
Sejak dari rumah Emily, Garry terjaga di kontrakannya. Penyesalan itu seakan mengikat semua aliran darahnya, pikirannya ikut buntu karena kenyataan yang baru dia ketahui.
"Garry?" Athaya terkejut melihat Garry duduk leseh di ruang tamu.
"Aku membuang wanita yang benar-benar tulus mencintaiku bu." Tidak ada expresi, wajahnya terlihat sangat datar. Rasanya Garry tidak tahu lagi bagaimana meluapkan kecewa dan penyesalannya.
"Marah boleh, tapi jangan mengambil tindakan apapun saat marah, sekarang sudah kejadian, mau bagaimana lagi?"
"Aku hampa bu, aku tidak punya tujuan lagi dalam hidupku."
"Kalau begitu, kita pulang ke desa saja," usul Athaya.
"Bagaimana dengan Emily bu?"
"Setelah apa yang kamu lakukan pada dia, kamu yakin dia mau kembali padamu?"
Garry menggeleng pelan. "Mustahil bu, secara saat aku bersamanya, dia terbaik dan aku hanyalah benalu."
"Emily wanita terbaik, dia menyembunyikan kekurangan pasangannya, dan membuat pasangannya itu seakan sempurna, tapi pasangannya sangat bodoh bu ...."
Sangat jelas gurat keputus asaan di wajah Garry.
"Dulu Emily menutupi kekurangan Aji, dengan mengatakan dirinya mandul, tapi pada kenyataan Emily bukan wanita mandul, tapi yang bermasalah Aji." Garry memberikan laporan pemeriksaan Aji dan Emily.
"Kali ini, aku yang sama bodohnya dengan Aji, bahkan aku lebih bodoh! Saat Emily hamil aku menceraikannya."
"Emily hamil?" Athaya sangat terkejut.
Garry tidak mampu menjawab lagi, dia memberikan laporan kehamilan Emily pada ibunya.
"Emily hamil atau tidak, apa yang kamu lakukan padanya sudah sangat keterlaluan, kamu masih punya wajah untuk menemui Emily?" tanya Ayah Garry.
Garry menggelengkan kepalanya.
"Seperti kata ibumu, lebih baik pulang ke desa saja, bagaimana?" ucap Ayah Garry.
"Kalau kalian pulang, aku bagaimana?" sela Nala.
"Kamu tetap kuliah Nala, akhir bulan kamu pindah ke kost-an kecil, bagaimana pun caranya kamu harus kuliah sampai selesai."
Tidak ada yang bisa mereka lakukan, Garry dan kedua orang tuanya bersiap pulang ke desa mereka, membuka usaha untuk biaya kuliah Nala.
Garry ke kamarnya membereskan beberapa barang-barangnya. Rasanya Emily masih bersarang di bagian terdalam di dirinya.
__ADS_1
*Apapun jalanku kedepan, kamu adalah titik tertinggi hal yang terindah dalam hidupku Emily.
Semoga kamu dan anak kita sehat selalu, di manapun kamu berada.
Maafkan kebodohanku Emily* ....
***
Di Belahan lain ....
Pagi-pagi Zein keluar dari ruangan Emily, dia membeli sarapan untuknya, Emily, Friska dan bibi Geya. Setelah mendapatkan semua yang dia mau. Zein segera ke hotel menemui putrinya.
"Papa?" Friska sangat bahagia melihat kedatangan Ayahnya.
"Papa datang antarkan sarapan buat kamu sama bibi, di makan ya, nanti jam 11 siang papa akan jemput kalian."
"Tante baik hati itu bagaimana?"
"Dia akan ikut sama kita, dia tidak punya keluarga, jadi ... kita keluarga dia nantinya."
"Iya pa."
"Papa pergi dulu ya, sampai jumpa nanti."
Friska menahan kepergian Zein dengan memegang lengan laki-laki itu. Ada sesuatu yang mengganjal pemikirannya. "Kalau tante itu tinggal sama kita, nanti apa pemikiran mama?"
"Tapi aku nggak mau kalau mama jelekin papa."
"Biar saja papa jelek di mata orang-orang, yang papa mau, papa adalah laki-laki terbaik di matamu."
Friska langsung memeluk papanya. "Papa adalah yang terbaik buatku."
