POV Pelakor Target Sang Pelakor

POV Pelakor Target Sang Pelakor
70 Pernikahan Mantan


__ADS_3

Udara pagi di desa terasa sangat menyejukan di setiap harinya. Tapi detik ini, entah mengapa paru-paru Zein terasa begitu sesak saat Emily memakaikan dasi dengan benar.


Dug! Dug! Dug!


Kedua telinga Zein sangat jelas mendengar setiap dentuman irama jantungnya yang berdetak tidak menentu.


Shap ....


Tangan Emily merapikan jas yang Zein kenakan. "Oke, sudah rapi."


Zein masih mematung.


"Maaf ... bukan maksutku lancang menyentuhmu, krah bajumu tadi belum rapi seperti nyangkut di penggadaian saja, dasimu juga salah. Jadi aku benarkan."


"Ehm!" Zein berusaha mengumpulkan kesadaran yang terburai. "Terima kasih. Maaf, aku tidak biasa pakai setelan ini."


"Tidak masalah, dengan senang hati aku bisa membantumu."


"Ayo pergi." Zein memberikan tangannya pada Emily untuk Emily pegang. Dia menatap tangannya sendiri, entah darimana dorongan itu datang sehingga dia begitu bodoh memberikan tangan kasarnya pada Emily. Zein masih larut mengutuki kebodohannya, namun Emily malah meraih tangan itu.


"Ayo berangkat."


Pegangan yang terjalin membuat Emily merasa canggung. "Am ... boleh ku lepas? Aku merasa menjadi seorang nenek-nenek yang ingin menyebrang jalan."


Maaf Zein, aku tidak sanggup terlalu lama kontak fisik denganmu, entah mengapa aku merasa kamu sosok yang berbahaya bagi keteguhan jiwaku, sosok yang harus ku jauhi, agar hatiku tidak kecewa lagi. Sudah cukup 2 kali aku merasakan sakit karena perasaan yang disebut cinta.


"Maaf, bukan maksutku begitu, aku hanya memastikan kamu punya tumpuan untuk berpegang, ada kehidupan yang harus kamu jaga." Zein mengisyarat pada perut Emily.


"Iya, terima kasih perhatianmu."


Emily tidak mau dibantu, Zein meminta Emily berjalan lebih dulu, agar dia bisa melihat apakah Emily butuh bantuannya atau tidak. Ternyata wanita itu melangkah dengan mulus menuju mobilnya. Zein segera mempercepat langkahnya menuju mobilnya.


Perlahan mobil mulai meninggalkan halaman rumah Zein.


"Kado kemaren?" Emily memastikan.


"Sudah."


"Oke, saatnya memulai perjalanan."


10 menit perjalanan mereka terasa sepi, Zein fokus dengan jalanan, sedang Emily sibuk dengan pemikirannya.

__ADS_1


Zein baik padamu hanya merasa hutang budi. Tapi aku wanita yang memiliki mental kaleng wafer. Mulai sekarang aku harus memikirkan hidupku, batin Emily.


"Kota sudah aman kan Zein?"


"Ha?" Zein pura-pura tidak mendengar pertanyaan Emily.


*Kenapa dia menanyakan keadaan di kota? Apa dia ingin pergi.


Dia ingin pergi wajar, tapi mengapa aku tidak rela dia pergi? Apakah aku merasakan seperti apa yang Friska rasakan*? batin Zein.


"Kota aman?" Emily mengulangi pertanyaannya.


"Iya aman, ada apa Nona?"


"Aku ingin pulang, aku rindu sahabatku ...."


Aku bohong Zein, aku hanya takut menyimpan rasa untukmu, sebelum perasaan itu semakin tumbuh, aku ingin pergi jauh darimu.


"Am ...." Rasanya Zein ingin merengek seperti Friska, jangan pergi Emily, tinggallah di sini bersama kami?


Perkataan Emily tempo hari benar, aku kehilangan kecerdasanku, aku menginginkan dia selamanya tinggal bersamaku, status kami apa? Kamu benar-benar sudah tidak waras Zein.


"Nanti aku akan telepon dia."


*Zein, apa kamu tidak ingin mencegat keinginanku? Emily menetaplah di sini ... cegat aku seperti Friska ...


Ah ... apa yang aku pikirkan, memangnya apa ikatanmu pada Zein? Dasar baperan*! Emily memaki dirinya sendiri.


