
Afrida menatap tajam pada Emily. Selama dia di kota ini, dia tidak pernah bertemu Emily.
Sial!! Di mana Zein menemukan wanita ini!
Tepukan tangan terus menggemuruh, Afrida semakin kesal tamu-tamunya malah mengagumi penampilan Emily dan Zein, sedang dia dan suaminya tidak diperhatikan oleh tamu-tamu.
"Saat hamil besar saja kalian sangat romantis, apalagi kalau tidak hamil," puji tamu undangan yang lain.
Emily dan Zein sama-sama membuang pandangan ke arah lain. Hal yang baru saja berlalu benar-benar merubah segalanya.
"Ayo kita ke sana dulu." Zein mengajak Emily menuju meja kosong.
"Mau makanan apa? Aku ambilkan untukmu?"
"Tidak perlu, aku bisa ambil sendiri."
Emily dan Zein mengambil menu yang mereka inginkan, sedang Afrida mengutus seseorang untuk mencaritahu siapa Emily.
Selama di tempat acara, Emily dan Zein mendadak diam. Merasa tidak ada yang bisa mereka lakukan, Emily dan Zein memilih kembali.
Sesampai di mobil, Zein masih diam, dia berulang kali mengetukan jarinya ke kemudi mobil. Banyak hal yang ingin diucapkan, tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Dansa yang hanya beberapa menit itu merubah pandangan keduanya.
"A---" Zein membuka mulutnya, tapi tidak tahu harus mengatakan apa.
"Ku lihat kita tadi melewati toko perlengkapan bayi, bisa mampir sebentar?"
"Iya."
Zein mengingat di mana toko yang Emily maksud, dia segera mengemudikan mobilnya menuju toko itu.
Sesampai di toko itu, Zein hanya duduk di kursi yang berjejer. Dia tidak berani lagi dekat dengan Emily. Walau saat ini Emily jauh darinya, tapi mata Zein tidak bisa berhenti mengikuti kemana Emily melangkah.
Saat Emily akan menoleh padanya, Zein membuang padangannya. Emily fokus lagi pada keperluan bayi yang ingin dia beli, Zein kembali memandangi wanita itu.
Sejak kapan aku mengaguminya? Sejak pertama kali melihat fotonya, seorang perempuan yang unik
Zein teringat pertama kali dia melihat foto Emily, dan membaca data diri wanita itu, saat menerima misi dari Pak Adam. Senyum Zein semakin lebar saat dia dimaki oleh Emily di tempat gym.
Misi dari Pak Adam selesai, tapi takdir seperti mengikat dia dan diriku. Aku menerima misi baru dari laki-laki lain yang menginginkan keselamatan dirimu.
Zein teringat tugasnya dari David, dan tugasnya dari Garry.
Dulu, engkau selalu aku pandangi, rasa yang ada hanyalah kewaspadaan.
Saat ini ada perasaan aneh jika aku menatapmu, bahkan aku selalu ingin memandangimu, rasa ini bukan sekadar kekaguman, tapi ada perasaan aneh lainnya yang aku tidak mengerti itu apa.
"Kau lihat apa?" tanya Emily.
Zein baru sadar kalau Emily sudah berdiri di depannya.
__ADS_1
"Melihat belanjaanmu, banyak juga."
"Untuk bayiku hanya serba 6 pcs, beberapa untuk Friska, semoga dia suka."
"Jangan terlalu membuatnya bahagia, kalau kau pergi kasian dia yang terlalu menyayangimu. Andai kamu bersedia selamanya tinggal di desa kami, itu tidak masalah."
"Selamanya di sini?" tanya Emily.
"Ya, itu yang Friska inginkan."
Aku juga menginginkan hal itu, Em .... batin Zein.
"Kau aneh, Memangnya siapa aku bagi kalian?"
"Ya ... kamu keluarga kami."
"Apa ikatanku dengan kalian?"
Zein membisu mendengar pertanyaan itu.
"Jika orang bertanya apa aku bagimu, maksudku hubungan kita, kita bisa jawab apa?"
Zein masih bungkam.
"Aku hanya bisa tinggal sementara dengan kalian Zein." Emily mendorong kereta belanjanya menuju kasir.
