Psychopath Prince

Psychopath Prince
-12- Kecantikan Tersembunyi


__ADS_3

Hari hampir sore, banyak para mahasiswa yang berada di halaman kampus setelah beberapa saat lalu keluar dari ruang kelas masing-masing. Saat itu, masih menunjukkan pukul 3 lebih sedikit. Cahaya matahari masih menyinari dengan teriknya.


Seorang gadis berjalan memasuki gerbang kampus dengan santainya. Rambut sebahunya yang mengikal lembut bergoyang diterpa angin. Tampak indah saat rambut berwarna coklat kayu dengan sedikit aksen kuning dibeberapa bagian, diterpa sinar matahari langsung. Wajahnya penuh senyuman manis. Apalagi ditambah make-up natural yang semakin menonjolkan kontur wajahnya. Mata bulatnya pun berbinar indah. Gadis itu tampak sangat cantik sekaligus imut dengan tubuh mungil dan kurusnya yang terbalut dress kuning.


Dalam sekejap semua mata dihalaman kampus memandang gadis itu takjub dan penasaran.


Gadis itu hanya berjalan dengan anggun dan menebarkan pesonanya. Membuat tak sedikit kaum adam yang tidak bisa melepaskan tatapannya.


"Hei, aku tak pernah melihatmu sebelumnya? Mahasiswa sini? Kenalkan aku Jerome."


Langkah gadis itu terhenti saat seorang pria dengan beberapa anteknya dibelakang pria itu berhenti tepat di hadapan sang gadis. Beberapa pria dikejauhan mendesah kesal merasa keduluan. Mereka hanya mengamati dan tak berani mendekat. Tidak sebelum pria bernama Jerome dan beberapa pengikutnya itu menyingkir. Jika Yuzen terkenal ramah dan jenius. Jerome kebalikannya. Pria itu terkenal berandalan dan playboy. Namun mereka berdua sama-sama terkenal karena ketampanannya sayangnya sifat mereka berkebalikan. Bak langit dan bumi.


Gadis itu hanya tersenyum kecil. Lalu mengulurkan tangannya pada pria itu. "Panggil saja Wanda dan aku mahasiswa semester satu."


Wendy tersenyum manis. Menatap pria itu dengan senyum menggoda. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Wanda. Tentu saja, dia tak mungkin bilang namanya Wendy. Nama yang terdaftar dikampus ini adalah Wanda, semuanya hanya tahu Wanda dan dia hanya memakai tubuh ini. Dia tak marah, itulah kenyataannya.


Lagipula saat ini dia hanya ingin bersenang-senang. Dia suka saat banyak pria memandangnya dengan tatapan memuja. Dan dia suka perhatian dan kasih sayang yang diberi. Yuzen? Jangan tanyakan. Pria itu tidak ada. Dan Wendy memang ingin membuat Yuzen marah. Marah karena cemburu.


"Wanda?" Pria itu melirik Wendy dari atas kebawah. "Nama yang cantik. Secantik orangnya."


"Oh ayolah, gombalan receh." Wendy mendengus. Lalu hendak berjalan melewati pria itu. Tapi pria itu mencekal lengannya.


"Bagaimana jika makan siang bersama?"


Wendy mengernyit. Lalu tertawa kecil. Tawa yang membuat para kaum adam yang sejak tadi memperhatikan terasa terpaku. "Makan siang? Bukankah ini sudah sore?"


Tapi kemudian bunyi perut Wanda yang keroncongan terdengar nyaring ditelinga Jerome karena jarak mereka sangat dekat. Tidak, tubuh mereka saling menempel!


Jerome pun menyeringai. "Sepertinya perutmu setuju dengan ajakanku, gadis cantik."

__ADS_1


Wendy mendengus. Tapi tanpa sungkan dia menarik lengan pria itu dan menyeretnya ke arah kantin gedung jurusan teknik elektro dan informatika. Pria yang diapit menyeringai senang meski dia tak tahu kenapa gadis itu menyeretnya ke kantin jurusan tersebut yang jaraknya cukup jauh dari halaman depan kampus. Bahkan mereka sebenarnya bisa makan diluar saja. Tapi Jerome tak peduli. Dia harus mendapatkan mangsanya ini. Padahal Jerome tak pernah merasa tertarik dengan gadis yang hanya dilihatnya sekali.


Wendy berhenti tepat disalah satu stan. Lalu mulai memesan makanan yang diinginkannya. Dia memesan 2 menu sekaligus karena perutnya benar-benar keroncongan, padahal seingatnya Wanda sudah makan siang tadi. Atau ini nafsu makan miliknya dan bukannya Wanda? Tapi kan tubuh mereka sama. Ah masa bodoh.


