Psychopath Prince

Psychopath Prince
-45- Misi Hanzel


__ADS_3

Yuzen mendengus melihat Flo yang menghilang begitu saja setelah mengucapkan kalimat tidak jelas. Apa-apaan gadis itu, marah-marah pada Wanda tidak jelas!


Sahabat, eh?


Hanya karena hubungan yang dinamai Sahabat gadis itu marah-marah karena tidak dikabari. Yuzen tidak mengerti. Tentu saja dia tak mengerti. Konsep sahabat tidak pernah ada dalam hidupnya. Baginya tidak ada yang namanya teman. Hubungan itu terlalu rapuh, penuh perkelahian, dan penuh kebohongan. Dia tak mengerti kenapa Flo harus marah hanya karena hal sesepele itu.


Tangan pria itu menahan Wanda agar tak beranjak dari duduknya. Dia tak ingin Wanda beranjak mengejar Flo. Tak peduli bahwa gadis itu kini tampak syok, tampak ketakutan, dan matanya siap meledakkan banjir air mata.


“Beri dia waktu. Semua akan baik-baik saja.” Yuzen mengusap rambut gadisnya sayang. Berusaha menahan kalimat ‘kau tidak memerlukan Flo, sayang. Hanya boleh ada aku dihidupmu.’ agar tidak terucap dari bibirnya.


Jujur saja kemarahan Flo membuatnya girang. Jahat? Tidak. Kenyataannya Wanda memang hanya miliknya. Dia tak ingin Wanda menghabiskan waktu dengan orang lain.


“Tapi… Flo…” Wanda bersusah payah menahan air matanya. Dia tidak pernah bertengkar dengan Flo sekalipun. Flo tidak pernah semarah ini padanya. Tak peduli berapa sering Flo mentraktirnya, tak peduli berapa banyak dia menghabiskan waktu Flo karena dia tak punya teman, Flo tidak pernah sebegitu marah padanya.


Wanda tahu dia salah. Tapi bagaimana dia bisa mengabari Flo jika ponsel saja dia tak punya. Jika seluruh waktu hampir 2 minggu ini dia habiskan hanya di rumah sakit. Dan…


Wanda melirik Yuzen dengan matanya yang berkaca-kaca. Pria itu tak membiarkannya melepaskan pandangan sedikit pun selama dirumah sakit. Tidak, Wanda sendiri juga tidak ingin mengabaikan Yuzen yang sakit.


Ah… persoalan seperti ini membuatnya pusing. Wanda tidak mengerti. Sejak dulu, Flo-lah yang sering memandunya. Kini, jika diharuskan kehidupan sosial dan perasaan orang lain, Wanda tak mengerti. Benar-benar buta. Lihat, permasalahannya dengan Yuzen saja perlu masuk rumah sakit dulu agar hubungan mereka membaik dan membuatnya paham benar dengan perasaan Yuzen serta perasaannya sendiri.


“Kita pulang saja? Kurasa kau perlu istirahat. Dengar, kita berdua masih dalam masa pemulihan. Tidak baik jika kau terlalu berat berpikir, sayang.”


Yuzen berdiri dan membereskan barangnya, disandang nya lagi tas punggungnya. Dengan santai pria itu meraih tas Wanda dan membawa serta tas itu di pundak kirinya. Tangannya kanannya terulur pada Wanda dan membantu gadis itu berdiri, menuntun gadis itu untuk berjalan ke arah parkiran. Untuk saat ini, Yuzen akan memastikan Wanda tak akan memikirkan Flo.


Hanya dia.


Wanda hanya boleh memikirkannya.


Yuzen lagi-lagi mengecup pelipis gadisnya dan beralih merangkul pundak gadis itu. Tak peduli bahwa di setiap langkah mereka, akan ada yang melirik iri.


✍👀✍


“Jadi boss, kau ingin aku apa?!”


Hanzel meneguk ludahnya susah payah. Dia berharap telinganya sedang penuh kotoran saat ini. Dia berharap bahwa yang didengarnya tadi benar-benar salah. Oh ayolah, membayangkan apa yang diperintahkan bosnya membuatnya merinding.


