
Afrida terus memasuki rumah itu, sejak tadi dia memanggil nama Zein dan Friska, tapi tidak ada seseorang keluar menyambutnya. Samar dia mendengar suara yang membuat bulu kuduknya meremang.
Semakin Afrida mendekati pintu menuju dapur, semakin jelas dia mendengar suara jeritan manja itu.
Srakkk!
Afrida kesal, dia membuka gorden pintu itu, hingga sangat jelas melihat Emily yang membungkuk, kedua tangannya bertumpu pada meja, dan Zein yang berdiri tegak di belakang Emily.
Saat melihat sosok Afrida, Zein terlihat meraih sesuatu dari lantai dan memakaikannya ke tubuh. Sedang Emily berusaha memperbaiki roknya.
"Apa yang kalian lakukan siang-siang begini?! Suaramu itu akan merusak mental anakku jika di mendengar!" omel Afrida.
"Apa yang kami lakukan? Bukankah ini hal lumrah bagi sepasang suami istri?" ledek Emily.
"Anak? Sejak kapan kamu memikirkan Friska, kalau kamu benar memikirkan dia, tentu kamu ingat saat ini dia sekolah!" Wajah Zein terlihat sangat datar.
"Cepat katakan apa maksud kedatanganmu kemari, perjalanan kami masih jauh, rasanya dingin sekali mandi kalau kami tak mendapat hasil."
Afrida sangat kesal, dia melangkah maju medekati Emily dan Zein, melihat Emily bermandikan keringat seperti itu, pikirannya terbang entah kemana. Sesaat matanya tertuju pada perut buncit Emily. "Kau hamil?"
"Biasa bukan wanita yang bersuami hamil, yang nggak punya suami aja juga bisa hamil," sahut Emily dingin.
Langkah Afrida terganggu oleh sesuatu, saat dia mencari tahu apa yang terinjak oleh hak sepatunya, Afrida langsung menghindari benda itu.
"Ahhh!" Dia jijik dengan ****** ***** wanita yang tidak sengaja dia injak. "Kalian!" Afrida tidak tahu bagaimana meluapkan kekesalannya pada Emily dan Zein.
"Beruntung aku yang terinjak, bagaimana kalau Friska!"
"Sudah dibilang Zein Friska Sekolah, kamu kok masih muda sudah punya penyakit alzheimer!" ledek Emily.
"Saat ini Friska Sekolah, dan bibi Geya menjaganya di sekolah, sebab itu tempat ini jadi surga kami berdua," sela Zein.
"Sesaat keindahan surga itu hilang saat penduduk sebelah datang mengganggu." Emily menambahi.
"Penduduk sebelah? Sebelah surga kan Neraka? Kau bilang aku penduduk Neraka?!" maki Afrida.
"Kamu terlalu cerdas, pantas saja lelaki hebat seperti Zein kamu buang, kamu memilih laki-laki berdompet tebal daripada Zein yang memiliki keperkasaan super tebal. Kamu aneh, uang kamu sudah punya banyak, buat apa lagi coba menambah pundi-pundi materi, bersama Zein kamu dapat kepuasan, bersama suamimu itu?" Emily terlihat meledek Afrida.
"Aku yakin, baru masuk, terus naik turun 5 kali dia finish duluan."
Kemarahan Afrida semakin berkobar mendengar kata-kata Emily.
"Eh maaf, lawan suamimu bukan aku, kalau wanita kaku kayak kamu yang kutu brangas, mungkin dia bisa bertahan 5 menit. Tapi kalau sama aku ya paling 5 detik sudah meledak."
"Ada apa Frida? Pasti ada hal penting hingga kamu menyempatkan diri mampir di gubuk kami?" sela Zein.
"Aku ingin mengantar undangan resepsi pernikahanku, jangan tidak datang ya." Afrida mengambil sesuatu dari tasnya, dan meletakannya diatas meja.
__ADS_1
"Kami akan datang," ucap Emily.
"Tentunya, kalau tidak datang kalian tidak akan bisa menikmati menu makanan enak yang tersaji," ledek Afrida.
"Makan kami memang sederhana, kadang cuma nasi sama sayur. Tapi cinta yang kami miliki membuat kami tidak memikirkan apa yang kami makan, karena makan untuk memperkuat tubuh kami untuk melanjutkan hidup, bukan hidup memikirkan makan."