"Kau mau apa?" Tanya Wanda sembari menoleh menatap Jerome. Dan gadis itu mengernyit tiba-tiba. "Dimana orang-orang yang mengikutimu tadi?"


Jerome gelagapan. Sedari tadi dia tak berhenti menatap wajah gadis itu.


"Samakan saja pesanannya. Dan ah mereka, ku suruh pergi."


Wendy mengangguk dan kembali meneliti pesanannya. "Kau yakin mau sama?"


"Tentu."


Gadis itu mengangguk lagi. Lalu menengadahkan telapak tangannya kepada Jerome. "Uangnya?"


"Cium dulu dong. Nanti aku kasih uangnya, berapapun."


"Kau kira aku takut? Aku lebih liar dari yang kau bayangkan." Wendy mengedipkan sebelah matanya lalu menyeringai. "Sekarang beri aku semua uang cash di dompetmu."


Jerome yang sebelumnya terkaget balas menyeringai setelah mendengar kalimat Wendy. Pria itu menggeleng tak percaya. Dia suka gadis seperti Wendy. Gadis pemberani yang liar. Beda sekali dengan tampilan visualnya yang polos bak malaikat.


Jerome mengambil dompetnya dan mengeluarkan semua uang cash yang dia punya. Dia mengulurkan uang itu pada Wendy, tapi masih memegangnya erat-erat.


"Ini satu juta lebih. Harga yang mahal hanya untuk satu ciuman dipipi. Jadi bisa kau cium pipi satunya?"


Wendy mengangkat sebelah alisnya.


"Kesepakatan kita, saat aku menciummu kau berikan semua uangmu. Tidak ada yang mengatakan harus 2 ciuman."

__ADS_1


Jerome mendekatkan wajahnya pada Wendy. Tampak senang dengan tingkah laku gadis itu.


"Aku merasa dicurangi." Pria itu terkekeh dan menjauhkan kepalanya. "Bagaimana jika kau menjadi pacarku? Akan ku manjakan kau dengan kekayaanku?"


Kini gantian Wendy yang terkekeh. Dia memang mau uang, apalagi untuk memenuhi kebutuhannya dan Wanda. Tapi dia bukan gadis murahan. Lalu kekehan itu berganti dengan senyuman manis yang diberikannya pada Jerome. "Aku tidak tertarik berhubungan...." Lalu...


Sret!


Gadis itu menarik uang yang masih dipegang erat Jerome. Dengan cepat uang itu perpindah ke tangannya dan dimasukkannya ke tasnya. Tapi Wendy menyisahkan selembar dan diberikannya uang pecahan besar itu pada kasir. Wendy membayar makanannya.


"Hari ini aku traktir kau. Aku dapat uang banyak barusan." Ejek gadis itu.


Jerome terkekeh tak peduli. "Wow, tenagamu lumayan juga."


"Aku bahkan yakin bisa membuatmu mengerang kesakitan..."


"Diranjang dengan kau diatasku. Tentu saja." Potong Jerome seenaknya. Lalu pria itu meraih nampan makanan yang sudah jadi dan baru diberikan seorang pelayanan tadi. Tapi pria itu mengernyit heran melihat menu yang ada di nampan. "Kenapa ada 4 hidangan? Bukannya kita hanya berdua?"


"Aku memesan 2 hidangan. Dan kau minta disamakan, jadinya 4 kan?" Balas Wendy acuh. Gadis itu berjalan mencari meja yang kosong, membiarkan Jerome membawa nampan penuh makanan dibelakangnya.


"Kau serakus itu ya? Padahal tubuhmu kurus sekali."


"Aku sedang program penggemukan badan." Cibir Wendy dan duduk di sebuah meja yang terdapat disudut.


"Hm.. Terdengar bagus. Aku tidak terlalu suka meniduri gadis yang terlalu kurus." Bisik pria itu tepat ditelinga Wendy.


Wendy pun mendengus. Kenapa tiba-tiba pria itu menjadi mesum sekali? Mungkin saja karena barusan ditolak. Masuk akal.


Wendy sudah tak peduli dengan Jerome. Dia mengamati sekitar dan merasa senang saat di ditatap banyak pria secara diam-diam maupun terang-terangan menatapnya. Tapi alasan lainnya dia mengedarkan pandangan, dia mencari pria itu. Namun, nihil. Sayang sekali.

__ADS_1


Disisi lain gadis itu tidak sadar, bahwa ada seseorang yang barusan melewati kantin dan menatapnya dengan tatapan menyelidik dan penasaran. Orang itu bahkan mengarahkan kamera ponselnya pada Wendy dan memotret gadis itu.


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


__ADS_2