Psychopath Prince

Psychopath Prince
-8- Pria Romantis?


__ADS_3

Kau lebih suka mana?


Ciumanku,


Atau


Pelukanku?


✈✈✈~~~~


Wanda berjongkok dibawah guyuran shower, Menatap tubuhnya yang polos pada cermin besar yang dipasang full cover pada dinding. Tubuhnya kurus sekali, tampak menyedihkan dengan kulit yang terlihat pucat.


Air dingin dengan suhu nyaris menyentuh 12°C mengguyur nya terus menerus. Tidak apa, Wanda menyukainya. Meski tubuhnya selalu merasa kebas. Lagipula dia hanya bisa memakai air dari penampungan hujan yang dibuatnya. Air dirumahnya sudah diputus lebih dari setahun lalu karena tidak bisa membayar. Listrik pun dia harus irit-irit karena takut mahal dan tidak bisa membayar. Apalagi untuk biaya makan, makan sehari sekali dengan modal traktiran Flo saja dia sudah bersyukur.


Menyedihkan memang. Untunglah dia masih bisa bersekolah.


Jika orang bertanya bagaimana dia mendapatkan uang, terkadang jika senggang, dia bekerja menjadi guru les anak SD atau SMP dilingkungan rumahnya. Ibu-ibu disekeliling rumahnya yang merasa kasihan padanya memberikan pekerjaan itu. Mereka cukup tahu bahwa nilainya nyaris sempurna di setiap mapel dan lulus dengan nilai terbaik. Sebab itulah dia dipercaya. Meskipun bayarannya tidak banyak.


Lama berada dibawah guyuran  air dingin, semua tubuhnya sudah tidak dapat dirasakannya lagi. Kebas.


Dengan susah payah Wanda mengangkat satu tangannya dan meraih keran untuk mematikan shower diatasnya. Hingga kemudian air mati dan hanya menyisahkan udara dingin yang tersisa. Gadis itu masih diam disana. Dia tidak bisa bergerak. Rasanya tubuhnya membeku. Jadi dia hanya diam dan menunggu tubuhnya dapat bergerak lagi.


Terkadang jika dia tak ingin mandi air dingin, Wanda akan memilih mandi pagi di area pembilasan gedung olahraga kampus. Meskipun saat malam dia tetap akan mandi dirumah atau memilih tidak mandi sama sekali. Toh dia tidak peduli.


Wanda terus berjongkok di sana dan memeluk dirinya erat-erat. Namun tak lama, sepasang tangan mengangkatnya dan menggendongnya dengan dekapan erat.


Wanda kaget tentu saja, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, tubuhnya masih kebas. Saat gadis itu mendongak, dia bisa melihat pria itu menggendongnya dengan tatapan khawatir.


Ah... Kenapa pria itu bisa ada disini?


Seharian ini pria itu selalu ada di mana-mana. Astaga.


"Sudah makan?" Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut pria itu saat berhasil meletakkan tubuh telanjang Wanda keranjang. Pria itu menyelimutinya, lalu ikut masuk ke dalam selimut dan mendekap tubuhnya erat.


"Kak Yuzen..." Wanda bergumam pelan. Rasa kebasnya perlahan menghilang dan rasa malu serta iringan gemetar menghiasi karena terlalu intim dengan Yuzen. "K-kakak tahu rumahku? A-aku tidak be-berhasil kabur?"


Bukannya marah, Yuzen justru terkekeh. Merasa gemas sekaligus kasihan dengan gadisnya yang gagal Kabur. Ayolah, mana mungkin dia membiarkan gadis terkasihnya kabur. "Menurutmu?" Yuzen benar-benar merasa gemas dan memeluk gadis itu erat-erat. Tak lupa memberikan kecupan-kecupannya dipipi serta dahi Wanda. "Kau kan kekasihku. Tentu aku tahu semua tentangmu." Lanjutnya bangga.


"Le-lepaskan tolong." Wanda tidak berteriak. Kemajuan besar memang. Tapi gadis itu justru tampak ingin menangis. Tubuhnya semakin gemetaran. Dan tubuhnya yang sudah tidak kedinginan langsung mendorong tubuh besar Yuzen untuk menjauh.


Namun percuma, Yuzen masih mendekapnya. Meskipun dekapan itu sudah sedikit longgar.


"Kau tahu sayang, aku selalu ingin mendekapmu. Menciummu. Dan melihatmu selalu. Jadi mulai saat ini, aku akan memberikanmu sebuah pelajaran penting." Yuzen mencuri kecupan kilat dibibir Wanda. "Mana yang lebih kau suka, dipeluk atau dicium olehku? Jadi sekarang aku akan terus memberikan ciuman dan pelukanku hingga kau terbiasa dan bisa memberikan pendapat mana yang lebih kau suka."


