
Emily menatap Andita dan Lesty bergantian, dia tidak menyangka kedua orang ini menjebaknya dengan bahasan itu.
"Benar yang Lesty katakan?!" tanya Garry lagi.
"Ini yang akan aku jelaskan padamu, bisa kita pulang dulu? Aku akan ceritakan semuanya," ucap Emily.
"Kamu mendekatiku hanya karena ingin balas dendam? Terus mana cintamu yang selama terus kamu katakan?" Tatapan Garry terlihat sangat putus asa.
"Seorang pelakor mana punya cinta, yang dia punya hanya ambisi. Makanya aku meminta dia mengembalikanmu pada kami, karena cintanya palsu," sela Lesty.
Hancur, rasanya bangunan kebahagiaan yang berdiri kokoh beberapa bulan ini seketika ambruk. Tidak ada peribaratan kata untuk menggambarkan sakit dan hancurnya perasaan Garry saat ini.
Garry tertawa datar, menertawakan takdirnya sendiri. "Kamu mendekatiku hanya ingin balas dendam pada mereka bukan?" Ujung jari telunjuk Garry mengarah pada Lesty dan Andita.
"Selamat, dendammu sudah terbalas. Kamu tidak usah pura-pura mencintaiku lagi!" Kalimat talaq pun terlontar dari bibir Garry.
Mendengar kalimat yang sangat menyakitkan itu, Emily sangat sakit, dia menunduk, berusaha mencari cara untuk menjelaskan semuanya. Saat Emily menegakan wajahnya dan menoleh kembali kearah Garry, ternyata laki-laki itu sudah pergi.
"Ya ampun mama, ternyata sangat mudah menghancurkan hubungan mereka, kenapa tidak dari kemaren kita katakan pada Garry kalau Emily mendekatinya hanya demi dendamnya pada kita!" Lesty terlihat sangat bahagia.
Andita tiba-tiba tertawa melihat keberuntungan yang seketika berbalik padanya. "Kalau ku tahu membuat Garry pergi dari pelakor ini hanya sebuah kebenaran, sudah dari kemaren aku katakan."
Emily tidak punya banyak waktu untuk meladeni 2 orang di depannya, dia segera pergi dari rumah itu, dan berusaha mengejar Garry. Emily mengabaikan sapaan Nyonya Maiwa dan Tuan Jiman, saat ini dia hanya memikirkan Garry.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kenapa tadi aku tidak bawa mobil sendiri!" gerutu Emily. Dia terus melangkah sambil mengotak-atik handphonenya.
Saat Emily menegakan wajahnya, di depan sana terlihat sebuah mobil taksi melaju pelan kearahnya.
"Mobil taksi masuk wilayah ini?" Emily heran, namun saat ini dia butuh taksi untuk pulang. Emily melambaikan tangannya menyetop taksi itu.
Mobil taksi itu berhenti di depan Emily. "Maaf, saya menjemput keluarga Tuan Jiman." ucap supir tersebut.
"Iya, mereka memesan taksi untuk saya," ucap Emily.
Supir taksi percaya, dia mempersilakan Emily masuk. Emily menyebutkan alamat tujuannya.
__ADS_1
"Mau jalan biasa apa jalan cepat mbak?" tanya supir.
"Jalan cepat lewat mana memangnya?" Emily balik bertanya
"Ada mbak, lewat jalan ini sampai lebih cepat ke jalan B. Nah komplek mbak itu kan masuk jalan itu?"
Emily setuju, saat ini dia hanya ingin cepat pulang. "Mohon lebih cepat ya Pak, semakin cepat Bapak sampai, saya akan kasih bonus."
"Tidak perlu bonus, karena keberhasilan saya menculik Anda, bonusnya sudah besar."
Emily tidak mengerti maksud supir taksi itu, saat yang sama supir taksi itu sudah mengenakan masker gas, dan seper sekian detik kemudian, bagian dalam mobil tiba-tiba dipenuhi asap. Membuat Emily kehilangan kesadarannya.
Di kediaman Emily.
Garry memarkir mobilnya sembarangan, bahkan bagian depan mobilnya menabrak pot tanaman hias yang dipelihara ibunya.
