
Sesampai di Rumah Sakit, Emily segera mendapatkan pelayanan medis. Tim dokter terlihat sangat serius memeriksa Emily.
"Keluarga Nyonya Emily ...." panggil perawat.
Zein langsung mendekati perawat itu. "Saya perwakilan keluarga Emily sus."
"Suaminya?"
Zein bingung harus menjawab apa, andai ada hal darurat pada Emily, akankah tim medis menerima persetujuan darinya.
Aku tidak punya urusan dengan Emily, saat ini dia juga bukan istriku lagi, aku sudah menceraikannya, dan apapun yang terjadi padanya, aku tidak peduli!
Zein terbayang dengan ucapan Garry sebelumnya.
Demi kebaikan Anda, maafkan aku Nona karena terpaksa mengakui Anda sebagai istriku.
"Iya, saya suaminya."
"Istri Anda tidak kenapa-kenapa, obat bius yang terhirup istri Anda juga semoga tidak berdampak pada janin yang tengah dia kandung."
"Janin?" Zein sangat terkejut mendengar hal itu.
"Iya, istri Anda saat ini hamil."
Zein mematung mengetahui Emily saat ini hamil.
"Kata dokter, istri Anda sebaiknya di rawat inap dulu, ini saja saya permisi dulu."
Kesadaran Zein belum kembali, namun perawat itu sudah pergi dari hadapannya. Siang itu Zein menjaga Emily di Rumah Sakit. Dia mengirim pesan pada putrinya untuk tidak menunggunya. Saat ini putri Zein menginap di sebuah hotel bersama bibu Geya.
**
Setelah menceritakan keadaanya pada Nala, Garry membawa kedua orang tuanya mencari kontrakan sementara, yang posisinya tidak jauh dari kampus Nala. Setelah membayar lunas sewanya, Garry bersama kedua orang tuanya memasuki kontrakan itu.
"Garry, pertengkaran suami-istri itu biasa, apakah tidak ada jalan damai untuk kalian berdua?" tanya Athaya.
"Tidak ada kata maaf untuk penipu, bu. Selama ini Emily menipu kita, dia mendekatiku hanya karena ingin balas dendam pada Lesty dengan menghancurkan pernikahan Lesty."
"Tapi kasih sayang yang Emily berikan tulus, kenapa tidak bicara dulu padanya?" ucap Athaya.
"Aku mau ke kantor Pak Adam, aku ingin mengundurkan diri di sana." Garry segera pergi meninggalkan kedua orang tuanya di sana.
***
Siang itu terasa sangat mencekam bagi Garry. Garry tetap kekeh mengundurkan diri, walau Pak Adam menahannya. Sedang Lesty sangat bahagia, karena menyaksikan perpisahan Garry dan Emily di depan matanya.
Kebahagiaan Lesty semakin bertambah, kala mendengar orang suruhan Arsyila berhasil menculik Emily.
__ADS_1
Lesty meminta mata-matanya untuk terus mengikuti Garry, dan melaporkan padanya apa saja yang Garry lakukan.
*
Lesty baru saja selesai menikmati makan malamnya, deringan handphonenya menyita perhatian Lesty, dia segera menerima panggilan itu.
"Iya ada apa?"
"Nona, saat ini Tuan Garry berada di sebuah club malam, dia mabuk."
"Sambungkan panggilan ini dengan panggilan video, dan berikan handphonemu pada Garry."
**
Di club malam Garry terus menegak minuman ber-alkohol tinggi, kadang tertawa dan kadang menangis, mengetahui kenyataan kalau Emily mendekatinya hanya karena target baals dendam, sangat menyakitkan, karena kebahagiaan yang Emily berikan terasa sangat tulus.
Bruk!
Seorang laki-laki duduk di samping Garry.
"Hei, menjauh kau! Aku tidak ingin ditemani!" usir Garry.
"Saya hanya sebentar, ada yang ingin berbicara dengan Anda." Laki-laki itu memperlihatkan layar handphonenya pada Garry.
"Lesty?" Garry berusaha mengenali sosok yang ada di layar handphone laki-laki asing itu.
"Hai Garry," sapa Lesty.
"Kenapa masih memata-mataiku? Ingin menertawakanku karena tertipu oleh cinta palsu pelakor itu?!" maki Garry.
