Psychopath Prince

Psychopath Prince
-54- Hanzel dan Targetnya


__ADS_3

"Bisa kau berhenti mengikutiku dan biarkan  aku mengikuti kuliah dengan tenang?! lagipula, tidaklah kau merasa sayang tidak masuk kelasmu tadi pagi?" Wendy berujar sarkastis pada tingkah Yuzen yang kekanakan bukan main. 


Bagaimana tidak, seharusnya pria itu kuliah hari ini. Tapi yang dilakukan? Hanya mengikutinya kemana saja. Bahkan tadi pagi Yuzen justru membuntutinya dan masuk ke dalam kelasnya, alih-alih masuk ke kelas pria itu sendiri. Belum lagi saat dia ditoilet, pria itu menungguinya didepan toilet tanpa tahu malu. Kini, pria itu juga berniat mengikuti kelas siangnya. Yuzen benar-benar membatalkan acara makan siangnya dengan klien. 


"Kegiatan tanpamu membosankan, sayang. Daripada masuk kelasku, lebih baik q menemanimu dikelas. Lagipula materi kuliahku itu-itu saja. Sebagai orang jenius, aku sudah paham semua materi dengan sekali baca." Yuzen berujar pongah. Dengan santai dia menyandarkan kepalanya pada bahu Wendy yang duduk disebelahnya. 


Semua mata di kelas sesekali melirik mereka, hal itu membuatnya jengah. Meski begitu, apa yang bisa dia perbuat? Yuzen disini bertingkah seperti bayi besar. Siapa yang tidak tertarik? Meski ini bukan pertama kalinya Yuzen masuk ke kelasnya, tapi sepertinya semua orang masih menganggap ini luar biasa. 


Wendy melirik jam tangannya, 5 menit lagi kuliah dimulai. Dosen pun belum datang. Sebenarnya Wendy tak peduli dengan kuliah, tapi demi Wanda sesekali dia memang masuk kelas gadis itu dan mencoba mencatat pelajaran yang diajarkan untuk Wanda pelajari nanti. 


Wendy mendesah kesal, lalu berdiri mendadak membuat Yuzen nyaris jatuh. Yuzen melirik kesal, tapi Wendy balas melirik kesal juga pada pria itu lalu dengan kuat menarik tangan pria itu berjalan keluar dari kelas. 


"Sana pergi, cari kegiatan lain sembari menungguku. Jika kau di kelas, aku tak bisa konsen mencatat."


"Itu namanya kau cinta mati padaku sayang, lihat, aku berhasil mengalihkan duniamu."


Wendy menepuk dahinya. 


"Jika kau tidak pergi, aku akan mencoba menghasut Wanda untuk melakukan hal-hal yang tidak akan kau sukai. " Wendy mulai mengancam. 


Yuzen menarik pinggang Wendy dan membuat tubuh gadis itu menempel pada tubuhnya. "Jangan mengancam sayang, aku tidak suka."


"Kalau begitu sana pergi main dulu diluar." Wendy berontak lalu mendorong dada Yuzen. 


Yuzen mendesah pasrah. Lalu mengecup dahi Wendy sejenak sebelum kemudian memperingati, "Aku akan menjemputmu, tetap disini Oke. Dan jangan berani melirik pria lain. Jika ada yang mendekat hajar saja. Pukulanmu cukup sakit." 


"Sangat sakit." Ralat Wendy. Tentu saja, dia saja mampu membuat tepar bodyguard Yuzen. 


Dahulu sebelum bertemu Yuzen, Wendy sangat liar. Gadis itu jarang bisa menguasai tubuh Wanda dan sekalinya berhasil, gadis itu selalu berkeliling dijalan dan mengamati sekitar. Dari sana Wendy tahu caranya bertarung liar dengan para berandalan. Wanda sangat cantik, dan gadis kecil yang jalan sendirian menjadi sasaran banyak orang. Tak peduli preman yang ingin menculik atau yang sekaligus ingin memperkosanya. Dari sanalah perlahan-lahan Wendy belajar bertarung. Tak ada yang tahu jika tubuh Wanda sering terluka di luar karena luka itu selalu tertutupi luka yang ditorehkan ibu Wanda. 


"Ya, tapi tak cukup untuk membuat ku kesakitan." Yuzen terkekeh. 


Wendy mendengus. Ya, Yuzen memang terlalu luar biasa. Hampir semua bela diri, pria itu menguasainya, dan cara bertarung Wendy yang berantakan selalu kalah. 


"Ya ya ya…. Terserah. Sana pergi."


Yuzen tersenyum lalu mengacak rambut gadis itu sebelum berjalan pergi. 


Di ujung lorong tampak dosen kelas Wanda sedang berjalan, Wendy pun buru-buru masuk, tapi saat dia berbalik hendak masuk ke kelasnya, gadis itu terdiam dan tersenyum aneh. Bagaimana tidak, lihat, di jendela kini penuh orang yang sedang mengintip kegiatannya dengan Yuzen barusan. Gila, sebegitunya kah mereka ingin tahu kegiatan orang?! 


