
Garry terus memandangi dua orang itu.
Bapak sama ibumu menyekolahkanmu tinggi-tinggi berharap kamu tidak perlu payah seperti kami, bekerja di bawah terik matahari dan bermandikan keringat juga lumpur.
Saat ini hanya kedua orang tuanya yang menjadi semangatnya. "Pak Adam benar, hidupku memang hancur, tapi aku harus melanjutkan hidupku demi membahagiakan yang lain." Garry menutup pintu lift, lantai tujuannya sudah terlewati.
**
Dunia maya seketika heboh dengan penampakan pertama penerus tahta Salawa Grup. Salah satu pengguna media memposting foto penerus Salawa Grup yang baru turun dari mobil.
Komentar-komentar kekaguman dan bermacam pujian tertuju pada penerus Salawa Grup. Saat yang sama Lesty juga langsung mencari foto viral itu.
"Wah ... Penerus tahta Salawa grup juga tengah hamil sepertiku, semoga aku bisa berteman dengannya."
***
Hari besar yang dinantikan akhirnya tiba, semua tamu yang diundang berhadir di acara besar ini. Mereka tidak ingin ketinggalan momen untuk melihat penerus tahta Salawa Grup untuk pertama kalinya.
Aji terlihat bosan dengan acara ini, andai tidak penasaran siapa Tuan Putri misterius ini, rasanya dia tidak ingin berhadir di sini. Sejak mendapat undangan ini, dia merasakan firasat tidak enak.
Andita duduk manis bersama rekan sosialitanya, rasanya derajat mereka semakin terangkat karena di undang dalam acara besar ini.
"Eh, Ternyata Penerus Salawa tengah hamil ya ...." ucap teman Lesty.
"Ya, aku juga kaget pas tau dia hamil," sahut Lesty.
Sesekali Lesty menoleh pada Garry, namun laki-laki itu tidak peduli padanya, anak yang Lesty kandung tidak berhasil menjadi perantara penyatuan kembali hubungan mereka.
Di kamar hotel.
Emily semakin tersiksa oleh rasa rindunya pada Zein, setiap kali dia becermin, dia melihat Zein ada di depan matanya. Hal ini membuat moodnya semakin memburuk.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuat Emily tersentak dari lamunannya, dia segera membukakan pintu kamarnya. Kala pintu terbuka, bayangan Emily saat ini itu adalah Zein.
"Zein?" sapa Emily.
"Maaf Nona, nama saya bukan Zein, saya Ilham. Tuan Adam memanggil Anda, katanya 30 menit lagi Anda harus turun."
Emily merasa bodoh karena terus memikirkan Zein, rasanya apa yang dia lihat ada Zein di sana. Emily segera turun ke bawah dan memasuki ruang tunggu. Di sana sudah ada Janet yang menemaninya.
"Kenapa kamu tidak semangat?"
__ADS_1
"Nggak tau, aku juga bingung."
"Aku malah semangat, aku mau tau bagaimaan wajah-wajah mereka dulu yang menghina kamu setelah tau sosok yang mereka puji-puji beberapa hari ini adalah sosok yang selama ini mereka hina."
Di tempat acara, bermacam penghargaan terus berlanjut. Afrida salah satu penerima penghargaan pengusaha potensial dari daerah.
Mendengar nama Afrida Emily tersenyum dan mengingat kekonyolannya dengan Zein. Melihat perubahan wajah Emily Janet merasa penasaran.
"Kamu mengenal Afrida?"
"Dia mantan istri Zein, aku sering mengerjainya, makanya aku teringat kebodohanku."
Acara bantuan dan pemberian penghargaan selesai, terdengar pemandu acara menyembutkan penerus Perusahaan Salawa Grup.
"Itu panggilan buatmu, ayo." Janet segera membantu Emily berdiri.
Saat pintu terbuka lebar, keduanya berjalan memasuki tempat acara, blizt kamera langsung tertuju pada Emily dan Janet. Mata-mata semua tamu juga fokus kearah keduanya.
Lesty sangat syok melihat kemunculan Emily, dia ingin berpikir wanita yang berjalan bersama Emily adalah pewaris Salawa grup, tapi yang hamil adalah Emily.
Kenapa wanita mandul itu hamil?
"Tolong cubit aku!" pinta Lesty pada temannya.
