
Sunyi.
Gadis itu terbangun tanpa siapapun dikamar. Hanya ada dirinya dengan kamar yang terang benderang.
Jam menunjukkan pukul 5 kurang, terlalu pagi untuk dia bangun. Tentu saja, siapa yang bisa tidur setelah apa yang terjadi kemarin. Semalaman bahkan dia menangis hingga tengah malam. Matanya perih dan membengkak.
Kini dia bingung, sungguh.
Matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang. Semalam dia menangis dengan pikiran ruwet yang harus diuraikannya satu persatu. Rasanya dia tak pernah berpikir seberat itu sebelumnya. Apakah masalah hubungan percintaan memang seruwet ini? Wanda ingin menerima semua cinta Yuzen. Sungguh. Tapi disisi lain dia merasa tak pantas. Dia hanyalah.... Seorang Wanda. Gadis miskin buruk rupa yang punya banyak kekurangan. Dia tidak sepantas itu bisa bersanding dengan Yuzen.
Meski cuek, hal-hal seperti itu cukup mengganggunya sekarang. Jika menerima Yuzen, Wanda merasa kasihan pada pria itu yang mendapatkan gadis sepertinya. Mungkin saja pria itu hanya sedang khilaf sekarang.
Air matanya lagi-lagi terjatuh.
Memikirkan jika perasaan cinta Yuzen memang salah, membuatnya takut. Bagaimana jika pria itu ternyata hanya terobsesi?
Dia takut hancur.
Wanda berusaha membuang semua pikirannya menjauh.
Mengusap air matanya, gadis itu memilih beranjak dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi. Gadis itu berhenti sejenak dicermin diatas wastafel dan mengamati wajahnya.
"Lihat wajah itu, mengerikan." Ujarnya. Bagaimana bisa dia terus berjalan bersisian hanya dengan Yuzen jika dia hanya itik buruk rupa.
Kepercayaan dirinya kini benar-benar ada dititik terendah.
Wanda ingin beranjak dan menyalakan keran bath-up untuk mengisinya, tapi sebuah suara menyentak nya tiba-tiba.
"Kau cantik, Wanda."
Wanda mengernyit kaget. Dia tak mengerti. Tapi memang, akhir-akhir ini dia selalu mendengar seseorang berbisik didalam kepalanya. Wanda selalu mengira itu hanyalah suara benaknya saja. Hanya dirinya yang sedang membatin.
Tapi kini, saat dia menatap cermin dihadapannya, Wanda nyaris menjerit.
Pantulan bayangannya dicermin tersenyum lebar. Wanda mengangkat tangannya dan meraba pada bibirnya. Tidak. Dia tidak tersenyum.
Wanda masih menatap pantulan nya dicermin dan bayangan itu masih tersenyum lebar. Gadis itu terpaku takut. Dia bahkan tak bisa membuka mulutnya karena terkejut.
"Hai Wanda." Dan tangan di pantulan cermin itu melambai padanya. Yang mana kini kedua tangan Wanda masih merapat bibirnya. "Kau tampak terkejut. Well, kau akhirnya sadar akan eksistensiku. Sepertinya keberadaanku semakin dominan. Atau kau yang semakin rapuh?"
Wanda tak menjawab. Dia bahkan nyaris pingsan kalau boleh dibilang. Tubuhnya terhuyung dan kini dia berpegangan erat pada wastafel untuk menyanggah tubuh.
"Aku marah padamu Wanda." Satu kalimat itu melenyapkan senyuman dibibir sosok bayangannya. Kini, ekspresi disana terlihat murka.
Rasa bergidik langsung menjalari diri Wanda. Namun tatapannya seakan tidak bisa lepas dari cermin dan dia terus menatap pantulan dirinya dicermin.
"Kenapa kau menolak Yuzen? Kau mencintainya juga bukan? Jawab!"
__ADS_1
Wanda meneguk ludahnya susah payah. Apa yang sedang terjadi? Kenapa bayangannya bisa berbicara? Dan kenapa.... Tiba-tiba kepalanya terasa sakit. Awalnya biasa saja, namun sakit itu mulai bertambah menyakitkan. Reflek, Wanda memegangi kepalanya dengan salah satu tangannya.
"A-aku...." Wanda kembali tercekat. "Aku takut." Bisiknya.
Sosok dihadapannya melotot. Wanda kembali bergidik
"Apa yang kau takutkan?"
"Se-semuanya."
Lalu sosok dihadapannya mulai tertawa keras. Wanda meringis memegangi kepalanya. Suara tawa itu tiba-tiba menggema dalam kepalanya. Membuat kepalanya tiba-tiba berdenyut semakin menyakitkan.
"Kau hanya takut tersakiti lagi Wanda. Itu wajar karena pria itu pernah menyakitimu. Otakmu hanya sedang merespon tanda bahaya dengan mulai memunculkan berbagai pikiran negatif. Meskipun kau tidak ingat, tapi hatimu pernah merasakannya dan otakmu membantu memberikan respon yang sesuai."
