Psychopath Prince

Psychopath Prince
-7- Menempel Padamu


__ADS_3

...Cinta dari gadis lain itu tidak penting....


...Yang kubutuhkan,...


...Hanya cinta darimu seorang....


...Camkan itu....


...✈✈✈~~...


Wanda berusaha fokus pada dosen yang tengah berbicara didepan sana. Dia duduk dibangku paling belakang, berharap tidak akan ada yang memperhatikannya. Tapi sepertinya percuma. Banyak mata yang secara terang-terangan menoleh padanya. Bahkan dari bangku depan!


Sang dosen pun acuh tak acuh. Membuat Wanda ingin kabur dari kelas. Tatapan tajam nan benci kental dari berbagai mata. Membuat gadis itu bergidik ngeri. Sepertinya gosip hari ini menyebar dengan cepat. Dan bisa dipastikan, dalam sekejap dia menjadi trending topic di media sosial kampus.


Wanda menunduk dan memilih membenamkan wajahnya dikedua tangannya yang terlipat dimeja. Dia tak peduli lagi dengan pelajaran dosen di depan sana. Dia terlalu takut. Apalagi dengan fans-fans ganas Yuzen.


Perlahan air mata mulai jatuh dari matanya.


Namun tiba-tiba sebuah usapan hinggap dikepalanya. Mengusap rambutnya lembut dan berirama. Wanda mendongak dan mendapatkan seseorang yang tak diharapkan hadir duduk dikursi sebelahnya. Dan kenapa juga orang itu ada dikelasnya. Mereka bahkan tidak satu jurusan.


"Kau menangis?" Dahi Yuzen mengernyit saat melihat ada jejak air mata di mata bulat gadis itu. Matanya yang sebelumnya bening kini tampak memerah, membuat pria itu merasa geram bukan main. "Ada yang menyakitimu?"


Tangan Yuzen turun dan ganti menghapus jejak air mata itu. Sejenak matanya berkeliling dan melihat satu per satu mahasiswa yang ada di dalam kelas. Sontak para gadis yang beberapa detik lalu masih menatap tajam Wanda berubah ekspresi dan tersenyum menggoda kepada Yuzen. Terlalu senang bisa berpandangan langsung dengan Yuzen dan bukannya takut akan kenyataan bahwa pria itu sedang menandai mereka satu per satu.


Namun, Yuzen sendiri justru balas tersenyum. Membiarkan image baiknya terus melekat. Dia tak ingin melepaskan image baiknya. Setidaknya untuk sekarang. Tapi yang pasti, dia mencatat wajah-wajah itu dalam kepalanya.


Setelah selesai memindai kelas, Yuzen kembali memperhatikan Wanda. Tangannya kembali mengelus sayang kepala gadis itu. Berusaha memberikan rasa aman. Anehnya, Wanda memang merasa perasaan aman dan bukannya takut seperti sebelum-sebelumnya saat disentuh pria itu. Mungkin karena dia sudah takut duluan dengan orang-orang disekitarnya saat ini. "Mereka menakutimu?"


Wanda tak menjawab. Gadis itu hanya menunduk dan menikmati elusan Yuzen di rambutnya.


"Aku akan melindungimu. Tak perlu takut, kekasihku."


Wanda menoleh saat mendengar kata terakhir.


"Ke - kekasih? Aku bahkan belum menyetujuinya." Kalimatnya semakin pelan diakhir kalimat karena tatapan Yuzen yang begitu intens membuatnya gugup seketika.


"Aku tak perlu persetujuanmu, sayang. Yang kubutuhkan hanya kehadiranmu disisiku." Lalu Yuzen mengecup pipi Wanda, membuat suara terkesiap dari para gadis yang sejak tadi masih memperhatikan mereka.


Yuzen menyeringai senang. Dia akan membuat semua orang menyadari bahwa gadis itu miliknya dan dia milik gadis itu. Tentu saja dengan perilaku - perilaku kecilnya.


Sedangkan Wanda yang mendengar suara - suara terkesiap, segera kembali menenggelamkan wajahnya. Dia malu dan juga badannya sedikit bergetar karena dicium Yuzen. Bagaimanapun dia masih terlalu takut dengan sentuhan intim pria itu.


"Kak Yuzen sebaiknya pergi. Ini bukan kelasmu." Ucapan gadis itu sedikit teredam karena dia masih membenamkan wajahnya.


