POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
75


__ADS_3

"Kau masih mencintai Garry?" tanya Pak Adam.


"Dulu aku mencintainya, saat dia membuangku, rasa cinta itu juga tiba-tiba lenyap."


Pak Adam menganggukan kepalanya, mendengar ucapan Emily.


"Seperti cintaku pada Aji, dulu aku rela dipandang hina agar perasaannya tak tertekan, aku bahagia dengan segala hinaan demi senyuman di wajahnya, saat dia menceraikanku, rasa cinta itu lenyap begitu saja."


"Lalu, apa rencanamu kedepan?"


"Tidak ada, aku hanya ingin hidup bahagia bersama Anakku."


Pak Adam mengusap perut Emily. "Jadilah anak yang kuat nanti ya ...."


*


Pengumuman akan diselenggarakannya sebuah acara yang dihadiri oleh keturunan Suta, disambut hangat oleh kalangan Pengusaha. Salawa Grup perusahaa besar, tidak bisa mengibarkan sayap terlalu lebar, karena harus ditangani langsung oleh anak tunggal Suta yang keberadaannya masih misteri. Bahkan sebagian orang mengira anak tunggal Suta juga meninggal.


Acara penyerahan jabatan petinggi Salawa Grup itu menjadi perbincangan hangat di mana-mana, bahkan pergaulan istri-istri pengusaha dan para oengusaha muda. Sebagian orang berharap mereka bisa melihat langsung acara besar itu dan bertemu dengan penerus tahta Salawa Grup.


Sesampai di kota, Emily meminta pamannya mengantarkannya ke sebuah hotel, dia tidak tahu harus kembali kemana.


"Kenapa hotel? Apartemenmu? Atau rumahmu?" tanya Pak Adam.


"Aku malas kembali ke sana, lebih baik aku di hotel saja, aku ingin meminta sahabatku menemuiku di sini."


"Om akan siapkan semua keperluan kamu di rumah utama yang tidak pernah kamu pijak, lebih baik kamu menetap di sana nanti."


"Iya om, saat ini izinkan aku menginap di hotel dulu."


Setelah memastikan Emily mendapatkan kamar, Pak Adam meninggalkan hotel itu, dia bersiap untuk acara besar yang dia inginkan.


*


Kamar hotel Emily.


Emily merebahkan dirinya di kasur empuk, perjalanan jauh benar-benar membuatnya lelah. Dia memainkan handphonenya dan menekan nomor Janet.


"Halo, maaf ini siapa?" Pertanyaan di ujung telepon.


"Hai sayangku, kamu rindu padaku?"


"Emily? Ya Tuhan sembunyi dimana kamu?!" jerit Jannet.


"Sembunyi jauh pokoknya."


"Di mana kamu sekarang anak nakal? Aku sangat merindukan kamu?!"


Jelas terdengar isak tangis Janet di ujung telepon sana.


"Aku mencarimu kemana-mana, tapi tidak menemukan kamu, aku kacau saat menonton berita 6 bulan lalu, kalau Garry akan rujuk dengan Lesty, aku semakin kacau karena tidak menemukan dirimu."


"Maafkan aku Janet, keadaan memaksaku untuk menghilang tanpa jejak."


"Bagaimana keadaan kamu sekarang Emily?"


"Aku baik, rindu padaku? Kalau rindu ayo temui aku." Emily menyebutkan hotelnya menginap dan nomor kamarnya. "Aku punya kejutan untukmu."


"Baiklah, aku segera ke sana." Janet langsung memutuskan panggilan mereka.


*


Di tempat lain ...


Selesai rapat dengan Kliennya, Lesty tidak langsung pulang, dia mampir di sebuah Restoran untuk berkumpul dengan temannya. Kembalinya penerus tahta yang Sah, membuat semua pengusaha ini ingin bertemu dengan Pemimpin Salawa Grup.


Dengan perut besarnya Lesty terus memasuki Restoran itu. "Hai semuanya ... Maaf lama ya ...." sesal Lesty.

__ADS_1


"Kita juga baru datang kok Les."


"Bagaimana, ada yang bisa bagaimana mengenal Nona Muda Salawa Grup?"


"Entah, dia sangat misteri. Sejak kematian kedua orang tuanya, dia tidak memiliki jejak digital."


"Eh coba deh cek media sosialnya."


"Gila ... Namanya aja kita nggak tahu, bagaimana cari orangnya."


"Yup, yang kita tahu nama saja masih bisa tersesat karena banyaknya nama itu."


"Kamu kira-kira dapat undangan nggak Les? Secara dari dulu kamu hanya dekat dengan mendiang Nyonya Asryila."


"Entahlah, apalagi Nyonya Arsyila dan Tuan Adam bercerai, mereka tidak memiliki hubungan yang harmonis." Lesty tidak yakin Adam mengundangnya di acara besar tersebut.


"Kamu pengusaha muda berprestasi, acara ini untuk mendukung para pebisnis muda."


