POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
Bab 26


__ADS_3

Sekuat apapun Aji berusaha menerima keadaan, kalau dirinya dan Emily sudah berpisah, namun waktu yang dia lalui tanpa Emily, membuatnya menyesal atas keputusannya menceraikan Emily. Andita dan Lesty hanya terus mendesaknya, sedang kehampaan hatinya, mereka tidak pernah peduli.


"Walau aku dan Emily bukan siapa-siapa lagi, tidak ada larangan bagiku untuk menengoknya."


Aji tidak tahu di mana Emily dirawat, dia menelepon Janet, satu-satunya teman dekat Emily, namun Aji hanya harus menerima kenyataan pahit, Janet malah tidak tahu kalau Emily kecelakaan.


"Kamu tanyakan di Rumah Sakit mana dia dirawat Jan, aku tidak tenang kalau belum tahu keadaannya."


Beberapa menit kemudian pesan dari Janet masuk, di sana ada nama Rumah Sakit, dan kamar perawatan Emily. Aji segera bergegas menuju Rumah Sakit tersebut.


Sesampainya di sana, Aji dikejutkan dengan pemandangan, di mana ada kedua orang tua Garry di kamar perawatan Emily. "Paman, bibi?" Aji memandang keheranan pada keduanya.


"Selama di kota ini, kedua orang tua Garry temanku, jadi jangan heran begitu melihat mereka di sini," ucap Emily.


"Garry mana?" Aji berusaha mencari sosok itu.


"Garry di kantornya Nak Aji. Dia meminta kami menjaga Emily, selain Emily tetangga kami, dia juga sekretaris Garry."


Aji merasa sangat bodoh, dia tidak tahu kalau Emily adalah sekretaris Garry.


"Terima kasih sudah menjengukku, tapi jika kau memikirkan perasaanku, sebaiknya kamu pergi, aku takut hatiku belum siap menerima hinaan dari Kakakmu dan keponakanmu yang mengatakan aku tidak rela berpisah darimu," ucap Emily.

__ADS_1


Ceklak!


Pintu terbuka, terlihat sosok Janet memasuki ruangan itu. Janet mencoba mengabaikan keberadaan Aji dan 2 orang yang lain.


"Kenapa kau jahat sekali, aku tau kalau kamu kecelakaan dari Aji," protes Janet.


"Aku baik-baik saja Janet, aku tidak mengabarimu, karena aku tidak ingin membuatmu panik."


Janet dan Emily terus bicara, sedang Ibu dan Ayah Garry mendekati Aji.


"Kata Garry, Ayahmu mengundang kami untuk ke rumah."


"Garry akan menjemput kami saat dia istirahat makan siang," sahut ibu Aji.


Aji merasa ini saat yang tepat untuk pamit, apalagi Emily benar-benar tidak melihatnya.


"Janet, kamu bisa menemani Emily sampai yang menjaga Emily kembali?" tanya Aji.


"Memangnya kenapa?" Janet balik bertanya.


"Aku ingin membawa orang tua Garry ke rumah, kedua orang tuaku ingin bertemu mereka," sahut Garry.

__ADS_1


"Aku akan menemani Emily, paman dan bibi ikut Aji saja," sahut Janet.


Aji merasa terselamatkan oleh keberadaan orang tua Garry, dia segera meninggalkan kamar Emily bersama kedua orang tua Garry. Ketiganya berada dalam lift untuk turun.


"Aku merasa beruntung bertemu Emily, sejak datang di kota ini, dia selalu membantu kami," ucap ibu Garry.


"Aku teringat saat menginap di rumah kalian dulu, Emily mendedikasikan hidupnya untuk keluarga suaminya, dan aku sangat senang melihat hal itu. Seorang wanita yang datang pada keluarga asing, dan mengabdikan sepenuhnya."


Mendengar perkataan Ayah Garry, seketika tenggorokan Aji tercekat. 5 tahun pernikahan mereka, Emily terus mengabdi padanya, sedang dirinya memenuhi permintaan Emily untuk mengunjungi pamannya saja tidak mau, Emily selalu pulang sendiri tanpa dirinya.


Aji menarik napasnya begitu dalam, memikirkan waktu yang telah berlalu, seakan merasakan tamparan, Emily diam dan patuh, namun dirinya tidak pernah menghargai perjuangan Emily yang hanya dengan sebuah pengabdian.


Dia tidak bisa melihat perjuangan Emily yang memberikan pengabdian dan cinta yang tulus, karena saat itu Kakaknya selalu meremehkan Emily yang hanya bisa bernaung di bawah ketiak suami.


Mengingat hal itu, Aji hanya bisa mengutuk dirinya sendiri, karena terlalu bodoh.


Sedang di sisi lain ....


Garry tidak bisa bekerja dengan tenang, saat mengetahui David menyewa jasa keamanan untuk menjaga Emily. Emily kekasih gelapnya, harusnya itu tugasnya.


Saat dia tenggelam oleng pemikiran itu, suara notif handphone membuyarkan konsentrasinya. Pesan dari Aji masuk, yang mengatakan kalau kedua orang tuanya sudah bersama Aji. Garry merasa sedikit lega, pemikirannya saat ini terfokus pada David, dan memikirkan cara bagaimana berbicara dengan laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2