Psychopath Prince

Psychopath Prince
-39- Bertemu


__ADS_3

"Apakah kau teman sekelas Wanda?"


"Wanda?"


"Iya, Wanda pacarnya kak Yuzen!" Flo yakin sekali jika semua orang di jurusan Wanda tahu jika Yuzen pacarnya. Bagaimanapun, Yuzen sering menghampiri Wanda kesini. Berita Yuzen dan Wanda juga sangat populer sekarang ini di media sosial kampus.


"Ah... Dia. Beberapa mata pelajaran kami sekelas. Kenapa?"


Flo mendesah lega. Beberapa saat lalu, dia sudah menanyai 2 orang lainnya. Tapi mereka tidak ada kelas yang sama dengan Wanda. Akhirnya dia menemukan orang yang tepat.


"Apakah... Wanda masuk kelas akhir-akhir ini?"


"Aku tidak memperhatikan. Tapi sepertinya beberapa hari ini dia memang tak ada. Kak Yuzen pun tidak kelihatan."


Flo sedikit mengernyit. Tentu, siapa yang akan memperhatikan Wanda. Para gadis akan lebih fokus pada Yuzen.


"Oh begitu. Terimakasih ya..."


Flo segera berlalu, gadis itu memilih berjalan ke arah gedung fakultasnya. Pikirannya agak kacau. Dia sedikit khawatir dengan Wanda, Bagaimanapun gadis itu nyaris selalu menempel padanya. Dan sudah 3 hari Wanda tidak terlihat dikampus sama sekali. Kemana gadis itu?


Saat flo kerumah Wanda pun, tak ada gadis itu. Dia justru menemui pria paruh baya yang mangaku sebagai ayah temannya itu. Flo memang tak mengenal siapa ayah Wanda, melihatnya pun tidak pernah. Dirumah Wanda tak ada satupun foto yang terpajang.


Dia mengenal Wanda saat kelas 2 SMA. Saat itu Wanda merupakan murid pindahan yang mendapatkan beasiswa disekolahnya dan sudah hidup sebatang kara. Sejak awal, Wanda anak yang tak pernah berbicara, diam di bangkunya dan tak berniat berteman dengan siapapun. Tapi disaat itulah mereka berteman. Flo memilih mendekati Wanda, meski awalnya memang butuh kerja keras ekstra. Keunikan Wanda membuat Flo tertarik. Dan akhirnya lama kelamaan mereka menjadi sangat dekat. Meski begitu, Wanda tak pernah menceritakan tentang orang tuanya. Dia bahkan heran, kenapa ayah Wanda baru muncul sekarang. Padahal saat mereka bertemu, ayah Wanda terlihat seperti pria baik-baik.


Ah sudahlah.


Sekarang,


Flo merasa kehilangan sesuatu saat Wanda tak ada selama berhari-hari.


Tanpa sadar air mata Flo terjatuh. Gadis itu berhenti berjalan dan mengusap air matanya kasar.


Dan saat itulah dia melihat sosok itu....


Flo memiringkan kepalanya sejenak, sebelum kemudian berlari mengejar sosok itu yang berjalan dihalaman fakultasnya.


"Tunggu.....!" Teriaknya. "Kak Hanzel!"


Dia harus menemui kak Hanzel, dan memaksa pria itu memberitahukan keberadaan Yuzen. Kalau perlu alamat rumah Yuzen.


โœ๐Ÿ‘€โœ


Padang itu sangat luas, penuh warna hijau rumput yang bergoyang tertiup angin lembut.


Wanda menengadah menatap langit. Biru dan putih. Langitnya sangat cerah dengan gumpalan awan putih. Matahari bersinar terik dan entah kenapa tidak terasa menyengat. Gadis itu berjalan, terus berjalan hingga dia melihat sebuah bangku panjang berwarna coklat. Sangat kontras dengan warna hijau muda rumput. Rasanya itu satu-satunya benda selain rumput selama dia berjalan tadi.


Tapi yang mengejutkan, seorang gadis duduk diatas bangku itu. Seorang gadis berambut coklat, dengan pipi gembul dan hidung mancung, selain itu matanya tampak indah. Terlebih dihiasi bulu mata lentiknya. Gadis itu mirip seseorang, tapi Wanda tak ingat siapa.


Entah kenapa, Wanda terus berjalan. Menghampiri gadis itu. Kenapa dia menghampiri gadis itu? Bukannya seharusnya dia ketakutan dengan Orang asing?

__ADS_1


Wanda menggelengkan kepalanya, hatinya tidak sedang ketakutan saat ini. Dia justru merasa sangat aman.