Mendengar suara baraang jatuh di luar rumah, Athaya segera memeriksa bagian depan rumah. "Ya ampun Garry! Apa salah tanam itu hingga kamu tabrak?" ucap Athaya.
Garry masih diselimuti kemarahan. "Bapak! Ibu, kemasi barang-barang kalian! Hanya bawa barang kalian saja, jangan bawa apapun yang Emily berikan!" ucap Garry.
"Bu, cepat berkemas!"
"Garry, bertengkar itu wajar, jangan pergi buru-buru, bicarakan dulu dengan Emily," ucap Athaya.
"Bu! Aku sakit bu! Emily menjadikanku sebuah target untuk balas dendamnya!" Suara Garry lantang seakan memenuhi ruangan itu.
Crang!
Garry menjatuhkan semua foto-foto Emily dan dirinya, yang tersusun rapi diatas lemari kecil.
"Garry!" Athaya sangat terkejut.
"Cepat bereskan barang-barang kalian! Kita pergi dari sini! Cinta yang dia berikan pada kita palsu!" Garry terus mengamuk dan menjatuhkan apa saja yang ada di dekatnya.
Melihat anaknya semarah itu, Athaya mengalah, dia segera ke kamarnya membereskan barang-barangnya dan barang suaminya.
__ADS_1
"Bu, ada apa di luar? Kenapa seperti bunyi-bunyi kerusuhan?" tanya Ayah Garry.
"Sepertinya Garry dan Emily bertengkar, sudahlah Pak, bantu ibu beberes, ibu mau ke kamar Nala membereskan barang-barang Nala."
Akkkk!!!
Pyar! Brak!
Bermacam bunyi benda berjatuhan menggema di rumah itu. Keadaan rumah pun seketika kacau. Garry terus menangis dan meluapkan kemarahannya pada benda-benda yang ada di rumah Emily, bahkan foto keluarga berukuran besar yang terpajang di dinding tidak luput dari amukannya.
Air mata terus membasahi pipi Garry, Garry memandangi foto-foto yang ada di lantai, dan bercampur dengan pecahan kaca. Melihat semua foto-foto itu, dia terbayang kebahagiaannya bersama Emily saat menata rumah ini.
"Kenapa cinta palsumu terlalu indah ...." suara Garry tenggelam oleh isak tangisnya.
Rasanya suara tawanya dan tawa Emily saat mempersiapkan rumah ini masih menggema di sana.
"Aaaaa!" Garry berusaha melempar semua ingatan bersama Emily dari benaknya.
"Argggggg!" Garry terus berteriak meluapkan rasa sakitnya.
Di kamar Nala, Athaya ikut menangis, mendengar teriakan Garry, rasanya dia juga merasakan betapa sakitnya hati putranya saat ini.
1 jam berlalu, Garry mulai tenang. Dia tersungkur di sisi sofa, keadaanya sangat kacau, bahkan tangannya terlihat berdarah.
"Nak ... barang-barang ibu, Bapak, dan Nala sudah ibu bereskan. Kita pergi sekarang?" tanya Athaya.
Garry berusaha tenang, dia mengambil handphonenya dan memesan taksi online. "Saat taksi datang, kita pergi ke kampus Nala dulu, sekarang bantu kunci rumah ini, berikan kuncinya pada pelayan Emily." ucap Garry lemas.
Saat taksi datang, Garry menitipkan semua kunci pada pelayan Emiky, sedang dia dan kedua orang tuanya segera pergi meninggalkan rumah itu.
Sepanjang perjalanan menuju kampus Nala, handphone Garry terus berdering, Garry sengaja mengabaikannya, dia mengira itu Emily. Karena berdering terus menerus, Garry semakin kesal, saat dia melihat layar handphonenya, ternyata itu panggilan dari Zein.
"Ada apa Zein?"
"Tuan, Nona Emily dalam bahaya!" ucap Zein panik.
__ADS_1
"Aku tidak punya urusan dengan Emily, saat ini dia juga bukan istriku lagi, aku sudah menceraikannya, dan apapun yang terjadi padanya, aku tidak peduli!" Garry langsung memutuskan panggilan telepon mereka.