Psychopath Prince

Psychopath Prince
-10- Wendy


__ADS_3

2 orang bodyguard menatap satu sama lain dengan pandangan cemas. Satu bodyguard lainnya berjaga dalam jarak jauh untuk ikut serta memantau sekitar.


"Ini terlalu lama. Biasanya dia hanya akan menghabiskan waktu 15-20 menit." Salah satu bodyguard yang berdiri didekat pintu ruang ganti wanita berujar pelan sambil melihat jam tangannya.


"Haruskah kita dobrak?" Tanya yang lain.


Para bodyguard semakin cemas seiring waktu yang terus berlalu. Pasalnya mereka hanya memiliki 2 pilihan. Mendobrak dan ketahuan mengintip hingga dibunuh bos mereka atau membiarkan dan beresiko gadis itu kenapa-kenapa di dalam, dan tetap dibunuh bos mereka?


Hah, itu bukan pilihan.


Pasalnya mereka tahu jika tadi ada sekelompok anak cheers didalam. Tapi mereka semua sepertinya sudah keluar dan meninggalkan Wanda sendirian. Atau ada dari mereka yang masih didalam dan melakukan sesuatu pada Wanda? Bisa gawat kalau iya!


Jadi....


"Mari kita masuk. Ini sudah lebih dari 30 menit."


Mereka memutuskan untuk masuk. Dan pandangan yang mereka dapatkan....


Sangat tak terduga dan mengerikan.


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


Gadis itu mengambil gunting yang tergeletak jatuh di lantai. Lalu mengamati pakaiannya sendiri dengan tatapan datar. Tapi kemudian gadis itu mengubah ekspresinya menjadi marah saat meraba rambutnya yang berantakan dengan potongan pendek acak yang mengerikan. Gadis itu mendengus kesal. Memainkan gunting ditangannya, dia menghampiri salah satu dari mereka.


Secepat kilat, bahkan sebelum orang yang dihampiri sadar, Wendy menerjang gadis itu hingga menabrak loker. Gadis yang sebelumnya menggunting rambutnya itu merintih sakit.


3 orang yang berdiri disana menganga tak percaya. Entah kenapa tenaga Wanda bisa menerjang semudah itu. Tapi yang lebih mencengangkan adalah dimana gadis lemah tadi? Sekarang gadis itu tampak berbeda.


"Kau yang menggunting rambutku." Wendy berujar. Mengungkapkan kenyataan yang semua orang tahu didalam sana. "Berani sekali. Kau tahu, menyentuhku berarti mati? Jika tidak ditanganku, maka ditangan kekasih tampanku." Ujarnya santai. Dia tahu dia orang yang nekat dan bertindak bar-bar. Tapi diatas semua itu, Yuzen lebih bar-bar daripada dia. Dia masih berbelas kasih untuk tak membunuh siapapun. Tapi jika Yuzen, dia tak segan. Bahkan orang yang tak sengaja menyenggolnya jatuh saja bisa dibuatnya kritis di rumah sakit. Bahkan teman sekelas Wanda waktu SMA yang dulu sempat membully-nya karena berpacaran dengan Yuzen, dibunuh pria itu. Mengerikan.


Ah dia jadi teringat masa lalu.


Wendy menggeleng kecil berusaha melupakan Yuzen sejenak. Dia harus balas dendam. Rambut panjangnya jadi jelek seperti ini sekarang.

__ADS_1


"Katakan selamat tinggal pada rambutmu."


Dan...


Crashhhh....


"KYAAAA! ****** SIALAN." Pekik gadis itu histeris. Wendy hanya mengangkat sebelah alisnya meremehkan. Lalu kembali memainkan guntingnya.


Crashhhh....


Crashhhh....


Gadis itu menangis histeris.


Wendy tak peduli. Dia justru berjongkok didepan gadis itu dan menginjak telapak tangan gadis itu dengan lututnya. Sedangkan kaki gadis itu didudukinya hingga tidak bisa memberontak.


"Kau suka gaya apa? Botak bagaimana?"


Crashhhh....


Gunting itu terus melayang kearah sang gadis hingga rambut gadis itu hanya menyisahkan beberapa centi. Wendy terkekeh, tampak puas dengan hasil karyanya. Baru kali ini dia memotong rambut seseorang. Kapan lagi dia bisa mencoba menjadi hair stylish.


Tapi dari arah belakang sebuah sepatu tiba-tiba melayang dan mengenai kepalanya. Membuat Wendy menggeram marah dan oleng sejenak.


Viola, gadis itu bergerak ke arah sudut loker dan mengambil sebuah sapu disana. Dengan cepat diarahkan nya gagang sapu itu dan berusaha memukul Wendy berulang kali. 2 temannya yang lain pun buru-buru mengambil sesuatu untuk menjadikannya senjata.