Lalu kaki-kaki Wanda berhenti tepat disamping bangku coklat itu.


Gadis itu mendongak menatapnya. Dan seketika Wanda merasa gadis itu sangat mirip dengannya, kecuali warna rambut dan pipi gembul itu.


Gadis itu tersenyum lebar, tidak, justru tampak menyeringai. "Hai Wanda. Setelah sekian tahun, akhirnya kita berjumpa."


"K.. Kau siapa?"


"Aku sedikit sakit hati kau tidak mengingatku." Gadis itu mendengus lalu tiba-tiba menarik Wanda agar duduk di sampingnya. "Padahal kau yang menciptakanku."


Wanda sedikit menggeser duduknya. Memberi jarak akan kedekatannya.


"Tapi tak apa, aku akan tersimpan selalu di kenangan indahmu. Perkenalkan namaku Wendy."


"Wendy?" Wanda mengerjap, dia tak asing dengan nama itu. Tapi siapa? Dahinya mengernyit berusaha mengingat-ingat siapa itu Wendy. Rasanya dia sangat rindu dengan nama itu, tapi dia tak ingat siapa itu.


"Tak perlu diingat-ingat, lagipula kita bertemu saat kau masih kecil. Kau yang membuatku hadir didunia ini." Wendy tersenyum, kali ini benar-benar tersenyum. "Tapi saat ini sosok ku beda dengan terdahulu. Dulu, kau menciptakanku sebagai sosok teman masa kecil. Sosok yang kau ciptakan sendiri, teman khayalan."


"Teman khayalan?" Wanda tak ingat dulu dia pernah menciptakan teman khayalan. Tunggu, berarti saat ini hanyalah khayalan yang diciptakannya?


Seakan bisa membaca pikiran Wanda, Wendy menyahut, "Ya seperti itu. Ini hanyalah seperti sebuah mimpi. Jika dulu aku hanyalah sosok yang digerakkan khayalanmu, saat ini sosok ku sudah berbeda. Aku kini hidup, kau yang menghidupkanku."


Wanda terdiam. Dia semakin tak mengerti. Bagaimana bisa khayalannya menjadi hidup.


"Kau menghidupkanku, menjadikanku sebagai penghuni lain dalam tubuhmu. Menjadikanku sebuah kepribadian lain yang kau miliki. Dan aku pun bisa mengambil alih tubuhmu dan menidurkan kepribadianmu yang sekarang jika aku memaksa."


"Kau kuliah di jurusan psikologi kan? Kau mengambil jurusan itu karena ingin mengubah dirimu yang aneh, tapi justru semua pelajarannya terasa omong kosong bagimu."


"Ba-bagaimana kau tahu apa yang kupikirkan?"


"Mudah, karena kita berbagi satu tubuh." Wendy mendekatkan wajahnya pada Wanda, "kau juga pasti tahu istilah Kepribadian Ganda kan? Sindrom D.I.D?"


Wanda perlahan mengangguk. Tiba-tiba dia merasa takut.


"Kau mengidapnya. Dan aku kepribadian lainmu. Kau yang membuatku ada. Otakmu yang sakit, membutuhkanku untuk menjadi tameng segala rasa sakitmu. Dan otakmu membutuhkanku sebagai pelindung mu agar kau tidak bertambah gila dan pesakitan."


"Aku? Be... Benarkah?"


Wanda mundur menjauh hingga ujung bangku. Tapi penjelasan itu rasanya masuk akal, dia selalu merasa waktunya terkadang hilang. Atau dirinya yang tiba-tiba berada di suatu tempat. Memang tidak sering, tapi pernah beberapa kali. Seperti warna rambutnya yang berubah setelah adegan pengeroyokan, yang entah bagaimana dia bisa lolos dari sana. Atau seperti dia yang dicium seorang pria di club, selama ini Wanda menganggapnya mimpi. tapi setelah penjelaskan ini, dia yakin hal itu benar-benar terjadi. Wanda tak ingin bertanya, dia cukup takut akan hal apa saja yang sudah dilakukan kepribadian lainnya itu.


"Hmmm... Kau ingat dengan Yuzen yang tak pernah terlihat selama sebulan setelah menyekapmu dirumahnya? Itu karena aku menusuknya dan dia masuk rumah sakit. Dia membuatmu ketakutan waktu itu kan. Jadi, aku membalasnya."


Wanda tertegun.


Dia segera berdiri dan mundur beberapa langkah hingga terjengkang diatas rumput. Wendy terkekeh melihatnya, dia tahu ketakutan Wanda.