Wendy menggeleng tak percaya. Kini dia tahu perasaan Wanda saat menghadapi para fans Yuzen. 


✍👀✍


Dipertengahan pelajaran, Wendy rasanya tidak tahan lagi. Dia bosan dan pelajaran dosen di depan membuatnya mengantuk. 


Diam-diam Wendy membereskan bukunya dan melempar tasnya ke jendela yang memang sudah terbuka, tepat di sampingnya. Untungnya dia duduk disamping jendela, bagian paling pojok pula. 


Gadis itu tampak tenang mengamati dosen di depan. Lalu, saat dosen itu menghadap papan tulis dan semua orang di kelas tidak memperhatikannya. Wanda menyelinap keluar lewat jendela, tanpa suara dan cepat. 


Inilah alasan lain Wendy mengusir Yuzen tadi. Dia tak mungkin kabur jika ada Yuzen. Tapi saat pria itu tak ada, Wendy bebas melakukan apapun. Termasuk kabur dari kelas saat dia bosan. 

__ADS_1


Namun naasnya, baru jalan beberapa langkah berjalan, satu bodyguard Yuzen sudah berdiri dihadapannya. Sepertinya Yuzen, menyuruh para bodyguard itu menjaga seluruh jalur kabur saat Wendy di kelas tadi. 


"Nona, ingin kemana? Tuan Yuzen berkata agar anda jangan melakukan hal yang aneh-aneh. Dan kami bertanggung jawab mengawasi…."


"Dan mengikutiku ke mana-mana, iya kan?"


Bodyguard itu mengangguk. "Ya, nona."


"Sayangnya aku tidak ingin diikuti." Dan…. 


BUGH! 


Wendy dengan cepat melayangkan kakinya segera, berputar dan menendang keras wajah bodyguard itu. 


Bodyguard itu yang belum siap dengan tendangan cepat Wendy, mundur beberapa langkah. 


Wendy berdecih kesal. 


Bodyguard itu kuat. Jika orang biasa yang menerima tendangannya, bisa dipastikan orang itu langsung tersungkur dan kesakitan. 


Wendy pun yakin bodyguard itu orang yang berbeda dengan dulu. Bodyguard itu baru pertama kali Wendy lihat. Sepertinya Yuzen memang baru mengganti bodyguard Wanda agar lebih aman. Bodyguard yang dulu memang mudah dikelabui dan tak sekuat yang ini. 


"Oh bagus. Aku bisa mengukur kemampuan ku sekarang. Sudah lama aku tidak berolahraga." Wendy meregangkan badannya dan kemudian mulai maju dan melayangkan pukulannya secara brutal dan tak beraturan. Tapi setiap pukulan itu mengarah pada titik fatal bodyguard itu. Namun nyaris semua pukulan ditepis bodyguard itu. Hanya satu dua pukulan yang kena dan dampaknya tak separah yang Wendy bayangkan. "Sial sekali. Kau terminator ya?" Dengus Wendy. Pasalnya bodyguard ini nyaris sebagus Yuzen saat menghadapinya. 


"Nona, sebaiknya anda berhenti. Saya tidak ingin anda terluka."


"Tidak."


Lalu Wendy mundur dan mengamati dari atas ke bawah. Apa yang harus dia lakukan agar pria besar itu tumbang? 


Lalu Wendy menatap gugup ke arah belakang bodyguard itu. "H-hai Yuzen. Tidak, aku tidak bermaksud apa-apa. Ja-jangan marah pada bodyguardmu ya, aku hanya bermaksud latih tanding kok. Hanya mengetes bodyguard baru mu ini dia cocok tidak untuk menjaga Wanda hahaha…."


Bodyguard itu pun berbalik dan berniat membungkuk hormat pada Yuzen. Namun naas, keadaan lengah itu dimanfaatkan oleh Wendy untuk menendang barang pribadi pria itu dari belakang. Cara klasik, tapi hasilnya? Luar biasa! 


Pria besar itu langsung ambruk dan mengerang kesakitan. 


"Maaf ya aku membohongimu. Tapi pertarungan yang adil memang bukan gayaku."


Lalu Wendy mulai melesat mengendap-endap dari sana. Semoga saja 2 bodyguard lain tidak melihatnya. Wendy tak bisa membayangkan jika harus menghadapi 2 lagi yang seperti tadi. 


Lalu Wendy berhenti di taman kampus dengan nafas terengah. Dia duduk di salah satu bangku taman dan mulai istirahat. Memukul bodyguard besar itu menghabiskan tenaganya. 


Namun kemudian dia melihat sosok itu. Wendy berdiri dan hendak menghampiri gadis itu. Wendy menyeringai, dan kemudian berbisik. "Tidur yang baik didalam sana Wanda, aku akan membalas siapapun yang menyakitimu."


✍👀✍


"Flo, tunggu aku!" 


Flo menoleh saat dia mendengar seseorang memanggil namanya. Pipinya kemudian memerah saat menemukan Hanzel melambaikan padanya dengan senyum manis. Saat menatap mata abu-abu pria itu, pipi Flo semakin memerah. 