"Tidak mau." Ujar Yuzen santai. "Aku belum puas melihatmu. Lagipula aku harus menjagamu dari fans-fans ku. Dan tentu saja aku menjagamu agar tidak kabur. Ingat, kau tinggal dirumahku saat ini."


Wanda langsung duduk tegap. Dia lupa jika pria ini sedang berusaha mengurungnya.


"Jangan mencoba menentangku sayang. Aku bisa saja melakukan cara kasar agar kau tetap berada dijangkauanku."


"Tapi aku.... Tidak bisa tinggal dirumahmu. Kau... Aku buka siapa - siapa. Dan kita tidak seakrab itu. Aku... Ehm hanya kekasihmu yang kau paksakan tadi pagi." Wanda berujar terbata-bata. Dia tak tahu lagi bagaimana menjelaskan pada pria aneh dihadapannya.


Pria itu terlalu keras kepala untuk mendengarkan seseorang.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa?" Tiba-tiba Yuzen merasa emosi saat mendengarnya. "Apa perlu ku buat kau hamil dan kupaksa menikah langsung denganku? Kau tinggal pilih. Menikah dulu atau hamil dulu."


Wanda bergidik. "Ti - tidak keduanya." Cicitnya pelan.


"Kalau begitu menurut padaku. Dan untuk saat ini bisa kupastikan kau tidak hamil atau berstatus istriku."


Wanda meneguk ludahnya susah payah. Tapi dalam sekejap langsung merasa heran saat pria itu bersandar pada kursi dan menutup matanya dengan satu lengan. Pria itu tampak hendak tidur.


"Fokuslah belajar. Aku akan menjagamu hari ini." Tutup Yuzen. Dan pria itu benar-benar tidur disebelah Wanda. Meski begitu, pria itu tetap waspada. Dia tak ingin siapapun menyakiti gadisnya. Apalagi para gadis yang mengaku fansnya itu.


Keparat.


...☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆...


"Kak Yuzen akan terus mengikutiku?"


Wanda mengernyit heran karena pria itu tidak pernah melepaskannya barang semenit pun. Pria itu bahkan akan mengikuti kelasnya tanpa malu dan mengikutinya kemanapun.


"Ya." Ujar pria itu singkat.


Wanda mendesah, benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran pria itu.


"Kak Yuzen tunggu disini. Aku mau ke toilet." Mereka berhenti didepan toilet wanita. Wanda merentangkan tangannya melarang Yuzen masuk, karena pria itu tidak peduli dan terus masuk ke dalam toilet wanita. Pria itu bisa dikeroyok masa jika memaksa masuk seperti itu. Gila memang.


Yuzen bersedekap. Tampak tak Terima dengan ucapan Wanda. "Kau tahu, toilet tempat yang sangat rawan. Tempat bagus untuk para wanita berkelahi."


"Maksud kakak?"


"Ck, yasudah masuk sana. Aku tunggu disini. Tapi kalau ada apa-apa teriak sekencang mungkin oke."


Wanda tak mengerti. Meski begitu dia mengangguk dan membiarkan Yuzen menunggu tepat didepan pintu toilet. Tak peduli banyak orang yang memperhatikannya dengan tatapan heran.


Saat Wanda masuk, semua bilik toilet dalam keadaan kosong. Namun didepan cermin wastafel ada 2 orang gadis yang sedang berdandan dengan santainya. Awalnya Wanda tak menghiraukan dan memilih langsung masuk ke dalam bilik toilet. Tapi Wanda sadar tatapan sinis kedua gadis itu.


5 menit.


10 menit.


Wanda hanya duduk di atas closet yang tertutup. Dia menunggu hingga 2 gadis didepan sana keluar. Gadis itu terus mengecek jam tangannya, merasa kesal karena waktu yang terus berjalan dengan cepat. Dia tidak bisa berlama-lama disini, karena Yuzen menunggunya didepan. Pria itu bisa curiga jika dia terlalu lama.


Apa rencananya?


Tentu saja kabur dari pria itu.


Dia tak ingin terperangkap dalam kungkungan pria itu. Yah setidaknya hari ini dia bisa kabur. Dan besok tinggal memikirkan cara lain untuk kabur lagi. Dia sudah jengah diikuti pria itu sepanjang hari ini. Dan terus-terusan bersama pria itu membuatnya menjadi bahan tatapan semua orang. Itu tidak sehat untuk mentalnya. Dia merasa akan gila. Dia takut. Dia bahkan ingin menangis mendapatkan semua tatapan itu. Padahal hanya ditatap apalagi jika nanti dia dibully.


