
Yuzen menggeram pada dirinya sendiri. Dihantamnya cermin dihadapannya dengan kepalanya. Membiarkan rasa sakit langsung menyengat kepalanya. Darah pun mulai menetes dari sana. Namun Yuzen justru tersenyum lebar melihat penampilannya.
Apapun cara yang telah dilakukannya, tak mampu membunuh hasratnya. Dia ingin menghukum semua orang yang telah menyakiti gadisnya. Mencabik mereka hingga mati perlahan penuh kesakitan. Hasrat bengis yang susah dihilangkan. Padahal dia ingin setidaknya sedikit saja pantas untuk gadisnya yang polos.
Namun rasanya percuma.
Dia baru saja melihat para tahanan di ruang bawah tanah rumahnya. Ada 4 gadis yang menyakiti Wanda disana. Dan dia benar-benar ingin mencabik mereka hingga tetes terakhir darah.
Dan kini dia berada dikamarnya. Berusaha sedikit membenamkan hasrat membunuhnya. Tapi percuma. Dia tetap seorang pembunuh. Pantas tak pantas untuk Wanda, dia tak ingin memikirkannya. Ya. Dia tetap akan memiliki gadis itu bagaimanapun caranya. Harus!
Senyuman Yuzen berubah menjadi seringaian senang.
Pria itu berjongkok dan mengambil serpihan kaca yang tajam. Sebelum menghukum mereka, Yuzen ingin menghukum dirinya sendiri karena membuat gadis itu menangis tadi pagi.
Perlahan tangannya bergerak melukai tubuhnya sendiri. tidak hanya cukup satu sayatan, Yuzen melakukannya lagi.
Setelah merasa cukup, Yuzen membuang serpihan kacanya. Pria itu terjatuh meringkuk dilantai. Tubuhnya sakit dan perlahan matanya mengabur karena darah yang terus terkuras habis. Tapi pria itu tersenyum senang dan perlahan menutup mata.
Dia perlu istirahat beberapa jam. Saat bangun nanti, dia akan menghabisi para tahanan kurang ajar itu.
Jangan berharap dia mati hanya karena luka - luka yang dibuatnya sendiri. Yuzen tidak selemah itu.
"Wanda, aku ingin dipeluk." Bisiknya sebelum menutup mata. Dia merasa kedinginan.
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆
Pagi itu mobil pajero Yuzen sudah terpakir apik di pekarangan rumah Wanda. Setelah mengurusi semua hal dirumahnya dan membersihkan diri dari bekas-bekas darah, Yuzen memilih kerumah gadisnya pagi - pagi sekali untuk mengantar gadis itu ke kampus. Oh ayolah, dia tak ingin lagi melihat gadis itu jalan kaki dan datang ke kampus dengan tampilan acak-acakan penuh keringat. Gadis itu justru terlihat sexy dengan penampilan itu!
Keparat.
Yuzen tak mau Wanda teralihkan pada pria lain. Bahkan kini pria itu berdandan lebih stylish daripada biasanya. Sweater putihnya yang sedikit kebesaran membalut tubuhnya, kakinya dihiasi jeans berwarna hitam pekat. Rambutnya yang biasanya acak-acakan, tertata rapi dengan gaya kekinian. Lalu sebuah kacamata bertengkar manis diwajahnya. Membuat ketampanan pria itu bertambah. Dan... Sebuah tindik kecil terpasang di telinga kirinya.
Yuzen benar-benar bergaya pagi ini. Tampilannya yang biasanya acak-acakan namun sopan berganti dengan tampilan flower boy yang trendi. Siapapun tak akan bisa menolak pesonanya.
Sesekali Yuzen berkaca pada spion mobilnya sebelum kemudian Wanda keluar dengan tampilan seperti biasanya yang.... Berantakan.
"Pagi sayang." Sapa Yuzen dengan senyuman manis.
Langkah Wanda terhenti melihat Yuzen yang berada di halaman rumahnya. Mata bulat Wanda memandang Yuzen dari atas kebawah. Pria itu tampak berbeda. Tapi sudahlah, bukanlah itu yang dipedulikan Wanda. Dia memang terpesona. Tapi dia lebih malu akan kejadian kemarin.