"A-apa?!" Wanda memekik tertahan. Ide gila macam apa itu?!


Wanda semakin mendorong Yuzen. Tapi pria itu justru menarik Wanda dan kembali mendekap gadis itu erat. Wajah pria itu semakin mendekat. Akhirnya kecupan demi kecupan melayang menghiasi wajah dan leher Wanda. Bertubi-tubi bak angin topan yang melingkupi.


Diakuinya Wanda berdebar. Yuzen pria pertama yang memperlakukannya seperti itu. Namun.... Dia juga takut bukan kepalang!!!


Lihat tubuhnya bergetar.


"TOLONG AKU SIAPAPUN." dan akhirnya gadis itu berteriak. Merasa tak berdaya dan tolong... Dia tak ingin pingsan saat ini. Tidak dalam keadaan telanjang dengan seorang predator.


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


Pukul 5 pagi Yuzen membuka matanya. Rasanya masih mengantuk, tapi ada yang harus dilakukan pria itu kali ini.


Sejenak Yuzen menoleh pada Wanda yang tertidur dalam dekapannya. Lagi-lagi pria itu tersenyum geli dengan kejadian sepanjang malam tadi. Wanda terus-terusan berontak dan berteriak. Tapi hebatnya gadis itu tidak pingsan. Kemajuan yang terlalu pesat. Yuzen yakin sekali, tidak akan mencapai 2 minggu gadis itu akan menerima dirinya seutuhnya. Ah...


Dan gara-gara keasikan semalam, Yuzen lupa memberi makan pada gadis manisnya itu.


"Sialan." Umpatnya pelan.


Mulai saat ini dia harus membiasakan Wanda dapat makan minimal 3x sehari. Yuzen tak ingin lagi memeluk tubuh yang terdiri hanya dari tulang itu terus-menerus, dia takut mematahkan tulang gadis itu. Bahkan Yuzen yakin dia bisa meremukkan tulang - tulang Wanda dengan mudah. Mengenaskan sekali.


Pria itu mencium pipi dan dahi Wanda seringan kapas lalu menyingkap selimutnya dan memilih berjalan keluar kamar.


Matahari masih belum muncul dan rumah itu gelap sekali. Tidak ada lampu di sepanjang koridor atau ruang lainnya. Kalau ada lampu yang terpasang dilangit-langit pun, lampu itu sudah tidak bisa digunakan. Hanya kamar Wanda yang memiliki penerangan. Selebihnya tidak ada. Bahkan dari luar, rumah 2 lantai ini tampak seperti rumah hantu. Gelap dengan rumput liar yang tumbuh tinggi.


Yuzen memegang ponselnya yang sedang memancarkan cahaya terang dari fitur senter. Pria itu berjalan menuruni tangga lalu berbelok dan masuk ke area dapur. Memandang sekitar, pria itu langsung mengernyit jijik.

__ADS_1


Dapur itu berdebu, banyak sarang laba-laba, dan beberapa sampah berserakan disetiap sudut dapur. Yuzen bahkan bisa melihat kecoa bertebaran. Astaga.


Akhirnya pria itu memilih berjalan kearah kulkas yang berada disebelah lemari perabotan makan. Membukanya dan mendesah.


Kulkas itu mati dan tidak ada isinya selain beberapa sayur yang sudah menghitam karena busuk. Pria itu menoleh kebelakang lemari dan melihat kabel kulkas itu tidak tercolok ke stop kontak.


"Astaga, Wanda...." Yuzen geram bukan main. Bagaimana bisa gadis itu tinggal di lingkungan seperti ini. Selama ini dia hanya melihat dari luar, tidak pernah masuk kerumah gadisnya sejak mereka berpisah. Tak disangkanya separah ini.


Yuzen meraih ponselnya dan menghubungi sebuah nomor.


"Bisa kau kirim beberapa orang untuk membersihkan rumah? Ah dan suruh salah satu dari mereka untuk berbelanja kebutuhan rumah. Seluruhnya."


Diseberang sana tampak terdengar suara orang menguap. Lalu menggerutu pelan sebelum kemudian menjawab. "Kau tidak tahu ini masih pagi buta? Ayolah aku tidak ada kelas hari ini."


Yuzen menggeram kesal. "Rahanzel Emillio, laksanakan perintahku atau gajimu kupotong?"


"Oke-oke bos." Ujarnya santai. Dan diseberang sana terdengar suara gemerisik. "Akan kuhubungi jasa bersih - bersih. Btw, buat apa kau butuh orang untuk membersihkan rumah? Dirumahmu kan banyak pelayan."


