Psychopath Prince

Psychopath Prince
-35- Sekeping Masa Lalu dan Lamaran (2)


__ADS_3

Wanda melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Wajahnya masih merona, namun yang jadi perhatiannya adalah rambut acak-acakannya dan bibirnya yang kering.


Dia merasa malu dengan penampilannya, hal yang tak pernah dirasakannya. Tidaklah Yuzen jijik telah mencium bibir keringnya?


Wanda merutuk dan mulai merogoh ke dalam tasnya. Disana ada sebuah bedak dan lipgloss yang dibelinya asal-asalan dengan kartu milik Yuzen tadi. Yah akhirnya dia bisa menggunakan kartu itu berkat pengajaran Flo. Lalu tidak ketinggalan sisir dan vitamin rambut yang katanya bisa melembutkan rambut.


Wanda meringis Melihat semua itu. Benda-benda yang tak akan pernah dipikirkannya, paling tidak sampai kemarin.


Gadis itu membuka tutup bedaknya dan mulai mengaplikasikannya setipis mungkin agar tidak kentara. Dia tak mau tiba-tiba Yuzen bertanya kenapa dia pakai make-up. Dia akan malu nanti. Dan dia akan malu jika tetap berpenampilan seperti ini. Sedari tadi, semua pengunjung wanita menatapnya kesal. Mungkin heran kenapa gadis buruk rupa sepertinya berjalan dengan pangeran setampan Yuzen. Tidak heran. Dan sisi lainnya, dia tiba-tiba ingin tampil layak dihadapan Yuzen.


Ah.... Sisi wanitanya mulai bangkit.


Wanda menatap cermin dengan intens. Memastikan bedaknya rata dan tidak setengah-setengah terpoles. Setelah sudah, dia menatap lipgloss berwarna pink alami itu. Lalu perlahan mengoleskannya seperti orang amatir. Tidak, dia benar-benar amatir.


Terakhir rambutnya.


Wanda meraih sisirnya dan meringis saat sisir itu menyangkut di ujung-ujung rambutnya yang mengikal. Ah, astaga. Dengan kesal dibanting nya sisir itu di wastafel setelah lelah merasakan nyeri karena rambutnya tertarik. Tapi seakan ingat, dia meraih vitamin rambutnya. Menuangkannya banyak-banyak dan mengoleskannya ke seluruh helai rambut. Mulai disisirnya lagi rambutnya. Dan senyum terbit dibibir itu.


"Aku akan beli vitamin ini banyak-banyak nanti." Ujarnya senang dan memasukkan semua alat tempurnya barusan ke dalam tas.


Memastikan sekali lagi penampilannya yang tampak lebih baik dari sebelumnya, gadis itu berjalan keluar. Sedikit gugup. Namun dia berusaha bersikap wajar.


Namun ekspresinya heran saat tidak mendapati Yuzen dimeja mereka tadi.


"Apa Yuu ke kamar mandi?" Bisiknya pada diri sendiri.


Dia memilih duduk dikursi yang didudukinya tadi. Namun kemudian terdengar suara derap langkah. Terdengar sangat jelas karena mereka duduk dibagian luar tempat makan. Wanda menoleh karena langkah itu sungguh keras terbentur jalan.


Dan gadis itu terbelalak seketika. Bagaimana tidak jika dia melihat seekor kuda putih disana dengan Yuzen diatasnya. Bahkan pakaian kasual pria itu sudah berganti dengan setelan serba putih. Oh... Wanda terpana.


Tiba-tiba sekelebat bayangan lewat lagi dikepalanya.


Gadis itu tidak menoleh dan memilih berjalan cepat saat sang pria berlari kearahnya dan memanggil namanya. Pipinya masih terasa bersemu dan dia tidak ingin kekasihnya melihat.


"Wanda, tunggu!"


Tapi percuma, kaki pria itu lebih panjang darinya dan dia terkejar.


Hap!

__ADS_1


Pria itu memeluknya dari belakang dengan erat. Dia mematung terkejut. Anehnya tubuhnya tidak bereaksi seperti reaksinya terhadap orang lain. Yuzen benar-benar berhasil membuatnya terbiasa disentuh oleh pria itu. Hanya jantungnya yang masih berdetak aneh dengan segala tingkah intens pria itu. Pria itu luar biasa, pantang menyerah.


"Tidak mau ku gendong? Tenang saja, gratis. Aku tidak akan minta imbalan."


Gadis itu menggeleng dan meronta membuat pelukan Yuzen terlepas, gadis itu kemudian berlari berusaha menjauhi sumber si biang kerok pengacau detak jantungnya.


Namun kemudian dia jatuh karena menabrak seorang pria berbadan besar. Lututnya berdarah dan dia berusaha menahan tangisannya saat pria berbadan besar itu menatapnya marah. Baju pria itu basah karena minuman yang dibawa pria itu tadi.


"Kalau jalan lihat-lihat bocah!" Bentak sang pria besar.


Wanda semakin mengerut ditempatnya. Yuzen yang ngos-ngosan berhasil menyusul gadisnya. Dengan cepat dia memberikan 5 lembar pecahan paling besar pada pria itu sebagai ganti rugi bajunya yang basah dan menyuruh pria besar itu menyingkir yang diikuti pria itu dengan patuh.