“Aku akan mengabulkan permintaanmu jika berhasil. Apa saja asal bukan Wanda.” Desis Yuzen di akhir kalimat.


“Bahkan jika aku meminta separuh saham?” Tanya Hanzel ragu.


“Tentu saja.”


“Bagaimana jika aku meminta perusahaan game-mu?”


“Setidaknya kau jangan meminta dengan keterlaluan.” Sinis Yuzen. Bagaimana bisa Hanzel meminta satu perusahaan miliknya. Bukankah itu tidak masuk akal? Dia akan bangkrut dengan segera. Oh ayolah, dia tak ingin hanya bergantung pada perusahaan ayahnya.


“Tapi boss… Permintaanmu terlalu mengerikan.” Hanzel meremas kedua tangannya. Memandang sekeliling dan berusaha menghindari tatapan boss-nya yang seakan berkata ‘turuti aku atau kau binasa?!’

__ADS_1


Ogh… menyeramkan!


“Apa yang salah? Memangnya kau sudah punya pacar?”


Hanzel menggeleng.


“Sudah punya gebetan?”


Hanzel lagi-lagi menggeleng. Lalu mendapatkan tatapan menghina dari Yuzen. Hanzel kini benar-benar merasa menyedihkan ditatap seperti itu. Apa salahnya hidup seperti itu?


“Hidupmu gersang sekali ternyata.” Ejek Yuzen dengan sinis.


Hanzel pun merenggut dikatai seperti itu. Ya, hidupnya segersang gurun. Tapi dia sudah terbiasa hidup di gurun itu, jadi rasanya biasa saja. Rasa panas yang menyengat pun tak dirasainya lagi. Rasanya biasa saja hidup tanpa pasangan. Pun biasa saja saat melihat pasangan bercumbu didepannya.


“Lalu apa masalahnya? Aku hanya membantu agar hidupmu sedikit lebih berwarna.”


Hanzel lagi-lagi merenggut. Apanya yang membantu, bosnya ini tak mengerti perasaannya.


“Apa yang kau inginkan saat ini eh? Aku benar-benar akan mengabulkannya.”


Hanzel berpikir. Apa yang diinginkannya saat ini. Berpikir sejenak sebelum kemudian tersenyum ragu kearah Yuzen. “Berkeliling Eropa gratis selama sebulan tapi tetap digaji?”


Yuzen mengangkat sebelah alisnya. Berpikir sejenak sebelum kemudian mengangguk. “Setuju.”


Dan Hanzel menganga dibuatnya.


“Kau bercanda kan boss?”


5 menit kemudian ponsel Hanzel berdering dan sebuah E-mail tampak masuk. Hanzel menoleh kearah Yuzen saat tahu Email itu dari pria di hadapannya.


Hanzel menganga lebih lebar setelah melihat isi E-mail itu.


Gila!


Yuzen sudah membooking 10 tiket pesawat dari masing-masing kota terkenal di Eropa untuk bulan depan. Secepat itu. Bagaimana bisa Yuzen membooking tiket secepat itu? Luar biasa sekali koneksi pria itu. Anehnya tiket itu untuk 2 orang. Memangnya ia mau mengajak siapa?


“Boss, kau benar-benar tidak bercanda!” Pekik Hanzel.


“Kau meragukanku?” tanya Hanzel angkuh.


Buru-buru Hanzel menggeleng. “Jadi boss… Aku hanya harus merayu sahabat Wanda itu dan menjadikannya kekasih?”


“Yap. Buat gadis itu jatuh cinta padamu dan jadikan dia kekasih paling tidak 3 bulan. Setelah itu, terserah kau mau lanjut atau tidak. Aku hanya ingin gadis itu tak mengganggu pikiran Wanda lagi. Dan aku ingin kau mengalihkan waktu Flo hanya untukmu. Jangan biarkan Flo mendekati Wanda. Waktumu sebulan. Dan kau bisa ajak gadis itu ikut serta pada liburanmu. Untuk itulah aku beri 2 tiket di masing-masing tujuan. Kau mengerti?”


Hanzel mengangguk patuh. Bagaimanapun tiket keliling Eropa selama sebulan sudah terjamin. Dan bossnya pasti akan memberinya uang juga untuk seluruh akomodasi nya baik hotel maupun makanan.


