
Setelah melepas peredam suara senjata apinya, laki-laki itu membersihkan jejak sidik jarinya, merasa aman, dia meletakan senjata api itu di tangan Arsyila. Seolah Arsyila bunuh diri karena menembak dua rekannya.
"Bagaimana Tuan Adam? Apakah sudah aman?" tanya salah satu anak buahnya.
"Cepat sebar bukti palsu yang kita rancang, sebagai penguat kalau mereka bertengkar karena pembagian saham," ucap Adam.
Anak buah Adam segera melakukan apa yang bosnya perintah.
Adam memandangi jasad Arsyila yang tergeletak di depannya.
Dulu kalian memalsukan kasus kematian adikku, sekarang rasakan, aku telah membalas perbuatan kalian pada Adikku dan suaminya! jerit hati Adam.
"Tuan tinggalkan tempat ini, aku akan menghilangkan jejak kaki kita dan mengatur 3 kali suara tembakan nantinya."
Selesai melakukan aksinya, Adam dan anak buahnya meninggalkan ruangan itu lewat jalur aman.
***
Sedang di kediaman Zein. Suasana sore terasa sangat berbeda. Gelak tawa Friska terdengar sampai teras rumah. Zein memasuki rumahnya, mendekati sumber suara itu.
"Ha ha ha haaaa! Geli tante." Namun suara tawa Friska kembali pecah.
"Katanya geli, kenapa masih suka?"
Zein sangat mengenali, itu suara Emily.
"Sudah ... sudah, kamu bantu balur saja. Sudahan main-mainnya."
Srak!
Saat Zein membuka Gorden kedua matanya sangat jelas melihat perut bulat Emily tanpa di tutupi selembar benang pun. Perut itu terlihat glowing karena cairan mengkilap yang menyapu permukaannya.
Emily langsung menutupi bagian perutnya, saat melihat Zein ada di depan pintu.
"Idih papa ... kenapa nggak permisi dulu sih ...." keluh Friska.
Zein merasa canggung atas pemandangan yang sempat dia lihat barusan. Zein berusaha memasang wajah dinginnya. "Sejak kapan papa harus permisi membuka gorden kamar putri papa?"
"Tapi kan ada tante Emily di sini."
"Papa hanya penasaran, apa yang membuat putri papa sangat bahagia."
__ADS_1
"Aku bahagia punya teman, walau tante Emily bos papa, aku merasa mendapatkan perhatian seorang mama, sejak tante Emily tinggal bersama kita, aku merasa keluarga kita lengkap."
"Bahagia boleh, tapi jangan terlalu."
"Kenapa Pa?"
"Tante Emily hanya sementara di sini, setelah keadaan di kota aman, tante Emily mungkin akan pergi," ucap Zein.
Friska langsung menoleh pada Emily, sepasang matanya nampak berkaca-kaca mendengar Emily akan pergi. "Tante akan pergi?"
Emily mengangguk pelan.
"Jangan pergi ... aku bahagia tante di sini, aku senang tante di sini ...."
Emily bingung menjelaskan pada Friska kenapa dirinya terpaksa bersembunyi di desa mereka selama ini, mengatakan pembunuhan membuat mental anak itu kacau. Emily menemukan ide. "Tempat tante banyak yang sakit, tante takut anak tante juga sakit kalau tante sakit, sebab itu tante ikut Ayah Friska dan tinggal sama kalian. Kalau orang-orang sekitar tante sudah sehat, tante akan pulang." Emily mengusap lembut sisi wajah Friska.
"Jangan pergi ...." Friska langsung memeluk Emily.
Emily menatap sayu pada Zein, tatapannya seakan meyimpan pertanyaan, bagaimana dia bisa pergi.
"Dalam hidup ini, selalu ada datang dan pergi. Ada datang sebentar saja, dan ada yang datang dalam kurun waktu yang lama. Karena setiap orang punya kehidupan masing-masing. Papa tahu Friska sayang tante Emily, menyayangi tante Emily bukan memaksanya menetap di desa ini selamanya sayang ...."
Zein duduk di samping Emily, tangannya mengusap kepala Friska yang masih tenggelam dalam dekapan Emily. "Kamu sayang tante Emily?"
