POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
Bab 37


__ADS_3

Sejak kepergian Garry, Perusahaan Garry untuk sementara di pegang oleh Aji. Hal ini membuat Emily dan Aji sering bertemu. Emily bersikap layaknya seorang bawahan pada atasan, seakan dirinya tidak mengenal Aji.


"Kamu senang bekerja di sini Em?" Aji berusaha membuka obrolan mereka.


Emily memberikan senyumannya dan menganggukan kepalanya. Dia fokus nemeriksa berkas yang dia berikan, memastikan tidak ada yang dilewatkan Aji.


"Sudah semuanya, Pak. Terima kasih, saya undur diri dulu."


"Em, kenapa sekarang kamu dingin padaku?"


"Maaf, kehalusan dan kehangatanku hanya untuk suamiku." Emily segera keluar dari ruangan Garry yang Aji tempati.


Jam makan siang tiba. Seperti biasa. Emily mengurung diri di ruanganya, dia gunakan waktu rehat itu untuk makan siang dan melakukan panggilan video dengan Garry.


"Bagaimana perasaanmu bekerja bersama Aji?" tanya Garry.


"Sangat buruk, setiap saat aku merindukan kamu. Kini ladangku dan hatiku jadi kering, tidak ada lagi yang menyiraminya."


"Sabar, aku akan kembali setelah semua pekerjaanku selesai."


"Sayang ... maafkan aku, aku tidak bisa memantau keadaan ibu, Ayah, dan Adikmu. Setelah mereka tahu aku istri simpananmu, mereka selalu menjaga jarak denganku."

__ADS_1


"Tidak masalah, mereka hanya bingung, ingin menerima kamu, namun juga tidak ingin melukai Lesty. Jadi ... seperti katamu, biarkan semua berjalan pada tempatnya masing-masing."


***


Hari ulang tahun Lesty pun tiba.


Semua tamu undangan mulai memenuhi tempat acara, Emily adalah bagian event organizer yang menghandle acara ini. Emily terlihat sibuk memastikan beberapa hal.


"Jika Lesty tahu pemikirannya benar, kalah kamu adalah pelakor yang mengancam rumah tangganya, apakah dia bisa memaafkanmu?"


Emily melepas pekerjaannya, dia berbalik ke sumber suara itu. "Andai Lesty tahu, aku tidak butuh maaf Lesty, bu. Karena aku hanya butuh anak ibu."


"Karena Garry adalah laki-laki baik, dan aku wanita yang buruk, wanita yang buruk butuh pembimbing untuk memperbaiki hidupnya."


Athaya bingung dengan cara apa meminta Emily meninggalkan putranya.


Drtttt! Drtttt!


Suara getaran handphone membuat fokus Emily buyar. Setelah mengintip layar benda yang berbentuh pipih persegi panjang itu, Emily menegakan wajahnya menatap wajah ibu Garry.


"Maaf ya bi, bukan maksud saya meninggalkan bibi, tapi saya ada perlu." Emily segera meninggalkan tempat acara, dan berjalan cepat menuju tempat yang dia janjikan denga sosok yang berkirim pesan dengannya.

__ADS_1


Saat melihat punggung laki-laki yang dia rindukan, Emily langsung memeluknya dari belakang. "Aku sangat merindukan kamu, sayang ...."


Garry tersenyum, dia segera berbalik. "Aku juga sangat merindukan kamu, kamu tahu dari bandara bukannya aku langsung ke pintu depan, aku malah menyusup lewat pintu belakang. Agar pertama kali orang yang aku temui adalah dirimu."


Emily sangat bahagia, dia langsung membungkam mulut Garry dengan mulutnya. Pangutan itu semakin liar karena kini bercampur dengan perasaan yang lama tertahan.


"Ternyata langkahku mengirimmu lama keluar Negri membuahkan hasil, karena aku yakin, orang pertama yang kamu temui adalah simpananmu."


Emily dan Garry sangat terkejut, sontak keduanya melepaskan ciuman mereka.


"Kakek ...."


Garry dan Emily kompak mengucapkan kata yang sama.


Sedang sosok yang mereka panggil Kakek itu terlihat tenang.


"Emily ...." Pandangan Tuan Ajiman tertuju pada Garry. "Pilihanmu sangat bagus, Emily sosok yang penyayang dan penuh cinta, selamat kamu menemukan wanita yang ideal untuk kamu jadikan istri."


"Maaf Kek, aku mengecewakan Kakek." sesal Garry.


"Kamu tidak mengecewakan aku, Garry, justru aku yang mengecewakan kamu."

__ADS_1


__ADS_2