Pipi gadisnya seketika langsung merona saat mengingat kejadian kemarin. Dengan sigap gadis itu segera berlari memasuki rumah daripada dihadang pria itu. Dia tak peduli dengan kuliahnya. Dia ingin menghindari pria itu, titik.
"Hey, sayang!"
Yuzen melongo melihat Wanda yang justru berlari masuk ke rumah. Pria itu menggaruk belakang lehernya, meringis dan sedikit merasa bersalah akan apa yang terjadi pada gadisnya. Oh ayolah, gadis mana yang tak malu saat melihat seorang pria mastrubasi. Salahkan hasrat Yuzen yang tak tertahankan!
Tapi kemudian Yuzen terkekeh geli. Pria itu mengunci mobilnya otomatis sebelum kemudian berlari mengejar Wanda. Dia harus merayu gadisnya lagi agar tidak menjauh darinya.
__ADS_1
"Wanda." Panggil Yuzen dan menaiki tangga. Memasuki kamar gadis itu, dan Yuzen tak menemukannya disana.
Pria itu mengernyit dan keluar dari kamar. Sejenak pria itu berpikir dan kemudian mengeluarkan ponselnya untuk mengecheck CCTV yang ada dirumah ini.
Oh jangan kira dia tak memasang CCTV. Dan CCTV itu bahkan lebih banyak daripada dirumah orang tuanyanya. Super kecil dan langsung tersambung pada semua ponsel dan laptop Yuzen.
Yuzen memutar kejadian sekitar 5 menit lalu. 30 tayangan langsung berputar secara bersamaan, dengan sigap Yuzen menekan CCTV diruang tamu. Lalu terlihat Wanda yang menaiki tangga. Yuzen beralih ke CCTV dilantai 2 dan mengernyit saat melihat sebuah tangga tersembunyi menuju loteng yang dinaiki Wanda.
Ah... Gadis itu di loteng.
Tanpa basa-basi Yuzen segera menuju loteng. Pria itu menaikinya dengan perlahan lalu membuka pintu loteng. Berusaha tanpa suara agar tidak mengageti gadis itu.
Yuzen melihatnya.
Wanda duduk meringkuk menghadap jendela kecil yang berada di loteng. Gadis itu menatap halaman belakang yang baru ditanami bunga mawar oleh tukang kebun barunya.
Yuzen tersenyum melihatnya. Perlahan dia berdiri dibelakang gadis itu dan mulai mendekapnya dengan lembut.
"Sayang..." Ujar Yuzen lembut. Wanda tersentak kaget. Tapi kemudian langsung menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangan. Bayangan Yuzen dikamar mandi kemarin tak bisa hilang dari pikirannya.
"Kak Yuzen...." Cicit Wanda pelan. "A-aku ingin sendiri."
Yuzen menggeleng. "Aku ingin bersamamu."
Yuzen terus mendekap Wanda dari belakang. Satu tangannya mengelus kepala gadis itu sayang. "Aku salah. Aku minta maaf. Tapi tolong jangan jauhi aku."
Wanda hanya bisa menggeleng. Dia tak tahu ingin berkata apaapa-apa.
"Aku tahu, kau takut dengan segala interaksi kita. Tapi aku hanya ingin membuatmu terbiasa dan bisa menerimaku."
"Kenapa?" Hanya itu yang keluar dari bibir Wanda. Pipinya masih memerah malu, namun matanya mengikuti Yuzen yang kini berpindah ke depannya.
Mereka saling berhadap-hadapan dan Yuzen meraih kedua tangan gadis itu agar dapat di genggamnya erat.
"Aku mencintaimu."
"Kau bohong." Reflek Wanda. Dia tak percaya Yuzen yang sempurna menyukainya.
"Apa kau percaya jika aku bilang sudah mencintaimu sejak lama. Jauh, sebelum aku menginjak bangku kuliah."
Wanda reflek menggeleng lagi. "Kau gila." Bisik Wanda.