Keduanya kembali bungkam, dan sibuk dengan geritik hati masing-masing. Zein berharap Emily selamanya di sini, Emily berharap secepatnya pergi agar tidak jatuh cinta pada Zein. Pertarungan kata hati harus mereka sudahi, saat mereka sampai di sebuah gedung.


Zein membukan pintu mobil samping Emily, dan memberikan tangannya. "Ini biar terlihat romantis ya, bukan gandengan tangan mau menyebrang jalan," ucap Zein.


Sorot mata yang teduh, suara Zein yang membuat hatinya bergetar, membuat Emily tidak sanggup menjawab, dia keluar dari mobil dan menggandeng lengan Zein. Keduanya melangkah bersama memasuki tempat acara, kado mereka berikan pada penjaga tamu.


Kemana Zein dan Emily melanglah, banyak pasang mata yang terus menyoroti keduanya, karena bukan rahasia, yang bersanding di pelaminan adalah mantan istri Zein.


"Wah ... aku sangat bahagia kalian benar-benar hadir." Afrida rela turun panggung menyambut Zein dan Emily.


"Kami harus datang, ini adalah pernikahan seorang wanita hebat," puji Emily.


"Kamu sangat benar, Afrida adalah wanita hebat," puji suami Afrida.

__ADS_1


"Hai Tuan, ini pertemuan kedua kita," sapa Emily.


"Kamu hamil?"


"Ya, kerja keras Zein memompa tiap malam." Emily mengusap peutnya, membanggakan perut bulatnya itu.


"Tumben tidak pakai kursi roda?" tanya suami Afrida.


"Ah ... tadi malam kami sengaja libur, selain aku takut bayiku babak belur, aku juga ingin berjalan bebas di sini. Kalau Afrida pastinya sudah tahu bagaimana hebatnya Zein di ranjang."


Afrida sangat kesal, ingin merendahkan Zein dan pasangannya, dirinya malah merasa direndahkan oleh Emily. Melihat apa yang Emily kenakan barang bermerk, Afrida tidak punya bahan untuk membully pasangan yang ada di depannya.


"Bagaimana kalau kita dansa bersama?" ajak Afrida.


"Aw tidak, Emily hamil." tolak Zein.


"Kehamilanku bukan pembatas apa yang mau kita lakukan sayang, kalau Afrida memintaku panjat tebing, baru aku menyerah ...." Emily meraih tangan Zein, dan menariknya mengikuti Afrida.


Kacau! Kacau! Apa yang terjadi pada hatiku saat berdansa nanti! gerutu hati Zein.


Empat orang itu berada di lantai dansa, Afrida dan suaminya bersiap berdansa, begitu juga Emily dan Zein.


"Sudah santai ...." Emily menyemangati Zein untuk tenang. Dia meraih tangan Zein di pinggangnya, dan dia mengalungkan kedua lengannya di leher Zein.


"Kita dansa biasa saja, karena perutku membatasi gerakku, semua akan baik-baik saja, Zein ...." ucap Emily.


Zein mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Emily. "Apakah hati kita bisa baik-baik saja dan santai kembali setelah kita selesai berdansa nanti?" bisik Zein.


Emily terlambat menyadari itu, saat tangannya berpegangan pada Zein saja jutaan kekuatan tenaga listrik seakan menghnatarkan semua getaran ke seluruh tubuhnya. Kini bukan berpegangan tangan lagi, mereka seperti berpelukan. Menyadari semua itu terlambat, musik sudah mengalun, Zein mulai bergerak mengikuti musik.


Saat dirinya dan Zein mulai bergerak mengikuti alunan nada, Emily melupakan di mana dia berada saat ini. Baginya saat ini dia dan Zein tengah berdansa bersama di sebuah taman yang penuh dengan bunga-bunga. Kemana Emliy bergerak, hanya ada kelopak bunga yang menghujaninya.


Pandangan Zein. Semuanya seketika lenyap, hanya ada Emily, semua gerak berpusat pada Emily.


Sedang apa yang orang-orang lihat, mereka dibuat kagum dengan dansa biasa Zein dan Emily, pandangan keduanya itu memancarkan cinta, membuat orang seakan ikut merasakan perasaan cinta.


Gerakan Dansa seharusnya Emily melenturkan tubuhnya, dan Zein menahannya, karena lerut bulatnya, Zein dan Emily menempelkan alis mereka.


Prok! Prok! Prok Prok!!!


Suara tepukan meriah itu membuat keduanya tersadar di mana posisi mereka saat ini.

__ADS_1


__ADS_2