Psychopath Prince

Psychopath Prince
-Secret Chapter- Tabir Masa Lalu


__ADS_3

Pesta pernikahan itu megah, sangat megah. Bagaimana tidak jika yang menikah adalah seorang penerus perusahaan multinasional ternama. Salah satu keturunan Wangsadinata yang diakui di mana-mana.


Beni Wangsadinata.


Pria itu tampan di umurnya yang menginjak 24 tahun. Tubuhnya tinggi dan besar, siapapun tak akan menolak pesonanya. Sepanjang jalan pernikahan, pria itu tampak bahagia. Meski semua senyum yang ditampilkan nya mengandung kepalsuan yang kental. Toh, tidak ada yang tahu semua kepalsuan itu.


Beni bisa memikat siapapun dengan semua yang dimilikinya. Ketampanan, uang, dan kharisma. Bisa dibilang dia di puncak semua rantai kehidupan. Saat awal-awal mulai mengambil alih perusahaan dari tangan ayahnya, dia melakukan segala hal agar bisa memberikan perkembangkan pada perusahaan dan berusaha mendapatkan kepercayan dari semua pemegang saham. Memenangkan tender penting berharga triliunan dan memuaskan kolega-koleganya. Tak peduli bahwa dia terkadang harus menggunakan cara licik seperti menggoda putri sang kolega agar bisa memenangkan tender. Toh, dia memang terkenal playboy.


Tapi…


Di Hatinya hanya ada satu wanita.


Beni melirik pengantinnya yang duduk disebelahnya setelah menyalami ratusan tamu. Gadis itu tampak lelah, namun riasan nya menutupi kelelahannya dan masih menampilkan wajah fresh nan cantiknya. Sangat cantik. Tapi Beni terlanjur mencintai seseorang sejak dulu. Dan itu, bukan pengantinnya kini.


Beni melirik ke arah tamu undangan dari atas pelaminan. Terus menelusuri semua tamu dan dia menemukan gadis itu. Gadis kesayangannya. Sedang berdiri di pojok ruangan dengan raut sendu. Di sebelah gadis itu ada sahabatnya, Pangestu, tampak berusaha menenangkan gadis kesayangannya itu.


Beni menahan nafasnya. Dia cukup cemburu dengan kedekatan Pangestu dan Nadia, kekasihnya. Tapi toh disini dia yang lebih bersalah. Dialah yang mengkhianati kekasihnya. Tapi mau bagaimana lagi, dia tak bisa menolak perjodohan ini atau jabatannya sebagai CEO akan dicabut.


Tidak.


Itu tidak boleh terjadi. Bagaimanapun dia sudah bersusah payah selama 3 tahun untuk meraih posisinya kini. Merangkak dari bawah seperti kacung dan melakukan semua hal licik untuk memenangkan tender. Dia tak Terima jika harus diturunkan dari jabatannya.


Tapi…


Beni kembali melirik kekasihnya.


Astaga, gadis malangnya yang menyedihkan. Beni diam-diam meringis. Tapi, yang pasti dia akan tetap berhubungan dengan gadis itu. Tak ada kata perpisahan. Sudah bertahun-tahun hubungan mereka, dan dia tak akan memutuskan gadis itu atau menerima diputuskan.


Hanya dia yang boleh membuang gadisnya. Bukan sebaliknya.


“Mas, lelah?”


Beni tersentak dan mulai melirik pengantinnya. Pria itu tersenyum manis dan menggeleng. “Tidak. Kau lelah?” Beni tak boleh bertindak sembarangan. Gadis disebelahnya bisa saja mengadukannya pada orang tua mereka. Semuanya bisa berantakan nanti.


“Sedikit. Tapi aku senang.” Gadis itu menyengir. Terlihat manis saat gadis itu mengembangkan senyumannya. Gadis disebelahnya benar-benar cantik. Tapi tak cukup cantik untuk memenangkan hatinya.


Beni lagi-lagi menatap ke arah Nadia dan dia tersenyum saat gadis itu juga menatapnya. Dan saat Nadia membalas senyumannya, otak liciknya kembali bekerja. Dia punya rencana untuk menghabiskan malam hari ini dengan sangat hebat.


Dan menggairahkan bersama kekasihnya.


Tentu saja.


Istrinya? Masa bodoh.


