
Zein merasa salah bicara. "Maafkan aku, bukan maksudku--"
"Santai saja, aku hanya menertawakan diriku sendiri, aku merendahkan diriku sendiri demi balas dendam, saat aku mampu membalas semuanya, aku tidak mendapat apa-apa."
Emily berulang kali mengatur napasnya. "Dendam suatu perkara buruk, bahkan termasuk sifat tercela, aku bukan mencari jalan untuk menenangkan hati misal berusaha menghapus dendamku, aku malah memanjakan sifat buruk ini."
"Lupakan semua itu, mulai kehidupan baru, lembaran baru dengan anakmu di tempat ini."
Emily tersenyum, dan menganggukan kepalanya begitu semangat.
***
Matahari semakin meninggi, segala urusan di Rumah Sakit sudah diselesaikan, Emily saat ini duduk di kursi roda yang baru dibelikan Zein.
"Tunggu sebentar di sini ya, aku ambil mobil dulu," ucap Zein.
Emily mengangguk pelan menanggapi ucapan Zein, sedang laki-laki itu sudah berlari kearah parkiran. Beberapa menit kemudian sebuah mobil parkir tepat di depan Emily, saat kaca jendela mobil itu turun, Emily tersenyum, itu adalah Zein.
"Aku langsung masuk saja, kamu bantu lipat kursi rodaku ya," pinta Emily.
"Siap!" Zein turun dari mobilnya, saat dia mendekati Emily, langkahnya terhenti saat melihat sepasang suami istri berdiri di belakang Emily.
"Dia istrimu?" tanya wanita yang berdiri di belakang Emily.
Merasa ada suara, Emily menahan pergerakannya, dia tidak jadi berdiri, dia menoleh kearah suara itu.
"Siapa pun dia, bukan urusanmu," sahut Zein. Zein menyentuh pundak Emily. "Langsung masuk ke mobil saja."
Perlahan Emily berdiri.
"Owh, jadi dia tidak cacat?" ucap wanita itu.
Zein tidak menanggapi, dia fokus melipat kursi roda Emily dan memasukannya ke bagasi.
Emily mengamati perubahan wajah Zein yang mendadak dingin, padahal laki-laki itu sangat ramah pada siapa saja.
__ADS_1
"Mereka siapa?" tanya Emily pada Zein.
"Jadi ... kamu tidak tahu siapa aku?" sela wanita itu.
Emily menggelengkan kepalanya pelan.
"Rupanya Zein tidak menceritakan mantan istrinya pada istri barunya," ucap wanita itu. "Aku Afrida, mantan istri Zein."
"Owh mantan istri Zein. Begini mbak, Zein tidak mau menoleh kebelakang, aku juga tidak kepo dengan masa lalunya, karena masa lalu Zein biar jadi urusannya, dan aku hanya ingin tahu bagaimana rencana masa depan kami," sahut Emily.
"Sudahlah, ayo kita masuk mobil," ajak Zein pada Emily.
"Nona ini tidak cacat, kenapa dia tadi duduk di kursi roda?" tanya laki-laki yang berdiri di samping Afrida.
"Aku memang tidak cacat, hanya saja ...." Emily menahan ucapannya.
"Hanya saja apa? Biar orang kasihan padamu?" tebak Afrida.
"Bukan, terlalu fulgar untuk aku ceritakan," sahut Emily.
"Maafkan aku, karena aku harus membongkar rahasia kita," rengek Emily.
Emily kembali menatap pasangan itu. "Am ... entahlah, mungkin karena aku wanita yang sangat lemah, atau Zein yang terlalu perkasa, jika kami habis melewati malam panjang." Emily memberi kode yang mengisyarat adegan panas dengan gerak mata dan tangannya. "Setelah itu, aku tidak mampu berjalan. Lemas rasanya kedua lututku. Dugaanku sih bukan aku yang lemah, tapi Zein yang sangat perkasa."
"Itu penyiksaan Nona!" sela pasangan Afrida.
"Penyiksaan? Justru aku sangat menikmatinya, walau akhirnya harus menggunakan kursi roda tidak masalah."
"Lalu kenapa kalian ke Rumah Sakit? Artinya dia menyiksa kamu bukan?" sela Afrida.
"Ayolah mbak, mbak lebih dulu tahu bagaimana ehemnya Zein di tempat tidur, masa aku harus menjelaskan?" goda Emily.
"Emily sudah ...." bisik Zein.
Emily tidak peduli, dia terus menatap kedua orang yang terlihat sangat angkuh itu. "Zein memang hanya laki-laki miskin, tapi yang itu ... uhhhh ...." Emily menampakan Expresi yang membuat pasangan Afrida melotot.
__ADS_1
"Sudah dulu ya, membayangkannya saja aku ingin merasakannya lagi, ayo sayang kita pulang." Emily menepuk lembut pundak Zein.
Perlahan Emily masuk kedalam mobil. "Kamu sih tidak percayaan, sudah dengar kan kata dokter kalau aku baik-baik saja. Jangan kurangi volomenya lagi, aku suka yang biasa."
Emily sengaja mengeraskan suaranya, agar mantan istri Zein bisa mendengar semuanya dengan jelas.
Zein terus menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir Emily langsung membungkan mulut Afrida dengan cerita halunya, biasnaya Afrida akan terus merendahkannya dan membanggakan pasangannya.
Perlahan Zein melajuan mobilnya, meninggalkan Area Rumah Sakit, dan meninggalkan dua orang yang masih mematung menatap kepergian mereka.
*
"Kau sangat iseng!" ucap Zein.
Emily masih tertawa membayangkan raut wajah mantan istri Zein dan pasangannya.
"Dari cara bicaranya, pada akhirnya dia akan membanggakan diri dan merendahkan kita, apa yang bisa aku banggakan untuk melawannya, ku lihat pasangannya rada anu, ya paling tepat berbohong kalau kamu pejantan tangguh yang membuat lawan tumbang, itu cukup membungkan mereka, ternyata berhasil." Emily terlihat sangat bahagia.
"Afrida tidak terima kekalahan, mungkin nanti dia akan mampir ke rumah untuk membayar kekalahannya," ucap Zein.
"Tidak masalah, aku tunggu. Dia belum tahu siapa Emily."
Mobil yang Zein kendarai terus melaju membelah jalanan, hingga mobil itu perlahan menurunkan kecepatannya, dan memasuki sebuah hotel.
"Kartu akses kamar kamu mana, biar aku ambilkan barang-barangmu."
Emily memberikan kartu akses pada Zein. Sedang Zein bergegas menuju kamar Emily, dan membereskan semua barang-barang Emily.
Beberapa menit kemudian Zein turun, memastikan kalau bawaannya lengkap. Mendapat jawaban dari Emily kalau barangnya lengkap, Zein segera menemui putrinya.
Beberapa menit menunggu di mobil, dari arah pintu masuk, terlihat Zein berjalan dengan seorang wanita paruh baya, dan seorang gadis cilik yang sangat cantik, gadis itu melempar senyuman pada Emily.
***
Bersambung.
__ADS_1
Maaf kalau rada rancu kata-katanya, lagi diburu tugas RL, seadanya dulu ya