"Lakukan saja perintahku dengan cepat dan jangan banyak bertanya. Nanti ku kirim alamatnya dimana."


"Oke bos."


"Dan jangan lupa temui investor nanti sore. Maaf aku tidak bisa hadir."


"Oke bos. Jangan lupa beri aku bonus yang banyak ya." Tuttt.


Yuzen berdecak. Heran sekali, bagaimana bisa dia punya asisten seperti Hanzel yang pemalas. Meski yah, pria itu sangat berkompeten dalam pekerjaannya, tak peduli jika terganggu jadwal kuliahnya.


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


Wanda terbangun dengan kesal saat mendengar suara jam alarm-nya yang terus berbunyi. Ingin sekali dia membanting jam itu. Sayangnya dia harus rela menabung lagi untuk membeli jam alarm jika jam itu hancur. Dan dia tidak mau.


Wanda bangkit dan berjalan kearah kamar mandi. Jam menunjukkan pukul 7 pagi dan dia harus segera berangkat jika tak ingin terlambat dikelas paginya.


Gadis itu hanya menggosok giginya dan mencuci muka. Dia enggan mandi, lebih baik dia mandi nanti saja di kampus sehabis kelas paginya. Gadis itu membuka lemarinya dan mengambil asal pakaian yang dikenakannya. Hanya sebuah sweater coklat usang dan celana jeans yang dipakainya kemarin. Rata-rata semua pakaiannya sama semua, buluk dan sedikit berbulu. Karena itu semua pakaian sejak 2 tahun. Sejak ibunya meninggal, dia tak pernah lagi membeli baju baru. Untung saja baju itu masih muat, bahkan kebesaran karena tubuhnya yang terus-menerus semakin kurus selama 2 tahun ini.


Gadis itu berjalan menuruni tangga. Tapi dahinya mengernyit saat melihat banyak wanita paruh baya dengan seragam khas yang berlalu-lalang membersihkan rumahnya.


Tunggu....


Wanda berlari menuruni tangga. Hendak menghampiri salah satu dari pekerja itu untuk bertanya, tapi langkahnya terhenti saat seseorang manggilnya dengan tegas.


"Wanda Sharenia!"


Wanda menoleh dan mendapati Yuzen berdiri dengan bersandar pada pintu masuk dapur. Gadis itu mengerjap.


Ah...


Dia lupa jika pria aneh itu disini dan semalaman terus menyiksanya lahir dan batin.


Wanda mendesah kesal dan memilih mengabaikan pria itu dan terus berjalan.


"Kesini atau kuseret?!" Wanda berhenti berjalan lagi saat mendengar nada keras dari Yuzen. Nada suara pria itu mengindikasikan tak ingin dibantah.


Wanda berdecak sebal. Lalu berbalik dan berjalan kearah Yuzen.


"Kenapa kakak masih disini?" Tanyanya malas.


Yuzen sendiri mengangkat sebelah alisnya. Sedikit terhibur dengan sikap memberontak gadisnya. "Ayo makan. Aku akan mengantarmu ke kampus nanti." Tanpa aba-aba Yuzen langsung menarik lengan gadis itu.


"Makan? Dirumah ini tak ada makanan. Dan aku ingin segera berangkat atau nanti terlambat. Kakak tahu tidak, butuh waktu 30 menit berjalan ke kampus dari rumah."


"Hm. Nanti ku antar pakai mobil." Jawab Yuzen acuh.


"Aku tidak ingin diantar kak Yuzen."


"Kenapa? Toh semua orang tahu kau kekasihku."


Wanda terdiam. Tatapan marah diarahkannya kepada Yuzen. Tapi sesaat kemudian gadis itu mendesah lelah. Dia tak ingin memancing sikap bar-bar Yuzen pagi ini. Dia terus berdoa Yuzen tidak bertindak lebih dari menarik tangannya. Ayolah, jangan ada ciuman. Lama-lama dia harus mengunjungi dokter saraf jika terus gemetaran sepanjang waktu karena Yuzen.


Yuzen menarik kursi meja makan dan menuntun Wanda duduk.

__ADS_1


Wanda sendiri menganga tak percaya. Dihadapannya ada sepiring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi dan ayam goreng. Luar biasa sekali.


Yuzen yang melihat reaksi gadis itu tersenyum sayang. Apalagi saat melihat mata berbinar gadis itu saat menatap nasi goreng di piringnya. Hanya makanan sederhana dan mampu membuat gadis itu berbinar. Gadis itu benar-benar seperti anjing kecil kini.


"Makanlah."