✍👀✍


2 tahun kemudian…


Ruangan itu remang-remang, bercat biru dengan langit-langit yang terpajang banyak bintang dan planet-planet yang mengelilingi matahari. Seorang wanita tertidur diranjang setelah berusaha menidurkan putranya, bahkan dia tak sempat beranjak dari kamar putranya dan tertidur begitu saja tanpa bisa mencegah kantuknya barang sejenak.


Wanita itu sangat mengantuk.


Bahkan dia tak memastikan putranya sudah tertidur apa belum saat memilih menutup mata.


Bayi itu mengamati ibunya dengan pandangan lugu. Usianya baru menginjak 1 tahun. Belum bisa berjalan, tapi dia sedang semangat-semangatnya berjalan dengan merambati dinding, tak peduli bahwa dirinya masih sering terjatuh.


Bayi itu belum tertidur. Masih sangat segar untuk kembali bermain dengan mainannya yang berjejer di sudut ruangan.

__ADS_1


Merasa bosan dan heran melihat ibunya yang tertidur, bayi itu memilih merangkak menuruni ranjang. Ranjang itu tidak tinggi, karena kasur langsung menempel pada lantai. Tingginya hanya dua jengkal telapak orang dewasa.


Bayi itu mulai menuruni ranjang, sedikit jatuh terduduk saat mencapai lantai. Namun meski begitu, bayi itu tidak menangis. Tetap tenang dan matanya terpaku pada mainan-mainannya di lantai.


Namun, pada pertengahan jalan, bayi itu berhenti dan menatap pintu kamarnya yang terbuka setengah. Ibunya tidak menutup pintu tadi saat masuk. Bayi itu bergumam kecil dengan bahasanya sendiri dan dengan lincah merangkak ke arah pintu kamar. Sampai diambang pintu, bayi itu mendekati dinding. Lalu perlahan mulai menarik dirinya agar berdiri dan berpegangan pada dinding.


Bayi itu memekik. Tampak senang karena berhasil berdiri.


Lalu melangkah satu per satu dengan lambat. Tubuh mungilnya yang gembul bergoyang-goyang berusaha menahan bobot badannya sendiri. Lalu… . Blam!


Bayi itu terjatuh.


Bibirnya mengerucut, dan ekspresinya tampak tidak senang. Tapi, lagi-lagi, tidak menangis.


Bayi itu merangkak sebentar sebelum kemudian berusaha berdiri lagi dengan berpegangan pada dinding koridor.


Satu…


Dua…


Satu…


Dua…


Kali ini langkahnya bertahan lama. Hingga kemudian dia berhenti dan turun agar bisa merangkak lagi. Bayi itu melihat sebuah kamar, dengan cahaya cukup terang dan pintu sedikit terbuka. Bagaimana bisa dia tak tertarik. Di sepanjang koridor yang gelap itu, akhirnya dia menemukan cahaya dari sebuah kamar. Tentu saja bayi itu langsung merangkak kesana.


Namun…


Apa yang terjadi di dalam sana seharusnya bukan hal yang patut ditonton anak seumurannya. Meski bayi itu tak akan mengerti, tapi itu benar-benar tidak layak.


Bayi itu bergumam, “bu bu bu…” Lalu menggeser pintu itu dengan sundulan kepalanya saat merangkak dan duduk diambang pintu.


✍👀✍


“Jangan gila, sayang!”


Gadis itu berteriak pada sangat kekasih. Tapi meski begitu mobil itu tetap melaju dan memasuki pekarangan rumah yang besar itu dengan tenang.


Sang pria hanya menyeringai. Lalu mematikan mesin mobilnya dan keluar dari mobil. Dengan santai, di bukanya pintu mobil untuk kekasihnya dan meraih lengan gadisnya untuk menempel dalam pelukannya.


“Apa yang kau takutkan? Bukannya seharusnya kau bangga?”


Pria itu lagi-lagi menyeringai. Siapapun akan luluh melihat seringaian itu. Seringaian licik namun benar-benar membangkitkan pesona pria itu yang terlihat sensual.


Sang gadis pasrah saat melihat pria-nya yang tetap kukuh menyeretnya. “Ya aku bangga dicintai olehmu. Tapi bukankah kau berjanji menceraikan istrimu?”