"Ya. Aku gila karena mencintaimu." Sejenak Yuzen terdiam. "Kau mungkin menganggap aku brengsek dan bar-bar. Tapi aku hanya terlalu mencintaimu. Aku suka mengikutimu kemanapun, meski kau tidak sadar. Aku suka melihatmu tersenyum. Aku bahkan harus mendengar kabarmu paling tidak sejam sekali saat kita belum dekat dan berjauhan. Aku... Selalu ingin mendengar suaramu. Segila itu cintaku." Yuzen menunduk lalu mengecup kedua tangan Wanda ringan. Perlahan pria itu mendongak menatap Wanda yang membulat tak percaya. "Aku bahkan bisa membunuh siapapun yang menyakitimu." Bisiknya pelan pada Wanda.
Tapi gadis itu tak menganggap serius ucapan terakhir Yuzen. Baginya kalimat terakhir Yuzen adalah kiasan untuk merayu. Meskipun begitu, dia terpaku pada pernyataan cinta Yuzen yang luar biasa.
Benarkah pria itu mencintainya?
__ADS_1
Kenapa bisa?
Dia hanya gadis miskin, sebatang kara, dan tak pernah merawat diri, dia bahkan tidak cantik.
"A-aku merasa tidak pantas dan aneh." Wanda menunduk.
"Tidak apa. Aku hanya perlu kau menerima cintaku. Kau tidak perlu membalasnya sekarang. Aku akan berusaha melimpahkan semua kasih sayangku padamu. Kau hanya harus menerima. Aku tidak perlu balasannya, tidak saat ini. Aku ingin kau terbiasa denganku dahulu."
"Ta-tapi.... Aku takut." Tubuh Wanda bergetar sejenak. Dia takut keberadaan Yuzen akan menyakitinya. Entah kenapa ada sisi dirinya yang ingin menerima Yuzen. Tapi ada sisi paling dominan dirinya yang menyuruhnya menjauh.
Dia bimbang.
"Kau hanya harus mengingat satu hal. Yuzen tidak akan menyakitiku. Dia sangat mencintaiku. Tolong patri itu dalam kepalamu. Aku akan membuatmu terbiasa dengan keberadaanku."
Wanda hanya mengangguk kecil. Toh dia yakin tidak bisa mengusir Yuzen begitu saja dari hidupnya. Jadi, dia memilih menerima Yuzen untuk sementara waktu ini. Dia ingin mencoba. Sepertinya menjalin suatu hubungan dengan lawan jenis, akan memberinya pengalaman - pengalaman baru. Jika memang dia tidak bisa menjalin hubungan dengan Yuzen, dia tinggal menjauh secara perlahan. Lagipula, biasanya pria seperti Yuzen cepat bosan. Wanda yakin hubungan mereka tidak akan berjalan lama.
"Tapi aku tidak ingin terlalu.... Intim."
Sejenak Yuzen melongo. Tapi pria itu langsung tertawa keras.
"Itu hal yang alami sayang. Perlahan juga kau akan nyaman melakukan hal intim. Bahkan ketagihan."
Wanda menggeleng tak mau. Yuzen pun hanya mendengus dan memilih mendekap Wanda. Menggoyangkan tubuh mereka ke kanan dan ke kiri dengan riang.
"Dan... A-aku ti-tidak ingin melihatmu.... Mas - mastrubasi lagi secara live."
Dan kini tawa Yuzen benar-benar menggema di loteng saat mendengar kalimat yang dilontarkan gadisnya. Astaga, gadisnya polos sekali. Menggemaskan!
"Aku terlalu bernafsu saat itu. Dan kau memang menggoda sekali sayang. Jadi jangan salahkan aku. Toh, aku tidak sampai memperkosamu kan." Ujar Yuzen geli.
Wanda pun melotot. Dan memukul bahu Yuzen kesal.
"Dasar mesum!"
Yuzen kembali tertawa. Tanpa sadar hal itu membuat Wanda terpesona. Wanda pun melupakan ketakutannya. Yuzen yang tertawa baginya terlihat manusiawi sekali dan pria itu terasa sangat dekat.
Wanda ikut tersenyum. Dan tanpa sadar membalas pelukan Yuzen.
☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆
[Author Note:
Terimakasih banyak untuk yang sudah baca cerita ini.
Jangan lupa pencet tombol suka ya 🤗
dan kalau berkenan berkomentar juga. 😍
__ADS_1
Sekali lagi terimakasih banyak. Dukungan kalian menambah semangatku menulis. Ciayooooo...]