"Kalau sayang ... jangan buat tante Emily sedih. Mulai detik ini, nikmati kebersamaan kalian, buat tante Emily bahagia. Hingga walau kalian terpisah jarak, rasa rindu akan mengikat hati kalian."
"Tapi aku nggak mau tante pergi ...."
"Tante nggak pergi sekarang kok, tante masih pengen main sama Friska, masih pengen perut tante di balurin sama Friska, dedenya juga suka kalau Friska main sama perut tante.
Friska terlihat ceria, dia menarik diri dari pelukan Emily dan menegakan tubuhnya. Dia meraih tangan Zein dan meletakannya di perut Emily. "Coba papa sentuh, dedeknya gerak-gerak pah, geli ...."
Zein merasakan seluruh titik sarafnya berdenyut saat tangannya menyentuh permukaan perut Emily. Begitu pula Emily, rasanya aliran darahnya mengalir begitu cepat, membuat sekujur tubuhnya terasa menghangat.
Pandangan keduanya bertemu, entah apa yang terlihat, namun waktu seakan terhenti ketika dua pasang mata itu beradu tatap.
"Papa ngerasa nggak pergerakan dedek bayi di dalam sana?" Friska cekikikan merasakan pergerakan bayi Emily.
Hal ini menyadarkan Zein dan Emily yang terhanyut dalam khayalan kosong mereka. Zein ingin menarik tangannya, namun di tahan oleh satu tangan Friska yang lain. Emily dan Zein sama-sama canggung oleh keadaan ini.
"Sudah berapa usia kandunganmu?" Zein berusaha meleburkan kecanggungan yang terjalin, dia menarik tangannya dari perut Emily.
__ADS_1
"Minggu depan masuk bulan ketujuh."
"Saat pemeriksaan ada masalah?"
"Tidak, semuanya baik-baik saja, hanya saja dia sangat pemalu, sejak pemeriksaan memasuki bulan keempat, sampai kemaren, dia masih menutupi gendernya," sahut Emily.
Zein teringat akan kabar dari kota yang barusan dia terima. "Friska, Nenek Geya mana?"
"Paling di dapur, Nenek suka merajut sekarang, katanya buat topi aku sama adek bayi biar samaan."
"Bilangin Nenek Geya ya ... bikinin papa kopi."
"Iya pa." Friska segera berlari menuju dapur.
Hingga di kamar itu tinggal Emily dan Zein.
"Ada kabar dari kota, Nyonya Arsyila dan Kakaknya meninggal, menurut informasi Nyonya Arsyila membunuh kakaknya dan rekan kerjanya, karena frustasi, dia bunuh diri. Itu info yang beredar," ucap Zein.
"Berarti aku aman jika aku kembali ke kota?"
"Mungkin, tapi sebaiknya kamu tanya Tuan Adam dulu."
"Hanya ini yang ingin aku ceritakan, aku menceritakan bukan mengusirmu, justru aku sangat bahagia kamu ada di sini, tapi aku tidak bisa menahanmu untuk selamanya tinggal di sini, memangnya aku siapa?" Zein berdiri lebih dulu, saat dia ingin meninggalkan kamar, dia tidak tega melihat Emily kesulitan berdiri.
"Sini aku bantu." Zein mengulurkan tangannya pada Emily.
"Terima kasih, aku bisa sendiri."
Zein tetap mengulurkan tangannya walau Emily tetap berusaha sendiri. Sejenak Emily menatap tangan Zein yang masih mengulur padanya.
"Aku tahu kamu wanita hebat, segalanya bisa sendiri, tapi ada beberapa hal kadang kita butuh bantuan orang lain," ucap Zein.
Emily masih mematung.
"Seperti hal nya menangis, kita menangis bukan berarti kita lemah, hanya saja dengan menangis beban yang yang bertumpu terasa berkurang."
Emily meraih tangan Zein, Zein segera membantu Emily untuk bangkit.
"Ya ampun, ternyata kamu berat juga," ucap Zein.
"Ada dua kehidupan pada diriku, belum beban dosaku, wajar aku berat."
__ADS_1
Pegangan tangan itu, bagaikan aliran listrik yang menghantarkan segala getaran kesemua batang tubuh, saat Emily berdiri sempurna, keduanya masih mematung dan beradu tatap.