
Kakek Jiman masih terpaku dengan dilemanya, satu sisi dia juga tidak ingin membuat Emily menjada lagi karena keegoisannya. Dulu dia membiarkan Aji menceraikan Emily hanya karena menginginkan keturunanya tetap berlajut dari nama Aji.
"Tuan ...."
Sapaan lembut di ujung telepon membuat Kakek Jiman tersadar.
"Oh iya Garry, malam nanti kamu ada acara?"
"Ada kek, Emily mengajak kami semua makan di luar," sahut Garry.
"Rencana mau makan malam di mana?"
Mendengar pertanyaan Kakek Jiman, Garry bingung harus menjawab atau balik bertanya.
"Aku hanya ingin tahu, siapa saja kita makan malam di resto yang sama," ucap Kakek Jiman.
"Sebentar kek, aku tanya Emily."
"Sayang, malam ini kita makan di mana?" tanya Garry pada Emily.
Terdengar suara Emily menyebutkan nama Restoran di sana. Garry juga mengulangi apa yang Emily ucapkan pada Kakek Jiman.
"Aku juga akan makan malam di sana, tapi hanya sendiri, boleh aku bergabung dengan kalian?" tanya Kakek Jiman.
"Boleh Kek."
"Sampai jumpa nanti malam Garry," Kakek Jiman menyudahi panggilan telepon mereka.
__ADS_1
Di rumah Kakek Jiman.
Pria tua itu berulang kali menghela napasnya.
"Bagaimana?" tanya Maiwa.
"Malam ini aku akan bertemu Garry, dan membicarakan perihal ini," ucap Kakek Jiman.
Sedang di kediaman Emily, kebahagiaan dan suara tawa masih menyelimuti hangatnya kebersamaan sebuah keluarga di sana.
"Sejak tinggal seatap denganmu, aku tidak merasakan mendapat seorang menantu, tapi aku merasakan mendapatkan seorang putri yang sangat mencintai ibunya," ucap Athaya.
"Aku istri Garry, pernikahan telah menjadikan aku jadi anak ibu," sahut Emily.
Namun deringan handphone Emily membuat suasana haru bahagia itu buyar, Emily segera membaca pesan yang masuk. Selesai membaca pesan, Emily menoleh pada Garry. "Sayang, kalau kita ketemuan di Restoran nanti tidak masalah?"
Garry tidak mendengari pertanyaan Emily, dia masih tenggelam dengan pemikirannya tentang Tuan Ajiman. Melihat perubahan Garry, Emily mendekati suaminya itu.
"Ada masalah?" tanya Emily lembut.
"Tidak," sahut Garry.
"Kalau tidak ada masalah, kamu dengar pertanyaanku tadi?" tanya Emily.
"Pertanyaan apa?" tanya Garry.
"Kalau tidak ada masalah, kenapa tidak dengar? Ayo cerita, aku ini istrimu, jangan berbagi bahagia saja denganku, bagi semua dilema dan rasa yang mengganggumu." bujuk Emily.
__ADS_1
"Tadi Tuan Ajiman menelepon," ucap Garry.
"Membahas Lesty?" tanya Emily.
"Beliau ingin ikut kita makan malam, aku ingin menolak, aku tidak tega." Pengakuan Garry.
"Ya tidak masalah, biarkan beliau gabung sama kita," Emily memijat lembut bahu Garry yang terasa tegang.
"Tapi ini acara keluarga kita," ucap Garry.
"Beliau juga dulu keluarga kita, dan wajar jika beliau ingin ikut, mungki rindu padamu, bisa juga rindu Bapak sama ibu," ucap Emily.
Garry memandangi Emily dengan tatapan yang penuh binar kebahagiaan, entah kenapa takdir menyatukan mereka dengan cara yang salah, pengabdian Emily padanya membuat Garry sangat bahagia.
"Pertanyaan kamu tadi apa?" tanya Garry.
"Temanku ngajak ketemuan sore ini, nah aku mau ketemu mereka dulu, jadi nanti kita ketemuanya di Restoran saja bagaimana?" ucap Emily.
"Tidak masalah, aku, Nala, ibu, dan Bapak siap menyusul," sahut Garry.
"Ya sudah, aku siap-siap dulu. Aku pergi duluan ya sayang ...." ucap Emily.
"Iya."
Emily bangkit, dan pamit pada keluarga Garry. Sedang Keluarga Garry bisa bernapas lega, sempat khawatir anak dan menantu mereka bersitegang di depan mata mereka.
***
__ADS_1
Untuk satu bulan kedepan up sesempat aku ya, di tempat aku jika bulan Rabi'ul awal ini, sering merayakan maulid. Jadi aku sibuk baget, kadang bantu tetangga, kadang bantu keluarga.
Mohon maaf atas ketidak lancaran up karya ini.