POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
50


__ADS_3

Garry menatap Tuan Jiman dengan tatapan yang sangat dalam. "Maafkan aku kek, jika keputusanku egois dan tidak memikirkan anak yang Lesty kandung. Saat ini Emily tanggung jawabku, walau Emily tidak bisa memberikan apa yang Lesty miliki saat ini, aku tidak masalah."


"Maafkan aku, bukan maksudku untuk mengusik kebahagiaan kalian, aku hanya bimbang, aku tidak tahu harus apa," ucap Tuan Jiman.


"Kami mengerti, karena ini kita makan malam, bisa lupakan itu sejenak, dan kita makan malam dulu?" ajak Emily.


Mereka semua segera menikmati makan malam mereka. Tidak ada pembicaraan lagi, mereka fokus menikmati makanan enak yang ada di depan mereka.


Sedang Tuan Jiman hanya menelan makanan itu, rasanya lidahnya tidak bisa merasakan kenikmatan saat ini.


Makan malam selesai, mereka segera membubarkan diri. Nala pulang dengan satu mobil yang sama dengan kedua orang tuanya, sedang Garry dan Emily pulang dengan mobil Emily.


Sepanjang jalan, Emily menyandarkan kepalanya di bahu Garry, Garry dengan senang hati menjadi sandaran Emily. Sesekali dia mendaratkan ciuman di pucuk kepala Emily.


"Aku kira, kamu akan kembali pada Lesty demi anak, secara aku tidak bisa memberikan hal itu," ucap Emily.


"Kebahagiaan yang kamu beri, lebih besar dari apapun. Hatiku sudah terjerat, Perusahaan besar, atau darah dagingku sendiri tidak bisa membuatku berpaling darimu. Kamu wanita yang penuh cinta, walau anak itu hadir dari rahim Lesty, aku yakin kamu mencintainya tanpa harus aku minta," ucap Garry.


"Ya, aku menyayangi apa saja yang kamu sayang."


"Sayang sekali kita masih di mobil, andai di rumah sudah ku tumbangkan dirimu!" ucap Garry.


"Sayangnya yang bisa tumbang nanti hanya kamu, bukan aku. Karena aku bisa membantumu menuju puncak, tapi kamu tidak bisa, karena pintuku lagi di cat merah dan belum kering.


Emily mulai membuka sangkar Garry, dan memanjakan penghuni sangkar itu.


"Sayang, kau lakukan ini di sini, aku bisa nabrak, aku tidak bisa fokus ...." keluh Garry.


"Hehemmm ...." Emily tidak bisa menjawab, mulutnya penuh oleh sesuatu.


Sepanjang perjalanan Garry seakan putus asa, Emily membuat dirinya tidak karuan rasa, sedang satu sisi dia harus fokus dengan jalanan. Garry terpaksa melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah.


40 menit berlalu, semua seakan berada di ujung tanduk, Garry menepikan mobilnya dan menikmati ledakan itu.


Emily meraih beberapa lembar tisu dan membersihkan permukaan mulutnya juga bagian penghuni sangkar di sana. Sedang Garry berusaha menenangkan dentuman irama jantungnya yang tidak beraturan.


"Kamu nakal!" ucap Garry.


"Yup, aku nakal, banyak akal. Aku bisa nidurim punya kamu di mana saja, nggak cuma di atas tempat tidur."

__ADS_1


Hening kembali, hanya terdengar suara decakan yang memecah kesunyian di dalam mobil itu.


***


Kediaman Kakek Jiman.


Setelah kembali ke rumahnya, Kakek Jiman segera menemui Lesty di kamarnya.


"Bagaimana tanggapan Garry saat Ayah beritahu dia tentang kehamilan Lesty?" tanya Andita.


"Garry biasa saja, dia bilang walau dia dan Lesty tidak berada dalam satu ikatan pernikahan lagi, bukan berarti itu akhir kehidupan anak ini. Anak ini akan tetap hidup jika Lesty menginginkannya, bukankah sebelumnya Lesty sering menggugurkan kandungannya?" Kakek Ajiman memandang Lesty dengan tatapan kemarahan.


"Kamu mau tetap hidup atau tidak terserah! Kakek cukup malu saat tahu semua ini dari Garry!"


Tuan Ajiman pergi meninggalkan kamar Lesty. Lesty menoleh pada ibunya.


"Mama ... bagaimana ini?" ringis Lesty pelan.


"Kamu memang tidak bisa menghancurkan rumah tangga pelakor itu, tapi dengan adanya anak ini, kamu bisa membuat pelakor itu cemburu, karena anak ini adalah jalanmu untuk tetap dekat dengan Garry." ucap Andita.


"Jadi ... aku harus pertahankan kandungan ini?" tanya Lesty.


"Bagaimana karirku mama?


"Tidak fokus berkarir selama setahun apakah itu akan menjadi akhir segalanya?"


Lesty menggeleng pelan.


"Bekerja semampumu, setelah itu perhatikan kehamilanmu. Mama mau telepon Garry dulu."


"Ngapain mama telepon Garry?"


"Minta besok dia datang kemari! Bahas apa biar besok saja cari idenya!" ucap Andita.


Andita segera menghubungi Garry.


***


Di kediaman Emily.

__ADS_1


Garry baru keluar dari kamar mandi. Dia langsung memeluk Emily. Namun suara deringan handphone membuat kegiatan romantis itu harus berakhir.


Garry memandangi layar handphonenya, kedua alisnya tertaut melihat nama Andita di layar handphonenya.


"Kenapa nggak diangkat sayang?" tanya Emily.


"Nyonya Andita menelepon," ucap Garry.


"Angkat saja, barangkali penting. Nyonya Andita type orang yang menghubungi saat ada perlu, dan cuek saat tidak butuh."


Garry segera menerima panggilan telepon itu. Garry sengaja mengaktifkan loudspeaker, agar Emily bisa ikut mendengar.


"Halo Nyonya."


"Garry, besok bisa ke rumah? Sudah tahu bukan bagaimana keadaan Lesty?"


"Iya, sudah tahu. Tuan Ajiman sudah memberitahu saya."


"Mungkin bawaan janin, Lesty sangat ingin melihatmu secara langsung, bisakah kamu datang ke rumah demi memenuhi ngidamnya Lesty?"


Drama ikan terbang dimulai, batin Emily.


"Saya usahakan saat jam makan siang, Nyonya. Nyonya tahu sendiri sekarang saya hanyalah seorang Karyawan biasa."


"Terima kasih Garry, sampai jumpa besok."


Panggilan selesai.


Garry dan Emily saling pandang.


"Sebentar lagi mereka akan memanfaatkan anak itu untuk menggoyahkan rumah tangga kita," gumam Garry.


"Biarkan saja, aku percaya padamu." ucap Emily.


"Besok siang, kamu ke kantor aku ya, kita berkunjung ke rumah Tuan Jiman," ajak Garry.


"Tapi mereka hanya ingin kamu sayang ...."


"Mereka harus siap, di mana ada Garry, di sana Emily," ucap Garry.

__ADS_1


__ADS_2