Wendy mendengus melihatnya, pukulan gagang sapu itu memang terasa menyakitkan saat mengenainya. Hanya 2 pukulan, sebelum kemudian Wendy meraih gagang sapu itu dan mematahkannya begitu saja menjadi 2 bagian. Gadis itu sangat marah.


Dilemparkannya gunting ditangannya dengan ahli dan gunting itu langsung  menggores pipi Viola dan membuatnya tersayat tepat disini kanan. Viola menjerit kencang. Merasakan rasa sakit luar biasa di pipinya. Darah perlahan keluar dan gadis itu tersungkur sambil berusaha menutupi pipinya yang terluka dengan telapak tangan.


Wendy berdecih tak merasa bersalah sekalipun.


Gadis itu berjalan menghampiri Viola dan menunduk untuk mengambil gunting yang terjatuh setelah menggores pipi Viola. "Lihat, siapa disini yang paling jelek. Oh Wajah yang mengerikan." Ejeknya.

__ADS_1


Wendy berdiri tepat dibelakang Viola. Gadis itu menyeringai senang lalu meraih rambut Viola. Tapi, Viola yang merasa rambutnya dipegang segera memberontak. Gadis itu bangkit kesetanan dan mulai memukuli Wendy. Gadis itu melepaskan sepatunya lagi dan berusaha melayangkan nya ke Wendy. Wendy dengan cepat menghindar. Dan melayangkan tinjunya kearah wajah Viola yang terluka. Alhasil Viola menjerit kesakitan.


Wendy tak peduli. Gadis itu meraih rambut Viola dan terus mengguntingnya. Setelah selesai, Wendy melepaskan Viola. dan menyuruh gadis itu berdiri sendiri. "Berdiri atau kupatahkan kakimu." Perintahnya pada Viola yang sudah setengah sadar. Gadis itu menangis dan mulai ketakutan akan sosok Wendy. Tapi dia tetap menuruti keinginan Wendy dan berusaha berdiri meski kakinya lemas sambil berpegangan pada loker dibelakangnya.


Wendy terkekeh kecil.


Lalu wajahnya menjadi bengis kembali dan mulai melayangkan tamparan ke wajah Viola. satu tamparan lagi di sisi wajah lainnya. Lalu menatap gadis itu dari atas ke bawah, tampak sedikit puas. "Yah, tak semenyenangkan memukul pria." Ujarnya tak peduli.


Wendy mengedarkan pandangannya. Dan tatapannya berhenti pada 3 orang yang berada di sudut. Satu orang sudah setengah sadar dengan rambut terpotong pendek dan 2 lainnya mendekap gadis itu dengan tubuh gemetar.


"Kalian sedang menunggu hukuman kalian rupanya. Tenang saja semuanya kebagian kok." Wendy tersenyum. Tapi senyuman itu sungguh mengerikan bagi ketiga orang itu.


Wendy berjalan pelan kearah mereka bak predator. Gadis itu tak melepaskan pandangannya sama sekali dari 3 orang yang menunduk itu.


Tapi kemudian salah satu dari mereka bersujud dan mulai menangis sambil memohon ampun.


Wendy berhenti dan wajahnya menjadi dingin. Dia tak suka orang rendahan yang meminta ampun.


"Kumohon... Hiks... Ku.. Kumohon ja...janghan hukum hiks aku. Maafkan... Hiks ma... Maafkan aku." Gadis itu terus memohon ampun berkali-kali. Hingga kemudian kedua gadis lainnya mengikuti gadis yang bersujud itu.


Ekspresi Wendy semakin dingin dan gadis itu berhenti berjalan. Dia tak suka ini. Dia benci menghukum orang yang memohon ampun padanya seakan dia begitu mengerikan dan bukan.. Manusia. Wendy berdecih dan membalikkan badannya.


Tapi kemudian pandangannya beralih pada pintu yang dibuka tiba-tiba dan Wendy semakin mendengus tak suka.


"Owh.. Aku bersyukur ruangan ini kedap suara. Jadi aku bisa keluar dan merasakan sedikit kesenangan." Ujarnya dan kembali berjalan. Namun kini gadis itu berjalan ke arah pintu keluar. "Aku tak mengerti kenapa Yuzen mempekerjakan kalian, jika menjaga Wanda saja kalian tidak becus."


Wendy berhenti tepat didepan 2 bodyguard itu. Satu bodyguard masih berada diluar dan berjaga - jaga. Gadis itu tersenyum manis kepada 2 bodyguard itu sebelum kemudian menonjok kedua pria itu hingga sedikit terdorong.


"Menyebalkan. Bereskan mereka."


Lalu gadis itu melangkah keluar gadung olahraga, merentangkan tangannya dan mulai menghirup udara sebanyak - banyaknya. "Aku rindu kebebasan."


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆

__ADS_1


__ADS_2