"Ada lagi?" tanya Zein pada Afrida.
"Yah ... tongkat perkasa kamu tidur," rengek Emily. "Tidak masalah, aku ahli membantunya berdiri tegak."
"Tidak usah diragukan lagi, dia akan berdiri tegak walau hanya mendengar kamu memanggil namaku," sahut Zein.
"Mbak, aku bukan ngusir, karena ini waktu kamu berpetualang, kami ingin lanjut. Andai mbak maduku sih ... kita main bertiga okelah."
Rasanya level kemarahan Afrida sampai ke ubun-ubun, tanpa permisi dia berbalik meninggalkan dapur itu.
"Mana si plontos kesayanganku ... ayo bangun sayang ...." ucap Emily manja.
Mendengar hal itu Afrida semakin mempercepat langkah kakinya.
Mendengar suara mobil meninggalkan rumah Zein, Emily dan Zein tertawa terbahak.
"Huh ...." Zein berusaha menyudahi tawanya. Sedang Emily memungut cd yang teronggok di lantai, dan melemparnya ke wadah cucian kotor.
Keluar dari kamarnya Emily berlalu begitu saja menuju kamar mandi, setelah dari sana dia menarik salah satu kursi dan duduk di sana.
"Sudah ku bilang tutup telingamu, tapi kamu tidak mau."
Zein berulang kali menggelengkan kepalanya, Emily nakal dan unik menurutnya.
"Bagaimana? Mau menghadiri resepsi mantanmu?" tanya Emily.
"Menurutmu?"
"Kalau hari libur, bawa Friska sekalian, kalau hari sekolah, ya kita berdua hadir. Bagaimana?"
"Oke aku setuju. Terus mau beliin hadiah apa buat Afrida?" tanya Zein.
"Buat Afrida, beliin dia Lingerie terbaik, kalau beli murah nanti dia ngomel lagi. Am ... sama ...." Emily berbisik di telinga Zein.
"Magic tissue? Kamu waras?"
"Sejak kapan aku waras, orang normal pasti malu memperlihatkan keburukan."
"Tapi ...." Ide Emily begitu mengganjal di hati Zein.
"Kan saat mereka buka kado, kita nggak ada, beliin itu di toko obat, em ... 10 kotak."
__ADS_1
"Dasar aneh ...." gerutu Zein.
"Dasar kaku ...." ledek Emily pada Zein.
***
Di Kota.
Brak!
Laki-laki itu menggebrak meja, 6 bulan dia menunggu penyelidikan Emily, namun sampai saat ini dia tidak bisa menemukan keberadaan Emily.
"Bagaimana bisa kita kehilangan jejak Emily! Bukankah titik terakhir dia menuju Paris!" makinya.
"Maaf Tuan, tidak ada jejak digital. Target tidak menggunakan kartu kreditnya selama 6 bulan ini, panggilan keluar atau panggilan masuk juga tidak pernah ada."
"Kamu melacak mantan suaminya Garry?" tanya Arsyila.
"Bahkan anak buah saya mengikuti Garry ke desanya, di sana mereka hanya hidup bertiga."
"Berarti benar kata Lesty, Emily menghilang karena bercerai dengan Garry, andai kita menemukan dia, ini sangat mudah untuk menyamarkan pembunuhan. Tinggal kita atur kalau Emily bunuh diri karena ditinggal Garry."
"Owh, jadi kalian masih berambisi untuk menghabisi Emily?"
Mereka semua terkejut ada suara asing di ruangan yang hanya ada mereka bertiga.
"Siapa kamu! Tujukan batang hidungmu, jangan sembunyi pengecut!" suara itu seakan menggema di ruangan tersebut.
"Sudah lah Xander, siapa aku kalian tidak perlu tahu."
Saat yang sama asap putih keluar dari ventilasi udara, dan membuat ruangan itu di penuhi kabut putih.
5 menit berlalu, Xander, Arsyila, dan ahli peretas itu pingsan.
Setelah asap putih itu menghilang, Perlahan satu sosok memasuki ruangan Xander. Dia memasang pipa besi yang panjang di depan senjata apinya.
Shut!
Satu peluru menembus kepala si peretas itu.
Shut!
Peluru kedua menembus kepala Xander.
Shut!
Peluru ketiga menembus kepala Arsyila.
__ADS_1
Laki-laki itu perlahan melepas peredam suara yang dia pasang di depan senjata apinya.