"Kamu juga putri terbaik papa."
Pelukan itu berlangsung lama, hingga Friska tersadar ada orang lain yang membutuhkan bantuan papanya. "Sudah pa, kasian tante itu sendirian."
"Iya, papa pergi ya." Ciuman lembut mendarat di pucuk kepala putrinya.
Selesai di hotel itu, Zein kembali ke Rumah Sakit, seampainya di ruang perawatan Emily, Zein melihat beberapa petugas medis tengah memeriksa keadaan Emily.
"Dia keluarga Anda?" tanya dokter pada Emily.
"Iya, dia keluarga saya."
__ADS_1
"Ibunya boleh pulang Pak, hanya saja harus menggunakan kursi roda untuk aktivitasnya. Jaga Istrinya dengan baik ya Pak ...."
Emily dan Zein saling tatap, karena dokter mengira mereka pasangan suami istri.
"Kalau ada yang ditanyakan lagi, silakan datangi saya ke ruang kerja saya. Saya permisi dulu." pamit dokter.
Emily dan Zein berusaha mengembalikan kesadaran mereka yang terburai. Melihat di ruangan itu hanya ada mereka berdua, Emily berusaha mengusir kecanggungan yang terjalin.
"Ehem! Maafkan aku, aku tidak bermaksud bilang kamu suamiku," sesal Emily.
"Santai saja, oh iya ... aku bawa sarapan, mau makan dulu?"
"Boleh-boleh."
Zein segera menyiapkan makanan Emily.
"Selama hamil, kamu ada kesulitan makan?" tanya Zein.
"Tidak ada, makan seperti biasa, hanya saja aku cepat lapar, dan makanku lebih sering."
"Itu lebih bagus, kalau ibu Friska dulu, dia kesulitan makan, karena mual, ciuam bau apa saja mual, morning sickness."
"Kamu tidak ingin menceritakan apa-apa tentang istrimu padaku?" goda Emily.
"Masa lalu biar berlalu, aku tidak mau terikat oleh masa lalu."
"Tapi dari masa lalu kita dapat banyak pelajaran, harusnya kita berterima kasih pada mereka yang memberi luka pada kita di masa lalu, berkat mereka kita bisa berlatih apa itu ikhlas, sabar, merelakan." Emily mematung setelah menyadari apa yang dia ucapkan.
"Ah aku ini, bicaraku sok bijak, aku sendiri menyimpan dendam dari masa laluku." Emily menggelengkan kepalanya menyadari kebodohannya. "Aku sendiri pribadi yang buruk, sok bijak pula, hedehhh!"
"Nasihat itu boleh diberikan siapa saja, kalau hanya orang baik yang boleh memberi nasihat, maka keburukan semakin merajalela, karena nasihat baik jarang di dengar, sebab orang baik di dunia ini mulai langka." Zein tersenyum melihat sikap Emily.
"Ah sudahlah, aku berhenti bertanya, aku juga punya masa lalu yang malas aku ingat, aku malah membuatmu mengingat masa lalumu." Emily segera menyantap buburnya.
"Ibunya Friska, adalah pemilik pabrik di desaku, dia pengusaha. Entah nasibku terlalu baik hingga dia menjadi ibu dari anakku, namanya Rumah Tangga ada saja gelombang yang kami hadapi, hingga sampai pada titik, dia mengajakku bekerja ke kota, aku menolak, karena penyakit Friska bawaan dari lahir. Panjang ceritanya, namun khirnya kami berpisah."
"Ibu Friska berarti kaya, kenapa kamu harus berjuang mempertaruhkan nyawa untuk mencari biaya operasi?" tanya Emily.
"Dia mau memberi uang untuk operasi Friska, dengan satu syarat, aku mengakui kalau aku selingkuh, padahal aslinya dia yang meninggalkan aku dan memilih pria yang lebih mapan."
"Owh ... jadi andai perceraian kalian menjadi konsumsi publik, maka mereka akan menyalahkan kamu?"
"Mungkin seperti itu."
__ADS_1
"Aku tidak mau menghancurkan harga diri dan martabatku, karena yang berselingkuh itu mereka tidak punya harga diri dan lebih hina dari binatang, maaf ini penilaianku."
"Hah!" Emily tertawa datar menertawakan dirinya sendiri.