"H-hai kak Hanzel." 

__ADS_1


"Ingin ke gedung jurusan?" Tanya Hanzel. Pria itu mengeluarkan ponselnya dan menyodorkan pada Flo. "Jangan kabur lagi, oke. Aku kan hanya meminta nomor ponselmu. Tapi kau selalu punya alasan untuk pergi sebelum memberikan nomormu."


Flo menggaruk kepalanya bingung. Bukannya dia tak ingin memberi nomor ponselnya, lagipula Hanzel adalah kakak seniornya di jurusan. Hanya saja, beberapa hari ini sejak Hanzel mulai meminta maaf akan tingkah kasarnya dulu, pria itu seperti ada di mana-mana. Seperti, saat dikantin, atau saat dia pergi ke perpus, atau saat diparkiran, entah kenapa mereka selalu bertemu. Dan Hanzel juga mulai sering mengajaknya mengobrol. 


Hal-hal itu membuat rasa kesal Flo pada Hanzel lenyap. Dan kini, Flo benar-benar merasa tersipu saat Hanzel mendekatinya. Gadis itu merasa berdebar saat pria itu kerap mendekatinya. 


Flo tak mengerti, kenapa perasaannya bisa sampai sejauh ini? Apalagi saat Hanzel mulai bertingkah manis. Astaga, Flo rasanya ingin pingsan ditempat. 


Flo melirik jam tangannya, "Aku buru-buru kak, ada kelas…" Flo memberi alasan. Lalu mulai berjalan cepat. 


Hanzel pun tanpa tahu malu mengejar. Lalu berjalan cepat beriringan dengan Flo yang nyaris berlari. "Kalau begitu, sebutkan saja sambil jalan, Flo."


Flo bergidik melihat kengototan Hanzel. Bukannya tidak ingin memberi, hanya saja rasanya dia tak sanggup menerima jika nanti pria itu menelpon. 


Lalu dengan sedikit kesal, pria itu menarik tangan Flo agar berhenti. Hanzel cukup lelah sebenarnya, dia tak pernah mengejar seorang gadis sekalipun. Tak pernah menghabiskan waktunya untuk berpikir berbagai cara menyenangkan hati seorang gadis, atau memohon seperti saat ini. Tapi keadaan memaksanya, demi liburan gratis dan gaji berlipat apapun akan dilakukannya. Ayolah, dia hanya seorang pekerja rendahan yang butuh banyak uang dan liburan. 


Jadi sekarang, jangan salahkan jika Hanzel bertingkah bak orang ***** yang gegabah dan pemaksa. Mana dia tahu trik menaklukkan seorang gadis. Menurut risetnya, urutan menaklukkan wanita adalah, meminta maaf jika punya salah dan ini sudah dilakukan ya selama 3 hari berturut-turut. Lalu, muncul di mana-mana gadis itu berada dan mencoba dekat. Oke, yang satu ini Hanzel merasa seperti penguntit, pria itu bahkan takut sekali Flo merasa ngeri padanya. Tapi yasudah, masa bodoh. Yang penting urutannya benar. Dan yang ketiga… Minta nomor ponselnya yang mana belum ia dapat sampai sekarang. 


Sial sekali ya. 


"Aku ingin lebih mengenalmu." Ucap Hanzel to the point. 


Flo melongo sejenak. Merasa aneh jika prasangka nya selama 3 hari ini benar. Bagaimana bisa Hanzel, seniornya yang terkenal irit bicara dan tak pernah dekat dengan seorang gadis satupun, Tiba-tiba ingin dekat dengannya? 


Jadi, Hanzel menyukainya?


Pria itu bahkan pernah marah-marah padanya. Dan dalam sekejap mendekatinya? 


Apa Hanzel salah makan?


Atau dia sedang dipermainkan? Jika dipikir-pikir tidak mungkin pria sesempurna Hanzel menyukainya. 


Flo menggeleng pelan. Lalu menghela nafas. "Kak Hanzel, aku tidak suka dipermainkan. Jangan main-main denganku." Lalu Flo menyentak tangan Hanzel hingga terlepas dan mulai berjalan lagi. 


Hanzel dengan cepat mulai membuka ponselnya dan mulai membuka halaman pencarian. 


'Bagaimana caranya mendapatkan gadis yang kauinginkan dengan cepat.'


Hanzel mulai berjalan sambil membaca beberapa artikel. Sesekali dahinya mengernyit dan mencebik kesal saat membaca artikel-artikel itu. 


Tidak ada yang cocok. Cara-cara yang dibacanya terasa aneh dan terlalu lebay. Kalau begini, apa dia harus berguru pada Yuzen? 


Ah lupakan, Yuzen terlalu gila untuk ditiru. 


Lalu Hanzel menyerah dan memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Hanzel menatap ke depan dan berusaha mencari sosok Flo. Dan pria itu terkejut dengan apa yang dilihatnya. 


Flo sudah tersungkur di rumput taman. 


✍👀✍


Hai guys....

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen ya...


Secuil jejak kalian sangat berati buatku 😍😘


__ADS_2