"Ya, kami salut padamu, walau tengah hamil kamu tetal bekerja seperti biasanya."


Pembicaraan Lesty dan teman-temannya masih membahas seperti apa penerus Salawa Grup yang kini kembali.


Hotel.


Mendengar suara bel, Emily perlahan bangkit, dan membukakan pintu kamarnya. Saat pintu terbuka sempurna, terlihat Janet dengan raut terkejutnya.


"Emily ... ini dirimu?" Janet menutupi mulutnya yang terbuka lebar melihat keadaan Emily.


"Ayo masuk, kamu tidak rindu padaku?" Emily menarik Janet agar masuk ke kamarnya.


Janet terus memandangi perut bulat Emily, melihat Emily sudah menutup pintu Janet langsung menyentuhnya.


"Ini asli?"


"Ya asli, untuk apa aku pura-pura hamil?"


"Sudah, kita ketempat tidur aku ingin rebahan sambil cerita padamu."


"Tunggu aku cuci muka, kaki, dan tanganku dulu."


Emily naik ketempat tidur lebih dulu, beberapa saat kemudian Janet juga menyusulnya.


"Banyak rahasia yang aku simpan, maafkan aku karena tidak terbuka padamu."


"Itu hak mu, tidak semua hal harus kamu buka padaku."


Emily tersenyum, sangat lega melihat Janet tidak marah padanya.


"Kemana kamu selama ini?"


"Tinggal di rumah Zein. Aku menepikan diri dari keramaian kota."


"Zein? Dia siapa?"


"Dia laki-laki menyebalkan saat aku live di tempat gym dulu, dan ternyata dia adalah seorang bodyguard yang disewa untuk menjagaku."


Emily begitu semangat menceritakan kehidupannya di desa bersama Zein. Menceritakan sosok Friska dan bibi Geya.


"Kamu bahagia sekali, pantas betah tidak menemuiku."


"Bukan begitu cantik, kala itu aku tidak mungkin ada di kota ini."


"Wajahmu begitu berbinar saat menyebut nama Zein, kamu menyukainya? Maksudku ... kamu jatuh cinta padanya?"


Emily tidak tahu menjawab apa, jika ditanya apakah dia menyukai Zein, tentu sangat menyukai pria hangat itu. Namun cinta?


Apakah perasaan yang mengikatku adalah cinta?

__ADS_1


"Hei, jawab pertanyaanku ...."


Saat yang sama handphone Emily berdering, hal itu menjadi penyelamatnya.


"Aku angkat telepon dulu." Melihat nama Zein di layar telepon, senyuman Emily begitu bahagia.


"Iya Zein ...."


Dug! Dug! Dug!


Debaran itu membuat aliran darah Emily terasa mengalir lebih cepat dari sebagaimana mestinya.


"Sayang, ini sudah diangkat tante."


Emily berusaha menurunkan perasaannya, Zein meneleponnya hanya demi Friska.


"Tante ...."


"Halo sayang ... apa kabarmu cantik?"


"Aku baik dan aku sangat merindukan tante."


"Uw ... manis sekali ..., tante juga merindukanmu."


"Tante, boleh video call? Biar bibi Geya juga bisa ikut bicara."


"Tentu boleh, sebentar tante alihkan dulu."


Beberapa detik kemudian, wajah Friska memenuhi layar handphone Emily. Di samping Friska ada bibi Geya.


Zein, mana kamu izinkan aku melihatmu ... batin Emily.


"Tante, yang sama tante itu siapa?"


**


Flash Back


Zein merenung di kamarnya, merenungi dirinya dan hatinya.


Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku merasa sangat kehilangan setelah Emily pergi?


"Papa ...."


Rengekan dari luar membuat Zein menyudahi renungannya. Dia segera menemui putrinya.


"Ada apa sayang?"


"Papa, sudah malam ... pasti tante Emily sudah sampai."


Zein membuang napasnya kasar sambil meraih handphonenya, dia ssgera menghubungi nomor Emily.


Bagaimana aku bisa menjauhkan Emily, saat aku sangat merindukannya aku harus mendengar suaranya.


"Iya Zein ...."


Suara itu bagaikan hujan lebat yang turun di tengah teriknya sinar matahari. Seketika mendinginkan hati Zein.


"Sayang, ini sudah diangkat tante." Zein tidak sanggup mendengar lebih lama lagi, dia memberikan handphonenya pada Friska.


Terlihat Friska sangat bahagia berbicara dengan Emily.


"Tante, yang sama tante itu siapa?"


Mendengar pertanyaan Friska pada Emily, Zein tersentak kaget.


Apakah dia kembali pada Garry?

__ADS_1


Rasa sakit dan ingin tahu membuat Zein kehilangan kendali atas dirinya, dia langsung mencari tahu siapa yang Friska tanyakan. Rasa lega seketika berhembus di hatinya, saat dia melihat sosok perempuan yang bersama Emily.


__ADS_2