POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
Bab 80


__ADS_3

2 bulan berlalu.


Saat orang-orang tahu siapa Emily, banyak hadiah yang berdatangan ke kediaman Emily. Mulai dari kalangan sosialita yang ingin berteman dengannya, hingga para pengusaha single yang berharap bisa dekat dengannya. Tidak terkecuali Aji dan Garry, dua orang itu sangat sering mengirim hadiah untuk Emily.


Untuk dari orang itu, Emily selalu mengembalikan pemberian mereka. Emily tidak ingin Garry atau Aji merasakan mendapat peluang jika dia menerima hadiah mereka.


"Bi, seperti biasanya ya, kirim balik paket ini ke alamatnya," perintah Emily pada pelayannya.


"Kenapa dibalikin sih Em ...."


Pertanyaan itu menyita perhatian Emily. "Hai David ...."


"Lihat, aku datang membawa hadiahku sendiri untuk bayimu, lewat kurir aku takut kamu kembalikan juga."


"Hilih, bilang saja malas bayar ongkir," ledek Emily.


"Aku takut kau tolak Em ...."


"Hadiahmu aku terima, karena kau temanku." Emily meminta pelayan lain menerima hadiah dari David.


"Perasaanku Em?"


"Aku hanya nyaman menjadi temanmu, David."


"Aih ... Aku kecewa."


Emily tertawa melihat perubahan wajah David.


"Di rumah Aja Em?"


"Iya, ini menghitung hari balonku mau kempes."


"Semoga semuanya lancar Em, cukup perasaanmu yang tidak lancar padaku."


"Ehm!" Suara dehaman itu membuat David dan Emily menoleh.


"Zein, mana Friska?" sapa Emily.


"Dia Sekolah."


David melihat Emily dan Zein bergantian. "Melihat bagaimana kamu memandangi laki-laki ini, aapakah dia ...." David sengaja menggantung ucapannya.


"Ya, dia yang selalu ada dalam pikiranku, dan sosok yang selalu aku rindukan," sahut Emily.


"Untuk kesekian kalinya, kau patahkan hatiku, Emiy." David langsung memeluk Zein. "Selamat bro, kamu telah memenangkan hatinya."


Zein hanya mengangguk dan tersenyum.


"Ya sudah Em, aku pamit dulu ya, mungkin jodohku masih dalam perutmu itu," ucap David.


"Amit! Amit! David ...." keluh Emily.


David tertawa puas, dia segera pergi meninggalkan rumah Emily.


Wajah Zein terlihat berbeda, tidak ceria seperti biasanya.


"Kamu kenapa?" tanya Emily.


"Kapan kamu menerima lamaranku? Apakah para pencintamu itu yang membuatmu ragu?" Zein menunjuk kearah tumpukan hadiah yang ada di sudut rumah Emily.


"Aku tidak ragu, aku hanya bisa menerima lamaranmu setelah aku melahirkan ...."


"Aku takut kamu meninggalkanku Em, apalagi kamu adalah wanita impian di kota ini."

__ADS_1


"Hatiku telah terikat padamu, bagaimana--" Emily tidak bisa melanjutkan kata-katanya, kontraksi yang dia alami saat ini sangat kuat.


"Ini bukan palsu lagi, sepertinya ini asli ...." Emily mengisyarat pada perutnya.


"Tanda-tanda lamaranku akan diterima!" ucap Zein semangat.


"Bawa aku ke Rumah Sakit dulu baru bawa aku ke KUA!" jerit Emily.


"Bibi Geya ... keperluan Emily ngeden mana?" teriak Zein.


"Sudah mau ya?"


Zein mengangguk, mereka semua segera membawa Emily ke Rumah Sakit. Selama perjuangannya menghadirkan buah hatinya ke dunia, Zein selalu berada di sampingnya. Emily semakin yakin untuk menyerahkan seluruh hidupnya pada Zein.


Suara tangisan yang memecah suasana itu sangat menyejukan, Zein memberi selamat pada Emily. Dia segera keluar ruangan.


"Kamu mau kemana?"


"Memanggil Garry, biar dia yang meng-azani putranya."


"Aku ingin kamu saja."


"Sudah cukup keistimewaan yang kamu beri, mengizinkanku berada di sisimu selama perjuangan kamu."


"Aku mohon ... kamu saja. Setelah itu silakan Garry mau masuk dan melakukan apa saja."


Zein mengalah, dia segera meraih bayi itu, dan melakukan kewajibannya. Melihat pemandangan yang ada di depan matanya, membuat Emily menangis.


"Kamu sangat luar biasa sayang ...." Bibi Geya menghujani wajah Emily dengan ciuman.


"Wanita biasa akan terlihat luar biasa, ketika dia menemukan laki-laki yang tepat." Emily menoleh kearah Zein.


