POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
Bab 38


__ADS_3

Tuan Ajiman memandangi Emily dan Garry bergantian. "Lesty sosok wanita yang sulit aku kategorekan. Tapi dia tidak akan rela dipoligami, antara Lesty dan Emily, mana yang ingin kamu pertahankan?"


"Maafkan aku Kek, tanpa mengurangi rasa hormatku pada Kakek, aku minta maaf, karena hatiku tidak kuat lagi menerima segala penghinaan Lesty. Aku memang gembel dan miskin, tapi aku punya hati Kek."


Sejenak Garry menunduk. "Maafkan aku, aku berusaha sabar dan menerima semuanya, hanya demi Kakek."


"Setelah pesta ulang tahun Lesty, kamu harus mengatakan pada semua keluarga, tidak mungkin kamu selamanya menyembunyikan Emily bukan?"


"Aku menunggu waktu yang tepat Kek."


"Jika kamu meninggalkan Lesty, kamu siap dengan semua konsekuensinya?" tanya Kakek Ajiman.


"Sangat siap kek."


"Baiklah, kita fokus pada acara Lesty dulu." Kakek Ajiman pergi begitu saja meninggalkan tempat acara.


Setelah Tuan Ajiman pergi, Garry sangat tidak percaya dengan hal baru yang terjadi. "Ini bukan mimpi kan sayang?"


"Ini nyata."


"Aku sangat kaget, aku kira Kakek akan marah-marah."


"Kakek tahu kebahagiaanmu adalah aku, makanya beliau hanya ingin meminta kamu memilih."


"Kamu siap hidup di kontrakan sederhana setelah ini?"

__ADS_1


Emily tersenyum, dia meraih tangan Garry dan menciuminya. "Di mana saja, asal bersamamu."


Saat yang sama, ada sosok lain yang melihat itu, dia mengabadikan semua momen dengan kamera handphonenya.


"Ayo kita ke pesta dulu."


"Kamu duluan sayang, nanti aku menyusul," ucap Emily.


Garry menuju tempat pesta lebih dulu, dia segera bergabung dengan istrinya dan beberapa kolega lain.


Karena yang mereka tunggu sudah datang, acara segera dimulai. Di kejauhan Athaya sangat bahagia melihat kebersamaan Lesty dan Garry. Perlahan dia maju mendekati Lesty, untuk mengucapkan selamat dan memberi doa pada menantunya.


Melihat Athaya dan Nala mendekat, Lesty mulai panik. Dia menarik Garry ke belakang. "Aku tidak mau tau, jangan sampai teman-temanku tahu dia ibumu."


Salah satu teman dekat Lesty memanggil.


"Itu bukannya pelayan kamu Les? Baik banget kamu, karena pelayan itu terlihat seperti tamu pada umumnya."


"Mati aku!" omel Lesty pelan.


Senyum Athaya seketika hilang, walau dia sudah memakai baju bagus, tetap saja Lesty tidak memandangnya sebagai mertua.


"Bu, apa-apaan ini, kenapa teman-teman Kak Lesty mengatakan ibu pelayan?" gerutu Nala.


Athaya tidak ingin mempermalukan Lesty, dia bingung, harus maju atau berbalik.

__ADS_1


"Bu mencariku ya?" Dengan santainya Emily menggandeng lengan Athaya.


"Maaf ya Nona-Nona, beliau mencariku, beliau kelurgaku dari desa." Emily menoleh pada Athaya. "Kenapa berdiri saja di sini, ayo ke kursi kita."


Athaya mematung mendapat pertolongan Emily. Dia terus menatap istri kedua putranya itu. Dalam hatinya bergertik, berusaha memahami kenapa Putranya nyaman bersama istri keduanya.


"Eit ... mau kemana kau pelakor!"


Ucapan itu seketika menarik perhatian semua tamu.


Pelakor? Apakah Nyonya ini sudah tahu kalau Emily istri Garry? Athaya terus menatap sosok wanita paruh baya itu.


"Bu Arsyila, ini pestaku, tolong jangan membuat kekacauan di sini!" tegur Lesty.


"Aku hanya ingin membuktikan, kalau Emily ini selingkuhan suami kamu!"


Semua tamu seketika menatap Garry dan Emily bergantian.


"Jika tidak punya bukti, jangan berbicara sembarangan!" tegur Andita.


"Aku punya bukti." Arsyila memanggil salah satu panitia, dia meminta panitia menghubungkan handphonenya dengan layar besar di belakang panggung.


"Tabahkan hatimu setelah melihat foto-foto itu." Sesaat pandangan Arsyila beralih pada Emily. "Dasar pelakor!"


Lesty tidak mau kekacauan ini terus berlarut, dia meminta salah satu panitia melakukan apa yang diminta Arsyila. Kabel terhubung, foto besar pun tampak di layar monitor besar. Semua orang sontak menutup mulut mereka yang terbuka lebar karena melihat tampilan layar besar itu.

__ADS_1


__ADS_2