Zein masih membisu, tapi dia mengekori langkah Emily. Kasir terlihat sibuk menghitung belanjaan Emily. Kasir menyebutkan totalan belanja Emily. Saat yang sama Zein dan Emily menyodorkan kartu mereka.
"Nanti posisimu terbaca jika kamu menggunakan kartumu."
"Sudah saatnya aku pergi."
Jangan pergi Emily ....
Zein hanya punya keberanian mengucapkan itu dalam hatinya.
Emily membuang padangannya ke arah lain, rasanya air matanya ingin keluar setiap dia mengucapkan kata pergi.
"Silakan mbak ...." Petugas kasir memberikan alat pembayaran non tunai pada Emily.
Hal itu sangat membantu Emily, dia punya pengalihan untuk mengusir kesedihannya. Zein langsung membawa semua belanjaan Emily ke mobilnya, di belakangnya Emily sengaja melangkah begitu lambat.
Aku sudah mengantisipasi untuk mengatur jarak denganmu 6 bulan ini, agar tidak ada perasaan cinta antara kita. Tidak ada larangan jika perasaan itu hadir, hanya saja aku perempuan yang terlalu buruk, tidak pantas untuk menjadi ibu Friska.
Zein sibuk memasukan belanjaan Emily ke bagasi, sedang Emily berlalu begitu saja masuk lebih dulu kedalam mobil.
Perjalanan pulang benar-benar canggung, keduanya tidak memiliki keberanian untuk saling menyapa.
*
__ADS_1
Sesampai di rumah, Emily memberikan baju-baju yang dia belikan untuk Friska. Friska sangat menyukai baju yang Emily berikan.
"Tante beli apa?" Friska kepo dengan isi tas belanja Emily.
"Beli baju buat dede."
"Aku boleh lihat tante?" Friska sangat semangat.
"Boleh, ayo kita lihat bareng-bareng di kamar tante."
"Kalian asyik sekali, ada beliin buat Nenek nggak?" sela bibi Geya.
"Maaf bibi G, toko yang kami singgahi hanya menjual baju anak-anak dan keperluan ibu hamil ...."
"Bibi hanya bercanda, ayo kita buka. Mana baju-baju buat cucu kecil bibi? Biar nanti bibi cuciin."
Mereka bertiga begitu semangat menuju kamar Emily.
Zein mematung memandangi punggung-punggung yang menggilang dibalik gorden itu.
Bagaimana hidup kami jika kamu pergi Emily? Apakah kami bisa tetap bahagia sedang ada dalam hati kami yang hilang
Zein berulang kali mengatur napasnya, dia segera masuk kedalam kamarnya.
**
Di kediaman Afrida.
Afrida sangat kesal mendengar laporan anak buahnya yang tidak bisa menembus informasi tentang Emily.
"Sial! Sehebat apa dia? Apa dia orang yang tidak beres?"
"Nona temui ketua RT di sana saja, barangkali ada data diri tentang wanita itu," usul suruhan Afrida.
"Kamu benar juga, jika aku tidak menemukan identitas dia, hal ini bisa aku pakai untuk mengompori warga agar mengusir dia."
"Ada lagi tugas saya, Nona?"
"Tidak ada lagi, kamu boleh pulang, aku mau buka kado dulu."
Afrida segera menemui suaminya yang menunggunya di kamar. Sesampai di kamar, Afrida langsung menuju tumpukan kado yang menggunung.
"Apa yang kamu cari istriku?"
"Aku cari kado dari mantan aku sayang. Aku mau tau dia dan istrinya memberi kita kado apa," jawab Afrida.
"Kamu ingat warna bungkus kado mereka sayang?"
"Mana aku tahu sayang, aku kan di pelaminan sama kamu, tapi aku sudah tugaskan yang menerima kado untuk menandai kado dari Zein dengan tanda XZ."
__ADS_1
"Aku menemukannya sayang." Suami Afrida memperlihatkan kado yang bertanda 'XZ' pada Afrida.
"Ayo bawa sini sayang, kita buka sama-sama, kita lihat apa isinya." Afrida sangat semangat.