska.


*


Sepanjang perjalanan Emily terus melamun, setelah meninggalkan rumah Zein rasanya ada sebagian dari dirinya yang hilang.


"Sudah berapa bulan?"


Pertanyaan Pak Adam membuat Emily tersadar.


"7 bulan, om."


"Selama ini kamu selalu dihina dan direndahkan orang lain, sebagai keluargamu, om sangat marah pada diri sendiri karena tidak bisa melindungimu. Bahkan tidur om tidak nyenyak, merasa dimarahi kedua orang tuamu karena tidak bisa menjaga putri mereka."


"Aku tidak masalah om, aku selalu bahagia dengan hidupku."


"Izinkan om membalas mereka yang merendahkanmu dengan jalan terhormat."


"Sudah om, aku lelah berurusan dengan dendam. Aku mengikhlaskan semua yang terjadi."


"Aku mendekati Garry karena dendam, apa yang aku dapat? Hanya goresan luka di hatiku om."


"Izinkan om melakukan sekali saja Em. Sebagai penebusan atas diamnya om selama ini."

__ADS_1


"Jika itu membuat om bahagia, aku ikuti saja. Hanya om orang tua aku saat ini yang dekat denganku."


"Bagaimana kamu selama ini bisa diam atas hinaan yang seharusnya tidak tertuju padamu?" Pak Adam masih memikirkan tentang Aji.


"Jika aku mencintai seseorang, aku mencintai dia dengan segala kekurangannya, saat membaca laporan kesuburan kami, dan mengetahui Aji bermasalah, aku tidak mau dia down, aku tidak mau dia merasa bersalah atas kekurangan dalam rumah tangga kami, sebab itu aku merahasiakan semuanya, berharap kami bisa bahagia sampai tua walau dalam kekurangan."


"Sampai om kamu juga tidak tahu, kamu sangat jahat Emily ...."


"Maafkan aku om, aku hanya cerita hal ini pada sahabatku Janet."


Pak Adam meraih handphonenya, dia langsung menghubungi Sekretaris Pribadinya.


"Ada apa Tuan Adam?" Pertanyaan dari ujung telepon.


"Kamu siapkan acara besar, kembalinya penerus Salawa Grup, aku ingin acara megah, undang semua patner bisnis kita."


"Siap Tuan, kapan acaranya dan di mana?"


Pak Adam menyebutkan tanggal yang dia inginkan, dan Restoran berbintang miliknya yang ada di kota. "Kamu undang beberapa pengusaha dari desa, penghargaan dan bantuan untuk mereka akan jadi bagian acara nanti."


"Siap Tuan. Apakah Tuan punya daftar para pengusaha muda potensial dari berbagai daerah ini?"


"Aku punya beberapa nama, sisanya kamu seleksi sendiri."


Wajah Pak Adam terlihat sangat bahagia setelah menutup teleponnya.


"Jangan bilang Paman mau mengundang Afrida, mantan istri Zein."


"Sayangnya aku tidak mengundang dia sendirian, aku akan mengundang dia dan keluarga, dan aku kepikiran Garry."


"Bukankah dia sudah bahagia dengan Lesty? Sebelum aku pergi mereka sangat bahagia meberikan kabar kalau mereka akan rujuk."


"Sayangnya setelah memberi berita itu, Garry menghilang, dan aku mengutus orangku untuk mencari tahu, ternyata dia pulang ke desa bersama kedua orang tuanya, hanya adiknya saja yang masih di kota karena kuliah."


Apa yang membuat Garry tidak jadi rujuk dengan Lesty? Batin Emily.


"Kamu memikirkan kenapa batal rujuk?" tebak Pak Adam.


"Pemikiranku 2 kemungkinan om, pertama mungkin Garry tidak sekuat dulu lagi untuk menerima hinaan Lesty, bukan rahasia kalau dia suami yang didzolimi istri."


"Aku juga menebak demikian, setah bercerai dengan Lesty, Garry seolah menemukan kecerdasannya," ucap Pak Adam.


"Tebakan keduaku, dia tahu aku hamil."


"Kalau dia tahu kamu hamil, seharusnya dia cari kamu, bukan menghilang kepelosok."


"Mungkin dia tidak punya keberian om. Tahu sendiri Garry bermental kerupuk."

__ADS_1


"Oh ya Tuhan ... Apa yang aku katakan, aku menghina Ayah dari anak yang aku kandung." Emily mengusap perutnya. "Maafkan mamamu ini, papamu orang baik, papamu orang hebat ...."


Pak Adam tertawa melihat tingkah Emily.


__ADS_2