"Justru aku ingin mengajakmu bekerjasama, dengan aku dan kaku bekerjasama, pelakor itu akan merasa kalah," ucap Lesty.
"Kerjasama?"
"Tujuan pelakor itu menghancurkan Rumah Tangga kita, dan saat ini tujuannya berhasil, dan dia akan merasa gagal jika kita berbaikan."
Garry berusaha mencerna ucapan Lesty.
"Dalam ikatan ini, aku dan kamu sama-sama tidak cinta, tapi apakah kita bisa bersatu demi menghancurkan Pelakor itu? Dengan kita rujuk kembali, maka pelakor itu akan merasa kerjakerasnya memberikan tubuhnya gratis padamu, akan sia-sia."
"Apa kamu akan tenggelam dalam kehancuran dirimu? Atau membalasnya dengan kembali padaku?"
"Ayolah Garry, jangan terlalu bodoh! Lebih baik kamu terlihat tegar daripada terpuruk seperti ini!"
"Aku butuh waktu."
"Semakin lama kamu berpikir, semakin bahagia pelakor itu atas kehancuran kita semua. Dia hanya mentargetkan kamu untuk menghancurkanku, bukan untuk hal lain. Dengan kita kembali bersama, maka dia kalah!"
__ADS_1
lesty terus berusaha memainkan emosi Garry. Karena pengaruh minuman yang sangat kuat, Garry tertarik dengan segala ucapan Lesty, dia menyetujui untuk kembali pada Lesty.
"Pilihan yang bagus, nanti kita adakan konfrensi pers untuk menghantam ginjal pelakor itu."
***
Di Rumah Sakit.
Malam semakin larut, Zein masih setia berada di sisi Emily. Hingga dia tertidur di sisi ranjang, dengan menumpukan bagian kepala di sisi ranjang Emily. Tubuhnya yang lelah, membuat Zein terhanyut ke alam mimpi.
Sedang wanita cantik yang Zein jaga itu perlahan membuka kedua matanya. Saat kedua matanya terbuka sempurna, Emily berusaha mengenali keadaan di sekitarnya.
"Rumah Sakit?" gumamnya.
Perhatiannya tertuju pada sosok laki-laki yang tertidur di dekatnya. Emily tersenyum melihat hal itu.
"Ternyata kamu tetap menjagaku, Garry ...." gumamnya.
Emily mengusap lembut kepala laki-laki itu, namun Emily merasakan itu bukan Garry. Saat Emily memeriksa laki-laki itu, ternyata itu adalah Zein.
"Apa Garry mengutus Zein untuk menjagaku?"
Emily memandangi keadaan sekitar, hingga dia melihat handphonenya diatas meja. Emily meraih benda itu dan segera menghubungi Garry. Namun nomornya sudah di blokir Garry, Emily tidak bisa menghubungi Garry lewat intenet mau pun telepon biasa.
Sejenak perhatian Emily tertuju pada handphone Zein, dia berusaha meraih benda itu, dan langsung menghubungi nomor Garry. Emily bahagia, karena sambungan teleponnya terhubung.
"Apalagi Zein?! Sudah aku katakan! Aku tidak peduli tentang Emily, mau dia dalam bahaya atau apapun itu! Aku dan dia tidak memiliki hubungan apa-apa! Satu hal lagi, aku tidak mau melihatnya dan aku tidak ingin mendengar kabar tentangnya!"
Bukan hanya gendang telinga Emily yang hampir pecah karena teriakan Garry, namun hatinya juga seakan terburai mendengar semua makian itu.
Air mata seketika mengalir deras membasahi pipi mulus Emily.
Aku tahu, luka yang aku goreskan di hati kamu sangat dalam, tapi mengapa kamu tidak mau mendengar sedikit penjelasan dariku?
"Nona, Anda sudah sadar? Bagaimana keadaan Anda?"
Mendengar suara itu, Emily segera mengusap air matanya. "Aku baik-baik saja Zein."
"Nona butuh sesuatu?"
"Siapa yang membayarmu untuk menjagaku?" tanya Emily.
"Tidak ada, aku menjaga Anda sebagai ucapan terima kasihku, atas bantuan Anda." Zein berusaha tersenyum. "Anda butuh sesuatu?"
"Aku ingin minum."
"Sebentar." Zein segera bangkit, dan berjalan cepat menuju despenser. Dia kembali pada Emily dengan segelas air putih di tangannya.
__ADS_1