Tapi memang tujuan ini tidak terlalu baik. Menjebak seorang gadis agar menjadi kekasihnya? Oh astaga. dan kalau boleh jujur, Hanzel tidak terlalu suka dengan kekeras kepalaan Flo. Gadis itu sangat tangguh. Dan suka melempar sepatu. Meski sebenarnya cukup cantik.

__ADS_1


“Jika berhasil, gajimu akan kuberi 3 kali lipat di bulan kau liburan.”


Dan...


Damn it!


Bagaimana bisa Hanzel menolak.


Apapun caranya, dia harus buat Flo jadi kekasihnya!


✍👀✍


Hari menjelang sore saat Hanzel pergi dari rumahnya. Yuzen menuruni tangga dan menemukan gadisnya duduk di meja makan dengan semangkuk krim sup yang baru dipanaskan bibi pelayan.


Yuzen segera menyuruh bibi pelayan untuk berlalu keluar dari dapur. Setelah bibi pelayan keluar, Yuzen melangkah pelan menghampiri Wanda. Rambut gadis itu masih berantakan dan sepertinya baru saja bangun tidur. Tanpa peduli penampilannya, gadis itu langsung turun ke dapur untuk mengisi perutnya. Tadi siang gadis itu tidak makan dengan benar. Keberadaan Flo yang tiba-tiba datang, mengacaukan acara makan siang mereka. Padahal Wanda baru saja memakan makanannya sebanyak 3 sendok.


Menjengkelkan. Yuzen merutuk dalam hati.


Sampai di belakang gadisnya, Yuzen langsung mengecup pipi kanan Wanda sayang. Membuat gadisnya terkesiap. Sendok gadis itu bahkan sampai jatuh masuk kembali ke mangkuknya.


“Astaga!” Pekik Wanda.


Yuzen terkekeh lalu menarik kursi agar duduk disamping gadisnya. Tangan pria itu terulur dan mulai seenaknya meraih sendok dan menyuapi Wanda tanpa peduli gadis itu setuju atau tidak. Awalnya Wanda merasa risih, tapi kemudian menerimanya saja karena tak sanggup melawan kekeras kepalaan Yuzen yang ngotot tetap menyuapinya.


“Mulai sekarang kau harus rajin makan, hm. Aku senang kau berinisiatif makan sore ini. Aku tidak ingin kau sakit lagi.”


Yuzen meraih gelas air putih dan menyodorkan nya pada Wanda dengan lembut. Lalu menyuapinya lagi dengan perlahan.


“Aku punya permintaan, apa kau mau mengabulkannya?” Tanya Yuzen hati-hati.


Wanda berkedip penasaran. Tumben sekali pria itu bertanya terlebih dahulu.


“Permintaan apa?”


Yuzen tampak ragu. “Akan ada pesta lelang besok malam. Aku ingin mengajakmu dan menemaniku ke acara itu. Acaranya cukup ramai, tapi aku akan menjamin menjagamu dari sentuhan-sentuhan mereka.” Tegas Yuzen diakhir kalimat. Bagaimanapun, dia juga tak suka gadisnya disentuh orang lain. “Bagaimana? Jika kau tak mau, tak apa. Aku akan pergi sendiri atau membiarkan Hanzel menggantikanku.”


Wanda sedikit bergidik mendengar kata pesta. Tapi kemudian gadis itu berpikir sejenak.


Yuzen berjanji menjaganya. Meskipun tak suka keramaian, tapi akan ada Yuzen yang melindunginya. Pun, membayangkan Yuzen pergi sendiri dan bertemu gadis lain yang sekiranya akan menarik perhatian pria itu, membuatnya takut.


Dengan perlahan Wanda mengangguk. “Tapi janji ya menjagaku?”


Yuzen tersenyum lebar. Lalu memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah Wanda. Membuat Wanda menjerit karena kaget. Gadis itu mengibaskan tangannya berusaha menghalau Yuzen. Tapi percuma, pria itu selalu dapat mencium sisi wajahnya.


“Tentu saja aku akan menjagamu sayang, dengan segenap jiwaku.”


✍👀✍

__ADS_1


__ADS_2