Wanda sadar jika saat ini banyak sekali yang ingin membully-nya. Apalagi fans fanatik Yuzen.


Cklek.


Suara pintu terbuka dan kemudian menutup lagi.


Wanda perlahan berdiri tanpa suara. Membuka pintu biliknya sedikit dan mengintip keluar. Tidak ada orang.

__ADS_1


Bagus.


Wanda sudah memikirkan ini sejak dikelas terakhir tadi. Dia sengaja berjalan kesini dan memilih toilet ini. Gadis itu tahu bahwa di toilet ini ada sebuah jendela dibagian atas pojok toilet yang bisa dibuka. Dia sudah pernah kemari beberapa kali, meskipun toilet ini sedikit jauh dari beberapa letak kelasnya.


Dengan susah payah Wanda memanjat dan menggeser kaca di atas agar terbuka. Gadis itu berusaha menarik tubuhnya keatas hingga berhasil meloloskan diri dan membiarkan tubuhnya terjatuh ke seberang begitu saja. Tubuh mungil Wanda langsung menimpa semak liar yang berada di halaman belakang toilet. Membuat beberapa ranting menggores lengan dan sedikit wajahnya. Tapi gadis itu tak peduli dan dengan sigap memandang sekitar.


Aman.


Sepi. Tidak ada seorangpun disana.


Gadis itu mulai bangkit. Sedikit mengaduh karena lengannya yang jatuh duluan sedikit nyeri, tapi kemudian segera berlari kencang.


Waktunya kabur.


...☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆...


Air hangat dengan aroma rempah melingkupi tubuh itu. Dengan mata terpejam pria itu berbaring dibathup-nya. Membiarkan hanya kepalanya saja yang tidak tenggelam ke dalam air hangat. Satu tangannya memegang segelas wine merah. Dan satu kakinya terangkat naik ke sisi bath-up. Tangannya bergoyang - goyang kecil mengikuti suasana hatinya yang cukup riang.


Yuzen tersenyum geli.


Tadi siang dia tak menyangka bahwa gadisnya kabur begitu saja. Dengan bodohnya dia menunggu di depan toilet selama 30 menit penuh. Dan langsung masuk ke dalam toilet wanita begitu saja karena khawatir gadisnya yang tidak keluar - keluar. Pun, tidak ada suara apapun didalam sana. Namun, saat masuk dia langsung kalang kabut saat gadis itu tidak ada di mana-mana. Dan sadar ada jendela diatas pojok toilet yang terbuka.


Yuzen memukul kaca wastafel toilet saking kesalnya. Membuat kaca itu berhamburan dan buku tangannya berdarah. Tapi dia tak peduli. Dia segera menghubungi 3 bodyguard yang selalu mengikuti Wanda untuk segera mencari gadis itu. Salahnya memang yang menyuruh para bodyguard itu untuk sedikit menjauh karena dia ingin berduaan saja dengan Wanda.


Keparat.


Tapi salah satu bodyguard yang dihubunginya mengatakan bahwa dia melihat Wanda dan mengikutinya. Ternyata gadis itu pulang kerumahnya sendiri. Membuatnya lega.


Yuzen masih tersenyum geli mengingat kejadian tadi siang. Ah... Betapa bodohnya dia bisa ditipu gadisnya.


Yuzen tak marah.


Lagipula habis ini dia akan pergi ke rumah gadis itu dan mendekap gadis itu lagi. Gadis itu pasti mengira dia tak tahu rumahnya. Lucu sekali.


"Ah.... Sekarang pun aku ingin mendekapmu. Kau menggemaskan sekali sayang." Bisik Yuzen lalu menyesap wine-nya.


Rasanya menyenangkan sekali bermain kucing-kucingan dengan gadisnya.


Yuzen tiba-tiba berdiri. Meletakkan gelas wine-nya dan berjalan menuju shower.


Dia harus menemui gadisnya sekarang. Membayangkan gadis itu hanya membuatnya semakin rindu.


"Tunggu aku, sayang."


...☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆...


Heiyooooo... semua!!!


Jangan lupa like dan komennya ya.


Terimakasih banyak sudah mengikuti dan menyukai cerita ini.


Ciyao!!

__ADS_1


__ADS_2