Psychopath Prince

Psychopath Prince
-30- Pagi yang Cerah


__ADS_3

Pria tua itu menatap langit diatasnya. Awan cerah berarak dilangit. Matahari menyengat kulit tanpa berbelas kasih. Tapi senyum terukir kecil dibibir pria tua itu. Menoleh kebelakang, pagar tinggi lapas menyapanya dengan angkuh.


Ah... Selamat tinggal.


Dia tidak berharap akan kembali kedalam sana. Tapi waktu yang telah dihabiskannya didalam sana menjadi pelajaran berarti baginya. Hidup itu penuh kejutan. Meski kini setelah dia keluar dari sana, dunia yang dulu pernah ia pijak, tak sama lagi seperti dulu.


Kehidupannya berbeda. Tidak ada lagi dirinya yang sebagai manager salah satu perusahaan besar, tidak ada lagi kehidupan nyaman, dan terlebih... Tidak ada lagi istrinya. Namun semangat hidupnya masih berlanjut. Masih ada seorang putri yang harus diperhatikannya. Jika dulu dia nyaris tak pernah punya waktu bagi putrinya, kini dia berusaha memperbaiki semuanya. Kehidupan tidak ada yang sempurna. Begitulah yang diatas menegurnya dan mengujinya kini karena dia terlalu sombong dengan kehidupannya yang sempurna.


Pria tua itu menghembuskan nafasnya. Lalu berjalan meninggalkan pagar tinggi lapas dibelakangnya.


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


Wanda kira dia sudah terbiasa dengan keberadaan Yuzen. Akan merasa biasa akan kedekatan mereka. Tapi ternyata, rasa takut dan gugupnya kini sudah beralih ke rasa aneh yang tak diketahuinya. Bahkan jantungnya terasa lebih aneh daripada saat pertama kali Yuzen menyentuhnya.


Boleh dia mengumpat?


Sial!


Apalagi seperti saat ini, ketika terbangun dan dia melihat dada Yuzen yang bergerak naik turun saat bernafas. Jantungnya langsung bertalu-talu dengan gila. Padahal baru 5 detik dia membuka mata!


Sial!


Wanda meringis. Ingin menangis dengan rasa aneh didadanya. Tapi jika dia membayangkan ditinggal Yuzen, entah kenapa dia merasa tak mau. Dia ingin Yuzen selalu disisinya, tapi juga kesal karena perasaan aneh ini yang katanya... Cinta.


Benarkah cinta?


"Mau kemana sayang?"


Yuzen mengecup pipinya sekilas tanpa membuka mata, lalu langsung kembali berbaring diposisi semula. Wanda bahkan baru bergerak ke tangan Yuzen untuk melepaskan pelukan pria itu. Tapi pria itu sudah menyekapnya lebih erat saja.


"Aku mau ke kamar mandi." Bohong! Wanda ingin segera bersembunyi dari perasaan aneh ini. Jantungnya semakin hebat berdetak dan terasa sesak setelah Yuzen mengecupnya tadi.

__ADS_1


Wanda kembali meraih tangan Yuzen dan berusaha menyingkirkan tangan itu darinya. Dia harus segera pergi. Tapi tangan Yuzen bahkan tak bergerak sama sekali dari pinggangnya. Pria itu masih bergeming dan terlelap dalam posisinya.


"Kak Yuzen!"


Grep!


Yuzen menarik tubuhnya semakin menempel erat. "Panggil aku Yuu, sayang."


Glek!


Yuu?


Entah kenapa, panggilan itu terasa sangat intim.


Wanda membuka dan menutup mulutnya beberapa kali. Tapi kemudian tertutup rapat. Matanya pun tertutup rapat. "Y-Yuu lepaskan... A-aku."


Lalu tanpa aba-aba, Yuzen membuka matanya dan tertawa mendengar panggilan Wanda. Pria itu tertawa dipuncak kepala Wanda dan tangannya menepuk punggung gadisnya sayang.


Wanda yang mendengar suara tawa itu beralih menjadi murung. Lalu kemudian tanpa diduga Yuzen, gadis itu menangis kecil didada pria itu. Bukannya berhenti, tawa Yuzen semakin keras. Pria itu mensejajarkan wajah mereka dan kemudian mengecup segala sisi wajah Wanda dengan cepat. Tangan Yuzen terangkat dan berusaha menghapus air mata gadisnya. Tapi air mata itu terus mengalir. Yuzen menggeleng gemas dan berusaha meredakan tawanya.


"Ke-kenapa kau tertawa?"


Yuzen ingin tertawa lagi. Tapi berusaha menahannya.


"Aku hanya senang kau memanggilku Yuu dan tingkahmu itu menggemaskan sekali sayang." Yuzen mengusap pelan air mata Wanda. "Berhenti menangis ya. Gadisku ini cengeng sekali."