Hampir semua tamu terkejut melihat Emily yang muncul. Aji juga tidak kalah terkejut, dia mematung memandang kearah Emily. "Emily Karzila Sutagra?" Zein mengingat nama lengkap Emily.
Kenapa selama ini aku tidak menyadari Emily adalah anak seorang Miliander yang bernama Sutagra?
Bukan hanya siapa Emily yang membuat Aji Syok, tapi penampilan Emily saat ini yang tengah berbadan dua. Bagaimana bisa seorang wanita yang divonis mandul bisa hamil.
Semua orang larut dalam pemikirannya, begitu juga Andita, pembenci abadi Emily, terlihat wanita paruh baya itu kesulitan bernapas, rasanya dia tidak mendapat bagian oksigen di ruangan itu.
Di panggung Emily meraih mic, dan mendekatkan ke mulutnya. "Selamat siang semuanya, sepertinya kalian semua sudah mengenal saya sebelumnya. Ya ... Prestasi saya sebelumnya sangat jelek, tidak usah saya sebutkan lagi."
Emily terus memberi kata sambutan, dan memberikan ucapan selamat pada para pengusaha muda itu.
"Sial! Dia bukan cupu yang bisa ku tindas, tapi suhu. Aku harus segera pergi!" Afrida menarik suaminya untuk pergi dari tempat itu.
Sedang Garry, dia pergi menuju tangga, di sana adalah tempat yang paling sepi. "Andai dia wanita biasa, aku tidak punya keberanian untuk mengajaknya rujuk, ternyata dia seorang CEO, semakin jauh harapanku untuk dekat dengannya."
Hati Garry semakin terasa teriris, melihat keadaan tangga, dia teringat di mana dia dan Emily mencari kepuasan bersama dalam kesunyian.
Acara formal sudah selesai, hanya acara santai yang mereka gunakan untuk saling bertegur sapa. Aji berjalan pelan kearah Emily yang terlihat asyik berbincang dengan tamu yang lain.
__ADS_1
"Emily ... bisa kita bicara? Hanya berdua?" tanya Aji.
Emily pamit pada tamu yang lain, dan mengajak Aji menuju tempat yang lebih sepi.
"Ada apa?" tanya Emily.
"Kenapa ini bisa terjadi?" Aji mengisyarat pada perut bulat Emily. "Bukankah kamu wanita mandul?"
"Ya bisa terjadi, karena aku bersuami, dan ini anak Garry."
Aji masih belum bisa menerima penjelasan Emily.
"Yang madul bukan aku, tapi kamu," ucap Emily.
"Bagaimana bisa? Bukankah dalam surat pemeriksaan itu--"
"Aku menukarnya, aku tidak ingin kamu sedih, jadi aku menukarnya."
"Kenapa kamu lakukan hal itu?"
"Karena aku mencintaimu, aku ingin kita meneruskan hidup kita tanpa bebas apapun."
"Aku juga sangat mencintaimu Em, sampai sekarang aku tidak bisa menerima wanita mana pun untuk mengisi posisi yang kamu tinggalkan."
"Ingat kata-kataku saat sidang perceraian kita selesai?"
Emily menatap tajam pada Aji. "Kalau kamu lupa, aku akan ingatkan kembali. 'Andai kamu mengetahuinya nanti dan meminta aku kembali. Aku hanya ingin mengatakan, saat kamu tahu rahasia itu, Emily Karzila yang dulu mencintaimu sudah mati!' itu yang aku ucapkan dulu."
Emily segera pergi dari tempat itu, dan berjalan kearah Janet.
"Aji bicara apa?" tanya Janet.
"Bilang cinta, kan aku sangat cantik."
"Dasar!" ledek Janet.
"Dia memang cantik, aku saja terpikat dengannya, tapi aku dilarang jatuh cinta padanya."
Emily menoleh kearah suara itu. "David! Apa kabarmu?" Emily langsung memeluk patner dramanya dulu.
"Aku sangat baik Em, oh iya balon ini hasil tiupanku bukan?" ucap David.
"Ngaco kamu, selang pompaan kamu belum pernah menancap padaku, bagaimana bisa ini hasil pompaan kamu!"
__ADS_1
Emily terlihat begitu ceria bercanda dengan David.