"Aku... Tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Tersakiti lagi?"
"Tak perlu dipikirkan." Lalu sosok itu memajukan wajahnya semakin dekat ke pembatas cermin. "Yang ingin ku tanyakan hanya satu. Apa kau mencintai Yuzen?"
Wanda terdiam sejenak.
Dia menyukai Yuzen. Merasa nyaman didekat pria itu. Apakah dia benar-benar mencintai pria itu?
Dan Wanda akhirnya mengangguk kecil. Tiba-tiba pipinya bersemu. Dia merasa malu akan pengakuannya. Dan lagi-lagi jantungnya berdetak cepat.
"Bagus. Kalau begitu kau harus segera menemui Yuzen dan mengatakan bahwa kau juga mencintainya."
"KENAPA?!"
deg.
Wanda memundurkan langkahnya saat pekikan itu menyentaknya. Air mukanya langsung berubah pucat dan kedua kakinya gemetaran. Sosok bayangan dihadapannya baru saja membentaknya.
Sosok itu menghembuskan nafasnya. Berusaha mengendalikan emosinya yang sempat meledak beberapa detik lalu.
Kemudian sosok itu mulai menggunakan nada lembutnya, "kenapa kau tidak mau?"
"Bagaimana jika, hubungan ini akhirnya hancur juga. Lebih baik aku tidak merasakannya terlalu dalam atau nanti saat semuanya selesai, aku akan hancur berkeping-keping."
"Jadi, lebih baik melihat Yuzen jalan dengan gadis lain? Itu maumu?"
Wanda mengernyit. Lalu bergidik saat membayangkan Yuzen bersama dengan gadis lain. Sontak dia menggeleng dengan cepat.
"Otakmu ini benar-benar kacau Wanda. Kau membuat hal sederhana ini menjadi rumit." Sosok itu menghembuskan nafasnya kesal. "Dengar, jika kau mencintai Yuzen, katakan pada pria itu. Kini, kau justru menyakiti Yuzen dengan tindakan plin-planmu. Kau hanya mementingkan perasaanmu. Lalu, bagaimana perasaan Yuzen yang kau lukai? Jika kau meragukan cintanya, kau hanya harus kembali menelaah dan bertanya. Menelaah lagi setiap tindakannya selama ini terhadapmu. Apa dia pernah menyakitimu secara sengaja? Apakah dia menyayangimu dengan tulus? Lalu jika kau tetap ragu, bertanyalah padanya. Apa dia sungguh mencintaimu? Apakah dia ingin menghabiskan hidupnya denganmu? Hanya sesederhana itu. Sisanya tinggal kau nikmati waktumu bersamanya."
"Jikapun memang akhirnya berakhir, paling tidak kau tidak menyesal karena salah melangkah. Jika kau memang ingin menolaknya, tolaklah Wanda. Jangan gantung Yuzen. Digantung lebih menyakitkan daripada ditolak, kurasa."
Wanda hanya bisa terdiam. Berusaha mencerna semua kalimat itu. Lalu kemudian gadis itu mengangguk. Mungkin dia memang harus bicara pada Yuzen. Mengubur rasa takut, malu, serta pesimisnya sementara dan mulai bertanya pada pria itu tentang perasaan pria itu dan mengungkapkan semua rasa takutnya.
__ADS_1
Benar.
Wanda mendongak menatap cermin dengan senyum tipis yang terukir, "terimakas--" Sosok itu menghilang karena kini ekspresi pantulan bayangannya sama dengannya
Wanda mengangkat tangan kanannya, dan bayangannya mengikuti tindakannya.
Sakit kepalanya pun sudah hilang, membuat Wanda merasa semakin heran. Lalu satu pikiran melintas. "Apa aku sudah gila?"
Apa tadi hanya berasal dari delusinya? Dia hanya sedang berkhayal?
Wanda menggeleng.
Merasa takut, gadis itu memilih beranjak keluar dari kamar mandi dengan tergesa-gesa. Dia mengurungkan niatnya untuk mandi dan akhirnya melangkah hendak keluar kamar dan mencari Yuzen. Dia ingin menemui Yuzen sebelum pikirannya berubah lagi.
Tapi....
"Kenapa terkunci?"
Pintu itu terkunci.
Seketika wajahnya menjadi panik. Siapa yang mengucinya didalam sini?
Yuzen?
Tapi... Kenapa?
Tubuh gadis itu melemas dan akhirnya jatuh ke lantai.
Apa Yuzen mengurungnya.... Lagi?
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆
[[***Hello ketemu lagi nih.
Btw,
Untuk yang bingung atau penasaran gimana part di kamar mandi yang Wanda bicara ke Wendy itu..
Bisa nonton drakor kill me heal me.
Scene-nya pas di ep 4 bagian akhiran (tapi gak akhir bgt ya.)
Itu referensi ku bikin scene di atas. Jadi yah gitu....
Wohohoho
See you***.... ]]
__ADS_1