Psychopath Prince

Psychopath Prince
-26- Sang Pangeran dan Putri


__ADS_3

Yuzen mengekor di belakang Wanda seperti anak ayam. Sesekali pandangan pria itu menajam saat melihat beberapa pria yang melirik Wanda. Kampus menjadi sangat ramai. Apalagi hari ini kampus dibuka untuk umum. Banyak orang-orang luar yang berdatangan untuk melihat festival kampus. Membuat Yuzen semakin waspada.


"Apa yang kau lakukan hingga diijinkan keluar?" Flo berbisik pada Wanda yang berjalan disampingnya.


Wanda menggeleng. "Aku tidak melakukan apapun." Itu benar. Saat dia selesai bersiap-siap dan keluar dari kamar, Yuzen tidak mencegahnya sama sekali. Bahkan pria itu berganti baju dengan cepat tanpa mandi dan mengikutinya dari belakang tanpa mengatakan apapun. Seperti saat ini.


"Benarkah? Aku masih ingat dia sangat marah tadi pagi. Ngomong-ngomong, kau... Apakah kau sudah ehem-ehem dengannya? Kenapa kalian tidur berdua?" Pipi Flo memerah mengatakannya.


Jangan ditanya Wanda bagaimana, gadis itu tersedak ludahnya sendiri saat mendengar pertanyaan Flo. Pipinya memanas dan gadis itu menunduk tak ingin menatap sahabatnya.


Wanda kembali menggeleng sembari menatap aspal. "Kami hanya tidur. Tidak melakukan apapun. Dan kak Yuzen yang memaksa tinggal dirumahku. Lihat, dia bahkan memasukkan pelayanan kedalam rumah." Tak ingin menambahi kenyataan bahwa mereka nyaris tidur bersama setiap malam. Tidur yang benar-benar tidur.


"Aku memang terkejut sekali tadi saat datang ke rumahmu. Ku pikir aku salah rumah." Flo terkekeh diikuti Wanda yang tersenyum kecil.


Mereka berjalan ke arah belakang panggung. Terdapat banyak ruang ganti berupa tenda-tenda kecil dibelakang panggung megah yang kini sedang menampilkan salah satu band kampus. Sebentar lagi jam 11, acara fashion show akan dimulai. Acara itu akan menampilkan banyak rancangan dari para mahasiswa yang mendaftarkan. Banyak sekali undangan yang datang dan menonton. Rancangan-rancangan itu tentu saja akan dilelang, dan uangnya akan disumbangkan. Namun tetap saja, rancangan-rancangan itu akan dinilai dan yang menempati peringkat pertama akan semakin mudah melambungkan namanya serta mendapatkan bimbingan langsung dari salah satu desainer ternama yang kini menjadi tamu undangan.


Wanda semakin gugup saat mengetahuinya. Bagaimana jika dia mempermalukan Fella?


Wanda mendesah frustasi. Lalu kemudian melangkah memasuki salah satu tenda yang sudah diberi papan nama Fella didepannya.


Namun Wanda berhenti sejenak. Menoleh pada Yuzen yang masih terus mengikutinya. "Kakak tunggu didepan panggung saja. Beli rancangan yang kugunakan ya. Hitung-hitung amal kak Yuzen." Ujarnya lalu segera masuk meninggalkan Yuzen yang semakin frustasi.


Namun meski begitu dia berjalan kearah bangku penonton. Sembari berpikir, bagaimana membuat gadisnya tidak marah lagi.


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆

__ADS_1


Kepalan tangan itu tertahan disamping tubuh dengan kuat. Sekuat mungkin hingga rasanya, kuku-kukunya menancap dikulit. Pria itu berusaha sekuat mungkin untuk tidak berdiri, apalagi berlari ke atas panggung dan menyeret gadisnya turun begitu saja.


Matanya terus mengikuti setiap langkah sang gadis. Sangat tajam, dengan kobaran marah yang pekat.


"Dress sialan." Desisnya.


