POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
Bab 65 Tentang Zein Bagian 2


__ADS_3

Setelah pernikahannya dengan Afrida, Zein berhenti bekerja di pabrik Afrida, dia meneruskan mengelola lahan pertanian milik suami bibi Geya yang sudah berpulang.


Setelah berpisah dengan Afrida, Zein semakin giat berkebun, walau hasil panen memuaskan, tetap saja Zein belum bisa mencapai target minimal untuk biaya operasi Friska. Saat keadaan Friska lumayan membaik, saat itu usianya menginjak tahun kelima, Zein pamit ke kota untuk mencari penghasilan yang lebih menjanjikan.


Hingga Zein memilih memanfaatkan ilmu bela diri yang dia miliki untuk menjadi Bodyguard. Beberapa misi berhasil Zein jalani, hingga takdir mempertemukannya dengan Emily, dan itu adalah misi terakhirnya menjadi seorang Bodyguard.


Sedang Afrida sesekali datang untuk menghinanya dan merendahkannya, karena Zein tidak mau memberikan Friska pada Frida. Zein tetap semangat untuk kesembuhan putrinya. Kini putrinya juga semakin membaik.


***


"Apa boleh bibi menceritakan siapa kamu pada Emily?"


Pertanyaan bibi Geya membuyarkan lamunan Zein.


"Aku mengetahui beberapa info tentang Emily, setahu aku dia bukan wanita yang berambisi untuk menjadi seorang Nyonya besar di keluarga kaya. Tentu saja bibi boleh mengatakan siapa diriku pada Emily."


Bibi Geya merasa lega, dia segera kembali ke kamarnya, saat yang tepat dia akan mengatakan siapa Zein pada Emily.


**


Pagi pertama Emily berada di desa. Emily terbiasa hidup sederhana, tidak sulit baginya beradaptasi di desa ini. Pagi itu Emily isi dengan membantu bibi Geya, walau dia setia duduk di kursi rodanya.


Sedang pagi hari di kediaman Tuan Ajiman, Lesty terlihat sangat gusar. Dia berusaha menghubungi Garry, tapi handphone Garry tidak bisa dihubungi.


"Masih Garry?" tanya Andita.


"Iya, kata Nala. Semua keluarganya sudah pulang kampung."


"Kalau Garry pulang kampung, artinya dia tidak ingin kembali padamu?" tebak Andita.


"Itu lebih baik, artinya Garry masih punya harga diri," sela Tuan Jiman.


"Ayah ... Media sudah tahu mereka akan berkumpul lagi, kita akan malu jika Garry dan Lesty batal rujuk lagi."


"Itu urusan kalian." Tuan Jiman meneruskan sarapannya bersama istrinya. "Oh iya Lesty, katamu kan kamu hebat, cantik. Istilahmu, kamu adalah wanita impian, setelah kamu melahirkan nanti, Kakek mau lihat laki-laki seperti apa yang bersedia menjadi suamimu."


"Ayah, saat ini Lesty masih hamil!" ucap Andita.


"Cerna kata-kataku dengan baik, bukankah aku katakan jika sudah melahirkan."

__ADS_1


Lesty dan ibunya kompak membisu.


"Satu lagi, aku dan ibu kalian, sepakat untuk pindah. Rumah kecil di pinggir kota, kami hanya ingin berdua bersama para Pelayan. Sedang rumah ini, Aji juga tidak menginginkan. So rumah ini milik kalian, Perusahaan yang Aji jalankan, silakan Kalian diskusikan, aku dan istriku sudah cukup dari hasil pembagian saham yang aku tanam di Perusahaan orang."


"Kami ingin melewati sisa-sisa hidup kami dengan bahagia, jadi kami ingin menepi menikmati hidup kami," ucap Maiwa.


"Berkunjunglah dengan kebahagiaan kalian, kalau datang untuk membawa beban bagi orang tua ini, lebih baik tidak usah berkunjung. Aku sudah lelah dengan drama kehidupan kalian," ucap Tuan Jiman.


**


Enam bulan berlalu.


Emily sangat menikmati suasana di desa itu. Menikmati hidupnya, dan menikmati indahnya perjuangan selama 6 bulan ini. Kini perutnya sudah menyembul. Friska sangat senang bermain dengan perut buncit Emily.