Wanda mencebik sebal. Lalu dengan kasar, tangannya sendiri terangkat dan menyingkirkan tangan Yuzen dari wajahnya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan saat tangan Yuzen sudah tersingkir, Wanda dengan cepat berguling ke ujung ranjang. Lalu melompat turun dan berlari ke dalam kamar mandi. Tentu saja, tidak lupa menguncinya.


Yuzen yang melihat tingkah gadisnya tertawa kembali. Astaga, menggemaskan sekali bukan?


Pria itu mengusap wajahnya dengan raut bahagia yang tak terelakkan. Mengacak rambutnya yang berantakan sejenak dan mulai mengecheck ponselnya. Banyak pesan dan E-mail masuk, membuatnya kesal. Baru ditinggal sehari karena mengantar gadisnya kerumah sakit kemarin dan pekerjaannya sudah menumpuk. Sialan sekali.

__ADS_1


Yuzen memang hanya sesekali ke kantor. Dia lebih sering mengerjakan sambil jalan atau lebih tepatnya diwaktu luang kegiatan sehari-harinya. Memang pekerjaannya banyak. Apalagi dia harus memegang dua perusahaan sampai ayahnya pulang dari macaw dan kembali memegang perusahaannya sendiri. Belum lagi kuliahnya. Terkadang dalam sehari dia hanya tidur 2 jam. Disaat gadisnya terlelap, dia akan mengerjakan tugas-tugasnya.


Jangan kira dia mau membagi waktunya bersama Wanda dengan berkas-berkas brengsek itu!


Rugi beberapa milyar lebih baik daripada waktunya bersama Wanda terpakai. Toh, dia tidak akan jatuh miskin.


Yuzen melirik jam yang berada di layar bagian atas ponselnya dan segera beranjak saat sudah menunjukkan pukul 6.45 pagi. Dengan senyum kecil, pria itu berjalan turun ke lantai 1 dan menuju dapur. Disana ada seorang yang sedang membereskan dapur. Dirumah itu kini ada 2 orang pelayanan yang dipekerjakan Yuzen untuk merapikan rumah. Lalu seorang tukang kebun yang datang beberapa kali dalam seminggu. Tidak banyak orang yang dipekerjakannya memang. Dia hanya tidak ingin waktu berduaannya dengan Wanda terganggu.


"Pagi bibi." Pria itu tersenyum kecil saat pelayanan berusia awal 40-an itu menoleh. "Bibi belum buat sarapan kan seperti pesan saya kemarin?"


Sang bibi mengangguk. "Belum tuan. Tuan yakin ingin masak sendiri? Tidak ingin bibi bantu?"


Senyum Yuzen semakin lebar. "Tidak. Saya bisa melakukannya sendiri. Oh dan tolong jangan masuk ke dapur sebelum saya pergi mengantar Wanda kuliah. Tolong beritahu pelayanan satunya."


"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi."


Yuzen hanya mengangguk dan mulai berjalan ke arah kulkas untuk mengamati bahan-bahan yang ada. Ponsel yang sejak tadi dipegangnya, mulai diutak-atiknya dengan serius. Berusaha mencari resep yang sesuai dengan bahan yang dimilikinya. Setelah membaca resepnya dengan teliti, Yuzen segera meletakkan ponselnya di konter dapur dan membawa bahan yang diperlukan untuk diolah.


Tidak sulit. Dia sudah membaca resepnya tadi. Jika dia melakukan sesuai resep, rasanya akan enak kan? Ah... Tentu saja. Pasti itu.


Untuk makanan instant seperti mie maupun spagetti yang pernah dibuatnya untuk Wanda, dia memang bisa. Resepnya mudah, tinggal rebus mie spagetti dan beli saos jadinya, lalu beri topping sesuka hati. Tapi untuk makanan rumahan...


Tolong jangan ingatkan dia, kalau ini pertama kalinya dia memasak makanan selain mie. Dia sedang bergembira dan tentu saja sedang ingin pamer pada Wanda.


Sebagai bentuk pelampiasannya karena Wanda sudah jatuh cinta padanya, Yuzen ingin memasak untuk gadisnya. Tentu saja sekalian agar terlihat keren dan dicap suami idaman. Dia ingin Wanda semakin jatuh cinta padanya. Tanpa sadar, Yuzen tertawa sendiri dengan pemikirannya. Dia akui, dia aneh sekali hari ini. Tertawa terus menerus dengan alasan sepele. Ah, hanya Wanda yang bisa melakukan ini padanya. Gadis mungilnya itu, god!


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


Author note: Hai semua terimakasih untuk semua likenya ya....


jangan lupa berkomentar juga... itung2 nambah asupan semangatku heheh...

__ADS_1


eh iya, kalau ada yg kelebihan poin mohon atuh bantu votenya juga.


makasih banyak ya. sankyu 😍😍


__ADS_2