"Dia memang sangat tepat." Bibi Geya menyatukan wajahnya dengan wajah Emily.


"Zein," panggil Emily.


Zein segera berbalik. "Iya."


"Kenapa bisa Garry ada di sini?"


"Aku mengabarinya."


Emily mengangguk pelan, dan membiarkan Zein memanggil Garry. Beberapa saat kemudian, Garry masuk ke ruangan Emily, dia langsung mendekati bayinya, dengan rasa haru, dia mencoba menggendong bayi itu.


Aku laki-laki gagal saat menjadi seorang Suami, tapi aku akan berusaha sebisaku, untuk menjadi Ayah yang baik untukmu.


Garry mencium kening putranya.


**


Kabar Emily melahirkan membuat ruangan Emily dibanjiri hadiah lagi. Bukan hanya hadiah yang berdatangan, kedua orang tua Zein juga datang. Melihat bagaimana orang-orang sekeliling Emily, membuat Garry dan kedua orang tuanya insecure berada di tengah-tengah mereka. Garry mengajak kedua orang tuanya untuk pulang.


"Ibu bahagia bisa melihat dan memeluk cucu pertama ibu," ucap Athaya.


"Bukankah laki-laki yang ada di sana dulu pengawal Emily?" tanya Ayah Garry. "Bapak masih ingat saat mengunjungi Emily, laki-laki itu yang menjaganya."


"Iya, dulu dia pengawal Emily, saat ini dia calon suami Emily. Dia seperti Aji Pak, anak konglomerat."


Mereka meninggalkan Rumah Sakit dengan rasa bahagia bercampur rasa sesak.


**


Malam semakin larut, beberapa tamu sudah pergi, di sofa panjang Janet sudah tertidur berpelukan dengan Friska dan bibi Geya. Sedang Zein, masih betah berada di samping Emily.

__ADS_1


"Kamu sudah punya nama untuk anakmu?" tanya Zein.


"Belum ..., bisa bantu?"


Zein menoleh kearah ranjang bayi. "Azriel Pramana Sutagra."


"Jangan pakai nama keluarga, aku tidak mau ada perdebatan kenapa nama Azril, dan nama Friska berbeda."


"Benar juga, Azriel Pramana?"


"Boleh, aku suka."


"Jadi ... kapan kita bisa menikah?" tanya Zein.


"8 bulan lagi ya ...."


"Kenapa sangat lama ...."


"Aku baru turun mesin, aku butuh waktu untuk pemulihan ...."


"Itu 4 bulan kan cukup."


"Kalau kamu keberatan 8 bulan, ya sudah 1 tahun!"


"Jangan! Aku setuju 8 bulan!"


**


Hari demi hari berlalu, kehidupan Emily hanya ada kebahagiaan, sejak Azriel lahir, Friska tidak mau lagi pulang ke rumah Zein. Dia tinggal bersama Emily.


Sedang di sisi lain. Lesty kehilangan bayinya, kehilangan rahimnya, juga kehilangan pekerjaannya. Dia dipecat dari proyek, karena kasusnya yang menumpahkan minyak di tangga Rsstoran.


Menjalankan bisnis keuarga pun sulit, semua masih berjalan atas bantuan Aji.


Andita tidak seperti semula, dia hanya bisa berkegiatan di rumah, sejak operasi itu Andita sering merasakan pusing, hingga aktivitasnya terbatas.


**


8 bulan berlalu.


Media kembali diramaikan dengan berita pernikahan penerus Salawa Grup dan Dien Furqan. Pesta pernikahan sangat dinantikan semua orang, mereka ingin turut merasakan kebahagiaan besar itu.


Hingga hari besar itu tiba, semua orang sangat bersemangat hadir di Resepsi pernikahan Zein dan Emily.


"Ternyata Emily sangat baik, berbeda dengan rumor yang berdar tentangnya," ucap salah satu tamu undangan.


"Baik buruknya aku, tergantung siapa yang memberitakan."


Tamu itu terkejut, ternyata Emily dan Zein saat ini ada di belakang mereka.


"Emily wanita baik, dia selalu berusaha bersikap baik pada siapa saja, jika kalian melihat Emily jahat, berarti yang salah kalian sendiri, karena Emily akan bersikap jahat pada orang-orang yang jahat padanya." Zein menggandeng pengantinnya dengan bangga menuju pelaminan.


***


TAMAT.


***


Tamat dulu ya, aku kehabisan ide 🤣🤣🤣 Semoga nanti bisa kasih bonchap kalau ada ide. Yang mau kasih ide monggo komen.


Kelemahan aku ya ini, nggak bisa gambarin tokoh, sama nggak bisa kasih Ending yang memuaskan.


Makasih, sampai jumpa di haluku yang lain ya. Aku rehat bentar cari ilham yang masih betah mojok di rumah janda 🤣🙈

__ADS_1


__ADS_2