POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
Bab 30


__ADS_3

David sangat bahagia, akhirnya dia bisa berpisah dengan Betris, wanita yang dia nikahi hanya untuk memenuhi syarat mendapatkan warisan. Jiwa David bebas, dia tidak ingin menikah dalam arti sebenarnya. Dirinya menyadari dia adalah laki-laki yang buruk, belum mampu mengemban tugas sebagai panutan yang baik untuk keluarga.


Jam sudah menunjukan pukul 6 pagi, setelah selesai berpakaian, David langsung meninggalkan rumah besar yang dia tinggali bersama Betris. Sedang Betris memandang sayu kepergian David.


Dalam dirinya tidak rela David bersama Emily, namun mencelakai Emily sama saja mencelakai dirinya sendiri.


Di tempat lain.


Arsyila sangat terkejut melihat Garry masuk ke salah satu ruang perawatan, dia langsung mencari keponakannya yang bekerja di Rumah Sakit itu, dia menanyakan nama pasien yang dirawat di sana.


"Untuk kesekian kalinya aku melanggar peraturan Rumah Sakit demi tante, sebentar aku cari." Dia mengotak-atik komputernya, hingga dia menemukan data pasien yang ada di kamar itu.


"Namanya Emily, korban kecelakaan."


Senyuman seketika melengkung di wajah Arsyila, dia yakin Garry dan Emily ada hubungan.


"Terima kasih sayang, tante hanya takut kalau yang sakit itu teman tante."


Arsyila kembali ke ruang perawatan keluarganya yang tidak jauh dari kamar perawatan Emily, saat dia menuju ruangan yang dia tuju, dia melihat David juga masuk ke ruangan Emily.


"Dasar jallang, dia mampu menundukan dua laki-laki mapan dalam satu waktu."


***


Di perawatan kamar Emily.


Emily bersandar di dada bidang Garry.


"Sebelum kita menikah, cukup seperti ini, aku sudah bahagia." Garry membelai lembut rambut Emily, dan mendaratkan ciuman di sana.


Ceklak!


Suara pintu terbuka membuat Emily dan Garry terkejut, Emily mengira Janet yang kembali, namun perkiraannya salah, ternyata itu David.

__ADS_1


"Santai saja, tetaplah seperti itu jika kalian nyaman," ucap David.


Emily tetap menegakan tubuhnya. "Ada apa Dav, sepagi ini kamu sudah mengunjungiku."


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin menunaikan janjiku, jika aku dan Betris bercerai, aku akan memberimu apa saja yang kamu mau. Sekarang, katakan apa yang kamu mau Em?"


"Aku tidak menginginkan apa-apa, keajaiban dunia sudah ada dalam pelukanku." Emily memeluk Garry di depan David.


Garry merasa terbang ke atas awan, kata-kata Emily sederhana, namun dia sangat bahagia.


"Ya aku tahu Garry adalah kebahagiaanmu, tapi aku hanya ingin memberikan apa yang pernah aku janjikan," ucap David.


"Pertama, aku ingin keluar dari Rumah Sakit ini, kedua aku ingin menikah dengan Garry di desa Pamanku, tapi kami tidak punya alasan untuk melakukan perjalanan jauh," ucap Emily.


"Di mana desa Pamanmu?" tanya David.


Emily menyebutkan alamat Pamannya.


"Aku punya pabrik di sana, saat ini tengah melakukan pembangunan, bagaimana setelah kita keluar dari sini, kita langsung ke sana?" tawar David.


"Ya, aku butuh alibi untuk pengakuan kalau aku menikah, dan kalian butuh jalan untuk ke sana. Jadi ... kamu telepon istrimu, bilang kalau aku tidak mau kerjasama kalau tidak pergi dengan Emily."


Garry merasa ide David sangat cemerlang, dia langsung menghubungi Lesty.


"Garry! Kemana kamu tadi malam?! Mulai belagu kamu ya sekarang! Kamu tidak kembali setelah mengantar kedua orang tuamu! Kenapa?! Kamu tidak suka kalau aku berbicara kenyataan?!"


Tekad Garry untuk meninggalkan Lesty semakin bulat. "Aku kembali ke kantor, ada urusan dengan Perusahaan David, kamu tahu dia ingin membatalkan kerjasama kalau Emily tidak ku bawa untuk perjalanan bisnis bersama David."


"Perjalan bisnis? Mengapa baru mengatakannya sekarang?"


"Aku juga baru tau Lesty ... ini dadakan."


"Kemana?"

__ADS_1


Garry melirik pada David. "David, kemana perjalanan kita?"


Mendengar suara David di ujung telepon sana membuat Lesty sangat terkejut. Dia mendengar jelas David menyebutkan tujuan mereka.


"Kalau begitu, cepat ajak Emily, ini kesempatan baik!" ucap Lesty.


"Emily sakit, ini aku dan David tengah memastikan keadaannya," ucap Garry.


"Pastikan dia mau, jangan sampai dia menolak dan berimbas pada batalnya kerjasama!" kecam Lesty.


Garry semakin muak dengan istrinya yang tidak mau tahu dengan keadaan orang lain demi tujuannya. Dia memutuskan panggilan telepon mereka secara sepihak.


"Seperti perkiraanmu Dav, Lesty pasti mendesak kalau demi Perusahaan," ucap Garry.


"Kalau istri-istri zaman sekarang lebih tampan layar handphone dari wajah suaminya, maka istrimu lebih tampan nominal rekening dan prestasi perusahaan daripada suaminya." David melirik pada Emily. "Sedang dia berbeda, dia tidak memikirkan semua itu, apa yang menjadi targetnya, akan dia kejar sampai dia dapat, kalau bosan dengan Emily, jangan sakiti dia, berikan saja padaku," goda David.


"Asem kau, kau pikir aku barang!" Emily melempar buah kearah David.


Ceklak! Pintu kembali terbuka.


"Selamat pagi semuanya." Terlihat Janet masuk ke kamar Emily dengan membawa banyak kantong di tangannya. "Maaf, aku beli banyak, aku bingung mau beli apa."


"Tidak apa-apa Janet, lagian kita punya tambahan tamu."


Janet melirik kearah Emily mengisyarat. Dia sangat terkejut melihat bosnya ada di ruangan itu.


"Pak David?"


"Kenapa Janet ada di sini?" David tidak kalah terkejut.


"Janet adalah sahabatku." Emily menoleh kearah Janet. "Dan David adalah kekasih haluku."


"Sudah jangan canggung, di Perusahaan kita memang sebagai atasan dan bawahan, tapi di sini, kita adalah teman," sela Garry.

__ADS_1


"Ayo Janet, buka makananya, aku lapar ...." rengek Emily.


__ADS_2