Pria itu menarik tengkuk gadisnya dan mengecup bibir ranum itu. “Tentu. Sebentar lagi. Aku perlu waktu sedikit lagi sebelum benar-benar menceraikannya. Aku harus memilih alasan yang tepat untuk menceraikannya.”


“...”


Gadis itu hanya mendesah. Terkadang pikiran rumit kekasihnya tak bisa dipahami nya. Bagaimana pun dia tak malu dengan keadaannya sekarang. Toh dia yang pertama memiliki Beni. Wanita itulah yang merebut posisinya sebagai istri Beni. Nadialah yang seharusnya marah disini. Dicap selingkuhan bukanlah aib saat ini.


Wanita sialan itu yang sebaiknya di cap sebagai perebut calon suami orang.


“Bukankah ini menggairahkan? Kita akan bercinta dirumah dengan istriku yang berada di rumah?”


Sepertinya Beni gila. Itulah yang dipikir Nadia.

__ADS_1


Bagaimana bisa pria itu mengajaknya berkencan dirumah pria itu. Tapi nadia hanya mengangkat bahunya acuh. Setelah dipikir-pikir, itu bukanlah masalah besar. Kalaupun mereka dilabrak, bukankah itu akan mempercepat proses perceraian. Tapi kalimat Beni selanjutnya membuatnya mendengus.


“Aku sudah menyuruh kepala pelayanku memasukkan obat tidur ke dalam minumannya. Saat ini pasti dia sudah tidur sangat nyenyak.” Beni menyeringai.


Lalu menggandeng Nadia memasuki rumah. Selama 2 tahun ini Nadia hanya beberapa kali masuk ke rumah itu, itupun beramai-ramai dengan teman-temannya atau dengan pangestu. Kali ini dia memasuki rumah itu dengan statusnya sebagai kekasih Beni.


Beni berjalan santai, lalu dia melihat kepala pelayan Ahn dan menghampirinya.


“Kau sudah melakukan tugasmu?”


Kepala pelayan Ahn mengangguk. “Sudah tuan, saya sudah memastikan nyonya meminumnya.”


Beni terkekeh. “Bagus. Dimana dia sekarang?”


Ekspresi kaku kepala pelayan Ahn tetap bertahan. Kepala-nya menunduk hormat. “Di kamar tuan muda. Nyonya tertidur disana.”


Beni tertawa.


“Bagus sekali.” Pria itu senang. Sedangkan Nadia memilih mengabaikannya dan bergelayut manja di lengan Beni. “Kau, pastikan semua pelayan tidak berkeliaran dan naik ke lantai 2.”


Kepala pelayan Ahn mengangguk. Lalu kemudian meminta izin untuk berlalu. Setelah jauh, kepala pelayan Ahn menggelengkan kepalanya prihatin. Sebagai bawahan dia tak punya hak untuk menasehati.


✍👀✍


Beni mendesah saat dia meraih pelepasannya. Tangan-tangannya dengan terampil merapikan rambut kekasihnya yang berantakan. Nadia pun tampak kelelahan setelah mengalami malam yang panjang. Matanya melirik ke arah jam dinding lalu mendesah saat melihat jam itu menunjukkan hampir tengah malam.


Bukankah dia harus pulang? Ah dia terlalu lelah.


Ada sisi hatinya yang ingin istri Beni menggerebek keadaan mereka. Tapi satu sisi dia takut juga.


Beni berguling, berbaring disebelah Nadia dan mulai mengatur nafasnya. Lengan kirinya terjulur dan membiarkan Nadia berbaring di lengannya.


Tapi kemudian…


Matanya menangkap sesuatu yang tak seharusnya.


Beni langsung terduduk dan bangkit. Dengan tergesa-gesa dia berjalan ke arah ambang pintu.


Disana ada putranya. Duduk dengan memainkan tangannya, sesekali tangannya masuk ke dalam mulutnya. Bermain dengan air liurnya.


“Yu-yuzen?”


Beni menahan nafasnya.


Bayi satu tahun itu, kenapa bisa ada disini?!


Bayi itu kemudian memekik. “Pa pa pa pa!”


Dan Beni mengusap wajahnya kasar. Apa putranya melihat yang tak seharusnya?


✍👀✍


Hallo semuanya....


maaf banget aku hiatus setengah bulan ini. Sekali lagi maaf ya.


Semoga kali ini aku bisa update rutin ya

__ADS_1


♡´・ᴗ・`♡


__ADS_2