"Da-dari mana ini semua? Tunggu... Dapurnya jadi bersih?! Dan....  Dan...." Wanda bangkit dan memandang sekitar. Lalu dia berlari ke arah kulkas dan kembali menganga melihat isi kulkas yang penuh. "Ka-kakak yang melakukan semua ini?" Wanda bertanya tak percaya. "Kenapa?"


"Wanda berhenti lari-lari dan duduk di kursimu."


Wanda menurut dan duduk di kursinya. Gadis itu masih tak percaya dan terus memandang sekitarnya.


"Hm... Rumah ini perlu diperbaiki. Karena kau terus kabur-kaburan, kupikir lebih baik aku saja yang tinggal disini."


"APA?!"


"Jangan berteriak padaku. Cepat makan-makananmu"


Wanda hanya diam. Masih tak percaya akan apa yang dia dengar. Apa yang akan dikatakan tetangga jika tahu seorang pria asing tinggal bersamanya? Dan dia tentu saja tidak mau. Bisa mati ketakutan dia! Pria itu aneh, bar-bar, dan keras kepala. Pria itu menakutkan! Bagaimana ini?!


Yuzen yang melihat Wanda sibuk dengan pikirannya hanya berdecak. Lalu mengambil sendok di piring Wanda dan mulai menyuapi gadis itu.


"Ak... Buka mulutmu. Atau kau mau ku suapi dari mulut ke mulut?!" Wanda tersentak kaget saat pria itu menyodorkan sendok penuh nasi dihadapannya.


"Aku bisa sendiri." Jawab Wanda. Namun Yuzen justru memandangnya tajam. "O-oke" Ujar Wanda pelan. Tidak ingin pria itu benar-benar menyuapi nya dari mulut ke mulut jika membantah. Wanda percaya pria itu akan melakukannya. pria itu selalu melakukan hal yang diluar akal sehat.


"Bagaimana, enak?"


Wanda mengangguk membuat Yuzen tersenyum kecil menatap betapa lahap gadis itu makan. Tidak sia-sia dia menyuruh salah satu pekerja bersih-bersih tadi memasak.


Yuzen terus menyuapi Wanda hingga piring gadis itu kosong. Lalu pria itu bangkit dan menaruh piringnya ke rak cuci piring. Pria itu kembali ke meja makan dan menarik tangan Wanda untuk bangkit. Tapi Wanda terlalu kekenyangan karena porsi yang diberikan Yuzen sangatlah besar, jadi gadis itu hanya berjalan lambat.


Yuzen mendesah melihat itu, lalu pria itu tiba-tiba menggendong Wanda bridal dan dihadiahi gadis itu pekikan.


"Apa yang kakak lakukan?!"


"Kau lelet."


Wanda mendengus. Tapi berusaha menahan dirinya untuk tak bergetar karena kedekatan itu. Perlahan dibenamkan nya wajahnya ke dada bidang Yuzen. Berusaha menahan gemetaran ditubuhnya dan rasa malu karena melewati banyaknya orang yang kini sedang membersihkan rumahnya.


"Apa, kakak yang memanggil mereka semua?"


"Ya. Karena aku akan tinggal disini juga. Mulai hari ini kau harus menganggap aku kepala keluarga dirumah ini. Aku yang akan mengatur semuanya."


"Ke-kepala keluarga?" Suara Wanda masih teredam oleh dada bidang Yuzen.


"Hm. Anggap saja latihan sebelum kau menjadi istriku."


Saat kalimat itu berakhir, Yuzen membuka pintu mobil dan mendudukan gadis itu dikursi penumpang. Mengabaikan keterpakuan Wanda akan kata-kata Yuzen.


Yuzen mengecup dahi Wanda sebelum kemudian dengan iseng mengambil kecupan singkat dibibir gadis itu. Pria itu langsung menutup pintu mobil dan berjalan ke bangku pengemudi.


Sekilas Yuzen menoleh ke arah Wanda yang masih tampak linglung. Pria itu tersenyum kecil dan merasa gemas dengan ekspresi gadisnya.


Lalu....


Ditariknya Wanda dan ******* bibir ranum itu yang terus menggodanya. Dipeluknya tubuh gadis itu erat untuk menahan sang gadis berontak dan gemetarannya.


Semenit....


Pria itu melepaskannya dan menyeringai melihat bibir Wanda yang semakin memerah.


"Kau milikku.... Selamanya."


Dan mobil itu kemudian melaju, tidak memberikan kesempatan pada Wanda untuk benar-benar mencerna apa yang sebenarnya terjadi.


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


Heiyooooo... semua!!!


Jangan lupa like dan komennya ya.

__ADS_1


Terimakasih banyak sudah mengikuti dan menyukai cerita ini.


Ciyao!!


__ADS_2