Dress itu memang panjang menutupi hingga mata kaki. Tapi pundak yang terbuka membuatnya geram bukan main. Terlebih lagi, gadisnya sangat cantik. Yuzen tak pernah melihat penampilan Wanda yang seperti ini. Dan dia marah. Marah karena bukan hanya dirinya yang melihat penampilan istimewa Wanda. Dia bahkan bisa melihat tatapan orang-orang yang terpesona dengan gadisnya.


Lalu, Wanda kembali menghilang dibalik panggung.


Yuzen tanpa sadar menarik nafasnya panjang. Oh, dia menahan nafasnya sedari tadi. Astaga, gadisnya cantik sekali. Dibalik amarahnya, Yuzen ingin sekali menerjang Wanda dan mencumbunya.


Shit!


Ingatkan dia untuk melakukannya nanti.


Bagaimana tidak, kali ini gadisnya sungguh sexy.


Pakaian pundak Sabrina yang mengekspos bebas pundaknya dan sedikit belahan dadanya. Lalu stocking hitam transparan hingga mata kaki yang juga ditutupi oleh rok jaring yang juga transparan. Intinya, kaki mulus itu terlihat jelas!


Sialan. Siapa perancang pakaian Wanda? Dia akan mencekiknya karena berani membuat Wanda polosnya terlihat nakal.


Cepat-cepat Yuzen berlari ke balik panggung saat Wanda kembali turun dan menghilang dibalik panggung.


Pria itu masuk tanpa permisi ke dalam tenda bertuliskan nama Fella. Tidak peduli bahwa kini semua orang terpekik termasuk Wanda karena dia tadi hendak membuka pakaiannya.

__ADS_1


"Wanda!" Amuk Yuzen. Tidak, dia tidak marah pada Wanda. Dia hanya kesal dan langsung memeluk gadisnya dengan cepat. Menyeret gadis itu hingga ke balik tirai ganti di ujung ruangan. "Kita pulang, komohon."


Ya. Yuzen ingin menyembunyikan Wanda.


Dia takut Wanda direbut pria lain. Gadis itu terlalu cantik dan sexy tadi. Bahkan decakan kagum dan beberapa siulan terdengar di telinganya.


"Tapi aku harus memakai satu gaun lagi kak." Bisik Wanda lirih. Nyaris tak terdengar.


Hal itu membuat Yuzen menjauhkan kepalanya. Pria itu bisa melihat Wanda yang menggigit bibir, tangan gadis itu bergetar dan mata itu tampak sangat ketakutan.


Yuzen merasa tertampar.


Ini Wanda.


Seharusnya Yuzen ingat jika gadis ini Wanda. Gadisnya yang takut dengan orang-orang ini tentu tertekan naik ke atas panggung dengan banyak mata yang mengikuti setiap langkahnya. Gadisnya ketakutan.


Yuzen merasa buruk. Dia marah karena hal lain, dan tidak memperhatikan bagaimana keadaan Wanda sebenarnya.


"Kau ketakutan, sayang." Bisik Yuzen. Lalu kembali memeluk Wanda erat. Pria itu menepuk bahu Wanda pelan, berusaha menenangkan gadisnya. "Tenangkan dirimu."


Wanda tak bisa menahan dirinya lagi. Dia membalas pelukan Yuzen sama eratnya. Lalu tak lama mulai menangis sesenggukan didada pria itu. Dia benar-benar takut tadi. Meskipun dia bersyukur bisa berjalan dengan lancar di atas panggung. Tak percuma latihannya selama ini dan Fella juga tidak akan malu karenanya.


Yuzen memejamkan matanya. Tangisan itu hal terakhir yang ingin didengarnya. Wanda terus menangis dengan pelan. Kedua tangan mungil itu meremas kuat bagian belakang pakaian Yuzen.


"Wanda, kita harus bergegas. 10 menit lagi kau naik kepanggung."

__ADS_1


Itu Flo.


Wanda buru-buru menghapus air matanya. Lalu berbalik menatap Flo dengan senyum kecil yang dipaksakan.


__ADS_2