"Kau menusuknya? De-dengan tubuhku?"

__ADS_1


Wanda menatap tangannya dan merasa buruk karena pernah berbuat kriminal. Meski bukan dia, tapi tubuhnya lah yang dipakai. Tiba-tiba tangannya bergetar ketakutan.


"Tenang saja, Yuzen sudah memaafkanku kok. Lagipula dia tahu kalau aku ada. Dia tahu kau berkepribadian ganda. Dia kenal aku."


"Kak Yuzen tahu?"


"Hmmm..." Wendy memilih menjawab singkat dan berjalan menghampiri Wanda. Tangannya terulur berusaha membantu Wanda berdiri.


Ragu-ragu Wanda menerima uluran itu.


"Kenapa aku tidak tahu?"


"Karena keberadaanku masih seperti angin lewat saat itu. Tapi kini, keberadaanku makin kuat, kau dapat merasakan ku, mendengarkanku, dan berbicara padaku."


"Terdengar aneh." Wanda mengernyit. Kenyataan ini seperti salah satu adegan film fantasy yang mustahil terjadi.


"Memang. Kau tahu, kerja otak memang tak bisa dijelaskan dengan nalar. Intinya, aku ada dalam tubuhmu dan kita bisa saja bergantian menggunakannya. Aku tidak akan memaksamu memberikan tubuhmu. Kita bisa bekerjasama dan kau bisa memberikanku sedikit waktu kebebasan, Kadang-kadang saja. Atau saat kau butuh aku mengendalikan situasi yang kau anggap tak sanggup kau tanggung."


Ini aneh, Wanda tahu itu. Tapi entah kenapa hatinya menerima ini semua. Meski terlihat sedikit urakan, tapi Wendy terlihat tulus dan baik. Wanda tak yakin, tapi rasanya selama ini keadaan terburuknya selalu dapat dia lalui meski tak ingat jelas bagaimana caranya. Dia rasa Wendy memang selalu yang menangani segala kejadian terburuknya. Bukankah dia harus berterimakasih akan itu?


Meski menakutkan memiliki sosok lain, tapi Wendy selalu membantunya.


"Ba-baiklah. Aku akan mencerna ini perlahan-lahan." Wanda membiarkan Wendy kembali menggiring nya duduk dibangku. "Ngomong-ngomong, apa kau juga yang muncul dicermin?"


Wendy menyeringai tiba-tiba. "Ya. Hebat bukan? Itu cara paling mudah saat kau ingin melihatku. Kau tahu, otakmu yang pesakitan itu akan memberikan visualisasi ku dicermin saat kau mau. Tentu saja, hanya kau yang bisa melihatnya. Jadi jangan berbicara ditoilet umum, kau akan dianggap gila." Wendy terkekeh.


Wanda meringis. "Jadi, kenapa kita bisa bertemu disini?"


"Kau pingsan. Dan saat ini sedang bermimpi, aku memanfaatkan itu untuk berkomunikasi denganmu mumpung keberadaanku sudah kuat." Wendy mengangkat kedua bahunya tak peduli.


"Hah?"


"Kau dikurung di kamar Yuzen tanpa makan dan hanya minum air keran sesekali. Otakmu ketakutan dan merasa depresi karena dicampakkan Yuzen. Saat kau memilih mandi dan berendam di Bath-up dihari ketiga, kau pingsan."


Mata Wanda membulat, ah dia ingat itu semua.


Yuzen....


Pria itu masih saja tidak terlihat. Pria itu benar-benar marah padanya. Wanda, dia merasa dibuang.


Ini semua memang salahnya...


"Kau mulai berpikiran negatif. Berhentilah berpikir sebelum semakin jauh. Sebaiknya sekarang kau bangun saja!" Wendy sedikit mengeraskan suaranya. Dia selalu kesal saat Wanda mulai berpikiran aneh-aneh. Dan kini dia bisa melihat keengganan Wanda untuk bangun.


"Sudahlah. Bangun saja Wanda. Ingat ada aku? Jika kau tidak sanggup menghadapi keadaan, aku yang akan mengambil alih. Paling tidak belajarlah menghadapi keadaan sedikit demi sedikit."


Wanda menggigit bibirnya ragu sebelum kemudian mengangguk. Setelah itu, semua pandangannya menjadi gelap dan entah apa yang kemudian terjadi.


โœ๐Ÿ‘€โœ

__ADS_1


Happy Sunday Semuanya!


Yang kangen adegan romantis Yuzen-Wanda harap bersabar ya ๐Ÿ˜


__ADS_2