Gadis itu membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangan dan mulai menangis.


Yuzen berjongkok dan mengelus puncak kepala gadis itu. "Tidak apa. Bapak-bapak tadi susah pergi."


Tapi Wanda tidak bergerak dan masih sesenggukan.


Yuzen mendesah dan berbalik memperlihatkan punggungnya. "Naik. kugendong ya. Aku tidak ingin kau terus ketakutan. Peluk aku dan hilangkan rasa takutmu."


Gadis itu mengintip dan melihat punggung Yuzen dihadapannya. Sejenak dia ragu, namun saat mengingat bentakan pria besar tadi, dia takut. Tanpa berpikir lagi dia naik ke punggung Yuzen.


Wanda mengangguk pelan. "Aku mau kuda putih."


"Tentu. Apapun untuk kekasih manisku."


Dan kuda putih itu ada dihadapannya dengan Yuzen yang menunggangi nya. Tangan pria itu tampak lihai menarik tali kekangnya. Kenapa kilasan tadi terasa nyata dan janji Yuzen kini menjadi nyata dihadapannya? Apa kejadian itu benar-benar terjadi? Kenapa dia tidak ingat?


"Sayang, mau... Naik?" Yuzen tersenyum dengan menawannya dan mengulurkan salah satu tangannya.


Wanda berdiri seakan tubuhnya bergerak sendiri. Dia meraih tangan Yuzen dan membiarkan pria itu membantunya naik ke atas kuda putih besar itu. Hebatnya, Wanda tidak merasa takut. Dia justru takjub.


"Kuda yang cantik." Puji Wanda setelah berhasil duduk didepan Yuzen.


"Namanya White."


"Seperti bulunya?" Tanya Wanda dengan nada geli.


Yuzen pun mengangguk dan mengecup kepala Wanda. "Kita jalan-jalan ya."

__ADS_1


Dan mereka mengitari taman hiburan itu dengan santai. Menatap matahari yang hendak tenggelam diujung sana.


"Aku mencintaimu." Bisik Yuzen. Dia menempelkan kepalanya dengan kepala samping kiri Wanda.


"Aku... juga." Bisik Wanda nyaris tak terdengar. Namun mampu membuat Yuzen mematung dengan senyum merekah lebar.


Mereka terus berjalan hingga sampai di arena komedi putar. Lampu-lampu di sekitar mereka sudah menyala dengan terang. Seharusnya taman hiburan ini sudah tutup, tapi entah kenapa tidak ada yang berusaha mengusir mereka. Matahari pun perlahan-lahan tenggelam dan tidak terlihat lagi, tergantikan malam yang mulai menyelimuti.


Lalu tak lama suara petasan terdengar nyaring. Wanda mendongak dan terpukau dengan banyaknya kembang api yang menyinari langit dengan berbagai warna.


Yuzen sendiri terus menjalankan kudanya hingga berhenti tepat didepan komedi putar.


"Wanda, aku serius padamu." Yuzen menelan ludahnya gugup. Jantungnya akan meledak sebentar lagi. Sekejam apapun, dia tetap seorang pria yang sangat mengharapkan gadis yang dicintainya.


Wanda menoleh kearah Yuzen dengan bingung. "Apa maksudnya?"


Yuzen tidak melihat kearahnya. Tatapan Yuzen teralih ke depan tepat di komedi putar, dan Wanda mengikutinya. Lampu-lampu komedi putar itu tampak indah. Lalu tak lama komedi putar itu menyala dan berputar. Wanda terkejut, tapi yang lebih mengejutkan adalah saat komedi putar itu berputar menunjukkan sisi yang tadi tak terlihat dan kini terpampang tulisan dari lampu berwarna putih yang merangkai....


MARRY ME


Wanda terpaku, terus melihat kalimat itu hingga menghilang diujung putaran dan lalu muncul lagi saat sisi itu kembali terlihat.


"Marry me, Wanda." Bisik Yuzen ditelinga Wanda.


Percaya atau tidak, tangan pria itu bergetar kecil. Genggamannya mengencang ditali kekang, berusaha meredam gemetar nya.


"Aku..." Wanda kehilangan kata-kata. Suaranya seakan tertelan habis dan tidak mau keluar.


Kediaman Yuzen justru membuat Wanda gugup setengah mati.


Sebuah pikiran melintas. Kenapa pria itu melamarnya? Bukankah ini terlalu cepat, mereka bahkan belum lulus. Apa sebegitu inginnya Yuzen menikahinya? Gadis buruk rupa sepertinya? Tidaklah Yuzen malu?


Pikiran-pikiran negatif mulai menyambanginya.


Dan secara tak sadar, Wanda mulai terisak. Jari-jari mungil gadis itu mencengkram jas putih Yuzen dan mulai membenamkan wajahnya ke dada bidang pria itu. Rasanya ini salah.


"Maafkan aku. Aku... Tidak pantas." Wanda tahu kalimat itu seharusnya tidak diucapkannya. Itu hanya salah satu pikiran negatif yang melintas, tapi tanpa sadar kalimat yang terlintas dikepalanya itu terucap.


Dan dia... Mulai menghancurkan harapan pria itu.

__ADS_1


☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆


__ADS_2