Pergaulan dengan warga sekitar juga sangat baik, mereka semua menerima Emily. Semua tetangga bi Geya sangat baik padanya. Emily memperkenalkan dirinya, dan hanya bercerita dia seorang pelakor yang dapat karma. Tetangga yang mendengar itu tidak menghakimi dirinya atas kegagalan rumah tangganya dengan Garry. Mereka justru memberi motivasi pada Emily.


"Tetap semangat buat bayi yang kamu kandung, dia nggak bersalah. Dia berhak untuk hidup bahagia."


"Yang namanya hal curian mah apa saja tidak berkah, kayak suami, nyolong punya wanita lain, ya ujungnya sakit hati, atau berjuang sendiri, itu mah hukum alam. Hanya sedikit maling yang sukses dan hidup bahagia dengan hasil curiannya." Salah satu ucapan tetangga bibi Geya.


Sedang Zein, dia asyik mengelola kebunnya. Sejak Emily tinggal bersamanya, rasanya kehidupannya semakin membaik. Pak Adam membelikannya banyak alat pertanian modern sebagai ganti atas usaha Zein menjaga Emily.


"Ada info apa?" tanya Zein.


"Nona Afrida saat ini menuju rumahmu, katanya dia ingin mengantar undangan pernikahannya."


"Terima kasih infonya." Zein memutuskan panggilan telepon mereka, pikirannya tertuju pada Emily.


"Saat ini Friska sekolah. Bibi Geya juga menjaga Friksa di sekolahnya. Emily sendirian." Zein segera naik keatas motor bututnya, dan melaju menuju pulang ke rumahnya.


Sesampai di rumah, terlihat Emily sibuk memotong sayur untuk makan siang mereka.


"Tumben pulang secepat ini?" sapa Emily pada Zein.


"Afrida mau datang ke sini." ucap Zein.


Saat yang sama Emily mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah.


"Itu pasti dia." Emily dan Zein mengucapkan kata yang sama.

__ADS_1


"Kita harus punya bahan untuk membuat dia tidak punya celah untuk merendahkan kita!" ucap Emily.


Sepersekian detik kemudian, Emily melepaskan ****** ********, dan melemparnya sembarang arah.


"Apa yang kamu lakukan?" Bulu kuduk Zein merinding melihat segitiga imut itu.


"Apalagi? Kamu lupa caraku di Rumah Sakit kemaren?"


Zein masih bingung harus melakukan apa, sedang suara langkah kaki terdengar semakin dekat. Di depannya, Emily mencipratkan air ke wajahnya sendiri.


"Cepat raih handukmu dan lepas celanamu, kita panggang hati mantanmu dengan suara desahanku," ucap Emily.


Saran Emily bagi Zein sangat bodoh, tapi dia juga butuh strategi untuk membuat Afrida tidak betah di rumahnya. Zein mengikuti saran Emily, dia melepaskan celana panjangnya dan segera menggunakan handuk.


"Semoga kewarasanmu tetap ada setelah mendengar suara desahanku," ucap Emily.


"Kenapa bawa-bawa kewarasan?" tanya Zein.


"Ya kali saja kamu nanti sama bodohnya dengan Garry dan Aji. Dugaanku mereka bodoh karena sering mendengar leguhanku."


"Memang--"


"Diam dan tutup rapat telingamu!" potong Emily cepat.


"Kenapa harus tutup telinga?" tanya Zein.


"Lebih aman tutup telingamu, selain untuk memastikan kewarasanmu tetap aman, juga hal itu penentu keberhasilan drama kita, kalau kamu muntah karena mendengar jeritanku, dan saat itu mantanmu tiba, maka drama gagal," bisik Emily.


Suara Afrida mulai terdengar memanggil-manggil nama Zein dan Friska. Suara langkah kaki juga semakin dekat.


Merasa Afrida semakin dekat dengan mereka, Emily perlahan mengeluarkan jeritan manjanya.


Apa ini?


Sekujur tubuh Zein merinding mendengar suara exotis itu. Walau jarak mereka tidak terlalu dekat, rasanya kedua lutut Zein benar-benar lemas karena jeritan manja Emily.


"Jangan ketawa!" bisik Emily pada Zein.


Zein tidak bisa berkata, dia hanya memberi isyarat kalau dia berusaha untuk diam.

__ADS_1


__ADS_2